Keesokan harinya Ella terbangun sedikit kesiangan, dan didapatinya Laras yang juga masih tertidur nyenyak di ranjang mereka. Kemarin setelah makan malam mereka memang masih bersantai di tenda menikmati suasana malam di tepi pantai. Linggar yang diluar dugaan Ella pintar memainkan gitar, menghibur mereka dengan permainan gitarnya yang enak didengar.
Laras dan Ella sesekali request lagu untuk mereka nyanyikan, menyanyi bersama diiringi petikan gitar Linggar. Bahkan Ardi pun sesekali ikut bernyanyi dengan suara fals-nya.
Mulai lagu berbahasa indonesia, bahasa inggris, bahasa korea bahkan lagu dangdut berbahasa jawa pun mereka nyanyikan semua. Campur aduk berbagai macam genre musik.
Mereka berempat menghabiskan malam bersama sambil mengobrol dan becanda. Lebih mendekatkan dan mengakrabkan diri satu sama lain. Sambil menikmati jagung dan sosis bakar bikinan mereka sendiri.
Pukul sebelas malam Ella dan Laras meminta ijin untuk beristirahat di kamar. Kedua gadis itu melakukan night ritual mereka sebelum akhirnya naik ke kasur. Tetapi tetap saja keduanya tak bisa langsung terlelap begitu naik ke ranjang. Akhirnya mereka berdua pun berbincang-bincang, ngobrol kesana kemari tentang segala sesuatu.
Entah mengapa Ella merasa cocok dengan Laras. Bagi Ella, Laras itu sebenarnya sama menyenangkannya dengan Ardi atau Linggar. Bahkan Laras yang berkuliah di fakultas kedokteran tentunya memiliki topik pembicaraan yang nyambung dengan Ella. Mereka bisa membahas tentang kuliah, tentang koas, tentang dunia medis, bahkan tentang style dan make up. Ella tak bisa untuk tidak menyukai Laras karena terlalu banyak kecocokan antara mereka berdua.
Laras pun merasakan hal yang sama, dia juga semakin menyukai Ella dengan semakin mengenalnya. Laras akhirnya mengerti mengapa Linggar menyukai Ella, dan mengapa mas Ardi sangat tergila-gila dengan gadis itu. Karena kepribadian Ella yang begitu menarik, jujur dan sederhana tanpa kepura-puraan.
Ella segera beranjak dari kamarnya untuk ke kamar mandi. Sedikit kaget dia mendapati Ardi yang sudah terbangun. Pria itu terlihat begitu santai dengan celana pendek dan kaos tanpa lengannya. Menampilkan otot-otot bisep dan Trisep nya yang lumayan kekar. Ardi sedang berkutat di dapur cottage, sibuk menggoreng dan memasak sesuatu.
"Pagi mas Ardi. Lagi ngapain?" Sapa Ella menghampiri Ardi di dapur.
"Lho udah bangun, El?" Ardi sedikit kaget melihat Ella sudah disampingnya.
"Lagi bikin sarapan. Kirain pas kalian bangun udah siap sarapannya. Ternyata keduluan Ella bangun."
"Masak apa ni?" Ella mengamati hasil masakan Ardi. Roti panggang beberapa lembar, telur ceplok beberapa lembar ditambah tumisan daging cincang plus sosis. Wah enak banget ni jadi isterinya mas Ardi, bakal sering dibikinin sarapan dan dimasakin masakan enak-enak, batin Ella.
"Hmmm enak ni kayaknya," Ella menghirup aroma masakan dalam-dalam.
"Cuci muka dulu sana, kamu bau iler hahaha." Ardi menggoda sambil tertawa geli.
"Eh? Masa si?" Dengan sangat amat malu Ella segera berlari ke arah kamar mandi.
Dan benar saja saat mengaca didapatinya wajahnya yang penuh guratan bekas bantal dan rambutnya yang acak-acakan. Aduuuhh parah banget mas Ardi ngeliat aku pas jelek gini, Ella mengutuk dirinya sendiri.
