Ezra menarik tangannya lepas dari Nara, kemudian bicara sopan kepada wakil ketua osisnya.
"Aku anggota ekskul di sini dan harusnya kamu berterima kasih aku sudah menolongmu dari mereka yang sedang mengincarmu." Sambil dijelaskan, Ezra menunjuk dan turun ke dada Nara.
Spontan dua alisnya naik karena seragam di bagian dada kiri Nara basah. Nara yang tersadar langsung menutupi dadanya dengan dua tangan.
"Hey, jangan asal tunjuk!" tegur Nara.
"Sebentar deh, tadi kamu tidak bawa minuman apa - apa, tapi kenapa di bagian itu basah?" Sekali lagi Ezra nunjuk.
"Ba… basah? Mana ada!" Timpal Nara berbalik badan dan melirik ke bawah yang memang asinya bocor lagi. 'Aduh, aku harus ganti nih!' batin Nara cemas.
"Woy, sekarang aku tanya, kamu kenapa masuk ke sini?" tanya Ezra curiga.
"Jangan - jangan mau mencuri?" Tuduh Ezra dengan muka dingin yang menakutkan.
"Enak saja, aku ini OSIS, mana mungkin datang mencuri," bantah Nara masih membelakangi Ezra.
"Sorry… aku tidak serius menuduhmu kok, tapi apa tujuanmu?" tanya Ezra sinis.
"Hey, kalau orang diajak bicara tuh hadap sini, jangan hadap ke sana, aku mau lihat wajahmu, bukan punggungmu," celoteh Ezra kesal didiamkan.
'Sial, dia ini ribet juga orangnya!' batin Ezra yang malas bicara sekarang boros kalimat.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu anggota di sini dan terima kasih sudah bantu aku," ucap Nara kemudian menundukkan kepala melewati Ezra ingin pergi. Tetapi Ezra menggapai tangannya. Sontak saja, Nara dengan terkejutnya menghempaskan tangan Ezra, membuat cowok itu tersentak melihat Nara ketakutan dikarenakan traumanya muncul lagi. Nara tidak suka ditahan dari belakang. Itu menyakitkan.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Ezra panik melihat Nara sedang kesusahan bernafas.
'Jangan - jangan punya asma?' pikir Ezra tambah panik jika itu benaran.
"To…tolong jangan pegang—" lirih Nara putus karena dipeluk mendadak oleh Ezra sehingga aroma tubuh cowok itu sedikit demi sedikit bisa menormalkan nafasnya yang tersengal - sengal.
"Hey, tenanglah… jangan buat aku panik dong." Ezra mengelus punggung Nara yang tiba - tiba menangis. Ezra pun pasrah jaket sepuluh jutanya dipakai ngelap ingus.
'Sialan nih cewek, gampang sekali bikin tensiku naik.'
"Terima kasih dan maaf yang tadi," lirih Nara dan mendongak. Ezra mundur karena ditatap dekat.
"Apa lihat - lihat?" tanya Ezra risih.
"Itu, boleh aku pinjam jaketnya dulu?"
Kalau saja ada sendok, ingin rasanya Ezra menelan bulat - bulat sendok itu saking kesalnya melihat Nara.
"Aiihhh… kamu ini dikasih hati minta jantung, dikasih jantung malah minta jiwa, apa lagi yang nanti kamu minta? Hidupku?"
Kalau saja Nara mau, Ezra sekarang sudah diculik dan membawanya ke baby Alan. Bahkan kalau mau, bisa dijadikan ayah sambung baby Alan.
"Maaf, habisnya ingusku jatuh kena ini." Nara terpaksa menunjuk dada kirinya yang montok itu.
"Ihh jijik banget, nih pakai saja!" Ezra pergi setelah memberikan jaketnya. Sedangkan Nara yang masih diam menatap jaket laki - laki yang barusan memeluknya.
"Bau parfumnya sangat kuat, bisa buat orang mabuk, tapi aku harus pakai ini supaya anak - anak di sekolah ini tidak curiga seragamku yang basah."
Nara yang tadi mau daftar, jadi lupa. Gadis itu memakai jaket Ezra dan pergi ke kelasnya yang sedang sepi dan cepat - cepat mengambil kuttang dan seragam pengganti juga. Semua sudah Nara siapkan di dalam tasnya yang berseleting gembok kecil. Jadi tidak ada yang bisa buka tasnya kecuali dirobek.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Mumpung Garce sibuk di ekskulnya, Nara bisa mengganti seragamnya di toilet. Setelah keluar, lagi - lagi dia berpapan dengan Ezra.
