Hari sudah beranjak sore saat kereta Mutiara Timur yang ditumpangi Ella akhirnya berhenti di stasiun Wonokrimi. Ella segera mengambil tas ranselnya di bagasi dan beranjak turun dari kereta. Dia berjalan menyusuri peron stasiun, keluar melawati exit door.
Disana sudah banyak sekali yang menyambut Ella dan para penumpang kereta lain yang baru keluar dari stasiun. Para tukang ojek, abang becak sampai supir taxi berebut menawarkan jasa mereka, berharap mendapatkan pelanggan.
Ella melewati mereka semua dan terus berjalan keluar stasiun, tak berminat untuk memakai jasa salah satu dari mereka. Karena Rumah Sakit Islam Siti Khadijah tempat tujuannya memang jaraknya tak begitu jauh dari stasiun. Jarak yang dapat ditempuhnya hanya dengan berjalan kaki. Hanya perlu menyeberang jalan raya beberapa kali sudah bisa sampai kesana.
Ella menaiki jembatan penyebrangan menghubungkan Stasiun Wonokrimi dengan Darmo Mall. Yang namanya tinggal menyeberang jalan raya di kota besar itu benar-benar melelahkan. Harus menaiki jembatan penyeberangan, berjalan cukup jauh, kemudian menuruninya lagi. Beberapa kali lipat membutuhkan tenaga daripada langsung nyelonong menyeberangi jalan raya yang biasa dilakukan di jalanan kota kecil yang tidak seramai di jalanan ibukota provinsi ini.
Ella terus saja berjalan menyusuri pelataran mall, dan terus melewati pos polisi lalu lintas setelah menyeberang jalan. Selanjutnya Ella memposisikan dirinya tepat di depan zebra cross dan menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi merah sebelum melanjutkan menyeberang jalan lagi .
Ella berjalan dibawah fly over road, memposisikan dirinya di zebra cross lain. Memanfaatkan momentum lampu merah untuk melanjutkan perjalannya. Dari sana Ella hanya tinggal berjalan beberapa ratus meter lagi untuk sampai di pelataran RSI Siti Khadijah.
Ella segera memasuki rumah sakit itu, bertanya kepada bagian informasi dimana letak kamar Melati 7. Setelah dari IGD dan mendapatkan perawatan disana, diobservasi beberapa jam, dan setelah keadaannya stabil Papa Ella dipindahkan ke kamar melati 7.
Ella melanjutkan pencariannya, menaiki lift dan mendarat di lantai tiga. Kemudian dia menyusuri lorong rumah sakit sampai di dapatinya sebuah kamar yang bertuliskan Melati 7 di atas pintunya.
Ella mengetuk pintu dan membukanya perlahan, dijulurkannya kepalanya perlahan kedalam ruangan. Mencari sosok yang mungkin dia kenal, ingin memastikan bahwa dia tidak salah kamar.
Dapat dilihatnya tiga wajah yang sangat familiar disana, Mama Ella yang duduk di kursi sebelah ranjang papanya, papanya yang terbaring di ranjang serta Hendri yang duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Assalamualaikum," sapa Ella saat melangkah masuk lebih jauh ke ruangan VIP ini.
Ketiga orang diruangan langsung kompak menjawab salamnya. Ella mendekat ke arah mamanya, dan mencium tangan wanita itu yang kemudian memeluknya lembut. Kemudian Ella menghampiri papanya dan mencium tangan nya juga. Terakhir dia juga menyalami tangan Hendri untuk menyapanya.
"Gimana keadaanya pa?" Tanya Ella. Dia merasakan sesak di dadanya demi melihat keadaan papanya.
Papanya yang terbaring di ranjang pasien dengan wajah yang lebih pucat dan tirus daripada biasanya. Kaki kanannya terbebat perban sampai setinggi mata kaki dengan noda darah di bagian punggung kakinya, serta infuse set yang menempel di lengan kirinya.
Ella merasa papanya yang telah berusia pertengahan lima puluhan itu terlihat lebih tua dan rapuh. Jauh berbeda dari sosok papa yang biasa dikenalnya, sosok papa yang energic, ceria dan tak bisa diam.
