Siang itu betapa kagetnya Ella saat melihat sesosok pria yang sangat dikenalnya berjalan mondar mandir di pintu depan UGD. Dari meja dokter jaganya pun Ella dapat melihat dengan jelas dan mengenali siapa sosok itu, Linggarjati Pradana.
Linggar dengan gaya santai dan casualnya, tshirt abu-abu dengan lambang batman, celana jeans loose panjangnya serta beberapa aksesoris seperti jam tangan, dan sneakers yang menambah kemacoannya. Benar-benar gaya anak gaul millenal yang hitz.
"Wuih ada berondong ganteng dok," celetuk Rini.
Rini adalah seorang perawat yang kebetulan jaga bareng Ella. Rini penasaran begitu menyadari arah pandangan Ella ke Linggarjati.
"Kok kayaknya bingung gitu? Apa nganter pasien? Apa nyasar? Masa si segede itu nyasar?" Rini ikut kepo melihat Linggar mondar-mandir.
"Bentar aku tanyain dulu," Ella beranjak dari kursi singgasana dokter jaganya. Ella menghampiri Linggar di depan pintu masuk UGD.
Rini pun dengan kepo-nya ikut berjalan mengikuti di belakang Ella. Lumayan kan sambil cuci mata liatin berondong ganteng hehe.
"Linggar? Sedang apa disini?" sapa Ella.
"Mbak Ella! Syukur deh mbak datang. Aku bingung gimana mau manggilnya tadi."
"Kan bisa lewat hp?" Ella menggoyang-kogoyangkan hpnya di depan wajah Linggar.
"Oiya lupa. Aku kan udah punya nomer mbak Ella." Linggar menepuk jidatnya sendiri. Baru ingat kalau dirinya sudah memiliki nomer Ella.
"Emang mau ngapain? Kamu sendirian? Gak sama mas Ardi?" Tanya Ella sedikit berharap Ardi ikut datang bersama Linggar.
"Kecewa ya bukan mas Ardi yang dateng?" goda Linggar pada Ella.
"Aku dapat tugas untuk jemput mbak Ella, kata mas Ardi jam 13.00 jemputnya...Hmmm masih kurang sepuluh menit si."
"iiiiIh kecewa apaan si," Ella mengelak ejekan Linggar, malu-malu.
"Mau jemput kemana?"
"Mau ngajak kencan hehehe. Ayo mbak Ella, udah boleh pulang belum?"
"Mbak Rini? Aku tinggal duluan boleh?" Tanya Ella pada Rini yang berdiri dibelakangnya.
"Boleh dok boleh. Udah aman kok. Pasiennya juga tinggal observasi dan pindah ruangan."
"Yaudah kalau gitu. Aku duluan ya." Ella melepas jas putihnya, menghampiri meja jaganya dan mengemasi seluruh barang bawaannya ke dalam tote bag-nya.
Kemudian dia menghampiri Linggar yang masih setia menantinya di depan UGD. Linggar mengajak, mengarahkan Ella ke parkiran mobil, ke mobil honda jazz merah yang biasa dipakai Ardi.
"Yuk mbak masuk," ujar Linggar sambil masuk mobil, mempersilahkan Ella.
"Lha kamu bisa nyetir? Emang udah punya SIM?" Tanya Ella khawatir mengetahui Linggar yang akan mengemudikan mobilnya.
"Bisa lah mbak. Aku juga udah 17 tahun. Aman, udah punya SiM," jawab Linggar sewot.
Ella akhirnya masuk juga ke mobil itu, dan Linggar segera menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran RSUD G. Alunan musik rock yang keras langsung memenuhi seisi mobil. Duh selera musik Linggar beda banget sama mas Ardi. Musik apaan ini gak bisa ditangkap liriknya? Dan suaranya seakan merusak gendang telinga.
"Kita mau kemana, Nggar?" tanya Ella penasaran.
"Anterin mbak Ella pulang."
"Haaaah? Terus? Aku kan bisa bawa motor tadi. Bisa pulang sendiri."
"Perintah mas Ardi begitu sih."
"Terus mas Ardinya kemana? Dia pake mobil apa klo ini kamu pakai?" Ella menanayakan rasa penasarannya.
"Mas Ardi masih di kantor. Pakai si hitam lah mbak kan mobilnya mas Ardi ada dua."
"Bukannya si hitam itu mobil papamu?"
"Iya tapi udah dikasiin ke mas Ardi. Mobil yang dibelikan papa untuk mas Ardi lebih tepatnya. Kalau si merah ini mas Ardi beli sendiri, uang hasil kerjanya sendiri ngurusin perusahaan." Linggar menjelaskan asal muasal mobil-mobil Ardi.
"Rumah dan segala isinya itu juga mas Ardi beli sendiri lho mbak. Keren kan?"
"Eh? Bukannya dikasih orang tuamu?"
"Nggak. Memang ada si rumah ortu di komplek perumahan yang sama kayak mbak Sari. Tapi mas Ardi gak mau nempatin. Dia lebih memilih tinggal di mess kantornya sebelum beli rumah sendiri."
Ella tercengang mendengar penjelasan Linggar. Tentang bagaimana keras kepalanya Ardi yang tidak mau memanfaatkan segala fasilitas kesultanan yang disediakan oleh ortunya. Ardi lebih memilih untuk berjuang sendiri demi membeli segala kebutuhannya. Bahkan mobil yang diberikan papanya untuknya pun tak mau dia akui sebagai mobilnya. Ella masih ingat betul Ardi menyebut mobil pajero hitamnya sebagai punya papanya.
"Intinya kamu mau nganterin aku pulang buat apa?" Ella kembali ke pertanyaan semula
"Intinya mbak Ella pulang, mandi, trus packing. Siapkan baju dan keperluan buat dua hari. Terus kita kembali ke rumah mas Ardi, nungguin dia datang dan kita go. Jalan-jalan"
"Hah? jalan-jalan kemana?"
"Ke Jembar. Sekalian ketemuan sama mbak Laras." Linggar menjawab dengan santainya.
~∆∆∆~
Sesampai di rumah Ardi, ternyata sang empunya rumah sudah pulang. Mobil pajero sport hitamnya sudah parkir dengan gagahnya di depan rumah. Kok tumben gak dimasukin garasi? pikir Ella.
Linggar memasukkan mobil merah Ardi ke garasi. Dia segera mengambil dan mengeluarkan tas ransel yang berisi barang-barang Ella. Kemudian Linggar memasukkan tas ransel itu ke bagasi mobil hitam. Oh ternyata mereka akan jalan-jalan memakai si hitam, bukan si merah.
"Mas? Udah siap belom?" Linggar bertanya sambil nyelonong masuk ke dalam rumah. "Mbak Ella udah dateng ni mas."
Tidak ada jawaban dari Ardi, jadi Linggar terus masuk ke rumah mencari-cari keberadaan kakaknya itu. Ella dengan setia mengekor di belakang linggar. Dan ternyata mereka mendapati Ardi sedang berkutat di gudang, di ruangan paling belakang di dekat dapur. Pantas saja dia tak dapat mendengar panggilan mereka dari tadi.
"Eh sudah datang El, Nggar?" sapanya pada mereka yang baru saja masuk ke gudang.
"Cari apa?" tanya Linggar.
"Tenda. Sama alat buat barbeque. Dimana ya dulu narohnya? Kok gak ketemu?"
"Hah? tenda? barbeque? kita mau ngapain?" tanya Ella penasaran.
"Camping. Emang Linggar gak bilang?"
"Nggak. Linggar cuma bilang mau ke Jembar" Ella benar-benar panik sekarang.
Mau camping? Semua baju yang dibawanya tipis-tipis baju khas musim panas. Sweater, jacket ataupun selimut tak ada yang dibawanya. Lagi-lagi Ella merasa bahwa dia bakal salah kostum.
"Duh kamu kapan si pinternya, Nggar?" Ardi merasa gemas dengan adikknya.
"Lha kirain mas Ardi udah ngasih tahu mbak Ella. Kan Mas Ardi yang pacarnya."
"Hmmmm," Ardi salah tingkah tak bisa menjawab. Sebenarnya dia lupa memberitahu Ella. Sejak kemarin ada sedikit masalah di kantornya sehingga dia mencurahkan segala konsentrasinya kesana. Semua urusan diluar kantor jadi terlupakan.
"Yaudah nanti pake jaketku aja deh atau beli di tengah jalan."
"Haaah? beli? gak usah lah. Pinjem punya mas Ardi aja." Ella tidak suka dengan ide membeli jaket baru. Barang yang jarang dia gunakan.
"Nah ini ketemu mas, perlengkapan campingnya." Linggar berteriak di salah satu sudut gudang.
"Lho? Disana? Tadi aku nyari disana kok gak ada?" Ardi balik bertanya keheranan.
"Emang mas Ardi paling pinter klo ngilangin barang. Tapi paling payah klo nyari sesuatu."
Setelah itu Linggar mengeluarkan tenda lipat dan alat barbeque dari gudang. Ella ikut bantu-bantu mengangkat dan membersihkan benda-benda itu dari debu tebal yang menutupi permukaannya.
Ardi naik ke kamarnya dan mengambil sebuah tas ransel dan dua buah jaket tebal bersamanya. Kemudian mereka semua memasukkan barang-barang yang akan mereka bawa ke dalam bagasi mobil.
Ella merasa hari ini Ardi jadi sedikit pendiam, seperti sedang tidak dalam mood yang bagus.
"Cooler box-nya udah diisi mas?" Tanya Linggar mamandangi box pendingin yang sudah diletakkan di bagasi.
"Udah. Tapi aku gak tahu apa isinya, Cindy tadi yang belanja dan masuk-masukin."
Entah mengapa ada rasa tidak nyaman menyerang Ella demi mendengar nama Cindy disebut oleh Ardi. Jadi Ardi lebih mempercayai Cindy untuk mengurus segala sesuatu daripada dirinya?