Ella segera mencuci mukanya dan menyikat gigi, kemudian dia juga merapikan dan menyisir rambutnya. Setelah cukup rapi dan layak untuk dilihat dia kembali ke dapur menghampiri Ardi yang sudah menata hasil masakannya ke meja makan.
"Gak usah merengut gitu, El. Wajah bangun tidurmu tetep cantik kok." Ardi menahan tawanya melihat Ella yang menghampirinya dengan muka cemberut.
"Ih mas Ardi nakal! Genit!" Ujar Ella pura-pura marah. Dia membantu Ardi menyiapkan sarapan, membantu menyeduh dan mempersiapkan empat gelas teh hangat untuk mereka semua.
"Linggar!! Laras!! Bangun banguun!" Teriak Ardi membangunkan kedua adiknya.
Tak lama kemudian Linggar muncul dari kamarnya dengan muka persis bantal, lengkap dengan celana boxer dan singlet nya. Laras juga muncul dari kamarnya tak lama kemudian, dengan mata masih merem melek. Keduanya menghampiri Ella dan Ardi di meja makan. Mengambil duduk di salah satu kursinya.
"Pagi mas Ardi, pagi mbak Ella," sapa Linggar sementara Laras langsung menyeruput teh hangatnya untuk mengembalikan kesadaran.
"Cuci muka dulu sana kek," Ardi berdecak gemas melihat tingkah laku adik-adiknya.
"Gini ni El, kebiasaan mereka. Bangun tidur kuterus makan bukan mandi hehe."
"Mari makan!" tanpa memperdulikan keluhan kakaknya Linggar langsung mengisi piringnya dengan dua lembar roti bakar, dua lembar telor ceplok dan dua sendok sayur daging tumis. Yah yah like always porsi doble buat Linggar.
Ketiganya pun mengikuti Linggar untuk mengisi piring masing-masing dan menyantap sarapan pagi mereka dengan lahap. Tak sampai lima belas menit mereka berhasil menghabiskan seluruh menu sarapan yang telah dimasak Ardi. Ya tentu saja kedua pria itu yang berperan besar sebagai sie penghabisan.
"Mas kalo pagi ombaknya bagus kan?" tanya Linggar setelah menghabiskan tehnya.
"Hooh. Kan kalau pagi angin laut bertiup. Jadi ombaknya pada mendekat ke pantai." Jawab Ardi sedikit banyak bisa menebak jalan pikiran Linggar.
"Mau selancar?"
"Ada yang nyewain papan surfing?" Linggar penasaran dan merasa tertantang.
"Ada lah. Ntar kita tanya pak Yono." Ardi ikutan bersemangat. Lalu kedua cowok itu beranjak pergi meninggalkan cottage dan berlarian ke arah rumah jaga pak Yono.
Ella dan Laras hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan kedua lelaki bersaudara itu. Keduanya lalu membereskan piring-piring dan gelas bekas sarapan mereka, mencucinya dan menatanya kembali ke rak piring cottage.
"Mau nyusul mereka berdua, mbak? mumpung belum mandi. Nanti setelah puas main air aja mandinya." Ajak Laras yang langsung menarik tangan Ella tanpa menunggu jawaban setuju Ella.
Keduanya berlarian dengan kaki telanjang melintasi pasir putih yang halus. Setelah cukup lama mencari akhirnya mereka menemukan dua sosok yang mereka cari. Linggar dan Ardi yang sedang bermain selancar air, menantang ganasnya ombak pantai selatan di tanjung Papumi ini.
Ella kembali dibuat terkagum-kagum oleh Ardi, cowok itu seakan serba bisa melakukan segalanya dengan kerennya.
"Kita tungguin mereka disini aja deh." Laras mengajak Ella duduk di bawah salah satu pohon yang ada di tepi pantai, lumayan untuk melindungi mereka dari sengatan cahaya matahari yang sudah bersinar garang dipagi hari yang cerah ini.