Sebagai anak tunggal Ella memang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kedua orang tuanya. Dia juga tak pernah hidup berjauhan dengan papa dan mamanya itu. Bahkan waktu kuliah pun Ella berusaha keras agar dapat diterima di fakultas kedokteran yang masih satu kota dengan rumahnya. Sehingga dia tak perlu ngekost dan hidup jauh dari orang tuanya.
Interenship yang mengharuskannya menetap di Banyu Harum selama kurang lebih satu tahun ini, adalah kali pertama Ella harus pergi meninggalkan rumahnya dalam waktu yang lama. Dan rasa bersalahnya pun semakin bertambah. Karena dia bahkan sudah sebulan lebih tidak pulang ke rumah, untuk melihat langsung keadaan orang tuanya.
"Udah mendingan. Kakiku tadi dikerokin El. Kayak ngerokin semangka aja enak banget si mas perawat tadi hehe," Jawab Papanya setengah mengadu pada Ella. Beliau masih berusaha sedikit bercanda untuk mengurangi kecemasan anak semata wayangnya itu.
"Sakit gak dikerokin gitu?"
"Ya sakit lah. Awalnya si gak sakit. Tapi lama-lama tambah sakit, sakit banget"
"Hehehe papa hebat bisa nahan sakitnya," Ella tak bisa membayangkan rasa sakit yang diderita papa nya selama prosedur perawatan di UGD tadi. Ella tahu betul seperti apa dan bagaimana perawatan luka untuk gangren diabetikum, perawatan luka tanpa prosedur anastesi, tanpa pembiusan.
Bayangkan saja bagaimana rasanya kulit dan daging kaki kita diiris dan dikerok tanpa anastesi. Ella memang sudah terbiasa melihat bahkan melakukan sendiri prosedur itu pada pasien-pasiennya.Tetapi untuk membayangkan papanya sendiri yang harus mengalaminya terlalu mengerikan untuk dibayangkan olehnya.
"Gimana kata dokter mas?" tanya Ella pada Hendri. Hendri sebagai seorang perawat, sesama orang medis pasti dapat memberikan penjelasan yang lebih baik daripada yang bisa dilakukan mama atau papa Ella.
"Yah sesuai dugaanmu, Abses karena trauma disertai penyakit sistemik diabetes. Hasil tes GDA nya pas masuk UGD tadi sampai 497 lho, tinggi banget. Tensinya juga 160/90, tapi ini bisa aja karena kondisi sakitnya yang bikin naik. Sebagian jaringan di kaki Om Bowo sudah jadi gangren, jadi tadi setelah drainase nanahnya dilanjut pengerokan jaringan gangren." Hendri menjelaskan keadaan papa Ella, keadaan yang sudah bisa Ella bayangkan di kepalanya sebelumnya.
"Udah bersih gangrennya? Ronsent nya gimana? Kena tulang?"
"Ya pengerokan sudah bersih sampai batas Om bowo mengatakan sakit. Ronsentnya bagus si, posisi abses masih belum kena tulang. Tapi ntar liat hasil penyembuhannya semoga aja bagus. Kalau nggak..." Hendri menyerahkan sebuah amplop besar berisi hasil foto ronsent kaki papanya pada Ella.
"Iya pasti bagus karena tidak melibatkan jaringan keras." Ella cepat-cepat memotong ucapan Hendri. Dia tahu betul kelanjutan dari apa yang akan diucapkan Hendri. Kalau enggak, harus dioperasi, amputasi kakinya.
Terlalu mengerikan untuk membayangkannya dan dia juga tak ingin membuat mama dan papanya semakin kepikiran. Dibukanya amplop berisi foto ronsent dan diamatinya. Ella membuang napas lega dan mengucap syukur, benar kata Hendi dari gambaran foto itu tak ada infeksi yang mengenai tulang.
