"Ezra? Kenapa kamu ada di sini?" Sambil mentimang - timang baby Alan, Nara bertanya pada Ezra.
"Harusnya gue tanya, lo ngapain di sini?" tanya Ezra menunjuk. Daffa pun berdiri, menjawab sejujurnya. "Nara dan aku adalah OSIS dan sekarang kami berdua ingin berdiskusi soal masalah siswa yang terus mengeluh."
"Kalau soal itu sih gue bisa maklumi, tapi kalau yang ini gue heran kenapa ada bayi di sini?" Ezra menunjuk baby Alan. Nara pun diam, sulit menjawabnya.
"Bayi itu adiknya Nara." Sekali lagi Nara harus menahan perihnya ucapan itu.
"Bentar, setau gue, Nara itu anak tunggal, dari mana coba dia tiba - tiba punya adik?" tanya Ezra kurang percaya dan menatap curiga pada Nara.
"Baby Alan, itu namanya dan dia anak dari seorang pembantu, Ezra. Dan sekarang Nara bekerja di sini sebagai pembantu." Nara terhenyak. Ucapan Daffa itu benar karena sekarang Nara adalah pembantu di rumah ini.
"Waketos kok jadi pembantu? Kenapa nggak sekalian jadi muci kari saja kalau mau cepat - cepat kaya?" cibir Ezra masih benci Nara karena kejadian kemarin di ruang teater disebut mesum dan jahat.
"EZRA!!!" Daffa marah dengan sikap kejam dan sombongnya Ezra itu.
Gara - gara Daffa berteriak, baby Alan menangis keras. Nara buru - buru berdiri sebelum Ezra balas meneriaki Daffa.
"Daffa, aku ke dapur dulu ya," pamit Nara ke dapur untuk diam - diam menyusui bayinya. Sedangkan Ezra dengan jalan keluar ingin pergi dari rumah, tetapi ditahan oleh Daffa.
"Mau kemana kamu?" tanya Daffa sinis.
"Bukan urusan lo!" Ezra pergi membawa motornya. Daffa mengepal tangan merasa iri karena Ezra jago berantem. Karena itu juga, Ezra menginap di rumah Daffa untuk menjaga ketos supaya tidak seperti ayahnya yang masih koma di rumah sakit.
Saat pintu sedikit lagi tertutup, seseorang menahan knop dari luar. Daffa membelalak yang berdiri di luar itu Mahendra. Nara yang mengintip di dekat pintu dapur juga terbelalak ada Mahendra masuk. Dia yang menyusui Alan pun gelisah hebat. Mau bersembunyi pun, Alan tiba - tiba merengek.
"Oeekk!"
Suara kecil itu spontan memecah keheningan di antara Mahendra dan Daffa. Dua laki - laki itu menoleh ke arah dapur.
'Waduh, gawat nih!' batin Daffa melihat Mahendra jalan ke sana.
"Daffa, apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu ke saya?" tanya Mahendra berhenti di dekat lemari.
"Sembunyi? Hahaha…. mana ada, Pak."
"Tingkahmu sangat aneh, ada yang tidak beres di sini," lirik Mahendra pun kembali jalan tapi Daffa menghadangnya.
"Sepertinya tadi itu cuma suara bayi tetangga deh, bagaimana kalau cek saja ke sana?" Daffa menunjuk ke luar rumah.
"Jangan tiba - tiba bodoh kamu, Daffa! Melihat tingkahmu ini, saya tahu ada orang di rumah ini." Mahendra menggeser cepat bahu Daffa dan masuk ke dapur. Sontak saja, pria dewasa itu diam membisu ada bayi di atas meja makan dan dibalut dengan selimut tebal.
Mata Mahendra yang tajam pun berapi - api ke Daffa yang mematung karena cuma ada baby Alan tapi Nara tidak ada. Kemana dia?
"Daffa, jelaskan kenapa ada bayi di rumah ini?"
"Kamu mencuri anak orang?"
