Setengah jam kemudian sudah berlalu, Ella masih terduduk sendirian di kursi tunggu yang ada di koridor depan kamar papanya dirawat. Tamu-tamu dari sekolahan papanya sudah pulang, tetapi Ella masih enggan untuk kembali masuk ke dalam kamar perawatan itu. Hatinya terasa gelisah memikirkan Ardi yang katanya mau datang kesini. Masih sulit baginya untuk mempercayai bahwa pria itu akan benar-benar datang menemuinya disini.
Tak lama kemudian Ella dapat melihat seorang pria keluar dari lift di ujung koridor lantai tiga ini. Pria itu berjalan dengan langkah cepat menyusuri koridor rumah sakit. Seorang pria dengan pakaian formalnya kemeja putih dan cardigan abu-abu yang terlihat sangat pantas ditubuhnya. Pria itu terlihat sangat buru-buru dan mencari-cari nomer ruangan di sepanjang lorong rumah sakit ini.
Pria itu berjalan semakin mendekat ke arah Ella, Ardi.Tak salah lagi, Ardi lah yang berjalan mendekatinya. Perlahan namun pasti Ella dapat merasakan jantungnya berdetak lebih cepat demi melihat pria itu. Sosok yang entah mengapa sangat dirindukan oleh Ella.
Memang terdengar sangat klise dan sangat berlebihan karena mereka baru saja empat hari tidak bertemu setelah pertemuan terakhir di hari minggu. Tapi entah mengapa Ella sudah merasakan kerinduan mendalam pada sosok pria itu.
Ardi menyadari keberadaan Ella. Dapat dilihatnya gadis manis itu duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari besi. Ella terlihat sedih dan sedikit pucat daripada penampilan kesehariannya yang terkesan segar dan ceria. Kemudian tanpa basa basi dihampirinya gadis itu.
Ella berdiri dari kursinya, menyambut Ardi yang melangkah semakin mendekat padanya. Entah bagaimana kejadiannya dan tentu saja tak dapat dihindari oleh Ella pria itu tiba-tiba saja meraih dan memeluk tubuhnya. Erat dan sangat erat seakan tak ingin melepaskan gadis itu lagi.
"Mas Ardi?" Tanya Ella ditengah kekagetannya. Dibalasnya pelukan dari pria itu untuk sesaat. Kedua tubuh mereka seakan bersatu menjadi satu, detak jantung keduanya yang semakin cepat dan keras sampai dapat terdengar oleh satu sama lainnya.
Setelah beberapa saat kemudian Ella mendorong kedua tangannya kearah pria itu, berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Ardi. Terlalu malu untuk berpelukan di depan umum dengan orang-orang yang ada di segala penjuru koridor lantai tiga ini memperhatikan mereka.
"Mas lepasin mas, malu dilihat orang"
Seakan tersadar dari khayalan indahnya, Ardi melepaskan pelukannya dari tubuh Ella dengan perlahan. Kemudian pria itu menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya dan memandang Ella dengan pandangan tajam yang sulit diartikan. Rasa lelah, marah, kecewa, kesal, senang, lega, dan haru semua bersatu menjadi satu. Rasa bahagia yang mengalahkan segala rasa yang lainnya. Akhirnya dia berhasil menemukan Ella, gadis yang dicintainya.
"Maafkan aku..." Ujar Ella menundukkan wajahnya dalam-dalam tak berani menatap wajah Ardi.
Dia tahu pasti Ardi sangat marah padanya. Marah akan sikapnya yang egois dan seenaknya. Baginya tatapan Ardi saat ini terlihat sangat dingin dan menakutkan, seakan bisa membekukan tubuhnya menjadi balok es seketika.
Ardi dapat merasakan dagunya berkedut dan geliginya mengerat beberapa kali. Ditariknya
napas dalam-dalam beberapa kali untuk meredakan luapan emosinya yang meluap dan siap meledak. Bagaimanapun setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya dia berhasil menemukan Ella. Jadi tak seharusnya dia menumpahkan segala kemarahannya pada gadis itu.