~∆∆∆~
Selepas isyak Budhe Tari dan Pakde Darto, orang tua Hendri datang berkunjung untuk menjenguk papa Ella. Setelah menyapa dan mencium tangan keduanya Ella meminta ijin untuk ke kantin sebentar, mengisi perutnya yang sudah lapar. Tak ingin terlalu terlibat dengan pembicaraan para orang tua.
Sesampai di kantin RSI, Ella memesan teh hangat dan nasi goreng di counter pemesanan, membayarnya dan mengambil duduk di salah satu kursi. Diambil dan diamatinya ponsel dari saku jaketnya. Benda yang belum sempat tersentuh olehnya selama beberapa jam ini. Ella hanya memakai ponselnya untuk berhubungan dengan mama dan mas Hendri saja tadi. Dia sengaja mengabaikan semua pesan dari siapapun selain mereka berdua.
12.30 Lazuardi
Siang Ella sayang, sudah makan siang belum?
15.07 Lazuardi
El? Kok no response? Lagi sibuk banget ya? Semangat ya! Fighting!
17.24 Lazuardi
Sore cantik, lagi apa? meski sibuk jangan lupa makan ya. Take care.
Ella tersenyum membaca ketiga pesan dari Ardi. Pesan sederhana yang terkesan tidak romantis tapi cukup manis dan perhatian bagi Ella. Mungkin cowok itu mengira Ella sedang bertugas jaga di UGD hari ini. Jadwal Sift siang yang seharusnya menjadi tugasnya.
Ella
Sore mas Ardi, maaf hari ini aku sibuk banget. Jadi gak sempet pegang hp.
Tak beberapa lama kemudian Ella mendapat jawaban dari Ardi, tumben ni mas Ardi stand by dan cepet balesnya. Apa dia sedang menanti balasan dariku sejak tadi? pikir Ella.
Lazuardi
No problem. Santai aja. Kalau boleh tahu Ella lagi sibuk ngapain aja si?
Ella
Biasa urusan rumah sakit. Udahan dulu ya mas, aku ingin istirahat.
Entah mengapa Ella tak ingin menceritakan kepulangannya ke Surabaya, tak ingin membuat Ardi ikut khawatir. Dia pun juga setengah berbohong mengatakan kesibukannya urusan rumah sakit, ya walaupun RSI tempat papanya meninap tapi sih bukan RSUD G tempatnya bekerja.
Lazuardi
Oh ok deh kalo gitu. Kamu istirahat aja ya. Good night setengah sore Ella sayang.
Ella hanya membalas dengan stiker bertuliskan good night untuk membalasnya. Dia senang Ardi cukup dewasa untuk tidak banyak bertanya, memaksanya bercerita saat dia sedang tidak ingin. Pria itu seakan mengerti bahwa Ella sedang membutuhkan waktu untuk sendirian. Kemudian Ella mengalihkan percakapan pada pesan dari orang lain yang dianggapnya penting.
17.00 Roni
Ella udah sampai belum? Kok gak ada kabar?
Ella merasa sedikit bersalah pada Roni, tadi dia berjanji untuk mengabarinya begitu sampai di Surabaya. Tetapi kenyataannya Ella benar-benar lupa, setelah sampai pikirannya hanya pada papanya saja di rumah sakit.
Ella
Sudah tadi jam Empat-an, Ron. Maap kelupaan tadi nyampe langsung ribet ke RS.
Roni
Oh syukur kalo kamu udah sampai dengan selamat. Gimana keadaan papamu?
Ella
Udah stabil dan masuk ruangan. GDA nya tinggi sesuai dugaanku. Cuma ya nunggu recoverynya, mungkin agak lama.
Roni
Iya sabar aja. Yang penting suport dari keluarganya aja biar cepet penyembuhannya.
Ella memberikan jawaban berupa emoticon jempol pada Roni. Kemudian dia beranjak pada pesan terakhir yang menarik baginya, dari Intan teman sekontrakannya.
13.10 Intan
Ella? Kamu pulang ke Surabaya? Aku baru denger dari Roni soal papamu.
Kali ini Ella tak ingin membalas pesan Intan, dia menekan tombol call untuk membuat panggilan pada Intan, ingin mendengar celotehan ceriwis temannya itu.
