Sore harinya, setelah dua jam perjalanan yang lumayan panjang, melelahkan dan membuat ngantuk akhirnya mereka sampai juga di kota Jembar. Linggar harus berjuang sendirian melawan ngantuk-nya sambil terus menyetir mobil. Hawa dingin AC, suasana sepi tanpa musik, tarikan halus mesin mobil mewah yang minim guncangan, serta dengkuran halus kedua orang yang tidur di jok belakang semakin memberatkan matanya. Memaksanya untuk mengunyah dan menelan permen beberapa kali sebagai senjata melawan rasa ngantuk.
"Bentar lagi nyampe mbak. Tolong bangunin mas Ardi." Pinta Lingga pada Ella yang memang sudah bangun sejak setengah jam yang lalu.
Ella sesekali mengajak ngobrol Linggar menanyakan berbagai hal yang menarik tentang daerah yang mereka lewati. Membantu Linggar untuk sedikit melawan rasa ngantuk. Sementara Ardi? Bahkan gempa bumi pun tak akan sanggup membangunkan Ardi kalau sudah tertidur pulas begitu.
"Mas...Mas Ardi? Bangun mas." Ella menepuk ringan pipi Ardi untuk membangunkannya. Membuat Ardi terkesiap kaget menanggapi tepukan Ella di pipinya.
"Hemm..." Dia mengerjapkan matanya berusaha mengembalikan kesadarannya. Perlahan mengangkat kepalanya dari pangkuan Ella dan menepuk-nepuk leher dan punggungnya.
"Aduh duh duh...leherku kaku," keluh Ardi sambil terus memijat lehernya.
Ella tersenyum gemas tingkah bangun tidur Ardi. Tetapi sedetik kemudian tiba-tiba saja Ella merasa kakinya kebas dan kesemutan setelah beban dari kepala Ardi terlepas darinya. Ella sedikit mengernyitkan dahi dan merintih perlahan menahan rasa sakit, kebas dan kesemutan-nya. Perlahan dia coba menggerak-gerakkan kakinya yang mati rasa.
"El? Kamu kenapa?" Tanya Ardi khawatir saat mendengar rintihan Ella, tangannya sudah bergerak untuk menyentuk kaki Ella.
"Stop...stop...jangan pegang! Kakiku kesemutan," Ella menghalau tangan Ardi.
"Aduh...Sorry banget lo El. Kepalaku berat ya? Kamu kok gak pindahin aja si tadi biar bisa ganti posisi." Ardi sangat canggung, merasa sangat bersalah pada Ella.
"Gak papa kok. Selonjor bentar juga sembuh."
"Udah-udah jangan mesra-mesraan mulu. Kita udah nyampe ni." Linggar berkata setelah memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah super mewah bergaya eropa di salah satu perumahan Elite Citra Land Jembar.
Linggar segera turun dari mobil dan memasuki halaman rumah. Ardi menghampiri pintu mobil di sebelah Ella dan membantu gadis itu keluar dari mobil. Memapah tubuh Ella dengan melingkarkan sebelah lengan Ella di pundaknya.
Linggar menekan tombol bel rumah, sekali, dua kali dan tiga kali. Duh ni anak emang gak sabaran banget. Tak lama kemudian terdengar derap langkah dari dalam rumah dan kemudian pintu rumah itu terbuka. Seorang gadis cantik, berkulit bersih, dan berambut keriting gantung yang indah muncul dari balik pintu.
"Linggaaaarrr!" Gadis itu langsung memeluk tubuh Linggar dan mencium kedua pipinya kanan dan kiri. Sementara Linggar hanya berhahaha-hihi saja menanggapi sambutan hangat itu.
"Udah mbak Laras. Lepasin malu ni." Linggar berusaha melepaskan pelukan gadis itu.
"Mas Ardi!" Laras menyadari kehadiran Ardi langsung menghampirinya, tetapi langkahnya terhenti sejenak karena Ardi yang masih memapah Ella.
