Klang!
Ezra menarik Nara masuk ke dalam loker yang sempit dan membungkam mulutnya. Nara yang dihimpit merasa sesak dan panas. Apalagi dua dadanya yang montok itu menempel pada Ezra.
"Shtt, diamlah!" bisik Ezra kemudian melihat ke luar melalui celah - celah loker.
'Haih, sepertinya cowok ini jahat dan mesum, apa yang harus ku lakukan?' pikir Nara mencoba bergerak - gerak tetapi sulit karena ada sesuatu yang menonjol di bawah.
'Sumpah, aku mau teriak sekarang!' Nara tidak tahan aroma tubuh Ezra yang memabukkan dan membuat pipinya merah merona saking panas dari ulah tonjolan di bawah sana yang terus bergesek.
Nara pun memutar otaknya mencari cara dan ia pun ingin mencoba menginjak kaki Ezra tetapi berhenti saat pintu dibuka dari luar. Kesempatan Nara untuk teriak namun seketika terdiam saat mendengar obrolan dua siswa cowok blackzak sedang mencarinya.
"Sial, gue yakin tuh cewek ke arah sini dan dia pasti masuk ke sini!"
"Bodoh lu, lihat nih nggak ada orang," ucap temannya marah dan ingin pergi tetapi ditahan sama yang cowok satunya.
"Jangan gobllok dong! Lihat noh, ada loker, kita buka satu - satu loker itu dulu, siapa tahu tuh cewek lagi ngumpet."
Deg
Ezra menengok saat mendengar detak jantung Nara yang keras. Tentu Nara gelisah dua orang itu ingin menggeledah loker siswa. Jika mereka menemukannya bersama Ezra, aib buruk waketos bisa tersebar dan membuat organisasinya rusak.
Klang!
Klang!
Klang!
Melihat Nara bergetar ketakutan gara - gara mereka, Ezra memberi ruang sedikit walau itu percuma saja.
"Lakukan sesuatu," bisik Nara karena mereka semakin dekat ke tempat persembunyiannya.
"Shhht…diam saja." Kata Ezra mencoba tenang meski pintu - pintu loker yang dibuka semakin dekat dan akhirnya satu pintu lagi tersisa belum dibobol. Mereka berdua berhenti di depan loker Ezra dan Nara berada.
"Apaan sih nih, sama sekali nggak ada, apa mungkin tuh cewek ke tempat lain?"
"Lo sih dibilangin tetap ajah ngeyel!" Temannya mau pergi tetapi ditahan lagi.
"Apa lagi sih lo?"
"Woy, nih masih ada satu belum kita buka," ucapnya menunjuk hingga Nara membelalak.
"Sial lo, bikin waktu gue terbuang," kesal temannya pun ingin membobol tetapi berhenti saat ada nada dering ponsel berbunyi.
"Woi, hp lo bunyi tuh!" Tunjuknya ke saku temannya.
"Siapa sih?" lanjutnya kepo.
"Cabut gih, kita disuruh kumpul sekarang ke markas."
Brakh!
Mereka pergi bersamaan pintu loker dibuka Ezra. Nara segera keluar dari tempat sempit yang membuatnya berkeringat dan menjauhi Ezra.
"Kamu!" marah Nara menunjuk.
"Gue kenapa?" tanya Ezra.
"Ka…kalau mau jahatin orang jangan setengah - setengah dong!" pekik Nara ngos - ngosan.
"Setengah - tengah? Maksudnya?" tanya Ezra merasa aneh melihat Nara ngamuk.
"Ya, kalau mau jahatin aku langsung bunuh saja, tidak usah bungkam sana gesek sini!"
Alis hitam Ezra terangkat, tidak paham maksud Nara. Melihat Ezra kebingungan, cewek satu anak itupun kesal tidak dipahami, akhirnya Nara menunjuk pintu dengan tegas.
"Keluar kamu, orang mesum! Kalau tidak aku lapor ke–"
"Siapa? Bapak lo?" Acuh Ezra malah duduk di kursi. Nara terdiam dan menunduk. Bapak? Ayah? Dia tidak punya sosok itu lagi. Membuat Nara menahan air matanya yang sudah menumpuk.
"Hey, gue tahu lo ini waketos tapi jangan nangis dong cuma gara - gara mereka, lo harus profesional," ucap Ezra menunjuk ke lencana Nara.
"Kenapa sih kamu di sini? Ini kan ruang teater, kamu keluar sana." Tunjuk Nara.
"Hadeh, justru ini ruang teater jadi gue ke sini, bukan kayak lo yang waketos tapi nyasar ke ekskul teater."
"Buta MAP ya?"
Nara tertegun mendengar ucapan Ezra. Dia pun menarik nafas dalam - dalam dan membuangnya kasar. Kemudian mendekati Ezra yang duduknya kurang ajar karena kakinya di atas meja.
"Minta maaf padaku sekarang!" kata Nara menarik dasi Ezra, menaiki satu kakinya di pinggir kursi.
Ezra yang membola pun sontak berdiri, benar - benar merasa aneh pada waketosnya. Karena benci perdebatan, Ezra melewatinya lalu jalan ke pintu.
"Benar - benar cewek sulit dipahami, dikasih hati tapi minta jantung!" Cibir Ezra.
Sebelum pintu dibuka, Nara menahan lengannya membuat cowok angkuh itu terkejut ditanya serius.
"Siapa kamu?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments