"Undur diri dari OSIS? Baru sehari lewat, kamu sudah yakin mau berhenti?"
Mahendra tidak sangka Nara melepaskan lencana OSIS dan meletakkannya di atas meja.
"Ya Pak, saya tidak cocok memegang jabatan ini." Nara menolak dengan tegas.
"Sebentar, beri saya alasan jelas mengapa kamu berhenti dari jabatan yang sangat - sangat diinginkan anak - anak lainnya?" tanya Mahendra belum terima lencana Nara.
"Saya rasa lebih cocok kalau anak - anak lain yang mampu mendapatkan posisi istimewa ini. Saya sekarang hanya gadis biasa yang mau belajar dengan damai dan tidak mau mendapat musuh, Pak," oceh Nara sudah tidak bisa dibujuk.
Mahendra memejamkan mata sejenak, menenangkan pikiran sebentar. Setelah itu berdiri memberi lencana itu secara tegas ke tangan Nara dan bicara serius.
"Justru karena mereka yang mampu dalam materi tidak cocok menerima posisi ini!"
"Kenapa tidak cocok?" tanya Nara.
"Karena mereka akan memanfaatkannya demi keuntungan sendiri, misalnya, lebih berkuasa dari siswa lain dan dapat menghancurkan sekolah ini." Jelas Mahendra.
"Tapi Pak, anak yatim piatu sepertiku ini hanya akan diinjak - injak oleh mereka, bahkan jika aku dalam situasi bahaya, aku bisa saja mati di tempat," terang Nara ingat yang kemarin.
"Kenapa kamu bicara begitu?" tanya Pak Mahendra syok sekali.
"Karena kemarin aku sudah merasakan pembullyan!"
"Pak Mahendra, apa jangan - jangan anda sengaja menempatkan saya hanya untuk ditindas? Tepatnya pembullyan berkedok OSIS?"
"Sebentar, kamu sedang menuduh saya ini jahat, begitu?"
"Habisnya di mata Pak Mahendra sepertinya sangat membenci saya!" kata Nara sedikit mundur.
Mendengar ulasan Nara, Mahendra menghembus nafas berat dan memegang keningnya yang tidak habis pikir Nara lebih parah dari yang lain.
"Tolong Pak, jangan paksa saya lagi—" Nara terdiam ketika seorang cowok lebih tinggi berdiri di dekatnya.
"Maaf hari ini baru masuk, kemarin saya tidak bisa jauh - jauh dari rumah sakit, Pak."
Nara spontan mendongak melihat Daffa. Paras tampan, alis tebal, dan mata sayu itu hampir menghipnotisnya. Serasa ada tarikan jika dia berada di sisinya. Ditambah ada tahi lalat di bawah mata kirinya.
"Bagus sekali, sekarang kamu baru datang setelah patnermu sedang mengundurkan diri, Daffa!" Mahendra sedikit sebal.
"Maaf, ayah saya lebih penting dari sekolah ini. Mohon Pak Mahendra memaklumi saya."
Begitu menusuk sekali ucapan Daffa sampai - sampai Nara cukup terkagum - kagum.
"Huuhh, kamu ini selalu saja menyindir orang." Mahendra berdecih lalu duduk ke kursinya.
"Oh ya, kamu yakin benar - benar ingin berhenti?" tanya Daffa pada Nara yang sedang canggung.
"Aku… aku sudah yakin," ucap Nara tambah gugup karena ditatap dekat oleh Daffa.
"Sungguh yakin?" ulang Daffa.
"Ya, Kak Senior!" Pekik Nara sambil menundukkan kepala. Daffa membuang nafas pendek bisa - bisanya ada cewek yang tidak betah jadi waketos. Mahendra yang masih dalam pendiriannya, dia pun bicara kembali. "Bukan bermaksud memaksa tetapi dalam surat yang kemarin kamu baca, tercantum di sana bahwa masa pergantian akan dilakukan tiga tahun ke depan. Maka dari itu, mau tidak mau kamu tetap harus menjadi waketos, Nak Nara."
Daffa tampak tertegun mendengar Mahendra yang dirumorkan dingin dan killer rupanya masih bisa bicara lemah lembut.
"Tapi, Pak—" Nara berhenti saat bahunya ditepuk Daffa.
"Nara, aku tahu ini memang berat, tetapi sekolah sudah mempercayakan kemampuanmu dan lagipula ada aku yang selalu berada di sisimu. Jadi mari kita berjuang sama - sama melaluinya sampai kelulusan tiba," ucap Daffa sedikit bicara aneh. Karena kata - katanya itu agak romantis sehingga Nara agak salting.
"Ekhm, cukup bicaranya. Sekarang kembalilah bertugas dan belajar." Mahendra mendehem, tidak suka melihat wajah siswa - siswanya yang kasmaran. Tapi Daffa malah semakin melunjak.
"Jadi Nara, apa kamu masih tetap mau berada di sisiku?" tanya Daffa dengan senyuman simpul.
Mahendra tambah sebal melihat Daffa menggandeng tangan Nara dan sekarang pamit kepadanya.
"Terima kasih atas pengertiannya, Pak. Kami pergi dulu, permisi." Daffa menarik Nara keluar dari ruang itu dan membawa Nara jalan - jalan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf apabila masih banyak kekurangan dalam merangkai kata, karena author masih belajar juga😊🙏terima kasih dukungannya dan tetap support aku dengan like + komen + favoritkan supaya aku semangat melanjutkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
BIBIT RIWAYATI
semNgat kak q baru mampir di karyamu😁
2022-10-22
2
Joveni
pak mahendra kenapa ya kok kayaknya marah liat daffa nara?..pasti dia jodi n jones deh.. jadi iri liat orang mesra...
2022-10-09
3