Bukannya dilepas, Pak Satpam dengan tegas menjitak kepalanya dan berkata sinis.
"Kamu sudah terbukti bersalah masih saja ngeyel, sini ikut bapak ke ruang guru!" Pak Satpam menyeretnya pergi dan menunjuk Nara.
"Saya juga ikut, Pak?" tanya Nara dan sedikit takut karena dipelotot oleh siswa pencuri itu.
"Ya, Pak Fahri memanggilmu."
Telinga Garce reflek bergerak - gerak. Dia pun ikut juga dan mengintip di luar balik jendela, melihat Nara sedang menghadap Pak Fahri sekalian melihat pencuri tadi diberi teguran keras serta menunjukkan bukti - bukti foto pencuriannya hasil dari laporan Daffa.
"Eh laporannya berasal dari Daffa? Tapi kenapa berurusan sama cowok angkuh tadi?" gumam Nara sama seperti Garce yang keheranan. Tapi sekarang lebih penting adalah Pak Fahri sedang memberi bimbingan untuk bersikap tegas ke kakak kelas walaupun Nara hanya junior kecil.
"Baik, Pak! Lain kali saya akan bergerak cepat, tapi ngomong - ngomong Pak Fahri tahu di mana ketos kami?" tanya Nara.
"Kamu mencarinya?" tanya Pak Fahri yang sebagai wali kelasnya. Nara mengiyakan.
"Besok saja kamu cari dia," ucap Pak Fahri.
"Besok? Kenapa harus besok, Pak?"
"Karena Daffa tidak masuk hari ini, dia sedang di rumah sakit." Nara tersentak, pantas saja seharian tidak melihat batang hidung Daffa.
"Kalau begitu, saya permisi, Pak!" Nara pun keluar menghampiri Garce yang senyam - senyum sendirian.
"Maaf Garce, aku dipanggil Pak Fahri cuma dikasih bimbingan. Maaf, aku tidak tahu menahu masalah yang tadi," ucap Nara mengeluh karena tidak mau bertanya lebih jauh lagi.
"Tidak masalah kok, nih aku sudah tahu dari grup chat sekolah ini. Hihihi…."
Nara tercengang baru tahu ada grup chat khusus bergosip. Benar - benar temannya itu tidak terduga - duga bisa menjadi ratu gosip dalam grup itu.
Dalam obrolan, tertera jika pencurian motor yang terjadi beberapa hari lalu sudah terbongkar dan pelakunya adalah anggota Blackzak. Organisasi khusus preman - preman sekolah dan salah satu anggotanya pelaku penabrak wakepsek dulu dan sudah banyak anggotanya berbuat kriminal dan dikeluarkan dari sekolah.
"Aku pikir siswa di sekolah ini menjunjung tinggi kedamaian, tetapi rupanya masih ada siswa yang suka buat keributan," keluh Nara jadi ingin mundur dari jabatannya.
"Kenapa tidak dibubarkan saja mereka?" gumam Nara heran sambil jalan - jalan mengelilingi sekolahnya.
"Itu sulit," ucap Garce jalan di sampingnya.
"Sulit kenapa?"
"Karena ketua Blackzak itu cucu pendiri sekolah ini, sekaligus penguasa yang suka semena - mena."
"Ah pantas saja ada kericuhan, ternyata biangnya cucu pendiri. Eh tapi aku cukup salut sih ke cowok angkuh yang tadi berani menonjok pencurinya di depan semua orang," senyum Nara sedikit lega.
"Oh, senior kelas sebelah itu memang sifatnya kejam, tidak segan - segan menghajar siapa saja, bahkan dia berani datang ke markas blackzak dan menghajar lima puluh anggotanya cuma karena alasan sepele," jelas Garce tahu segalanya.
"Wow, alasan apa?" Kaget Nara.
"G—A—B—U—T," ucap Garce.
"Gabut? Hanya gabut saja cowok toilet itu datang ke sana sendirian?"
"Nara, namanya Ezra Givandra, bukan cowok toilet! Kamu kenapa sih manggil dia begitu? Hahaha…." Garce tertawa geli karena Ezra yang tampan disebut cowok toilet.
"Hehe, habisnya tadi pagi ketemu di toilet." Seketika tawa Garce lenyap.
"What? Ketemu tadi pagi? Kenapa tidak kasih tahu aku tadi?"
"Yah habisnya orangnya cuek dan tidak penting juga." Nara terkekeh - kekeh.
"Yaelah." Garce memutar bola mata jengah.
"Hahaha, yuk ke kelas sekarang, sudah dekat nih pelajaran kedua." Nara menggandeng Garce dan tidak sengaja lagi berpapasan dengan Ezra tetapi cowok dingin itu cuma lewat dengan sombong.
"Apaan sih tuh orang? Mukanya dingin banget," celetuk Nara, tidak seperti Garce yang membola bisa berpapasan dengan salah satu tiga penguasa tertinggi di sekolah. Ezra Gavindra, anak dari salah satu tiga pendiri sekolah.
Saat mau masuk kelas, Garce berhenti karena Nara tidak jadi masuk dan malah membuka ponselnya.
"Kenapa, Nara?" tanya Garce dan menjinjit kemudian melihat pesan sebuah foto Alan yang terbangun dan sekarang diurus Bu Mayang.
|Belajar yang rajin ya Bunda dan jangan lupa nanti pulang sekolah singgah beli pampers|
"Waaahhh! Siapa anak ini? Gemes banget!"
Nara yang tersenyum pun tersadar sudah lupa ada Garce di sebelahnya.
"Wih, Bunda? Anak ini—" Garce melihat Nara yang berkeringat dingin. 'Gawat, dia pasti sadar Alan adalah anakku.' Nara membatin gelisah tapi Garce menarik tangannya.
"Hihihi, nanti pulang aku temani ya beli pampers keponakanmu, ya Nara," mohon Garce imut - imut manja.
"Ke…keponakanku?" ucap Nara terbata - bata.
"Ya, kan kamu Bundanya dan seperti aku yang sering dipanggil Bunda sama anak kakakku," senyum Garce suka anak - anak.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih." Nara terpaksa setuju karena kalau menolak nanti Garce bisa curiga sungguhan. Dari kejauhan, di pintu kelas dua, tampak Ezra memandangi Nara sebelum cewek itu masuk kelas.
"Cih, lemah sepertinya tidak cocok jadi waketos." Ezra berdecak dan masuk kelasnya.
🐥🐥🐥🐥🐥🐥🐥🐥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments