"Ehh… kerja? Kamu tawarin aku pekerjaan?"
"Hmm… yah, tapi pekerjaannya kecil,"
"Apa itu?" tanya Nara deg - degan.
"Itu loh, pembantu di rumahku, tapi meski kerjaannya kecil, gajinya gede loh,"
"Hm… aku mau!" Setuju Nara sehingga Daffa sedikit terkejut.
"Serius nih kamu terima kerja itu?"
"Ya, itu pekerjaan yang mulia kok, bisa bantu - bantuin hehehe…" senyum Nara.
"Ya sudah, hari ini kamu diterima, selamat waketos!" balas Daffa mengulurkan tangannya.
"Baik, terima kasih, Pak Ketos!" Nara senyum sumringah membuat hati Daffa sedikit bergetar.
'Eh, debaran apa ini?' batin Daffa tidak sadar pipinya agak merona.
"Aku….aku pulang ya, dahh sampai jumpa besok!"
Nara garuk - garuk kepala merasa aneh melihat tingkah Daffa yang terburu - buru. Tetapi dengan hadirnya Daffa, banyak hal yang bisa Nara terima, cowok baik dan jiwa yang punya rasa tanggung jawab. "Kalau aku jujur, apa dia akan tetap di sampingku?" gumam Nara seolah ingin memiliki Daffa.
🥦🥦🥦🥦🥦🥦
Sementara di markas Taurus Blackzak, Ezra masih berhadapan dengan preman sekolah.
"Woy," ujar Ezra menunjuknya. Baru jalan sedikit, 100 Preman bergerak cepat menghalangi langkah Ezra.
'Sialan nih bocah, di luar ada puluhan orang berjaga - jaga, tapi dia bisa mengalahkan mereka tanpa menimbulkan suara? Bagaimana dia bisa melakukan itu?' pikir Bos Taurus merinding karena rumor itu benar - benar fakta kalau Ezra dengan sendirian saja sudah membubarkan 4 kelompok blackzak dan sekarang Taurus berada di ujung tanduk.
"Ezra Givandra, ngapain lo datang kemari?" tanya Bos Taurus.
"Bukan alasan gabut lagi, kan?" sambungnya dengan sombong.
"Nggak usah tanya - tanya, kita ke intinya saja, katakan di mana ketua kalian?!" Ezra datang bukan karena mereka tapi ketua besar blackzak.
"Hahaha…" Si Taurus itu meremehkan Ezra.
"Woy, babi! Gue nanya, bukan dengerin badut tertawa," caci Ezra tampak tidak takut.
"Hey sialan! Lo buta ya? Lambang kita ini kerbau! Bukan babi kecil sepertimu," balasnya tidak mau kalah.
"Kalian urus dia! Tunjukkan geng kita ini tidak mudah dia hancurkan!" perintahnya ke 100 preman kemudian berjalan ke sebuah pintu keluar.
Melihat ada banyak preman di depannya, Ezra pun mengambil besi di lantai, menggeserkan ujungnya sehingga menimbulkan bunyi keras. Tapi Taurus tetap berjalan dan berpikir Ezra dihajar brutal, tetapi suasana yang hening pun pecah seperti kembang api yang meledak - ledak menghancurkan apa saja.
Duak!
Plak!
Bugh!
Ahhh!
Sialan kau!
Duakh!
Brukh!
Klang!
Treng!
Trang!
ZRAAKH!
Dari suara yang membabi buta itu, Taurus pun berbalik badan dan seketika saja satu tinju menghantam wajahnya sehingga jatuh terjungkal kemudian terbelalak melihat besi yang dipenuhi darah mengayung ke atasnya.
DUAK!
Begitu keras hantamannya sampai Taurus pingsan beserta anak buahnya tergeletak di lantai gara - gara ulah Ezra. Dia pun melepas dan mengambil lencana Taurus. Jika kekerasan tidak bisa dihentikan dengan kelembutan, maka patut ditegaskan lebih keras lagi. Itu prinsip Ezra.
"Mulai sekarang, kalian hanya sampah di sekolah ini." Ezra yang selesai menumbangkannya pun keluar memberikan lencana itu ke satu siswa laki - laki yang tidak lain adalah ketua Taurus Ozara.
"Sekarang mereka tidak akan berbuat ulah lagi, aku titipkan ini dan berikan ke Pak Mahendra,"
"Terima kasih, Ezra." Siswa itu pergi meninggalkan Ezra. Selesai bersihkan seragamnya yang kotor di toilet, ketua Ozara itupun pulang ke rumah dan setelah membuka pintu rumah, seseorang bicara di kursi yang sudah menunggunya.
"Dari mana saja kamu, Ezra?" tanya Daffa.
"Sepertinya kamu datang sendiri lagi ke mereka." Daffa pun berdiri di depan Ezra yang cuek.
"Ezra, yang kamu lakukan ini sangat ceroboh, apa kamu tidak berpikir dulu? Kalau mereka mengadu, Vano sendiri yang akan mencarimu," ucap Daffa menunjuk. Tapi Ezra dengan sinis menekankannya.
"Justru itu yang gue inginkan, menghadapi si ular yang hanya bisa bersembunyi dibalik ketiak preman sekolah." Ezra pergi ke kamarnya meninggalkan Daffa yang kesal sendiri.