Apa ini kebetulan lagi? Sepertinya tidak bagi Ezra yang sombong ke Nara.
"Woy, kenapa lo ikutin gue?" tanya Ezra agak susah bicara ke Nara.
Mengira direspon, tapi Nara memberikan jaketnya.
"Nih ambil, terima kasih sudah baik meminjamkannya," ucap Nara tanpa senyuman.
"Eitss… tunggu dulu." Ezra menahan kakinya Nara.
"Apa lagi?" tanya Nara memelas.
"Heran saja sih, kemarin kamu masuk toilet, terus hari ini masuk lagi, jangan - jangan kamu ke sekolah ini buat mandi di dalam? Ya kan?" tebak Ezra berpikir Nara tidak punya kamar mandi di rumahnya.
"Kalau aku balik tanya, kira - kira kamu jawab apa?" tanya Nara berdiri santai.
"Sial, tidak seru jika kamu begini, ish!" desis Ezra kecewa dan pergi dan melewati lorong belakang sekolah bersama Nara yang jalan di belakangnya. Karena sama - sama canggung, tidak ada obrolan sedikit pun.
Tiba - tiba petugas kebersihan memanggil mereka. "Hey! Kemari kalian!" Secepatnya dua siswa itu mendekat.
"Kenapa, Pak?" tanya Nara dan Ezra tidak sengaja kompak.
"Mumpung jam istirahat masih ada sepuluh menit, tolongin bapak sapu - sapu di sini, kemarin bapak tidak datang karena ada kesibukan, bantuin bapak ya?" mohon si petugas tidak sanggup sendirian menyapu halaman yang panjangnya puluhan meter.
"Baik, Pak! Saya bantuin, itung - itung dapat pahala, hehehe…."
Ezra terpaku diam dengan tingkah Nara yang lugu tapi cukup baik hati. 'Dia itu waketos harusnya ngurus siswa dan organisasi sekolah, tapi sekarang sempat - sempatnya menolong orang.' Ezra sedikit salut tapi tetap di matanya Nara itu gadis yang repot.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
"Eh, ini buat saya, Pak?" tanya Nara yang diberi amplop dari petugas.
"Ya, ambil saja itu upah kalian berdua. Sekarang bapak pamit dulu, terima kasih ya, Nak Nara."
Nara mengelus dada mendapat beberapa uang hasil jerih payahnya. Padahal niat ikhlas menolong, tapi mendapat rezeki yang tidak terduga - duga.
"Ya ampun, uang sedikit seperti itu saja kamu nangis? Nih ambil saja amplopku dan jangan perlihatkan wajah sedihmu." Beri Ezra cuma - cuma.
"Maaf, ini sudah cukup," tolak Nara.
"Hey, rezeki tuh jangan ditolak, lagian ini halal dan kamu kan miskin, harusnya terima saja," ucap Ezra tidak lupa sombong.
"Maaf, tapi aku—"
"Yaelah, nih ambil, gue ke kelas dulu dan lo jangan jauh - jauh dari Daffa! Sana pergi!" Setelah memberi, Ezra berlari pergi meninggalkan Nara yang masih diam di tempat.
"Te…terima kasih, cowok sombong." Ejek Nara baru bicara karena gengsi kalau di depan Ezra.
🥦🥦🥦🥦🥦🥦
Jam pulang pun tiba, Daffa di kelasnya buru - buru ke kelas Nara supaya tidak diganggu geng ciwi - ciwi blackzak. Tapi sesampainya di kelas, Garce bilang kalau Nara dari tadi sudah pulang di jam terakhir. Tentu Nara izin karena baby Alan masuk rumah sakit akibat tubuhnya tiba - tiba dingin dan tidak rewel.
Bu Mayang yang menelponnya dan sekarang Nara sudah berdiri di samping box bayi. Bukan cuma kesehatan baby Alan saja yang dicemaskan, tapi biaya perawatan yang mahal membuatnya gelisah. Bahkan upah dari petugas tidak cukup.
"Bu, bagaimana? Apa gaji Ibu bulan ini bisa diberikan?" tanya Nara dengan air mata yang perlahan membasahi dua pipinya.
"Maaf, Nara. Majikan Ibu juga membutuhkannya." Bu Mayang segera memeluk Nara yang hampir jatuh. "Aku harus bagaimana? Alan satu - satunya yang aku punya, aku tidak mau dia sakit seperti ini, Bu." Nara takut tidak mendengar tangis baby Alan lagi. Seketika saja, di dekat pintu sudah ada Daffa dan Garce.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Joveni
jodohmya nara mungkin ezra kali yah...??? kalo daffa ma garce dech...
2022-10-09
3