"Matiin AC-nya mas. Buka kaca jendelanya." Linggar meminta saat mobil pajero sport mereka melaju dengan kencang dan stabil di jalan yang semakin menanjak.
Ardi menurut saja mematikan AC mobil dan membuka kaca jendela mobil dari central control, sambil terus mengemudikan mobilnya. Semilir angin yang sejuk langsung menyeruak masuk ke dalam mobil. Hangatnya udara yang ditimpa cahaya matahari sore yang ramah juga segera memenuhi seisi mobil.
Dari tempat duduknya Ella dapat melihat dengan jelas keluar cendela pemandangan alam yang sangat indah. Jalanan pengunungan yang meliuk-liuk dan berkelok-kelok tajam, jurang dan tebing yang dipenuhi pepohonan hijau. Pemandangan yang sangat menyejukkan mata terbentang sejauh mata memandang.
"Coba liat kekiri setelah kelokan itu, El." Ardi memberi tahukan Ella saat mobil mereka hampir berbelok.
Ella menurut saja melihat kearah yang ditunjukkan oleh Ardi dan didapatinya pemandangan alam yang begitu menakjubkan. Sebuah tebing dan jurang yang sangat curam, dengan dasar yang tak terlihat. Jauh nun jauh disana, jauh di dasar jurang dapat dilihatnya warna biru yang berkilauan indah dan berkilauan diterpa cahaya matahari sore.
Warna biru yang sangat luas membentang, berakhir dan bersatu dengan birunya langit. Dikelilingi oleh pasir putih yang bersih dan indah di sepanjang tepiannya. Perahu-perahu dengan layar terkembang beraneka warna juga bertebaran di lautan biru itu, seakan ingin menambahkan warna pada keindahan alam ciptaan Tuhan yang luar biasa itu.
Tak henti-hentinya Ella berdecak kagum dan memuji keindahan alam serta keagungan Sang Pencipta Alam Semesta.
'Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?'
"Keren banget. Kirain kita mau ke gunung karena jalanan yang nanjak dari tadi," celetuk Ella. Dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari sisi kiri mobil, terkagum-kagum melihat pemandangan indah di depan matanya.
"Welcome to papumi beach. Pasir putih Milika," kali ini Laras yang menyeletuk dari tempat duduknya di jok belakang. "Pantai ini memang terletak di belakang bukit dan pegunungan, ciri khas pantai di laut selatan."
"Ombaknya gede, El. Jadi kamu harus hati-hati ya, kalau main air ntar." Ardi mengingatkan Ella sambil terus mengemudikan mobilnya. Membawa mereka berempat terus melaju semakin menjauhi area pegunungan berbukit, semakin mendekati arena pantai berpasir putih dan berangin sejuk.
Semilir angin sore berhembus ringan dengan membawa aroma garam asin yang khas daerah pantai. Tak lama kemudian Ardi memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran mobil di dekat kumpulan cottage sederhana yang terbuat dari kayu dan menghadap tepat ke tepi pantai, di dalam kawasan pantai wisata Papumi yang indah.
Seorang pria separuh baya menghampiri mereka berempat yang baru saja keluar dari mobilnya. "Selamat datang. Bisa saya bantu?" Sapa pria itu ramah.
"Saya sudah memesan cottage atas nama Lazuardi Pradana." Ardi menunjukkan bukti booking dari salah satu aplikasi travel di Hand Phone-nya pada pria itu.
"Ah iya betul. Senang bertemu anda. Kenalkan saya Suyono panggil saja Pak Yono. Cottage anda bukan yang ini. Itu cottage yang paling besar dan paling dekat dengan bibir pantai adalah yang sudah anda pesan." Pak yono menunjukkan sebuah cottage yang lebih besar dan mewah kepada mereka.
"Ini kuncinya, anda bisa mencari saya di rumah jaga kalau membutuhkan sesuatu." Pria itu menyerahkan sebuah kunci cottage kepada Ardi.
"Terima kasih pak," Ardi menerima kunci dari Pak Yono. "Mobilnya saya parkir dekat sana boleh pak?" Tanyanya meminta ijin karena hampir semua mobil yang datang diparkir dikawasan ini. Tak ada yang diparkir terlalu dekat dengan kawasan cottage yang terletak di bibir pantai.
"Tentu boleh. Cottage yang anda sewa adalah cottage VVIP yang punya halaman dan tempat parkir sendiri." Pak yono tidak keberatan dan mempersilahkan.
"Ok pak. Kami langsung kesana ya!" Ardi menjabat tangan pak Yono.
Dia memberi isyarat kepada ketiga penumpangnya untuk kembali naik ke mobil. Menjalankan mobilnya perlahan dan memarkirnya tepat di halaman belakang cottage yang mereka pesan.