"Atau jangan - jangan ini anakmu?"
Mahendra berjalan dengan dua tinju siap menghukum ketos sekolahnya itu. Tetapi baby Alan tertawa lucu melihat Mahendra. Tangan kecil dan jemari pendek - pendeknya meminta ingin digendong. Mulut mungilnya bergerak ingin merengek manja membuat Mahendra diam terhanyut ke dalam keimutan baby Alan.
"Pak, tuduhan ini tidak benar," ucap Daffa mulai membantah ke Pak Mahendra yang menggendong bayi Nara dan menatap dalam - dalam mata Baby Alan yang seperti tidak asing dan agak mirip dengannya.
"Lalu siapa bayi ini?" tanya Pak Mahendra kembali tegas. Nara yang dari tadi di toilet karena perbaiki bajunya, ia pun keluar dan bicara.
"Itu adik saya," ucap Nara terpaksa bohong meski harus memakai kata - kata yang menyakitkan itu.
"Nara? Kenapa kamu ada di sini juga?" Kaget Mahendra. Nara mengambil baby Alan dari wakepseknya itu yang berumur 27 tahun. Sangat muda dan tampan, kan? Cocok jadi ayah untuk baby Alan. Lagian cuma beda 10 tahun dari Nara.
Nara pun menjelaskan panjang lebar membuat Mahendra duduk di kursi dan memegang kepalanya yang pusing.
"Astaga, kalian ingin berdiskusi sedangkan ada bayi di sini. Apa kalian tidak memikirkan resiko kalau osis lain bisa menuduh kalian ini sudah berbuat senonoh!" Mahendra ingin marah tapi ada baby Alan yang sedang tidur.
"Maaf, ini salahku, Pak," ucap Daffa.
"Maaf, aku tidak punya tempat untuk menitipkan adikku, Pak," sambung Nara ikut lesu.
"Ya sudah, sini saya bawa ke atas," ucap Mahendra mengambil baby Alan.
"Kalian berdiskusi dan jangan berisik," tambah Mahendra melotot pada Nara yang mengangguk saja. Pria dewasa itupun naik membawa baby Alan.
"Syukurlah, Pak Mahendra tidak mengomel - omel hari ini," hembus Daffa mulai membuka laptopnya.
"Daffa,"
"Hm kenapa?" tanya Daffa yang duduk di sebelah Nara yang tampak cemas.
"Itu aku mau tanya,"
"Tanya apa?"
"Kenapa Pak Mahendra sama Ezra ada di sini? Apa kalian tinggal bersama?" tanya Nara sangat penasaran karena Mahendra tidak turun lagi dari lantai dua.
"Oh itu, memang mereka tinggal di sini dan kami bertiga satu keluarga," jawab Daffa cengengesan. Sedangkan Nara yang syok terus membuka mulutnya lebar - lebar.
"Hahaha… aku tahu ini memang mendadak sih, tapi mau bagaimana lagi nenek kami memang bersaudara. Kamu tidak tahu itu?"
Nara tambah syok saja bisa - bisanya dikelilingi cowok - cowok tampan yang punya satu ikatan.
"Hahaha…hahaha…. aku memang miskin ya jadi tidak tahu apa - apa, mau cari informasi tapi hapeku cuma kentang, hahaha…." Nara sedikit mau gila. Daffa pun menepuk bahu Nara.
"Walau pun miskin harta, tapi kaya kebaikan, Nara." Daffa lagi - lagi berhasil menenangkan Nara. Gadis itu tersenyum karena sifat Daffa yang lemah lembut. Sedangkan di lantai dua, Mahendra menatap Nara dengan tanpa ekspresi dan penuh sorotan mata curiga.
"Dia berbohong."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Riyas Warman
😲😲😲😱aq sudah nyebut² anaknya Ezra eeehhh ini malah ......🙈🙈🙉
2022-11-18
1
Joveni
ayah kandungnya baby alan kah????
2022-10-09
2