Sudah dua minggu lebih sejak pertemuan pertama Ella dengan Ardi. Setiap hari mereka masih selalu bertukar pesan atau panggilan suara dan vidio. Hubungan normal layaknya muda-mudi yang sedang kasmaran masa pendekatan.
Sejak terakhir kali Ardi mengantarkan Ella ke RSUD G kapan hari, Ardi tidak pernah mengajak Ella keluar lagi. Ardi mengatakan bahwa kerjaan dikantornya sedang sibuk-sibuknya sehingga tidak memungkinkan untuk ditinggal.
Dan Ella pun biasa saja menanggapinya, dia malah merasa senang dengan sifat Ardi itu. Menurut Ella, Ardi adalah pria yang cerdas yang bisa membuat skala prioritas. Tahu mana hal yang penting dan harus didahulukan daripada hal tidak penting lainnya. Yah mungkin saat ini kencan mereka belum terlalu penting dan mendesak.
Belakangan Ardi juga pernah menceritakan bahwa dirinya diserahi tugas untuk mengurus pembangunan komplek perumahan baru oleh kantornya. Jadi sudah dapat dipastikan kalau pria itu pasti sedang sibuk dan banyak urusan setiap harinya.
Menurut Ella, sudah bagus kalau Ardi masih mau menyempatkan diri untuk sekedar mengucapkan selamat pagi atau selamat malam lewat pesan di sosial medianya setiap hari.
'At least dia masih inget aku kan?' pikir Ella.
Ardi bukanlah pria alay atau bucin yang akan menghabiskan waktu untuk berkencan setiap hari atau bertukar pesan setiap saat. Malah pria itu cenderung cuek dan jarang mengirim pesan yang tidak penting. Hal ini tentunya cocok untuk Ella yang juga sama sibuknya.
Ella pasti juga tak akan bisa menghadapi seseorang yang harus memaksanya membalas pesan cinta setiap saat. Bahkan saat sibuk dengan pekerjaannya di RSUD tidak jarang Ella melupakan Hand phone seharian. Dan tentunya dia tak akan dapat membalas pesan juga seharian.
"Trus El, udah sejauh apa hubunganmu sama Mas Ardi?" Tanya Sari kepo.
Ya memang Sari adalah mak comblang hubungannya dengan Ardi jadi sudah sepantasnya dia bertanya tentang hasil perjodohan yang dilakukannya.
"Ya gitu deh. Wa-an, telponan, makan bareng. Not that bad lah." Jawab Ella santai sambil menyantap gado-gado, menu makan siangnya di kantin RSUD.
"Gitu-gitu doank?" Sari semakin menyelidik, sambil menggigit baksonya. Sedikit gemas juga dengan perkembangan percomblangan-nya yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
Sari heran kenapa Mas Ardi kakak sepupunya itu tak mau mengambil insiatif yang lebih agresif untuk mendekati Ella. Mumpung ada high quality jomblo kaya Ella. Jarang-jarang kan nemu dokter cantik pinter baik hati pula. Bener-bener paket komplit...
'Masa si Mas Ardi gak doyan cewek ya?' Pikiran Sari semakin liar kemana-mana.
"Iya gitu aja. Emangnya mau ngapain lagi?" Tanya Ella dengan sedikit bingung.
"Dia gak pernah ngajak kamu ke rumahnya? Ngenalin ke ortunya?"
"Yaampun Sar. Masih belum kali. Belum waktunya. Baru juga kenal dua minggu," jawab Ella panik dengan muka merah padam.
Apaan si Sari kok buru-buru banget, padahal Ella kan ingin lebih jauh lagi mengenal Ardi sebelum memutuskan untuk melangkah lebih jauh.
"Budhe Kartika, mamanya mas Ardi itu udah pengen punya mantu El. Makanya beliau request sama aku kalau ada temen yang bisa dikenalin hehe. Eh si mas Ardi-nya nyantai-nyantai gitu, kan jadi gemes liatnya." Sari nyerocos menjelaskan bagaimana motivasinya mengenalkan Ella pada Ardi.
"Mamanya nyuruh buru-buru nikah?" Mau tidak mau Ella sedikit tertarik juga ingin mengetahui tentang keluarga Ardi.
"Ya gak buru-buru juga si. As soon as posible ASAP hehehe."
"Yeeeeee, sama aja itu mah!"
"Mas Ardi itu anak pertama keluarga Pradana, El. Usianya juga sudah cukup umur untuk menikah. Tambah lagi orangnya ganteng dan gagah gitu. Ya jelas aja sudah banyak yang mengantri untuk bisa berkenalan atau sekedar menjadi temannya. Para ibu-ibu sosialita juga sudah banyak yang menawarkan anak gadisnya pada budhe Kartika." Sari menjelaskan panjang lebar.