Ardi bahkan sampai lupa memberi tahunya soal jalan-jalan ini. Apa Ardi tak mau merepotkannya? Atau malah menganggap ini hal yang tidak penting sehingga tidak perlu memberitahu Ella?
"Udah siap semua? gak ada yang ketinggalan?" tanya Ardi sambil mengunci pintu rumahnya.
"Udah semua kayaknya. Kalau butuh apa-apa beli aja ntar," jawab Linggar enteng. Emang ya kalau sultan gampang banget bilang beli aja, beli aja. Seakan gak mikirin berapa duit yang bakal mereka keluarkan.
"Aku aja yang nyetir mas," Linggar tiba-tiba menawarkan dirinya begitu Ardi mengeluarkan kunci mobilnya.
"Boleh. Tapi jangan ngebut lho ya."
"Ok. Mbak Ella duduk di depan ya temani aku."
"Eit, gak boleh!" Ardi langsung menolak.
"Ella di belakang sama aku," Ardi menarik tangan Ella dan mengajaknya duduk di passenger seat di jok belakang.
"Haduh kalau kayak gini beneran jadi driver donk." Linggar mendengus, memasuki mobil, menghidupkan mesin dan menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Ardi.
"El, boleh pinjem pahanya?" tanya Ardi tiba-tiba beberapa saat kemudian.
"Hah? Paha?..." belum sempat Ella memprotes, Ardi sudah meletakkan kepalanya di pangkuan Ella.
Dengan posisi badannya tetap duduk, Ardi memposisikan kepalanya dengan nyaman di pangkuan Ella. Tak lama kemudian pria itu pun menutup matanya dan jatuh terlelap.
Ella keheranan dan kaget melihatnya. Sebenarnya dia sangat risih dan sedikit geli menyadari seorang pria tidur dipangkuannya. Namun melihat wajah tidur Ardi yang menggemaskan, Ella pun tak tega untuk membagunkannya. Dielusnya perlahan rambut Ardi di pangkuannya, ingin memberi tambahan kenyamanan pada pria itu.
"Mas Ardi kenapa, Nggar? Kamu tahu kan? Makanya kamu menawarkan untuk menyetir dan bahkan tidak menyalakan musik?" tanya Ella menyelidik.
"Gak papa. Dia cuma gak tidur semalaman. Lagi ada masalah di kantornya. Biasalah dia kan workaholic," Linggar menjelaskan. Sepertinya dia hafal betul dengan sifat Ardi.
"Biarkan dia tidur, perjalan ke Jembar 2 jam. Dia pasti sudah segar lagi setelah bangun."
"Seharusnya mas Ardi bisa tidur saja tadi di rumah. Tapi dia gak mau melanggar janjinya. Dia udah janji ngajak aku dan mbak Laras jalan-jalan week end ini." Linggar menambahkan.
"Jadi CEO perusahaan itu berat ya?" Celetuk Ella. Ini bukan pertama kalinya dia memergoki Ardi yang kurang tidur. Ella tak dapat membayangkan beban seberat apa yang ditanggung Ardi sampai pria itu bahkan sampai mengabaikan kesehatannya sendiri.
"Dia itu menanggung nasib lebih dari seribu orang pekerjanya. Kalau perusahaan bangkrut atau rugi, ribuan orang akan kehilangan pekerjaan atau kemungkinan kecilnya terjadi penurunan gaji mereka." Linggar menjelaskan tentang perusahaan dan beban kerja Ardi.
"Selanjutnya tugas mbak Ella ya jagain mas Ardi. Jangan biarkan dia overworked, suruh istirahat dan jaga kesehatannya."
"Siap boz!" jawab Ella menyanggupi.
Dipandanginya wajah tidur Ardi sekali lagi, dielus lembutnya rambut pria itu, pelan dan pelan sampai akhirnya Ella juga ikut tertidur dengan posisi duduk dan kepala Ardi masih di pangkuannya. Yah Ella juga sedikit lelah setelah sift paginya tadi.
Linggar melirik dari kaca spion pemandangan di jok belakang. Dia tersenyum-senyum sendiri melihat kedua sejoli yang doyan tidur itu.
"Kalian cocok sekali. Semoga kalian bisa bahagia bersama ya mas Ardi, mbak Ella." Ujar Linggar sambil terus berkonsentrasi melajukan mobilnya.
~∆∆∆~
🌼Tolong klik RATE, JEMPOL (LIKE), klik FAVORiT (❤️), kasih KOMENTAR and GIFTS Makasih 😘🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 260 Episodes
Comments
Opbrbaru
love linggar yg pengertian
2023-03-18
0
Maimai
positif thingking aja la, ardi minta Cindy yg belanja supya kamu gak capek. kan enak juga dtg tinggal duduk manis.
2022-11-16
0
Maimai
kalem bro kalem aja klo jalan sama ela. jangan pakai acara sewot 🤣
2022-11-16
0