"Halo? Ella! Gila kamu ya, kok gak ngabarin aku. Apa-apaan kok malah minta tolongnya sama Roni? Kamu minta Roni jaga tiga hari? Berarti besok dia nerus dua hari berturut- turut?" Intan langsung nyerocos begitu panggilan tersambung dengan Ella.
"Yah abisnya ini dadakan juga tadi, Tan," Ella sedikit terkikik mendengar suara Intan. Lumayan bisa dijadikan mood booster.
"Trus gimana keadaan om sekarang? Jadi sakit apa? Beneran Gangren diabetikum?"
"Iya bener. GDA nya nyaris 500, gila gak tu?Udah stabil si sekarang, tadi udah perawatan luka di UGD dan sekarang udah di ruangan."
"Buset dah 500. Tapi gak ada komplikasi kan?" Intan ikutan kaget mendengarnya.
"Alhamdulillah gak kena tulang, ronsent juga bagus aku liat tadi gak kena tulang. Yah tinggal nurunin gulanya sama recovery."
"El, Kamu gila ya? Kok minta tolong ke Roni?" Intan tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Hah? Emang kenapa? Kupikir kamu pasti capek abis nerus. Dan Roni pas kebetulan libur hari ini..."
"Kalau kayak gitu kan kamu kayak ngasih harapan donk ke dia? Trus Lazuardi gimana?"
"Apaan si! Kamu ngomongin apa si Tan?"
"Aduuuh Ella! Kamu gak tau? Kamu gak kerasa? Si Roni itu suka sama kamu!"
"Haaaaaa? Becanda ah kamu!"
"Kamu kan sudah ada Ardi. Jangan ngasih harapan lebih mendingan. Kan gak enak juga klo ada apa-apa kita kan setim UGD." Nada suara Intan terdengar sangat gemas.
Gemas menyadari betapa tidak pekanya Ella. Dan Ella sendiri yang baru mengetahui kenyataan itu menjadi speachless. Jadi itu alasan Roni sangat baik padanya? Jadi Roni mempunyai perasaan padanya?Menyukainya?
Ella benar-benar bingung. Roni adalah pria yang baik, dokter yang cerdas dan cakap. Dari segi penampilan juga sangat menarik. Pendidikan dan pekerjaan juga jelas. Jika saja Ella belum mengenal Ardi, jika saja belum terpahat nama Lazuardi di hatinya, mungkin Ella dapat menyukai Roni juga.
~∆∆∆~
FYI (For Your Informations)
* Tes yang dilakukan untuk mendeteksi pasien diabetes adalah tes gula darah, yang terdiri dari dua macam tes dengan nilai batas normal yang berbeda:
-GDA (Gula Darah Acak) : nilai normal jika dibawah 200
-GDP (Gula Darah Puasa): nilai normal antara 60-125
*Metode perawatan luka pada gangren diabetes adalah dengan cara pengambilan semua jaringan yang terinfesi untuk mencegah luka bertambah luas dan menginfeksi jaringan sehat di sekitarnya. Pengambilan ini tidak menggunakan anastesi untuk mengetahui sampai mana batas jaringan yang mati dan yang terasa sakit. Jaringan yang masih bisa merasakan sakit berarti masih hidup dan pembersihan jaringan hanya sampai batas itu. Selanjutnya dilakukan pencangkokan jaringan untuk menutup jaringan yang telah diangkat.
🌼Tolong klik RATE (⭐⭐⭐⭐⭐), JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR and GIFTS Makasih 😘🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 260 Episodes
Comments
Maimai
pencangkokan jaringan itu gimana cara nyabka, tumbuh sendiri apa lewat operasi?
2022-11-17
0
Maimai
nemu aja nih si ardi kata kata nya good nigth setengah sore 😂😂
2022-11-17
0
Maimai
jauh juga itu la jarak nya,, mending naik ojek deh dr pada naik turun tangga. caoek banget. untung ella langsing jd gak enggap enggap an naik turun tangga nya
2022-11-17
0