Ella kembali ke dalam ruangan setelah menjemur semua cuciannya di halaman belakang. Matahari sudah bersinar sangat terik bahkan pada jam tujuh pagi ini. Baguslah, semua cucianku bisa langsung kering hari ini, pikir Ella.
Intan sedang jaga sift pagi di UGD dan Ella dijadwalkan untuk jaga sift siang nanti. Jadi Ella memutuskan untuk memanfaatkan waktu longgarnya di pagi hari untuk mencuci baju dan sedikit bersih-bersih kontrakannya.
Ella mendengar nada dering yang sangat akrab di telinganya, I love you 3000. Entah mengapa Ella jadi suka banget mendengar lagu itu. Lagu karya anak bangsa yang menggunakan bahasa inggris. Lagu yang mengingatkan pada cinta tak terbatas dari ironman. Lagu yang mengingatkannya pada pernyataan cinta Ardi padanya di pantai Papumi. i love you three thousand.
Ella segera berlari ke kamarnya untuk menerima panggilan telpon itu, dan didapatinya mamanya lah yang memanggilnya. Ada apa mama menelpon sepagi ini? Dengan sedikit cemas memikirkan kabar apa yang akan dibawa mamanya, Ella segera mengangkat sambungan itu.
"Halo? Ella?" suara mama Ella diseberang sana terdengar sangat bingung. Bahkan mamanya sampai lupa mengucapkan salam yang biasanya selalu diucapkannya.
"Ya halo ma? Kenapa ma?"
"El, itu kakinya papa makin parah kayaknya. Melepuh gitu kayak isi cairan empuk-empuk. Terus katanya sakit banget dipake jalan."
"Airnya bisa ngerembes? Bisa keluar?"
"Gak bisa. Makanya kaya nyesek gitu ndesek tapi gak bisa keluar. Kayaknya papa kesakitan banget itu, El."
"Ma, Ella kok curiga ya? Jangan-jangan papa ada penyakit diabetes. Harusnya kalau cuma bengkak biasa tidak akan secepat itu memburuknya." Ella mengutarakan kecurigaan dan kekhawatiran yang berusaha ditepisnya sejak kemarin.
Ella tahu betul keluarga papanya mempunyai faktor resiko tinggi terkena diabetes karena kakek Ella dari papa juga terkena Diabetes. Tapi seperti kebanyakan orang awam, papanya itu paling susah untuk disuruh untuk periksa kadar gulanya. Seakan takut ketahuan kalau punya penyakit.
Suatu anggapan yang salah tetapi masih dianut oleh sebagian besar masyarakat awam. Bahkan memiliki anak seorang dokter juga tidak menyadarkan papa Ella untuk rajin memeriksa kesehatannya.
"Trus bagaimana ini enaknya El?" Mama Ella terdengar makin panik.
Ella jadi merasa sangat sedih mendengar ucapan mamanya itu, dia merasa bersalah pada kedua orang tuanya. Disaat keluarganya membutuhkan bantuannya begini dia malah berada jauh dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk mereka.
Disaat papanya sendiri yang sakit, Ella malah tak bisa melakukan pertolongan. Padahal untuk pasien yang tidak dikenalnya saja Ella selalu berusaha untuk menolong. Kedua orang tuanya hanya punya Ella, Ella adalah anak semata wayang mereka. Hal ini membuat dada Ella semakin sesak dengan segala rasa bersalah dan ketidak berdayaannya.
"Langsung dibawa ke rumah sakit saja. Bentar Ella hubungin mas Hendri, sapa tahu bisa bantuin bawa papa ke rumah sakit."
"Ok El. Nanti kabari mama lagi," mamanya menutup sambungan telponnya.
Ella segera mencari nomer kontak mas Hendri sepupunya dari keluarga mamanya yang cukup akrab dengan Ella. Kebetulan juga tinggalnya tak jauh dari rumah Ella. Dipencetnya tombol call untuk menghubungi sepupunya itu.
"Halo? Halo mas Hendri? Ini Ella, mas. Mas Hen sekarang lagi sibuk gak?"
"Eh Ella? Tumben pagi-pagi? Ada apa ni? Kebetulan juga aku lagi kosong. Masuk malam." Hendri menjawab pertanyaan Ella. Hendri adalah seorang perawat yang bekerja di salah satu rumah sakit islam yang lumayan dekat dengan rumah Ella.
"Papa sakit mas, kayaknya abses atau kemungkinan terburuk gangren diabetikum. Mas Hendri bisa tolongin bawa ke rumah sakit islam gak? Masukin UGD RSI langsung mas. Nanti aku bakal nyusul pulang abis ini."
"Lho Ella bukannya di Banyu Harum?"
"Iya abis ini aku mau ngejar kereta bisnis ke Surabaya. Mas bisa tolongin anter mama dan papa ke RSI dulu kan?"
"Ok, El. Jangan khawatir. Bentar lagi aku berangkat ke rumahmu."