Ella keluar dari mobilnya dan memandangi cottage yang mereka sewa dengan sangat takjub. Sebuah bangunan semi permanen yang terbuat dari kayu mahoni seluruhnya. Kayu bercat coklat mengkilap beratapkan genting bertutup jerami yang tertata apik, membuat suasana semakin eksotis khas daerah tropis dan back to nature.
Cottage ini cukup besar jika dibandingkan dengan deretan cottage standart lainnya yang tadi mereka lalui sebelum kesini. Dasar sultan, ngapain coba mereka menyewa cottage sebesar ini hanya untuk berempat, batin Ella kembali merasa diingatkan akan status kesultanan keluarga Ardi.
"Yuk angkut barang bawaan kita ke dalam," perintah Ardi sambil membuka pintu bagasi mobilnya.
Ella, Laras dan Linggar langsung menghambur ke bagasi mobil mengambil dan mengangkut barang-barang mereka ke cottage sementara Ardi membuka pintu cottagenya dan memeriksa keadaan cottage mendahului mereka.
Selama beberapa menit mereka berempat membereskan barang bawaan mereka, memasukkan tas ransel berisi pakaian ke kamar masing-masing. Ella dan Laras mendapat satu kamar untuk ditinggali bersama, sementara Ardi akan tidur bersama Linggar di kamar lainnya.
Tenda portable dan barbeque set juga sudah mereka instal di halaman cottage yang langsung menghadap ke bibir pantai. Coller box yang berisi persediaan makanan mereka juga sudah stand by di dekat tenda.
"Aku mau ke pantai duluan!" Linggar melepas sandalnya, melipat celana panjangnya dan berlari dengan gembira ke arah pantai.
"Eh, tunggu Nggar! Aku ikut!" Laras ikut melepas sandalnya, melipat celananya sampai selutut dan berlari mengikuti Linggar.
"Yuk kita kepantai," Ardi tak mau ketinggalan melipat celana jeansnya dan melepas sandalnya.
Ella pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Ardi. Kemudian Ardi menyodorkan sebelah tangannya di depan Ella dengan senyuman lebar yang terkembang.
Ella merasa sangat bahagia dan terharu menerima uluran tangan tangan Ardi. Tangan yang menggenggamnya erat. Berdua mereka berjalan beriringan dengan bergandengan tangan. Menyusuri pasir putih yang lembut membelai kaki mereka yang telanjang.
Desiran angin pantai yang berhembus ramah di sore hari, deburan ombak yang menghantam batu karang dan menyapu bibir pantai. Serta cahaya matahari yang semakin meremang di langit senja yang kian memerah. Suasana indah dan sempurna untuk kedua insan yang memadu kasih.
Ella dan Ardi segera bergabung dengan Linggar dan Laras yang tengah asik bermain air di tepian pantai. Mereka tertawa dan bergembira riang saat ombak datang menerjang mereka. Berlari-lari mengejar ombak yang menjauh, bahkan dengan nakalnya melemparkan air laut dari tangan mereka ke tubuh yang lainnya. Saling melempar air dan bersenang-senang bersama sampai tak terasa matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat.
Ardi mengajak Ella untuk kembali ke gundukan pasir, sedikit menjauhi bibir pantai. Mereka duduk berdua dan tertawa riang memandang Linggar dan Laras yang masih keasikan bermain-main air laut dan beradu dengan ombak.
"Coba liat El," Ardi menunjuk jauh kearah laut.
Dapat Ella lihat pemandangan yang selama ini hanya dapat dia saksikan di televisi ataupun lukisan. Sebuah lukisan alam semesta yang sangat indah mempesona.
Birunya laut diujung sana yang bersatu dengan langit senja yang memerah mengantarkan kepergian sang surya kembali ke peraduannya. Sang surya yang perlahan namun pasti bergerak menjauh dan kehilangan cahayanya ditelan oleh birunya lautan luas. Menyisakan seberkas cahaya kemerahan yang menghiasi cakrawala senja.
Ardi mengamati pemandangan langit senja itu dengan sesekali melirik ke Ella. Jantungnya berdetak sangat kencang demi melihat wajah cantik Ella yang seolah semakin bersinar diterpa cahaya senja yang kemerahan. Ardi meraih dan menggenggam jemari gadis itu.
"Ella...I love you three thousand." Entah bagaimana ucapan khas ironman di film avenger end game itu tiba-tiba meluncur dari mulut Ardi.
Ella terkesiap menyadari tangan kananya yang digenggam erat oleh Ardi. Lebih terkejut lagi saat mendengar pria itu mengakui perasaanya.
Ella memberikan senyuman termanisnya pada Ardi. Ada rasa bahagia tak terkira yang membuncah memenuhi dadanya. Mungkin inilah saatnya dia juga mengakui perasaannya pada pria itu, bahwa dia juga sangat mencintai Ardi.
"I love you too mas Ardi...I love you four thousand," ujarnya dengan wajah yang terasa memanas.