"Gimme hug mas!" Ujarnya merajuk manja sambil membuka lebar kedua lengannya, merengek dan mengharapkan pelukan dari Ardi.
"Huuuuuh," Ardi membuang napas menghadapi tingkah adiknya itu. Dibantunya Ella duduk di kursi teras terlebih dahulu sebelum dia menghampiri Laras.
"Sini-sini dasar manja," dipeluknya tubuh adik perempuannya itu dengan hangat.
Setelah puas memeluk Ardi, gadis itu menambahkan ciuman ringan di kedua pipinya. Pasti gadis ini adalah adik Ardi. Ella hanya bisa memperhatikan keakraban ketiga bersaudara itu. So sweet banget hubungan kakak beradik itu, mau tak mau Ella jadi tersenyum.
"Oiya kenalin, ini Larasati adik keduaku," ujar Ardi setelah melepaskan pelukan Laras dari tubuhnya.
"Dan ini Ella, wanitaku." Ardi mengenalkan Ella dengan sebutan yang mampu membuat Ella melayang sepersekian detik demi mendengarnya, wanitaku.
Laras mengamati Ella dengan pandangan yang sangat teliti dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, sekali, dua kali, sampai tiga kali berulang-ulang. Kemudian dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ella dengan senyum yang dipaksakan di bibirnya.
"Larasati Pradana," ujarnya.
Ella menyambut uluran tangan Laras dengan posisinya masih duduk di kursi. "Amelia, Ella," dia memperkenalkan dirinya.
Dari kesan pertama saja Ella dapat melihat tingkah Laras yang sangat sinis padanya. Tidak seperti Linggar yang menyambut ramah pacar kakaknya, Laras terkesan menebarkan aura permusuhan yang nyata. Terang-terangan tidak ramah pada Ella.
"Kenapa tu kakinya mbak Ella?" tanya Laras sinis.
'Duh apa-apaan coba cewek ini keganjenan banget sampe jalan aja minta dibopong sama mas Ardi. Manja banget!'
"Gak apa-apa kok cuma kesemutan dan sedikit kram," jawab Ella dengan nada kikuk.
'Nah looo kesan pertamaku pada Laras pasti jelek,' batinnya meronta-ronta.
"Sudahlah, buruan ambil barangmu Ras, ayo siap-siap dan kita berangkat."
"Nggar, bantu angkatin barang Laras." Ardi menengahi, dia sedikit bingung harus bagaimana meredakan sakit di kaki Ella. Dalam keadaan begitu dipegang juga bakal tambah sakit.
Dengan wajah kesalnya Laras menuruti perkataan Ardi memasuki rumah dengan Linggar yang mengikutinya dari belakang.
"Huuuh apaan cewek manja begitu? Bisa-bisanya mas Ardi suka sama yang begituan?" Laras ngomel-ngomel gak jelas pada Linggar.
"Mbak Ella itu kakinya kram karena memangku kepalanya mas Ardi selama dua jam nonstop." Linggar menjelaskan keadaan yang terjadi.
"Haaaah? Mas Ardi tidur dipangkuannya?"
"Iya...Jujur aja deh mbak. Kalau mbak ada diposisi mbak Ella betah gak dua jam mangku kepala gede dan berat mas Ardi?"
Kali ini Laras diam tak bisa menjawabnya. Dia tahu betul mas Ardi memang suka tidur sembarangan. Apalagi kalau habis begadang dan lembur. Kakaknya itu memang paling suka tidur berbantalkan sesuatu.
Tak jarang paha Laras atau Linggar yang jadi sasaran dijadikan bantal oleh Ardi. Tapi mereka paling maksimal hanya bisa bertahan setengah jam, setelah Ardi tertidur pulas akan mereka pindahkan kepalanya dari paha mereka.
