Tanpa terasa Ella sudah seharian main di rumah Ardi. Ngapain aja coba? Gak ngapa-ngapain. Setelah masak-masak dan makan siang ala-ala masakan jepang tadi mereka kembali berkumpul di ruang TV untuk melanjutkan nonton film yang ditayangin di TV secara acak.
Mereka bertiga awalnya duduk-duduk santai di sofa yang nyaman dan empuk. Lama-lama semakin melorot ke lantai dan akhirnya mereka tiduran di karpet bulu dibawah sofa. Mungkin karena pengaruh perut mereka yang sudah kenyang dan air conditioner yang menyejukkan ruangan.
Membuat seluruh ruangan tetap bersuhu sejuk 24 derajat celsius meskipun diluar rumah sangat terik karena sinar matahari musim panas yang membakar. Semakin siang mereka semakin terlena dan ngantuk akhirnya mereka bertiga ketiduran di lantai dengan film yang masih menyala di televisi, malah filmnya yang menonton mereka tidur.
Ella tersentak bangun dari tidurnya dan kaget sekali menyadari dirinya tertidur dengan dua orang pria yang berbagi bantal dengannya. Kepala mereka berbagi bantal lantai berbentuk persegi yang besar dan empuk. Kepala mereka bersandar pada masing-masing sisi bantal persegi itu, sedangkan tubuh mereka bertiga membujur dengan pose masing-masing berjauhan ke segala arah.
"Aduh mati aku. Bisa-bisanya aku ketiduran di rumah seorang pria. Dengan dua orang pria dewasa di sampingku lagi," gerutu Ella menyesali kebodohannya.
Yah tapi mereka juga gak ngapa-ngapain kan? Lagian dia juga gak hanya berduaan dengan Ardi, masih ada orang ketiga, masih ada Linggar yang bertindak sebagai orang ketiga. Orang ketiga adalah sebagai setan, setan tengil.
Ella mengamati wajah tidur Ardi dan Linggar bergantian. Mirip banget mereka ini, Ella gemas melihat kedua pria yang sedang nyenyak tertidur itu.
Cara mereka mendengkur halus, cara mereka memejamkan mata, cara mereka membuka bibirnya yang hipotonus karena tertidur (hipotonus adalah turunnya tonus/tekanan otot alias ndoweh bibirnya). Bagai pinang dibelah dua. Pantas saja Ardi terlihat begitu dekat dengan adiknya. Lhawong sifat mereka benar-benar mirip gitu, baik waktu sadar maupun tidur.
Ella mengambil hp-nya melihat jam yang terdapat di lock screen Hp nya. Jam 16.00, udah sore ini, dan sudah lama sekali berarti dirinya main di rumah Ardi. Ella segera mengutak-atik Hp-nya memeriksa pesan dan sosial medianya. Dia mendapati pesan dari Intan, teman se kontrakannya.
Intan
El? Lagi dimana? Sorry ya Ivan kayaknya abis magrib baru balik. Kamu gapapa ngungsi selama itu? Atau pulang aja klo kamu sudah bosen mainnya.
Ella
Aku masih di rumah mas Ardi, Tan. Santai aja aku disini juga lagi senang-senang kok.
Ella menghembuskan napasnya. Dia sedikit berbohong pada Intan agar temannya itu tak mengkhawatirkan keadaannya. Yah berarti dia masih harus mengungsi sampai magrib disini. Ella tak ingin mengganggu Intan dan Ivan yang sedang melepas rindu di kontrakan. Pasti rasanya awkward banget kan jadi orang ketiga diantara lovy dovie yang sedang kasmaran itu.
Mau tak mau Ella jadi ikut prihatin dengan perasaan Linggar. Eh tapi kan Ella sama Ardi kan belum sedekat dan semesra itu. Jadi masih cukup wajar lah, Ella mencoba membela dirinya sendiri.
"Kok senyum-senyum sendiri?" sebuah suara menyapa Ella dengan nada suara yang setengah mengantuk.
Ella kaget sekali menyadari Linggar sudah bangun dari tidurnya, menggaruk-garuk dan mengacak-acak rambutnya di atas kepalanya. Pemuda itu tengah duduk mengamati Ella dengan keheranan.
"Eh nggar. Kok udah bangun, mas Ardi aja belum?" sapa Ella padanya.
"Mas Ardi mah paling jago kalau disuruh tidur. Tidur sehari semalam tanpa makan dan minum pun kuat dia." Jawaban Linggar kali ini mengingatkan Ella pada kejadian beberapa hari yang lalu saat Ardi menghilang tiba-tiba dan ternyata malah tidur kaya orang mati. Bahkan ketukan pintu dan bunyi bel pun tak sanggup membangunkannya.