"Tunggu-tunggu keluarga Pradana itu siapa?" Ella berusaha mencerna penjelasan Sari.
"Lha kamu gak tahu? Aku belum cerita?"
"Nggak!"
"Aduh Ella. Masa kamu gak tahu keluarga Pradana itu yang keluarga yang paling kaya di kota Banyu Harum. Mereka menguasai perusahaan-perusahaan yang menangani pembangunan perumahan elit, bisnis properties sampai bisnis pembuatan bahan dan material bangunan mentahan."
Ella ternganga mendengar penjelasan Sari. Tak bisa membayangkan aset dan kekayaan keluarga Pradana.
"Jadi, Mas Ardi bukan arsitek biasa?" Tanya Ella semakin bingung.
Karena setahunya Ardi adalah seorang arsitek lulusan Institute Tecnologi Surabaya. Dan Ardi bekerja di kantornya yang mengurusi tentang pembangunan perumahan.
"Bukan lah. Yah emang si dia basiknya arsitek. Tapi kalau di keluarganya sekarang dia sudah seperti orang kedua terkuat dibawah papanya. Terus perusahaan yang diurus Mas Ardi memang perusahaan konstruksi perumahan. Dia itu direktur di perusahaannya sendiri. Kayaknya sekarang perusahaannya lagi ngerjain perumahan elite Modokaripuro hills di Kota Jembar deh." Sari menjelaskan lebih mendetail.
"Eh? Perumahan elit itu?" Ella masih sulit untuk mempercayai apa yang didengarnya.
"Iya yang per unitnya bisa dibandrol harga milyaran itu." Jawab Sari santai saja membicarakan uang dengan jumlah angka nol yang banyak itu.
Ella terdiam sejenak memikirkan perkataan Sari. Jadi Ardi anak orang kaya raya? Sultan banget? Memang Ella bisa menebak Ardi berasal dari keluarga mampu dari mobilnya, penampilannya, cara berpakaiannya.
Tapi Ella tak menyangka dia sekaya itu. Pria itu terlihat terlalu sederhana untuk devinisi Sultan-nya Kota Banyu Harum yang dikatakan Sari. Mana ada coba sultan yang doyan makan soto di warung pinggir jalan?
"Aku duluan ya El. Ada konsulan px ni," ujar Sari pamit setelah membuka pesan di Handphonenya. Dia beranjak ke kasir untuk membayar makannya tadi.
"Yuk El duluan. Makananmu udah sekalian ikut aku tadi." Pamitnya sebelum setengah berlari ke poli penyakit dalam tempatnya berjaga.
Dalam kesendiriannya Ella terus saja memikirkan tentang perkataan Sari. Ada sedikit keraguan dan ketakutan melandanya. Bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Ardi? Bisakah gadis biasa dari keluarga sederhana sepertinya untuk bersanding dengan Ardi yang notabene seorang sultan?
Akhirnya daripada terus memikirkan hal yang tidak jelas dan berasumsi yang tidak-tidak, Ella memutuskan lebih baik dia bertanya secara langsung saja ke Ardi. Diambilnya Hand phone dan diketiknya sebuah pesan untuk Ardi.
Ella
Selamat siang mas Ardi. Ada waktu gak?
Pesan itu terkirim tapi hanya tanda centang satu yang terlihat sebagai penunjuk. Sambil menghembuskan napas Ella meletakkan handphonenya dan melahap habis makan siangnya sebelum meninggalkan kantin.
Tepat saat Ella berjalan ke arah parkiran untuk mengambil motornya, Ella merasakan ponsel bergetar. Dan didapatinya panggilan telepon dari Ardi, dengan hati yang entah kenapa menjadi berbunga Ella segera menerima panggilan itu.
"Hallo Ella. Kenapa El?" Tanya Ardi diseberang sana dengan nada sedikit khawatir.
"Halo mas Ardi. Gak papa kok cuma pengen ngomong aja. Mas ada waktu?"
"Hmmm, gimana ya jam makan siang udah mau abis. Aku masih ada meeting abis ini..."
"Yaudah nanti aja klo mas Ardi sudah longgar waktunya," Ella merasa tidak enak menggangu Ardi yang sedang sibuk bekerja.
"Mau ngomong soal apa si? kok kayaknya serius amat?" Tanya Ardi menyelidik.
Ella tak biasanya mengirim pesan untuknya tanpa ada tujuan dan maksud yang jelas. Gadis itu bukanlah tipe yang suka bermanja-manja dan mencari perhatiannya dengan pesan-pesan tidak penting. Jika Ella mengatakan ingin ngomongin sesuatu pastinya benar-benar ingin membicarakan sesuatu yang serius. Bukan hanya sekedar melepas kangen.