Linggar membawa ransel dan barang-barang yang sudah disiapkan Laras. "Kenalan dulu lebih jauh sebelum menilai. Kalau aku si setuju mas Ardi sama mbak Ella." Linggar berlalu membawa barang-barang itu ke bagasi mobil hitam yang terparkir di halaman.
Beberapa saat kemudian saat kakinya mulai membaik Ella berdiri perlahan dari kursinya. Ardi membantunya melangkah dan menuntunnya memasuki rumah.
Bagian dalam rumah ini bergaya vintage khas eropa dengan nuansa coklat dan krem. Hampir semua perabot di rumah terbuat dari kayu berukir indah yang rumit. Sofa-sofa super besar pun dipilih dan ditata apik di berbagai ruangan. Lukisan dan segala macam hiasan dinding bernuansa vintage juga tersebar dimana-mana.
Ardi membawa Ella ke ruang tengah, ruang keluarga tempat bersantai dan menonton tv. Ardi mendudukkan Ella di salah satu sofanya, kemudian dia sendiri duduk di sebelahnya.
Di ruang keluarga itu Ella dapat melihat berbagai foto yang terpajang di dinding. Foto papa dan mama mas Ardi. Foto keluarga mereka, yang kali ini menggunakan busana formal yang kebarat-baratan. Lalu berjajar dan berurutan tiga buah foto anak kecil, dengan seragam TK mereka, anak laki-laki, perempuan dan laki-laki lagi.
"Itu foto mas Ardi waktu TK ya?" tanya Ella menunjuk foto salah satu dari ketiga foto tadi.
Dapat dilihatnya foto seorang anak yang sangat lucu dengan pipinya yang tembem dan bulat. Rambutnya tersisir kesamping dengan sangat licin. Anak itu tersenyum seakan tak punya dosa dalam balutan seragam TK warna birunya yang berdasi agak miring. Emang sejak kecil udah ada bibit ganteng ni Ardi, batin Ella gemas.
"Hahaha iya. Malu-maluin aja mama tu suka majang foto jadul begitu."
"Lucu banget kok. Gapapa dipasang. Mas Ardi kecilnya gemesin banget," celetuk Ella.
"Sekarang emang nggak gemesin ya?" goda Ardi nakal.
"Sekarang..." Ella tak sanggup melanjutkan. Sekarang jauh lebih ganteng! Keren! Tapi Ella terlalu gengsi mengakuinya.
"Sekarang mah gantengan aku. Iya gak mbak Ella?" celetuk Linggar yang tiba-tiba saja sudah menghampiri mereka. Menghempaskan dirinya di salah satu sofa.
"Ganteng dan kerenan aku kemana-mana kali. Iya nggak El?" Ardi tak mau kalah.
"Udah-Udah ganteng kok dua-duanya. Lebih ganteng dari Thanos." jawab Ella santai.
"Ya iyalah," jawab Ardi dan Linggar kompak berbarengan lalu mereka berdua tertawa. Merasa tak terima kegantengan mereka disamakan dengan Thanos.
Tak lama kemudian Laras menghampiri mereka sambil membawa minuman dingin dan beberapa toples cemilan. Laras meletakkannya di meja dan mempersilahkan mereka menyantapnya.
Dengan seksama dia memperhatikan ketiga orang yang sedang bercanda itu. Entah mengapa ada sedikit rasa sesak didada, cemburu dan tidak rela bahwa kakak dan adik kesayangannya seakrab itu dengan seorang wanita lain.
"Ras pinjemin sweetermu satu buat Ella ya," pinta Ardi. "Ella gak bawa soalnya."
"Kok gak dibeliin aja? Mas Ardi kok pelit banget sama ceweknya?" ujar Laras ketus. Dia tidak suka ide untuk meminjamkan barang miliknya pada Ella.
