"Hei, Nara," bisik Garce. Nara menutup cepat dadanya pakai tas dan menahan asinya tidak keluar sekarang.
"Kenapa?"
"Dengar - dengar wakil kepsek di sekolah ini sudah diganti dengan yang baru, lho."
"Kalau begitu siapa orangnya?" tanya Nara penasaran karena wakepsek di sekolah ini tidak pernah diganti dan sangat baik hati.
"Aku juga belum tahu sih tapi yang jelas wakepsek dulu saat ini sedang dirawat di rumah sakit."
"Serius, kenapa bisa?" tanya Nara.
"Beliau mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu dan sekarang lagi koma."
"Ku harap, beliau cepat sembuh dan bisa masuk lagi ke sekolah." Nara turut prihatin. Garce menganggukkan kepala sedih.
"Eh tapi katanya wakepsek sekarang beda dari yang dulu lho." Garce masih tidak bisa berhenti bergosip di tengah - tengah orientasi berlangsung.
"Bedanya apa?"
Garce mendekati telinga Nara, berbisik sangat kecil. "Katanya killer dan menyeramkan." Kalimat itu spontan saja membuat bulu kuduk Nara berdiri.
"Serius?" tanya Nara memeluk tubuhnya sendiri.
"Serius, tapi–"
"Tapi apa?" Rasa takut Nara hilang seketika.
"Katanya ganteng dan masih muda sih, hehehe." Garce cengengesan membayangkan wakepsek adalah sugar daddy yang gagah dan tinggi. Benar saja, dia sekarang berjalan ke atas panggung dan dengan cepat mencuri perhatian siswi - siwsi baru. Mereka terpana dan hanyut dalam bayang - bayang imajinasinya. Begitupun Nara membayangkan dirinya bisa membawanya pulang untuk diberikan ke Alan.
"KYAAAAAA!"
"WAAAAH GANTENG BANGET!"
Suasana benar - benar heboh diisi jeritan - jeritan dari mereka dan bersorak - sorak hingga siswa yang lain merasa malu dan risih. Terutama wakapsek juga sangat terganggu. "Haha, takdir punya paras tampan memang begini, yang sabar ya, Pak." Pak Fahri yang berdiri di sebelahnya menepuknya dan tidak sungkan - sungkan memuji siapa saja.
Bagi Pak Fahri ini bagus tapi bagi wakepsek baru sangat tidak suka keributan. Dia pun mengeluarkan toa dan mengucapkan satu kata saja dengan lantang hingga semuanya diam menghening.
"DIAAM!!"
DEG! Mereka duduk cepat dan sedikit takut ditatap tajam dan tegas. "Mohon perhatiannya untuk tenang dulu." Wakepsek tampan itu pun memulai penyambutan dan aturan pendidikan dalam ELIPSEAN II yang harus dipatuhi dan menjaga attitude adalah hal yang penting bagi mereka.
Nara mengangguk paham dan kembali menyimak sampai wakepsek pun masuk ke topik yang paling penting ialah OSIS yang fenomenal. Identitas mereka dirahasiakan, sehingga murid di SMA ELIPSEAN II tidak pernah tahu siapa anggota - anggota OSIS.
"Nara, katanya dalam penyambutan ini, pak wakepsek akan memilih waketos osis yang baru," bisik Garce ke Nara.
"Memang ada waketos juga?" tanya Nara seingatnya sekolah ini tidak memiliki waketos dan ketos hanya berdiri sendiri bersama anggota lainnya. Itulah salah satu bedanya dari SMA lain.
"Dulu sih tidak ada tapi gara - gara insiden wakepsek dulu, tahun ini sekolah mencari waketos untuk mendampingi ketos kita."
"Kenapa dengan ketos sampai harus repot - repot merekrut di sini?"
"Nara, wakepsek dulu adalah ayah ketos saat ini dan gara - gara identitas anaknya terbongkar tahun lalu, seseorang yang benci pada ketos dengan sengaja menabrak mobil wakepsek yang sedang menuju ke sekolah kita."
"Terus pelakunya bagaimana?"
"Pelakunya sudah ditangkap tapi karena usia pelaku masih di bawah umur, jadi dipenjara beberapa bulan saja."
"Ehh, kalau begitu nyawa ketos bisa selalu dalam bahaya jika pelakunya terbebas, 'kan?" tanya Nara kemudian dibalas anggukkan.
"Semoga saja waketosnya bisa bela diri demi menjaga keamanan dan kesejahteraan sekolah ini," ucap Nara.
"Ya tapi—"
"Kenapa?" tanya Nara.
"Aku dengar waketosnya dari siswa yang mendapat beasiswa tahun ini."
Nara terkejut bukan main karena itu jatuh kepadanya. Benar saja wakepsek memanggil nama satu siswa di antara ratusan murid.
"Nara Kumaira, dipersilahkan maju ke atas aula."
Garce spontan syok, bisa - bisanya kandidat waketos dan murid beasiswa adalah Nara Kumaira. Begitupun yang lain terkejut dapat mengetahui identitas waketos mereka. Satu - satunya anggota osis yang diketahui selain ketos.
"Apa karena aku yatim piatu jadi dipilih?" gumam Nara masih tidak percaya terpilih.
"Sekali lagi, Nara Kumaira mohon segera maju ke aula!" Panggil wakepsek tegas. Tidak tahan dipanggil terus, Nara pun terpaksa maju. Sekali lagi mereka heboh mengetahui wajah Nara Kumaira. Tidak seperti Nara yang jalan gemetar dan diam - diam berkeringat dingin.
"Nara, selamat atas jabatanmu di sekolah ini." Pak Fahri memberi lencana osis.
"Kenapa saya yang dipilih, Pak?" tanya Nara.
"Karena nilaimu berada di atas rata-rata dari semua murid baru di sini dan salah satu murid yang masuk kriteria bapak kepala sekolah kita. Saya harap kamu menerima jabatanmu dengan suka rela." Jelas wakepsek tegas di depan Nara. Mata seperti elang yang tajam mematuk lurus.
"Terima kasih, Pak —" Henti Nara belum tahu nama wakepsek barunya.
"Mahendra." Mahendra kemudian berpaling muka dengan acuh dan dingin membuat Nara sedikit jengkel karena Mahendra terlihat sombong.
Tbc.
Note :
Wakepsek : Wakil kepala sekolah.
Waketos : Wakil ketua OSIS.
Ketos : Ketua OSIS.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Riana
jgn jgn laki laki itu mahendra
2022-10-31
4