"Mbak Ella suka sama mas Ardi?" Tiba-tiba Linggar menanyakan pertanyaan yang absurd dan susah untuk dijawab bagi Ella. Tetapi pertanyaan itu mampu membuat wajah Ella sedikit memanas, malu-malu.
"Kalau beneran suka, kuharap mbak Ella mau berjuang bersama mas Ardi nantinya. Menghadapi apapun halangan yang menghadang dan menghalangi kalian. Tetapi kalau tidak, lebih baik segera akhiri saja. Aku tak ingin melihat kakakku terluka karena wanita." Linggar melanjutkan ucapannya.
Ella jadi heran bagaimana seorang bocah kelas dua SMA, dapat berbicara begitu lugas padanya. Berbicara tentang hubungan antara pria dan wanita dengan gamblangnya.
'Aduh kamu besar sebelum waktunya nak!'
"Maksudnya? Maksudnya apa?" Ella bertanya penasaran dengan ucapan Linggar.
"Mas Ardi memang sedikit cuek dan susah untuk mengungkapkan rasa cintanya. Tapi bisa kujamin dia adalah pria yang baik, kakak terbaik bagiku." Ucapan Linggar kali ini menyadarkan Ella bahwa Linggar itu begitu menghormati dan menyayangi kakaknya.
"Aku, aku juga sayang sama mas Ardi." Ella mengakui perasaannya dengan malu-malu.
"Yaudah kalau gitu. Sepertinya mas Ardi juga sudah klepek-klepek sama mbak Ella. Sebagai adik aku cuma bisa mendukung kalian berdua. Minta nomer hp-nya mbak, kalau ada apa-apa mbak bisa hubungin aku."
"081xxxxxxxxx," jawab Ella dan tak lama kemudian hp-nya berdering oleh panggilan nomer yang tak dikenal. Segera saja dia simpan nomer itu dengan nama Linggarjati.
Pembicaraan mereka terhenti karena Ardi yang mulai menggeliat, menguap dan membuka matanya, terbangun dari tidur siangnya. Dengan rambutnya yang acak-acakan serta wajahnya yang sedikit kebingungan dia menyapa Ella dan Linggar yang sudah duluan bangun
"Kayaknya kita tumbang semua kena serangan Thanos ni," ujar Ardi nyeleneh dan sukses membuat semuanya ngakak terbahak-bahak.
~∆∆∆~
Pujasera di jalan Panglima Sudirman, pusat jajanan dan kuliner paling rame di kota ini. Ella, Ardi, dan Linggar terlihat duduk-duduk santai di chair set dengan payung besar yang terhubung dengan meja kotak menutupi bagian atas mereka, melindungi dari teriknya matahari ataupun terpaan hujan.
Berbagai macam makanan sudah terhidang di meja depan mereka. Mulai dari beef steak yang masih panas diatas hotplate pesanan Ella. Nasi plus sup buntut dengan kuah yang masih mengepul pesanan Ardi. Serta empek-empek kapal selam ditambah Nasi goreng sea food special pesanan Linggar. Yah always porsi doble untuk linggar hehe
Untuk minumannya Ella memilih es kelapa muda yang menyegarkan. Ardi memilih es dawet, Ella baru menyadari kalau Ardi suka sekali dengan makanan bersantan. Sementara Linggar memilih milk shake taro porsi jumbo. Sepiring penuh tahu sumedang juga ikut hadir dimeja mereka.
Mereka menikmati susana senja dengan memandangi jalanan utama kota yang selalu ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang. Yah akhirnya setelah berbagai halangan mereka berhasil menamatkan film avanger end game yang mereka tonton tadi.
Setelah bangun tidur mereka bertiga pun mandi, membersihkan diri dan memutuskan untuk keluar mencari makan malam sambil sekalian mengantar Ella pulang ke kontrakannya.
"Mas Ardi kapan mau bawa mbak Ella ke rumah? Kenalin sama mama dan papa?" Linggar bertanya sambil menyantap nasi gorengnya dengan lahap.
"Ntaran dulu nggar. Masih mau ngenalin Ella ke Laras dulu," jawab Ardi sambil meniup sendok sup buntut plus nasi nya.
Ella diam saja mendengar percakapan kedua pria itu. Rupanya Ardi ingin mengenalkan dan mendekatkan dengan adik-adiknya dahulu sebelum mengenalkan dengan kedua orang tuanya. Ella jadi sedikit penasaran dengan Laras, adik perempuan kedua Ardi.
"Laras itu kayak gimana anaknya?" tanya Ella pada mereka berdua.
"Aduh adekmu kayak apa mas?" Linggar balik bertanya pada Ardi.
"Mbakmu itu nggar hehehe," Ardi mengembalikan umpan pada Linggar.