"I love you five thousand," ujar Ardi tak mau kalah. Dia merasa cintanya pada Ella jauh lebih banyak.
"I love you six thousand," Ella terkikik menahan tawanya menyadari sifat tak mau kalah Ardi, lucu dan menggemaskan.
"I love you ten thousand." Kali ini Ardi mendekatkan wajahnya kearah Ella dan dikecupnya ringan kening gadis itu.
"I love you Ella," tambahnya setelah melepas kecupan ringannya.
Tubuh Ella seakan membatu, dia tak tahu bagaimana harus bereaksi. Rasa senang, bahagia, haru, dan malu bergabung menjadi satu. Ditutupnya wajahnya yang sudah terasa panas membara dengan kedua tangannya, dipalingkan wajahnya dari Ardi agar pria itu tak dapat melihat wajahnya yang memalukan.
Untuk beberapa saat waktu disekitar Ella dan Ardi seakan berhenti. Keduanya terdiam membisu dengan canggung, sibuk bermain dengan pikiran mereka masing-masing. Sibuk menata emosi, gairah dan debaran di dada mereka yang kian membara.
"Mas Ardi! Mbak Ella! Ngapain bengong disana? Ayo sini aku udah lapar!" Linggar berteriak menyadarkan kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu. Linggar dan Laras sudah berjalan beriringan kembali ke cottage.
Ardi kembali menyodorkan tangannya untuk membantu Ella berdiri, dan mereka berjalan dengan bergandengan tangan kembali ke cottage. Menghampiri kedua adik Ardi yang sudah berkutat dengan barbeque set. Ardi segera membantu Linggar mempersiapkan arang dan membuat perapian di alat pemanggang itu.
Sementara Ella membatu Laras memilih dan memilah isi coller box. Menyiapkan beberapa minuman kalengan dan botolan dingin di atas beach mat yang sudah mereka hamparkan di depan tenda. Mencuci dan membuat sate dari bahan-bahan yang ada di coller box, ayam, daging, udang, cumi, ikan bahkan beberapa sayuran seperti jamur, brokoli, wortel, kentang dan bawang bombai.
Ardi dan Linggar selanjutnya membakar sate ala-ala barbeque itu. Sementara Ella membuat bumbu yang akan diulaskan pada sate itu, dan Laras membuat sause yang akan mereka santap bersama sate nantinya. Mereka bekerja sama dengan sangat baik untuk membuat hidangan makan malam yang lezat.
Satu jam kemudian segala persiapan telah selsai. Suasana cottage sudah mulai gelap, hanya ada cahaya lampur 5 watt dari teras cottage yang memang sengaja dibuat remang-remang untuk menciptakan suasana camping yang ideal.
Griller untuk memanggang sate telah dimatikan, berganti dengan api unggun yang mereka nyalakan di depan beach mat. Api kecil yang memberi mereka kehangatan ditengah dinginnya angin laut di malam hari. Ella, Linggar dan Saras sudah duduk mengelilingi tumpukan sate yang masih hangat mengepul. Air liur mereka sudah ingin menetes saja melihat makanan yang menggiurkan itu.
Ardi kembali dari cottage dengan membawa tiga buah jaket tebal. Dia sendiri juga sudah mengenakan jaketnya. Diserahkannya salah satu jaket pada Linggar dan Laras, lalu jaket terakhir yang cukup tebal dipakaikannya ke tubuh Ella.
"Udara makin dingin," ujarnya.
Jaket bomber hitam itu terlihat sangat kebesaran dan menenggelamkan tubuh Ella, membuat mereka bertiga tertawa melihatnya. Yah mau bagaimana lagi itu kan jaket Ardi, jelas saja kebesaran untuk Ella.
"Terima kasih," ujar Ella merapatkan jaket itu ketubuhnya. Ella merasa hangat sekali dengan jaket Ardi melindunginya dari angin malam, seolah tubuh Ardi sendirilah yang memeluk dan memberi kehangatan padanya. Duh, mikir apa si aku ini, dasar mesum hehe.
Tanpa membuang waktu lagi mereka berempat langsung menyerbu dan melahap hidangan hasil masakan mereka sendiri. Bercanda, berbincang dan bergurau tentang segala hal disela-sela makan malam mereka. Menikmati indahnya malam yang diterangi oleh cahaya bulan dan bintang di alam bebas, ditemani semilir angin pantai dan deburan ombak dikejauhan.
~∆∆∆~
🌼LIKE, AND KOMENTAR JANGAN LUPA YA😉🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 260 Episodes
Comments
Maimai
alhamdulillah gak ada yg mencela bumbu yg di buat ela 😂
2022-11-16
0
Maimai
waduh ella sama laras satu kamar? laras bakal intimidasi ella gak ya?
2022-11-16
0
resia
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
2021-09-02
1