"Dia hanya bisa berbuat tanpa berpikir dulu." Daffa pun duduk kembali dan melihat ponselnya. Senyumnya mengembang karena dapat nomor Nara di rumah sakit tadi.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Esok harinya, di hari rabu.
Hari ini Nara bisa tenang belajar, tidak seperti kemarin - kemarin ada saja yang membully dan mengincarnya. Itu karena, mereka sedang diskors oleh kepala sekolah. Sekarang jam pulang tiba, Garce tidak bisa pulang bareng Nara karena harus ke teman ekskulnya untuk mengikuti les memasak.
"Semoga saja tidak ada siswa berandalan yang cegat aku di gerbang sekolah nanti," keluh Nara jalan sendirian di koridor sekolah. Tiba - tiba ada yang memanggilnya.
"Hay, Nara!" panggil Daffa datang mengampiri.
"Hari ini jadikan?" tanya Daffa.
"Oh jadi apa?" Nara sedikit lupa.
"Ya ampun, kerja di rumahku? Jadikan?"
"Astagfirullah, aku lupa!" Nara menepuk jidatnya. Bukan karena kaget kerjaannya, tapi lupa memompa susu untuk Alan.
"Sepertinya tidak jadi deh," tolak Nara.
"Loh kenapa?" tanya Daffa kecewa.
"Habisnya, baby Alan --" Putus Nara keceplosan.
"Oh Alan? Itu namanya?" tanya Daffa baru tahu.
"Hehe... ya begitulah," jawab Nara merasa lega Daffa tidak curiga atas panggilannya ke Alan.
"Terus kenapa sama adikmu?" tanya Daffa membuat Nara sedih mendengar kata -adik- itu.
"Kata Dokter, hari ini bisa dibawa pulang,"
"Berarti nanti cuma sendirian di rumah kan?" tanya Daffa lalu diberi anggukan.
"Kalau begitu, bawa saja ke rumahku," saran Daffa mengagetkan Nara.
"Ta...tapi kan...."
"Jangan malu, Nara. Aku tidak masalah sama tangisannya nanti, yang jelas kamu bisa kerja, nanti aku yang coba tenangin baby Alan," ucap Daffa ikut - ikutan panggil baby.
Karena Nara diam, Daffa pun berhenti jalan ke sebuah penjual pinggiran. Kemudian kembali ke Nara.
"Nih, kamu ambil satu." Beri Daffa es krim ke Nara.
"Buat aku?" Tunjuk Nara.
"Hm, buat patnerku," ucap Daffa tersenyum manis. Nara pun dengan malu - malu menerimanya. "Terima kasih." Daffa mengangguk saja.
"Oh ya, yuk aku antar ke rumah sakit dulu." Ajak Daffa menggandeng tangan Nara ke arah motornya terparkir. Nara pun tidak bisa menolak karena sikap Daffa yang baik padanya dan mau tidak mau Nara terpaksa membawa Alan ke rumah Daffa, seklian dia akan berdiskusi bersama OSIS yang lainnya. Sesampainya, Nara melongo karena rumah Daffa sangat besar.
"Kamu letakkan sini," ucap Daffa memberi kasur di lantai untuk baby Alan yang sedang terlelap.
"Daffa, apa kamu yakin? Aku takut nih nanti baby Alan nangis terus buat diskusi kita hancur, terus anak - anak OSIS bakal berpikir aneh - aneh tentang kita," ucap Nara ragu - ragu meletakkan baby Alan di sebelahnya.
"Tidak perlu takut, mereka orang yang baik - baik dan tidak akan berpikir buruk." Senyum Daffa. Karena didesak, Nara pun meletakkan baby Alan hati - hati sedangkan cowok itu membuka laptopnya, siap melakukan panggilan zoom dengan OSIS lain.
Tetapi baru juga Daffa mau menghubungi anggotanya, baby Alan tiba - tiba menangis. Nara cepat - cepat mengeluarkan botol susu Alan, tetapi baby Alan tidak mau membuatnya dan Daffa panik. Ketos panik karena tidak tahu mengurus bayi. Sedangkan Nara panik karena baby Alan mau menyusu langsung padanya.
Sibuk menenangkan baby Alan, tiba - tiba dari anak tangga Ezra sedang turun ke bawah. "Woy, Daffa! Gue lagi bobo siang, bisa nggak sih jangan berisik? Pakai suara bayi pula!" Marah Ezra pun berhenti karena melihat ada bayi sungguhan.
Deg
Tiga - tiganya sontak diam dan begitupula baby Alan diam melihat Ezra. Sedangkan Ezra pun menunjuk Nara dan baby Alan bergantian.
"Lah, ini apaan? Kenapa ada bayi sungguhan? Jangan - jangan kalian ini sudah itu - ituan?" Ezra memegang dadanya karena hampir jantungan. Tapi seketika suasana yang hening itu pecah gara - gara baby Alan tertawa melihat Ezra yang tidak suka berekspresi tapi sekarang raut wajahnya Ezra sangat lucu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Riyas Warman
Ezra bapaknya kali 🤔🤔
2022-11-18
0