"Hahaha jadi intinya mbak Laras itu agak sedikit susah soal pacar-pacar kami. Kalau dia merasa gak cocok, gak bakal ragu dia untuk memutuskan hubungan kami dengan wanita manapun. Gara-gara mas Ardi si terlalu manjain dia."
"Enak aja. Kamu kali Nggar yang dulu terlalu nempel sama Laras kaya perangko."
"Secara garis besar, Mbak Laras itu kayak gak rela kalau mas Ardi dan aku yang ganteng ini punya pacar hehehe. Dia maunya dirinya aja yang jadi satu-satunya wanita yang mencuri hati dan perhatian kami." Linggar kembali menjelaskan tentang kakaknya itu.
"Hah? Kayak brother complex gitu?" Ella sedikit ngeri membayangkan harus bersaing dengan calon adik ipar sendiri.
"Si linggar tu udah berapa kali putus sama pacarnya coba gara-gara Laras wahahaaa." Ardi tertawa menggoda Linggar.
"Ada tiga kali. Parah si mbak Laras sampe pura-pura jadi pacarku, terus ngelabrak cewek yang aku gebet. Adalagi dia yang terang- terangan datengin terus bilang cewekku miskin dan matre. Ngeri dah pokoknya." Linggar menggerutu, sedikit curhat.
"Hah? sampai segitunya?" Tanya Ella kaget.
"Tapi kayaknya acamannya gak bakal ngaruh ke kamu, El." Ardi mengedipkan sebelah matanya nakal pada Ella.
"Iya, mbak Ella mah aman kayaknya." Linggar setuju mendukung ucapan kakaknya.
"Emangnya aku kenapa?"
"Ya kamu kayak gini ini El. cuek banget ahahhaha." Ardi tertawa melihat Ella yang kebingungan.
"Cewek-ceweknya Linggar itu masih SMA, masih alay dan baperan. Mana tahan digencet kayak gitu ama Laras yang udah mahasiswi. Beda kelas..." Ardi menjelaskan.
"Nah kalau Ella kan orangnya lebih adem, lebih dewasa dan bisa berfikir rasional tanpa mendahulukan emosi. Pasti gak bakal kepancing sama si Laras," lanjut Ardi.
"Terus mbak Ella kan ada mas Ardi yang pastinya bisa melindungi mbak Ella nantinya," Linggar menambahkan.
"Lha emang Linggar gak bisa melindungi ceweknya?"
"Mana bisa! kalah power wahahahah." Ardi tertawa ngakak menanggapi.
"Yah abisnya kan aku masih cinta-cintaan, Cinta monyet. Kalau cewekku aja gak berani berjuang demi aku ya ngapain aku susah-susah berjuang demi mereka?" Linggar berusaha membela diri.
"Makanya sekolah aja yang bener gak usah pacaran-pacaranan," Ardi mengingatkan.
"Nah kalau udah bisa rebut hatinya si Laras baru deh ntar kenalin ke mama. Mama tu paling deket dan paling mau dengerin omongannya si Laras daripada kita berdua," Ardi memberi kesimpulan.
"Jangan khawatir mbak El. Kalau gak bisa sama mas Ardi, Linggar siap menampung kok hehe." Goda Linggar sambil melahap potongan besar empek-empeknya.
"Nah lo si anak tengil mau nikung lagi," gertak Ardi geram sambil mencubit hidung Linggar.
Ella tertawa sambil mengiris iris beef steak-nya. Lucu juga melihat hubungan kedua bersaudara ini yang terlihat sangat akrab. Sedikit ngeri juga membayangkan soal Larasati yang sepertinya menderita brother complex kronis itu. Bagaimana kalau Laras menentang hubungannya dengan Ardi? Apa saja yang bisa dilakukan gadis itu untuk memisahkan Ella dari kakaknya?
Ah sudahlah nanti aja dipikirin dan dijalanin. Sekarang mending fokus makan beef steak aja yang enak ini. Ella kembali melahap beef steaknya, diikuti Ardi dan Linggar yang juga menyantap makanan mereka dengan sama lahapnya.
Sekali lagi Ella terkagum-kagum dengan gaya hidup mereka. Mereka yang anak sultan, mereka yang sekaya itu tapi masih mau makan di pinggir jalan dengan lahapnya. Seakan tak memperdulikan gengsi, status sosial mereka dan kesehatan serta kebersihan makanannya.
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, VOTE Makasih 😘🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 260 Episodes
Comments
Maimai
betul la, jangan smp kehilangan selera makan hanya krn laras, sayang kan makanan nya di sia sia in 😂
2022-11-15
0
Maimai
tumben kamu cepet bangun tidur nya ardi. takut ya klo linggar rebut gebetan kamu 😂😂
2022-11-15
0
Hesti Ariani
linggar tak simpen buat mantuku aja😁
2021-10-23
1