Ella menurut saja mengambil duduk tepat disebelah Laras. "Mereka berdua benar-benar mirip," celetuk Ella sambil memandang Ardi dan Linggar yang berkali-kali naik turun dari papan surfingnya sambil melawan ombak.
"Hehe memang. Bisa dibilang Linggar adalah mas Ardi versi lebih mudanya," jawab Laras.
"Mbak Ella, jujur setelah lebih mengenal mbak aku jadi bisa mengerti mengapa mas Ardi bisa mencintai mbak. Linggar pun sudah menyukai mbak Ella, dan aku juga tak keberatan dengan hubungan kalian." Laras tiba-tiba berbicara dengan nada serius.
Ella diam saja hanya mendengarkan pembicaraan Laras. Mencoba menerka kemana arah pembicaraan mereka ini.
"Mbak Ella pasti sudah dengar bahwa aku sering menggagalkan hubungan cinta kakak dan adikku? Bukan, bukan aku ingin ikut campur urusan asmara mereka. Aku hanya ingin tahu bagaimana wanita yang mereka pilih. Pantas atau tidak wanita itu bersanding dengan mereka. Dan aku tak akan menentang jika memang mereka memilih wanita yang pantas," ujar Laras selanjutnya.
"Khusus untuk mas Ardi, dia bukan tipe playboy seperti Linggar. Mas Ardi cenderung cuek dan dingin sehingga tak banyak wanita yang berani mendekatinya. Track record gadis yang dikencaninya juga dapat dihitung dengan jari dan tidak berlangsung lama. Dan kebanyakan mereka adalah gadis-gadis dari keluarga kaya yang dikenalkan mama."
"Makanya aku jadi penasaran seperti apa sosok mbak Ella yang dapat membuat seorang mas Ardi jatuh cinta." Kali ini Laras menatap Ella lekat-lekat.
"Tapi mbak Ella, apa mbak Ella sudah tahu konsekuensinya setelah masuk ke dalam keluarga Pradana?"
"Hah? konsekuensi apa?" tanya Ella bingung.
"Mbak Ella seorang dokter, Wanita karir yang mandiri. Keluarga Pradana tidak butuh wanita yang sibuk mencari uang. Keluarga kami sudah memiliki lebih dari cukup harta tanpa perlu merepotkan menantu untuk bekerja."
"Intinya apa mbak Ella siap untuk sepenuhnya menjadi istri mas Ardi? Apa mbak Ella rela melepaskan segala titlle dan gelar mbak?"
"Jadi? Jika aku menjadi istri mas Ardi aku tidak boleh bekerja lagi?" Ella benar-benar kaget. Bagaimana mungkin hal ini dapat dia lakukan? Ella memang mencintai Ardi, tapi dia juga mencintai profesinya.
Ella mencintai profesi mulia-nya sebagai seorang dokter yang dapat membantu dan menyelamatkan sesama manusia. Bukan hanya karena materi tetapi lebih dikarenakan berkah dan ibadah yang terkandung dalam pekerjaannya. Dia mencintai dunia kedokteran yang sudah digelutinya bertahun-tahun selama kuliah, koas dan insterenship-nya sekarang.
"Setidaknya itulah sosok menantu idaman pilihan mama. Mama menginginkan wanita yang akan menjadi istri mas Ardi adalah seorang ibu rumah tangga murni yang fokus untuk mengurus suami dan anak-anaknya."
"Aku juga calon dokter mbak, aku tahu berapa beratnya perjuangan mbak untuk sampai mendapatkan gelar itu. Dan aku juga mengerti akan sulit bagi mbak untuk memilih diantara keduanya. Cinta atau profesi?" Laras mengakhiri cerita panjangnya dengan dramatis. Membuat Ella sedikit merinding ketakutan memikirkan segala ucapannya.
"Aku mengatakan ini bukan untuk menakuti mbak Ella atau membuat mbak Ella menjauhi mas Ardi. Bukan Mbak! Aku Linggar dan mas Ardi sendiri akan berusaha meyakinkan mama untuk dapat menerima mbak Ella."