"Makasih banyak ya mas. Maaf ngerepotin."
Ella segera memberi tahukan pada mamanya bahwa Hendri akan segera datang untuk menjemput dan mengantar mereka ke rumah sakit. Kali ini Ella memilih mengirimkan pesan saja pada mamanya agar lebih mudah untuk dipahami, dan diingat oleh mamanya yang sedang panik saat ini.
Ella
Ma, abis ini mas Hendri jemput ke rumah. Langsung anter ke UGD-nya RSI nanti. Mama siapkan segala keperluan papa untuk rawat inap ya. Baju-baju, bantal, selimut, KTP dan kartu askesnya jangan lupa dibawa juga. Ella bentar lagi pulang dan langsung nyusul ke RSI, mama disana yang kuat ya. love you.
Mama
Iya, El. Kamu ati-ati ya di jalan.
Dengan kepanikan dan kekhawatiran yang semakin menjadi Ella segera mengemasi barang-barangnya sekenanya ke tas ransel. Packing seperlunya saja untuk keperluan pulang kampungnya. Kemudian Ella tiba-tiba teringat akan jadwal jaga UGD-nya nanti siang.
Dia tak mungkin membiarkan UGD RSUD G tak memiliki dokter jaga untuk sift siang. Tak mungkin untuk meminta bantuan Intan, karena Intan sudah jaga nerus sift malam dan sift pagi hari ini. Ella tiba-tiba teringat dengan Roni, temannya itu mengatakan bahwa jadwalnya hari ini kosong. Tanpa pikir panjang lagi Ella segera menghubungi Roni untuk meminta pertolongannya. Segera dihubunginya pria itu.
"Halo Ella? Kenapa El?" Roni langsung menyapa Ella saat sambungan terhubung.
"Eh Ron, boleh minta tolong gak? Urgent banget ini. Tolong gantiin aku jaga siang ini ya?" ujar Ella memohon pertolongan Roni.
"Emang kamu kenapa gak bisa jaga?" tanya Roni menyelidik. Dia merasa sedikit tidak nyaman dengan nada bicara Ella yang terkesan buru-buru. Pasti ada yang tidak beres dengan gadis itu, tak biasanya juga Ella minta pertolongan padanya, pikir Roni.
"Papaku sakit Ron, aku mau pulang ke Surabaya," jawab Ella mengakui.
"Kereta Mutiara barat jam 9.00 ke Surabaya kan? Mau ngejar naik itu?" tanya Roni
Ella sedikit kaget karena Roni dapat menebak jalan pikirannya. "Iya ni Ron. Jalur paling cepat dan nyaman ke Surabaya ya naik kereta. Itu aja masih tujuh jaman perjalanan."
"Ok deh. Kamu santai aja. Aku bisa ambil jadwal jaga kamu tiga hari. Selebihnya minta tolong Intan ya kalau masih butuh tambahan hari," jawab Roni diluar dugaan Ella.
Yaampun kenapa dia baik banget? Padahal niat Ella hanya minta tolong untuk hari ini. Tapi Roni malah menawarkan untuk membantunya selama tiga hari, Ella terharu.
"Gak apa-apa emangnya Ron? Kamu bakal nerus terus donk jaganya?" Ella sedikit tidak enak merepotkan temannya itu.
"Gak pa pa. Kan nanti bisa tukeran aku yang libur hehe," jawab Roni. "Kamu ke stasiun sama sapa? aku jemput ya abis ini aku anterin ke stasiun," Roni menawarkan.
"Eh gak usah Ron. Ngerepotin banget ntar."
"Udah kamu siap-siap dulu. Aku kesana," ujar Roni sebelum menutup panggilannya.
Ella segera beranjak ke kamar mandi. Dia menyelesaikan ritual kamar mandinya dengan cepat kemudian kembali ke kamarnya. Berganti pakaian dengan dandanan sporty khas traveler. Celana jeans panjang dan tshirt simple dengan bahan yang nyaman. Yah nanti dia akan menempuh perjalanan yang panjang jadi sebaiknya mengenakan pakaian yang nyaman saja. Tidak Lupa Ella memakai jaket dan sneakersnya.
Tak lama kemudian Ella mendengar suara mobil yang berhenti di depan kontrakannya. Ella segera menyambar tas ranselnya dan beranjak ke depan rumah. Menghampiri Roni yang sudah menantinya di dalam mobil honda CRV abu-abunya.
"Pagi El, yuk buruan masuk kita berangkat," ujar Roni begitu Ella mendekat ke mobilnya.
Tanpa menjawab Ella segera masuk ke mobil, mengambil duduk di sebelah Roni. "Ron, sorry banget lo aku jadi ngerepotin kamu." Ella meminta maaf saking sungkannya pada Roni.
"Duh kayak sama sapa aja?" Roni tetawa geli sambil menjalankan mobilnya.