Apa-apaan si Mas Ardi kok bisa-bisanya care banget sama cewek ini? Wajahnya memang cukup cantik si, tapi biasa aja. Nothing special dari wajah Ella yang indonesia banget dengan rambut hitam lurus dan kulit kuning langsat. Bodi juga biasa aja. Apa yang membuatnya special? Bahkan Cindy sekretaris mas Ardi saja jauh lebih cantik dan menarik darinya.
"Ella nya yang gak mau dibeliin," jawab Ardi.
"Gak usah. Aku gak begitu suka memakai sweeter soalnya. Aku gampang gerah." Ella menolak, berusaha mencairkan suasana canggung.
Kali ini Laras sedikit tertegun, diamatinya lagi penampilan Ella yang sangat sederhana. Baju dan segala yang dikenakannya biasa saja, bukan barang-barang branded high class yang biasa dipakai gadis-gadis kaya atau sok kaya jaman now. Wajah Ella juga terlihat sangat natural. Pasti gadis itu tidak memakai skin care mahal yang bisa membuat wajah cantik dan glowing bak artis koreya.
Apa Ella ini miskin? Kenapa dia tidak minta dibeli-belikan oleh mas Ardi? Laras tahu betul kakaknya itu tak akan pelit dan perhitungan untuk membelikan sesuatu pada ceweknya. Dan tak bisa dipungkiri lagi kebanyakan wanita yang mendekati Ardi Pradana adalah untuk hartanya, kekayaannya. Mungkin karena hal itu kakaknya ini masih melajang sampai sekarang. Ardi terlalu malas untuk berhubungan dengan cewek matre.
"Mbak Ella itu dokter lho mbak Laras. Temen sejawatmu. Dia sekarang lagi inship di RSUD G bareng sama mbak Sari." Linggar ikut membantu sedikit mempromosikan Ella di hadapan Laras.
"Owh lulusan mana mbak? Lulusan tahun berapa?" tanya Laras tetap dengan ketusnya. Tapi ada rasa penasaran juga yang hinggap di benaknya.
"Uner. Baru lulus tahun ini," jawab Ella sedikit kikuk. Merasa diinterogasi oleh Laras.
Kali ini Laras sedikit senang dengan jawaban Ella. Dia sedikit mengerti mengapa kakaknya bisa suka dengan gadis ini.
Ella adalah gadis yang pintar dan sederhana. Tak semudah itu untuk bisa masuk dan berkuliah ke fakultas kedokteran dari salah satu universitas negeri di Surabaya itu. Bahkan tak akan semudah itu pula untuk lulus dan menyelesaikan pendidikan dokternya jika dia tidak berotak cerdas.
Ella pasti menggunakan otaknya untuk menjadi dokter. Bukan hanya mengandalkan uang ratusan juta untuk dapat berkuliah di fakultas kedokteran universitas swasta.
Sangat sesuai dengan pandangan hidup keluarganya. Bahkan dengan kekayaan keluarga Pradana yang bisa menguliahkan mereka kemana saja, Ardi dan Laras masih harus berjuang keras untuk dapat masuk dan lulus dari Universitas Negeri. Mereka tak ingin mendapatkan pendidikan dengan memanfaatkan uang dari orang tuanya. Mereka ingin berusaha sendiri.
"Udah makin sore ni. Yuk abisin minumnya dan cepetan kita berangkat. Ngejar sunset kan," Ardi mengingatkan. Dan mereka berempat pun segera beranjak ke mobil setelah meneguk habis minumannya. Melanjutkan perjalanan mereka, jalan-jalan.
~∆∆∆~
🌼LIKE, AND KOMENTAR JANGAN LUPA YA😉🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 260 Episodes
Comments
Maimai
keren kan pilihan ardi, laras.
2022-11-16
0
Hesti Ariani
pasti mau ke pantai berpasir putih itu yaa
2021-10-23
1
Fitriana
jgn nilai org dari luarnya krn blm kenal
eee ternyata laras orgnya asyik...meski kesan pertama kayae jutek2 kya mamanya ardi
2021-05-09
1