Tadi pagi setelah sampai di ruang kantor pribadi di gedung perusahaannya entah mengapa Ardi merasa sama sekali tak dapat berkonsentrasi. Otaknya seakan tak mau diajak berkompromi. Tak mau memikirkan hal lainnya selain Ella. Dia sama sekali tak berminat untuk menyentuh segala dokumen dan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya. Pikirannya hanya tertuju pada Ella yang seakan menghilang ditelan bumi begitu saja.
Dia sudah mencoba untuk mengirim pesan dan menelpon gadis itu berkali-kali tetapi tak ada response sama sekali. Dengan rasa kesal dan keputus asaan yang memuncak akhirnya Ardi beranjak pergi dari kantornya tanpa pamit pada siapapun disana. Bahkan dia juga tak memperdulikan Cindy yang menyapanya dan menanyakan kemana dia akan pergi.
Ardi terus berlalu, mengambil mobilnya dan melajukan mobil merah itu ke RSUD G. Dia berharap dapat menemui Ella disana. Berharap dapat menanyakan secara langsung apa yang terjadi pada gadis itu. Kenapa Ella bertingkah aneh selama tiga hari ini.
Begitu sampai di RSUD G Ardi merasa kecewa. Tak ada sosok Ella dengan jas putihnya disana. Yang didapatinya sedang bertugas menjaga UGD pagi itu adalah seorang wanita yang seingat Ardi bernama Intan. Ardi ingat, Ella pernah bercerita bahwa wanita berambut pendek itu adalah teman sekontrakannya.
Ardi menghampiri gadis itu dan meminta ijin untuk berbicara sejenak. Intan yang sepertinya sudah mengenalnya pun tak menolak. Gadis itu menjawab semua pertanyaan dan rasa penasaran Ardi tentang Ella yang menghilang tiba-tiba. Betapa kagetnya Ardi saat Intan menceritakan tentang keadaan papa Ella dan Ella sendiri yang harus pulang ke Surabaya dengan mendadak untuk melihat kondisi papanya.
Setelah pembicaraannya dengan Intan, segala pikiran di kepala Ardi seakan kosong. Dan begitu disadarinya, dirinya sudah melajukan mobilnya ke arah terminal Genting. Memarkirkan mobilnya disana dan menaiki bus patas jatim jurusan Banyu Harum-Surabaya. Hanya satu keinginannya saat itu, mengejar Ella ke Surabaya. Menemukan gadis itu. Dia sangat rindu dan ingin bertemu dengan gadis itu.
"Jangan pergi. Jangan pernah menghilang dan menghindar lagi dariku." Ardi berusaha menata kata-katanya sehalus mungkin.
Ella tersenyum dengan sangat manisnya dan mengangguk mantap menjawabnya.
"Ayo masuk mas, aku kenalkan sama mama dan papaku" ajak Ella pada Ardi.
"Sebentar sebentar. Aku perlu sedikit menenangkan diri dulu" Ardi menolak ajakan Ella dan menghempaskan dirinya untuk duduk di kursi tunggu. Pria itu terlihat menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya, berkali-kali, mengatur napasnya, menata emosinya sebelum menemui orang tua Ella.
Ella tertawa tertahan melihat Ardi yang ternyata bisa gugup juga sebelum menemui orang tuanya. Ella menyodorkan sebotol air mineral yang daritadi dibawanya. "Minum dulu mas, biar adem" Ujar Ella sambil mengambil duduk di sebelah Ardi.
Ardi menerima air mineral dari tangan Ella dan meminumnya sampai tinggal separuh botol. Kemudian dia menghembuskan napasnya keras-keras dan menepuk kedua pipinya dengan telapak tangannya.
"Ayo aku siap," Ujar Ardi sambil bangkit dari duduknya.
Ella tertawa geli melihat tingkah Ardi yang berusaha mengatasi kegugupannya. "Mas Ardi gak bawa apa-apa dari Banyu Harum?"