"Aku ingin tahu soal keluarga mas Ardi"
"Oh..." Jawab Ardi dengan hati sedikit mencelos.
Ardi memang tak bermaksud menyembunyikan tentang keluarganya. Tapi sementara ini dia ingin Ella mengenalnya sebagai seorang Lazuardi. Bukan Lazuardi Pradana. Ada rasa ketakutan besar pada diri Ardi kalau Ella akan pergi menjauhinya, menghindarinya karena status keluarganya.
"Kamu nanti malam ada di kontrakan? Aku akan mampir kesana setelah pulang kerja," jawab Ardi setelah terdiam cukup lama.
"Ada. Aku free kok. Ini barusan selesai jaga pagi. Mau pulang istirahat..." Ella menceritakan tentang jadwalnya hari ini.
"Kalau pulang hati-hati ya naik motornya."
"Siap ndan," Jawab Ella sedikit bercanda.
Ella dapat mendengar Ardi terkikik diseberang sana mendengar jawabannya. Udahlah pembicaraan seriusnya nanti saja di kontrakan pikir Ella. Sekarang Ella masih ingin mendengar suara Ardi yang santai dan membahas hal-hal ringan saja.
"Eh aku lagi di kota Jembar ni. Kamu mau dibeliin oleh-oleh apa nanti?" tawar Ardi.
"Yang enak apa disana?"
"Hmmm brownis tape? proll tape? edamame? bakpia glenmore? apa lagi ya...Banyak si."
"Terus yang menurut mas Ardi enak yang mana?" Tanya Ella tak bisa memutuskan ingin yang mana. Karena dia juga tak tahu bentuknya dan bagaimana rasa dari barang-barang yang disebutkan oleh Ardi tadi.
"Enak semua si. Yaudah aku beliin semua aja deh ntar." Ardi memutuskan tanpa ambil pusing.
"Eh? gak usah semua juga kali," protes Ella.
"Gak papa mumpung kesini. Biar Ella tahu makanan khas kota Jembar."
"Yaudah deh. Makasih ya."
"Kok makasih? kan belum dibeliin?"
"Mas Ardi Udah ada niat mau beliin aja udah makasih kok."
"Klo gitu gak jadi dibeliin deh. Kan udah dapet terima kasihnya," goda Ardi jahil.
"Eh? kok gitu?"
"Ahahaha," Ardi tertawa ngakak.
Nyesel banget dia tak melakukan panggilan vidio call tadi. Kalau tidak dia bisa melihat wajah Ella saat ini. Pasti ekspresi gadis itu sangat lucu dan menggemaskan sekarang.
"Maaf Pak Lazuardi meetingnya sudah mau dimulai." Ella dapat mendengar suara seorang wanita dari seberang sana.
"Eh udahan dulu ya El. Aku udah dipanggil buat meeting. Sampai ketemu nanti sore."
"Ok deh. Good luck meetingnya."
"Sip. bye Ellaa," ujar Ardi sebelum menutup panggilan ke Ella dan segera beranjak ke ruang meeting bersama wanita tadi.
Setelah menutup panggilan dari Ardi, Ella memasukkan ponselnya ke tas dan melanjutkan perjalanannya ke tempat parkir motor RSUD G. Segera diambil motor matic putih kesayangannya dan dikemudikannya ke kontrakan.
'Shift jaga pagi selesai juga akhirnya' dengus Ella sambik membuang napas lega.
Shif pagi memang paling melelahkan. Selain jumlah pasien yang banyak dan keadaan rumah sakit relatif rame dipagi hari, entah mengapa jarum jam serasa lama sekali berdetaknya. Padahal ya sama saja lama jaganya tetap 7 jam. Mulai jam 6.00 pagi sampai jam 13.00 siang
~∆∆∆~
FYI (For Your Information)
Dalam dunia pendidikan medis dan interenship, para dokter muda (koas) dan dokter interenship akan di tempatkan secara bergiliran ke setiap stase di rumah sakit. Stase-stase itu misalnya UGD, poli penyakit dalam, poli bedah, ruang rawat inap bedah dan ruang rawat inap penyakit dalam.
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR. Makasih 😘🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 260 Episodes
Comments
Die-din
cara paling gak ruwet kan 🤣
2022-11-14
0
Maimai
dr pada pusing pilih yg mana, mending beli semua ya ardi, biar gak repot
2022-11-14
1
Maimai
ada el sultan doyan makan soto di warung, itu ardi bukti nya hahah
2022-11-14
1