"Kita kan setim, sudah sewajarnya saling membantu, mengcover setiap ada temen yang berhalangan hadir karena keperluan penting. Dan alasanmu berhalangan ini kan mendesak banget. So gak usah dipikirin lah kamu fokus ke papamu aja sekarang," lanjutnya.
"Kamu gak usah gantiin tiga hari. Hari ini aja gak pa-pa, besok aku minta bantuan Intan. Lusa kalau papa sudah enakan aku balik kesini," Ella mencoba menolak tawaran Roni menggantikan sift jaganya selama tiga hari berturut-turut. Tentu akan sangat melelahkan bagi cowok itu untuk kerja doble sift selama tiga hari berturut-turut.
"Ella, aku ini mau nolongin kamu. Udah jangan diprotes lagi!" Kali ini ucapan Roni penuh penekanan seakan tak mau dibantah lagi.
"Ok deh. Anggap saja aku berhutang jaga. Lain kali akan kubayar," Ella pun akhirnya menurut saja mengalah.
"Nah gitu donk. Gadis penurut lebih menyenangkan daripada pembangkang hehe," ujar Roni terlihat puas setelah Ella nurut.
"Ngomong-ngomong papamu sakit apa?"
"Kata mama bengkak di kakinya. Kayaknya si abses, tapi aku curiga ada faktor pemicu lain. Suspect diabetes kayaknya," jawab Ella.
"Wah harus segera ditangani tu sebelum jadi gangren," Roni ikut khawatir mendengarnya. ( gangren \= jaringan mati yang disebabkan oleh infeksi atau kekurangan suplay darah).
"Iya tadi udah aku suruh bawa ke UGD dulu biar cepat ditangani"
"Ella, lain kali kalau kamu ada masalah atau butuh pertolongan kamu bisa cari aku."
Ella benar-benar bingung dengan perkataan Roni kali ini. Apa maksudnya? Mengapa dia harus mencari Roni kalau ada masalah? Memangnya mereka sedekat itu? Mengapa Roni sangat baik dan perhatian padanya? Akhirnya Ella pun hanya terdiam tak berani untuk menjawab pernyataan Roni.
Tak lama kemudian mereka sampai di kawasan stasiun. Ella langsung turun dari mobil di depan pintu masuk sementara Roni lanjut memarkirkan mobilnya. Ella segera menghampiri loket yang menjual tiket dan mengantri disana. Rupanya cukup banyak juga orang yang ingin pergi ke Surabaya selain dirinya. Setelah antrian orang ketiga akhirnya Ella berhasil mendapatkan tiketnya, kemudian dia beralih dari antrian itu.
Roni ternyata sudah menunggunya dibelakang antrian. "Gimana? dapet tiketnya?"
"Dapet. Makasih banyak ya, Ron. Aku mau masuk peron dulu," Ella pamit pada Roni. Ada sedikit rasa canggung dan sungkan untuk berlama-lama berduaan dengan cowok itu.
"Tunggu El, ni ambil buat bekal di perjalanan," Roni menyerahkan sebuah kantong plastik berisi roti, snack dan sebotol minuman dingin pada Ella.
'Duh ini Roni kesambet apa ya kok baik banget gini?' Batin Ella makin bingung.
"Kalau sudah sampai kasih kabar ya," lanjut Roni saat mengantar Ella sampai di gerbang pemeriksaan karcis.
Ella hanya mengangguk menjawabnya dan melambaikan tangannya untuk berpamitan. Kemudian dia menyerahkan karcis dan KTP nya untuk diperiksa petugas sebelum memasuki peron stasiun.
Tak sampai sepuluh menit kemudian kereta tiba. Dan Ella langsung memasuki gerbong serta mencari nomer kursi sesuai dengan yang tertera di karcisnya. Ella segera menduduki kursi bernomer 24D sesuai dengan yang di karcisnya. Kebetulan dia duduk di sebelah jendela. Diletakkannya tas ranselnya di bagasi diatas tempat duduk mereka dan digantungkannya kantong plastik pemberian Roni di bawah coffe table.
Beberapa saat kemudian kereta berangkat. Dan Ella memanfaatkan perjalanan panjangnya dengan banyak beristirahat dan tidur untuk menghalau kecemasannya akan keadaan papanya. Sesekali dia mengecek pesan di ponselnya untuk berkomunikasi dengan mamanya serta mas Hendri soal keadaan papanya yang telah di rawat di RSI.
~∆∆∆~
🌼Tolong klik RATE (⭐⭐⭐⭐⭐), JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR and GIFTS Makasih 😘🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 260 Episodes
Comments
Opbrbaru
dr Rony yang tengil mulai naksir Ella
2023-03-18
0
Maimai
jelas lah roni perhatian nya berlebih ke kamu. kayak nya dia naksir kamu deh la.
2022-11-17
0
Maimai
jangan lupa hubungi ardi, ella. nanti dia ngambek loh.
2022-11-17
0