"Aku tadi langsung dari kantor. Bahkan tidak sempat untuk ganti pakaian. Tentu saja gak bawa apa-apa" jawab cowok itu polos.
Sekali lagi Ella tertawa ringan menyadari bahwa Ardi bahkan tidak membawa tas atau barang apapun selain apa yang sedang dikenakan di tubuhnya saat ini. Sembrono sekali dia, bisa-bisanya dia keluar kota tanpa persiapan apapun.
"Yaudah ayo sini," Ella menarik tangan Ardi. Tapi bukan kearah kamar papanya dirawat, melainkan ke arah yang lainnya.
Ella mengajak Ardi ke lift, turun ke lantai dasar, berjalan menyusuri lobi, halaman rumah sakit dan memasuki sebuah bakeri di salah satu komplek pertokoan yang ada di depan pelataran rumah sakit.
"Paling tidak untuk kesan pertama, mas Ardi bisa bawakan kue kesukaan papa," ujar Ella ringan.
"Ah kamu benar. Coba pilihkan apa saja kue kesukaan papamu" Ardi menyadari kebodohannya yang sampai melupakan tata krama dalam menjenguk orang sakit. Membawa buah tangan dan oleh-oleh.
Ella mengambil beberapa kue low sugar dan sugar free untuk papanya. Dia juga mengambil dua iris chesee cake untuk dirinya sendiri dan mamanya.
"Mas Ardi mau kue yang mana?" Ella bingung harus memilih kue yang mana untuk Ardi.
"Gak usah. Aku gak begitu suka kue-kue manis," jawab Ardi menolak.
Ella segera membawa nampan kuenya ke kasir dan merogoh uang di saku celananya. Tetapi Ardi bereaksi lebih cepat, dia mendahului Ella menyodorkan credit card platinum-nya kepada kasir. Membayar semua kue yang mereka beli. Kue-kue itu kemudian dibungkus dan diserahkan kepada Ella oleh sang petugas.
"Kukira mas Ardi lupa gak bawa uang," Ujar Ella sambil terkikik saat mereka berdua meninggalkan bakeri.
"Memang. Aku cuma bawa sedikit uang tunai di dompet. Tapi aku masih bisa membeli segalanya dengan kartuku," jawab Ardi dengan nada yang dibuatnya sedikit sombong.
"Emang Ella mau minta dibeliin apa? Pasti kubelikan!" lanjut Ardi menantang.
"Boleh minta apa saja? Bener lo ya?Jangan nyesel ntar!" Ella ikut tertantang dengan tawaran Ardi yang mau memamerkan kesultanannya.
"Boleh siapa takut!" Ardi semakin tertantang.
Ardi penasaran akan apa yang kira-kira diinginkan oleh gadis itu. Sejak mengenal Ella, gadis itu tak pernah sekalipun meminta apapun darinya. Tak pernah minta dibelikan barang atau materi berbentuk apapun padanya. Padahal kalau saja Ella mau meminta padanya, apa saja akan rela dia belikan untuk gadis itu. Emas, perhiasan, tas, sepatu, baju mahal, apapun yang dimintanya.
Keduanya berjalan beriringan dengan bergandengan tangan, sesekali berceloteh dan tertawa sambil menyusuri koridor rumah sakit untuk kembali ke kamar melati 7 tempat papa Ella dirawat.
~∆∆∆~
🌼Tolong klik RATE (⭐⭐⭐⭐⭐), JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR and GIFTS Makasih 😘🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 260 Episodes
Comments
Maimai
minta di buatkan rumah sakit aja ella atas nama kamu, biar kerja nya gak jauh dr ortu dan ardi nanti klo sdh nikah
2022-11-17
0
Amelia Pramudita
Seruu wooy..🎉
2021-06-02
1
Olviyan Afriyani
bang Ardi rindu berat mangkane Sampek dibela2in ngebis ke Surabaya. demi apa klo bukan demi honey tercayang 🤗😂🤣
2021-05-09
1