"Jadi aku mohon pada mbak Ella jika memang mbak benar mencintai mas Ardi, setidaknya mbak Ella juga mau berjuang bersama kami."
"Cuma ini yang mau kutakan sebelum mbak Ella nanti ketemu mama dan papa. Karena mas Ardi sepertinya serius dengan mbak, dia pasti akan segera membawamu untuk bertemu mereka secepatnya."
"Terima kasih, Laras..." ujar Ella, kini dia mengerti arti dari perkataan Linggar dulu. Bahwa dia harus mau berjuang bersama Ardi untuk mempertahankan hubungan mereka.
Kini Ella jadi tahu devinisi apa yang harus dia perjuangkan. Dia harus berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tua Ardi yang sepertinya tidak akan mudah.
"Hoiiii! Ella, Laras! ngapain kalian duduk-duduk disana? Ayo sini gabung!" Ardi berteriak memanggil Ella dan Laras dari arah pantai. Kedua gadis itupun langsung berlarian mendekat ke pantai kearah suara Ardi.
Ella ikut menceburkan dirinya ke dalam air laut, berjalan dan berjalan dia sedikit demi sedikit meninggalkan tepian pantai menuju ke tengah lautan. Pandangannya kosong, dia merasa otaknya penuh dengan kata-kata Laras yang rasanya masih sulit untuk diceranya. Dia ingin mendinginkan kepalanya dan otaknya yang memanas dengan dinginnya air laut.
"Ella? El?" Ardi menghampiri dan menarik tangan Ella dengan khawatir. Gadis itu bahkan sudah sampai kedalaman air laut setinggi pinggangnya.
"Jangan terlalu jauh mainnya. Bahaya, ombaknya gede banget!"
Entah bagiamana yang terjadi Ella tiba-tiba saja memeluk tubuh Ardi dengan sangat erat. Memeluk tubuh pria itu seakan tak mau melepasnya lagi. Hembusan dan terjangan air ombak beberapa kali menerjang dan menghantam mereka berdua. Membasahi seluruh tubuh mereka yang tetap berpelukan.
Ardi tercengang, kaget mendapati Ella yang tiba-tiba memeluk tubuhnya sangat Erat. Seakan gadis itu meminta perlindungan darinya. Ardi memposisikannya tubuhnya membelakangi arah laut, untuk melindungi dan menghalangi Ella dari terjangan ombak.
"El? Ella kamu kenapa?" tanya Ardi cemas.
"Aku...aku takut mas Ardi...Jangan tinggalkan aku" jawab Ella dengan nada ketakutan.
Ardi mengangkat dan mengendong tubuh Ella di pelukannya. Dengan bantuan air laut yang ketinggiannya bahkan sudah sampai hampir ke dadanya, membuat tubuh Ella jauh lebih ringan. Digendongnya tubuh gadis itu, dibawanya menjauhi lautan yang mengganas dengan ombaknya yang semakin besar.
Dibawa dan didudukkannya tubuh Ella di tepian pantai. Deburan ombak kecil yang ramah masih bisa menyapa kaki gadis itu. Lalu Ardi juga mengambil duduk disebelah Ella, menggenggam erat sebelah tangan gadis itu.
"Jangan takut. Aku disini. Ada aku disini bersamamu," ujar Ardi menenangkan Ella. Ditariknya kepala Ella untuk bersandar ke bahunya, dan untuk beberapa lama mereka berdua hanya terdiam dengan posisi itu. Memandangi kelaut yang biru membentang di hadapan mereka, di tepi pantai pasir putih milika.
~∆∆∆~
Jreng jreng akhirnya konflik diantara hubungan mereka muncul juga ya...
🌼LIKE, AND KOMENTAR JANGAN LUPA YA😉🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 260 Episodes
Comments
Maimai
untung ardi lihat ella ya, klo gak ella bisa terbawa ombak nih
2022-11-16
0
shychylove❤️❤️
semoga hpy ending
2021-08-13
1
Umi Kusniawati
so sweety
2021-07-01
1