"Bodoh kalian semua! Hanya satu cewek saja kalian tidak bisa membawanya kemari?" Cowok dengan tubuh berlemak dan tato banteng di lengannya itu menendang satu demi satu anak buahnya tanpa ampun sedikitpun.
"Ampuni kami, Bos. Kami bukannya lengah tapi cewek itu selalu bersama ketos dan ketua Ozara. Kami tidak punya kesempatan membawanya kemari."
"Bangsattt! Dua cucunguk itu memang tidak mudah dilewati. Jika terus begini, ketua blackzak bisa membubarkan geng kita." Cowok berlemak itu duduk di kursi istimewanya dan melihat satu persatu anggota Taurus yang memiliki jumlah cukup terbanyak dari 12 geng blackzak dan berada di urutan ke delapan.
Dalam blackzak terdiri 12 kelompok yang dibentuk berdasarkan rasi bintang zodiak. Dari kata blackzak bisa disimpulkan kelompok premannya adalah bintang gelap yang memegang keburukan. Beda dari Ozara Wz - whitezak adalah kelompok yang sebaliknya melambangkan zodiak putih. Dua sifat yang berlawanan dan selalu berseteru.
Tiba - tiba satu anak buah dari luar tampak babak belur berlari panik dan masuk menghadap ke cowok berlemak itu.
"Apa yang terjadi?"
"Bos, di luar…. di luar anak itu datang –"
Brakh!
Ahhhhh!
Pintu yang tadi tertutup di dekatnya langsung ditendang dari luar hingga copot dan membuat anak buah yang datang terhempas jatuh. Sontak saja cowok berlemak itu berdiri dan bertatap mata sinis ke Ezra yang datang tanpa ekspresi.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄
Di rumah sakit.
"Nara, kamu kenapa?" tanya Garce masuk bersama Daffa.
"Kalian siapa?" tanya Bu Mayang.
"Kami teman - teman Nara, Tante,"
Mendengar jawaban Daffa, Nara yang tadi takut melihat mereka pun mengangkat pandangannya ke Daffa yang cemas dan Garce berjalan mendekatinya.
"Nara, kamu kenapa?" Garce bertanya lagi.
"Hiks, maaf tadi buru - buru pulang, aku harus menemaninya." Nara melihat baby Alan dan sesugukan.
Daffa dan Garce termenung di dalam box kaca itu ada bayi mungil yang lucu tetapi nampak lemah dan sakit.
"Ini siapanya kamu, Nara?" tanya Daffa.
Satu pertanyaan yang sulit dijawab Nara tapi tidak bagi Bu Mayang yang langsung berbohong.
"Anak saya."
Entah kenapa dua kata itu mengiris hati Nara. Perasaannya terguncang hebat mendengar Bu Mayang begitu enteng mengatakan baby Alan adalah anaknya. Padahal Nara sendiri yang berjuang hamil dan melahirkan anaknya.
"Weh, Nara! Jangan - jangan ini keponakan yang kamu maksud?" tanya Garce malah mengungkit lagi kata - kata yang menyakitkan itu.
Sudah diakui anak orang, sekarang baby Alan diakui sebagai keponakannya? Lalu sekarang apa lagi? Nara yang merasa tidak terima, jemarinya terkepal kuat - kuat ingin membantah namun Bu Mayang berbisik, "Nara tahan, ini demi pendidikanmu, Nak."
Dalam lubuk hati Nara, pendidikan memang penting, tetapi jika berkaitan dengan ikatan seperti ini sama saja dia adalah Ibu jahat yang tidak mengakui anaknya sendiri di depan teman - temannya. Tidak punya pilihan lain, terpaksa Nara mendengarkan Bu Mayang, tapi saat mau dijawab, hatinya yang rapuh saat ini benar - benar runtuh ketika Daffa bicara.
"Nara, kamu baik sekali pada adikmu," ucap Daffa memang tahu Bu Mayang itu pembantu yang menjadi ibu angkatnya maka dalam pikiran Daffa baby Alan adalah adik angkatnya Nara.
"Tidak!" Nara berlari keluar, tidak tahan lagi membendung air matanya.
"Aku manusia yang buruk sekali," tangis Nara di luar mengusap terus - menerus pipinya yang dijatuhi buih - buih penyesalan.
"Nara…." lirih Garce berdiri di dekatnya. Menatap sedih ke Nara yang sedang mencoba berhenti menangis.
"Nara, kamu jangan sedih, kami akan bantu biaya pengobatannya." Garce memeluknya, tidak tega melihat sahabatnya itu terpuruk.
"Itu benar, aku juga akan mendonasikan sebagian uang sakuku, jadi tidak perlu cemas, nona waketos." Daffa menepuk pelan kepala Nara membuat tangisnya pun berhenti dan tenang. Mau tidak mau, Nara menerimanya. "Terima kasih, Daffa, Garce."
"Nah begitu dong, senyum! Ayo senyum! Hehehe…." Tawa Garce senang melihat Nara mengukir senyumnya lagi.
'Maaf Alan, Bunda harus merahasiakan ini demi masa depanmu juga,' batin Nara mencoba tegar.
Bu Mayang di dekat pintu ikut lega melihat anak majikannya itu dikelilingi teman yang baik. Sekarang tinggal menunggu hasil laporan Dokter tentang kesehatan baby Alan.
Usai diperiksa dan dirawat seharian, baby Alan pun menangis kembali. Suara berisik tapi di telinga Nara itu suara indah. Nara senang buah hatinya membaik. Walau begitu, Dokter menganjurkan baby Alan dirawat beberapa hari sampai sehat total.
"Tidak apa - apa, semua akan baik - baik saja, Nara," hibur Bu Mayang melihat Nara yang cemas harus meninggalkan anaknya di rumah sakit sendirian karena Bu Mayang besok bekerja pagi dan pulang malam. Nara cuma mengangguk dan keluar, disusul Daffa dan Garce.
"Di rumah sakit ini keamanan terjaga, jadi kamu tidak perlu meragukannya," ucap Daffa lembut.
"Nah kalau begitu, kamu bisa bekerja juga untuk mengumpulkan uang, Nara. Itung - itung bantu Tante Mayang memenuhi kebutuhan anaknya," ucap Garce sekali lagi meriris hatinya Nara. Tapi yang dikatakan Garce ada benarnya.
"Hm, aku nanti pikirkan," angguk Nara.
"Ya sudah, aku pulang duluan ya! Dah, semangat Nara!" Garce melembai pergi karena supirnya sudah lama menunggu. Melihat Garce sudah pergi, Daffa pun bicara tiba - tiba.
"Kamu kerja saja di rumahku, Nara." Saran Daffa menatap mata Nara yang terbuka lebar.
'Di rumah Daffa?'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments