Hari ini hari minggu, kebetulan Ella mendapat libur jaga di UGD. Dan untuk menghabiskan liburannya Ardi menawari Ella untuk main ke rumahnya. Hanya sekedar menghabiskan waktu untuk nonton film bersama.
Avenger end game, film yang dari dulu ingin sekali Ella tonton di bioskop. Tetapi tak pernah ada kesempatan dan waktu luang untuk menontonnya sampai jadwal tayangnya di bioskopnya habis. Jadilah Ella hanya bisa berharap menontonnya setelah rilis di internet saja untuk didownload.
Sebenarnya bisa saja si mereka nonton film di kontrakan Ella. Tapi hari ini bertepatan dengan hari kedatangan Ivan, tunangan Intan untuk datang dan mengancani Intan.
Jadinya Ella cukup tahu diri untuk mengungsi dan membiarkan temannya itu menguasai kontrakan mereka hari ini. Gak papa kan mengalah untuk dua sejoli yang sudah tiga mingguan tidak pernah bertemu itu hehehe.
Pukul 9.00 pagi mobil honda jazz merah Ardi sudah tiba untuk menjemput Ella di depan kontrakannya. Tanpa menunggu lama Ella segera muncul dengan dandanan casualnya menghampiri Ardi.
Tanpa basa basi lagi, karena memang sudah biasa dijemput oleh Ardi. Ella langsung saja masuk ke mobil dan mengambil duduk di kursi sebelah driver.
"Pagi cantik," sapa Ardi setengah menggoda dan setengahnya lagi mengatakan kebenaran.
Entah mengapa Ardi seperti terhipnotis, tak sanggup berkedip melihat penampilan Ella. Kali ini Ella memakai celana jeans pendek diatas lutut dipadukan dengan t-shirt low neck lengan pendek dengan warna cerah.
Tak lupa Ella juga menguncir rambutnya model pony tail. Sling bag mini yang cuma bisa diisi Hp dan dompet juga dibawa Ella sebagai pemanis penampilan. Terakhir dia juga memakai sneakers yang semakin menambah kesan casual penampilannya.
Untuk wajah Ella tetap setia dengan lipstik nude pink nya dan dandanan flawles minimalis yang menampakkan jelas kecantikan alaminya. Ardi merasa style Ella cocok untuk susana santai di musim panas seperti saat ini. Dandanan simple dan manis yang mampu membuat jantung Ardi berdebar tak karuan hanya karena melihatnya.
"Pagi ganteng," Ella tak mau kalah ikut menggoda Ardi.
Ardi kaget mendengarnya dan langsung membalas dengan tawaan renyah. Ardi tak mengira Ella berani balik untuk menggodanya.
"Kita ke stasiun dulu ya," kata Ardi sambil menjalankan mobilnya meninggalkan komplek perumahan Ella.
"Ngapain ke stasiun?" Tanya Ella penasaran.
"Jemput tuan besar."
"Hah? Tuan besar siapa?"
"Linggarjati. Adek cowokku lagi liburan semester sekolahnya. Dan dia mau liburan nemenin aku katanya. Merepotkan banget kan?"
"Wah kan enak mas Ardi jadi ada temennya main. Gak kesepian lagi."
"Kesepian? Aku? Sejak kapan? Kan ada Ella yang setia menemani."
"Rumah mas Ardi segede itu, tapi cuma tinggal sendirian. Rasanya sedikit kesepian apalagi suasana serba putihnya itu. Plain banget." Ella menjawab terang-terangan, mengutarakan pandangannya tentang rumah Ardi yang terasa suram dan sepi.
"Ah enggak juga. Aku cuman suka aja sama warna putih dan dipadukan hitam dikit-dikit. Kalau terlalu rame dan banyak warna mata jadi mudah lelah dan konsentrasi cepat menurun. Aku memakai rumah itu cuma untuk instirahat dan bekerja, jadi warna putih cocok sekali untukku." Ardi menjelaskan tentang pemiliham warna dalam arsitektur, hal yang kurang bisa dipahami oleh Ella.
Sebagai seorang gadis muda, Ella lebih senang dengan kamar yang cute dengan berbagai macam pernak pernik dan warna yang feminim, seperti pink, ungu, kuning atau biru muda. Yah tapi semua kembali pada selera si empunya kamar si.
Begitu sampai di stasiun Ardi memarkirkan mobilnya di depan gebang stasiun, tapi tidak sampai masuk ke kawasan stasiun. Kata Ardi biarin aja biar adeknya itu jalan sedikit. Sayang uang parkiran.
'Yaelah dasar sultan pelit. Masa ngeluarin uang parkiran gak sanggup?' Ella dapat menebak Ardi sengaja mengerjai adiknya itu, Dasar kakak yang jahil.
Tak lama kemudian terdengar suara kedatangan kereta. Beberapa orang yang berlalu lalang keluar dari stasiun. Beberapa menit mereka menunggu tapi yang ditunggu tak kunjung datang.
Karena tak kunjung melihat batang hidung adiknya, Ardi segera mengeluarkan Hp-nya untuk menelpon adiknya.
"Halo? Nggar? Kamu dimana? Aku parkir di depan gerbang pake si merah."
"Ok buruan jangan lama-lama."
"Eh dianya masih beli roti x katanya. Dasar tukang makan emang dia." Ardi memberi tahukan alasan keterlambatan adiknya.
"Doyan makan kayak siapa ya?" Ella terkekeh ringan membayangkan dua kakak beradik yang doyan makan ini.
"Eh banyakan dia kali makannya ahahha." Ardi membela diri tak mau kalah.
Pembicaraan mereka berhenti beberapa menit kemudian saat ada seorang pemuda yang mengetuk kaca jendela mobil.
Sekilas Ella mengamati pemuda itu dari jendela mobil. Pria muda dengan wajah bersih dan tampan, dengan perawakan tinggi tegap yang hampir menyamai tinggi Ardi. Sekilas pria ini terlihat sangat mirip dengan Ardi. Tapi bagi Ella tentu saja Ardi lebih oke hehe.
Menyadari adiknya sudah datang, Ardi membukakan pintu bagasi. Sang pemuda langsung memasukkan tas kopernya ke bagasi belakang mobil. Kemudian pemuda itu membuka pintu belakang mobil dan duduk di passenger seat.
"Kok gak bilang bawa temen? Aku cuma beli tiga roti tadi." Alih-alih menyapa penjemputnya si pemuda itu malah membahas soal roti.
"Lha? Kan pas tiga roti untuk tiga orang?" Ardi menjalankan mobilnya meninggalkan stasiun.
"Kan aku belinya satu untuk mas Ardi, dua untukku sendiri."
"Tu kan El, tahu sendiri betapa rakusnya dia soal makanan hahahha," celetuk Ardi.
Ella pun mau tak mau ikut tertawa mendengar percakapan kakak beradik itu yang terlihat sangat dekat dan akrab.
"Gak dikenalin ni ceweknya mas? Apa takut aku gebet ya?"
"Hoi dasar bocah tengil beraninya kamu mau gebet calon kakak iparmu haaah?"
"Kenalin mbak. Aku Linggarjati Pradana. Pria paling ganteng di keluarga Pradana." Linggar mengenalkan dirinya, menyodorkan tangannya dari kursi belakang pada Ella.
"Amellia, panggil saja Ella," jawab Ella tersenyum menahan tawanya. Apa semua putra keluarga Pradana narsis kayak gini ya? Hehehe.
"Mbak Ella. Ella lebih tua dari kamu jadi harus panggil mbak." Ardi mengingatkan.
"Ok mbak Ella. Mbak Ella cantik banget. Klo udah bosen sama mas Ardi bilang ya. Nanti aku mau kok sama mbak," ujar Linggar dengan nada santai.
Ella sama sekali tak bisa menebak dia becanda atau serius. Wah kayaknya si Linggar ini playboy kelas kakap yang pandai merayu wanita.
"Hoiiii hoiii Linggar sialan! terang-terangan mau nikung kakak sendiri ni?" Ardi geram sambil melirik Linggar dari kaca spionnya.
"Main fair lah mas. Biarkan mbak Ella yang memilih sendiri," jawab Linggar cuek.
Dan Ella hanya bisa tertawa geli melihat tingkah dua bersaudara itu. Ella yang anak tunggal tentunya tak tahu bagaimana rasanya mempunyai saudara. Ada sedikit rasa senang juga melihat kedekatan Ardi dengan adiknya. Berarti Ardi ini tipe kakak yang baik, tipe pria yang mencintai keluarganya. Plus satu poin lagi untuk Ardi, batin Ella.
~∆∆∆~
"Nah terus ya ntar si Thanosnya itu..." Linggar menceritakan tentang film Avengger yang sedang mereka tonton dengan antusias.
"Eh kamu bisa diem gak nggar? Udah udah jangan cerita lagi. Jadi gak asik ni film nya..." Ujar Ardi sewot. Sebenarnya Ella juga setuju dengan Ardi, gak seru kalau nonton film yang udah diceritain dulu gimana ending nantinya.
"Dah sono beresin kopermu aja. Please jangan ganggu masmu ini yang lagi kencan." Ujar Ardi setengah memohon dan setengah mengusir adiknya.
Memang sejak sampai di rumah Ardi, Linggar cuma menurunkan kopernya dari mobil dan membawa masuk ke rumah. Meletakkan begitu saja kopernya di ruang tamu. Tapi sama sekali dia belum sekalipun membereskannya.
"Aku kasih deh roti x ku satu buat mbak Ella." Linggar memberikan sebungkus rotinya kepada Ella dengan gaya cueknya.
"lha rotiku mana?" protes Ardi yang merasa dilupakan oleh adiknya.
"Gak ada. Kan aku udah bilang beli dua buat aku sendiri. Aku kan lagi masa pertumbuhan, butuh banyak makan." Jawaban Linggar dengan nada tanpa dosa mampu membuat Ardi semakin dongkol dan Ella terkikik geli.
Kemudian pemuda itu beranjak dari sofanya di ruang tv, mengambil kopernya dan berlalu naik tangga ke lantai dua meninggalkan mereka. Menuju kamarnya yang terletak di sebelah kamar Ardi di lantai dua.
"Tu anak emang susah diatur. Maafin ya El, adikku sangat mereporkan," ujar Ardi saat dia tinggal berduaan dengan Ella saja.
"Hahaha gak papa mas. Lucu juga adekmu itu." Ella tak dapat menahan diri untuk terus tertawa cekikikan.
"Mas Ardi mau rotinya? sini separuhan." Ella menyobek rotinya menjadi dua bagian dan menyerahkan salah satunya pada Ardi.
"Makasih Ella sayangku," jawab Ardi gemas. Menerima roti di tangan Ella, sambil curi-curi kesempatan untuk memegang jemari tangan gadis itu. Memegang, menggenggam dan tak mau melepasnya lagi, keterusan.
"Hoeeekz, mas Ardi lebai. Jangan percaya gombalannya mbak Ella." Celetuk Linggar yang tahu-tahu sudah mengamati mereka dari lantai dua.
Membuat Ella dan Ardi terlonjak kaget sekaligus. Mereka mundur menjauh beberapa senti dan melepaskan genggaman tanggan masing-masing saking kagetnya.
"Hadoooh ini anak ganggu urusan orang dewasa aja!" Ujar Ardi marah dan dibalas dengan tawa Linggar dan Ella sekaligus.
"Mas aku laper. Ada makanan apa?" Linggar menuruni tangga sambil menggigit rotinya.
"Lha bukannya kamu punya dua roti?"
"Ini cemilan. Nasi mana nasi?"
"Coba cek di kulkas ada apa aja?" Perintah Ardi dan Linggar langsung nurut mengecek isi kulkasnya.
"Banyak mas. Ayam, daging, udang, ada semua. Masakin gih mas," rengek Linggar.
"Kamu nanak nasinya dulu. Ntar aku yang masak lauknya. Tanggung ni lagi seru filmnya," ujar Ardi sambil terus nonton film.
"Hah? Kalian bisa masak?" Ella sedikit keheranan dengan pembicaraan mereka.
"Bisa. Emang kenapa? Ella gak bisa masak?" jawab Ardi enteng.
"Bisa si sedikit sedikit." Ella menjawab malu-malu.
Sedikit surprised dengan kenyataan bahwa kedua pria itu, anak sultan, masih bisa memasak sedangkan dia yang seorang wanita malah cuma bisa masak yang simple-simple doank. Duh keren banget ini didikan mamanya, bisa mendidik dua calon sultan yang serba bisa begini.
Beberapa menit kemudian setelah film berakhir, kegiatan mereka beralih ke dapur. Linggar sudah menyiapkan semua bahan dan peralatan yang dibutuhkan untuk acara memasak mereka.
"Mau masak apa ini?" tanya Ella penasaran melihat ayam dan udang serta berbagai bahan masakan lainnya di atas meja.
"Chiken teriyaki dan ebi katsu," jawab Linggar mantap. Gaya bener mau bikin masakan ala jepang. Emang mereka bisa? batin Ella.
Ardi memakai celemek masaknya, yang menurut Ella membuat Ardi tampak lebih ganteng beberapa derajat, hampir seganteng chef J*na di acara masterch*f. Ella memperhatikan saja saat cowok itu mengiris-iris filet ayam menjadi potongan dadu kecil-kecil dengan cepat dan tepat.
"El, daripada ngeliatin mulu bantu iris bawang gih." Ardi memerintahkan, menyodorkan beberapa siung bawang merah, bawang putih dan bawang bombai.
"Nggar, kamu iris wortel dan kubisnya. Ntar tinggal dibikin salad," lanjut Ardi memerintah.
Tanpa menjawab Ella dan Linggar langsung bergabung menjadi tukang iris sekaligus asisten Ardi dalam memasak. Haduh skill masak Ardi bener-bener jempolan. Ella benar-benar harus mengaku kalah telak.
Bahkan untuk menumis chiken teriyaki-nya serta melumuri tepung dan menggoreng ebi katsu-nya Ardi sama sekali tidak memakai tangan. Pria itu dengan piawainya menggunakan sumpit di tangannya. Cara masak yang benar-benar efisien dan bersih.
Tak sampai setengah jam kemudian masakan jepang ala-ala hokb*n sudah tersaji di meja makan. Ella sampai menahan air liur demi melihat chiken teriyaki, ebi katsu dan salad yang tersaji di meja yang beraroma sedap menggoda, sepertinya lezat.
"Gila. Keren banget mas Ardi bisa masak kayak gini" ujar Ella terkagum-kagum.
"Hehe makin cinta gak ama aku?" goda Ardi yang mampu membuat wajah Ella panas.
"Huuuuuh gombaal mulu...Nasib orang ketiga adalah setan" Gerutu Linggar manyun sambil mengambil nasi ke piringnya. Membuat Ardi dan Ella kompak tertawa lepas.
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, dan VOTE. Makasih 😘🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 260 Episodes
Comments
Icah Cahyani
wah..mas ardi emg the best😍
2024-06-15
0
Maimai
duh, lah klo ardi tau kamu gak bisa masak gimana nih? 😂
2022-11-15
0
Maimai
iih ganggu aja kamu linggar. 🤣
2022-11-15
0