"Dok, pihak farmasi minta bantuan verifikasi obat UGD." Ujar salah satu perawat membuyarkan lamunan Ella. Seharian ini entah mengapa Ella sulit sekali untuk fokus dan berkonsentrasi dalam bekerja.
Untungnya hari ini meskipun Ella mendapat sift pagi jumlah pasien di UGD tidak banyak, hanya ada tiga orang dengan keluhan ringan. Perawat dapat melakukan tindakan sendiri tanpa perlu Ella turun tangan. Hanya tinggal memberi advice tindakan apa saja yang harus dilakukan serta obat apa saja yang harus diberikan kepada pasien-pasien itu.
"Ok mbak Rini. Nanti aku kesana setelah selesain laporan operan." Ella melanjutkan menulis di buku register besar UGD.
Ella sampai heran pada dirinya sendiri bagaimana bisa dia menghabiskan waktu jaganya seharian ini dengan banyak melamun. Memikirkan kejadian kemarin di Landung Biru. Memikirkan bagaimana selanjutnya hubungannya dengan Ardi.
Seharusnya kan hubungannya dengan Ardi sudah selangkah lebih maju, tapi kok rasanya sama aja. Gak ada perubahan yang berarti. Bahkan seharian ini Ardi tidak nampak batang hidungnya, seperti hilang ditelan bumi, tanpa kabar.
Jika biasanya setiap pagi Ardi selalu menyempatkan waktu untuk menyapanya atau sekedar memberikan pesan selamat pagi. Hari ini tak ada sapaan atau pesan apapun, bahkan Ella akhirnya mengalah tak menghiraukan harga dirinya untuk mengucapkan selamat pagi terlebih dahulu.
Tapi sampai siang bolong begini Ardi bahkan belum membalasnya. Tanda yang nampak di aplikasi pesannya masih saja centang satu. Ella juga heran kenapa hal remeh begini bisa membuat Ella muram dan kesal seharian. Kesal dan gregetan akan sikap cuek Ardi.
Setelah membereskan laporannya Ella beranjak ke instalasi farmasi yang terletak di sayap kanan rumah sakit.
"Mana list obat UGD yang harus diverifikasi, mbak?" Tanya Ella pada salah satu petugas wanita yang bertugas disana.
"Ini dok. Cuma ingin memastikan stok pengadaannya sudah sesuai dengan yang dibutuhkan UGD atau belum? Atau masih ada obat dan bahan lainnya yang ingin diorder?" Petugas itu menyerahkan beberapa lembar kertas ke Ella.
Ella segera menerimanya dan mengambil duduk di customer chair di depan meja petugas. Dibacanya daftar obat-obatan dan peralatan medis habis pakai di kertas itu satu persatu dengan teliti.
"Kayaknya untuk obat-obatan sudah cukup, obat anastesi injeksi-nya coba tambah order pehacain ya. BHP-nya (Bahan Habis Pakai) tambahin kasa steril, syiring 1cc satu box, spongostan untuk mengentikan perdarahan, perhidrol dan alkohol juga sepertinya mau habis," jawab Ella sambil membolak-balik kertasnya.
"Spongostan agak susah dok. Tapi yang lain bisa ditambahkan di list," petugas farmasi tadi menyanggupi permintaan Ella.
"Sebentar dok saya print dulu list barunya, biar sekalian dokter Ella tanda tangani." Lanjutnya berkutat mengetik memperbaiki dokumennya.
Sambil menunggu petugas itu bekerja, Ella mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan dan didapatinya dokter Sari sedang berada di ruang farmasi itu juga. Segera saja Ella menghampiri temannya itu, untuk sekedar menyapanya.
"Obat flu, obat demam sama sekalian imun boster-nya ya." Request Sari pada salah satu petugas farmasi yang melayaninya.
"Halo Sar, sapa yang sakit?" Sapa Ella menghampiri Sari. Ella sedikit heran juga untuk apa Sari meminta obat. Mengingat Sari saat ini bertugas di poli penyakit dalam. Dan semua obat yang diberikan kepada pasien langsung melalui instalasi farmasi tanpa perantara dokter jaganya.
"Eh? Ella?" Sari sedikit kaget menyadari kehadiran Ella di sebelahnya. "Kebetulan sekali. Abis ini ikut aku ya!"
"Mau kemana?"
"Ke rumah mas Ardi. Mau gak?"
"Ngapain ke rumah mas Ardi?" Tanya Ella penasaran. Tapi sepertinya Sari tidak ingin menjawab pertanyaannya.
"Tapi sift jaga belum berakhir." Ella melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Pukul 12.45, lima belas menit lagi sebelum pergantian sift pagi ke sift siang.
"Ya bentaran lagi kan. Ntar aku jemput di UGD ya, sekarang aku balik poli dulu siap-siap pulang." Sari pamit undur diri begitu sang petugas farmasi memberikan kantong plastik berisi obat pesanannya.
Sepeninggal Sari, Ella kembali ke petugas yang tadi mengurusi list obat UGD. Petugas itu menyerahkan lembaran-lembaran yang telah direvisinya kepada Ella. Sekali lagi Ella membacanya singkat sebelum dia membubuhkan tanda tangannya di kertas itu.
Setelah itu sang petugas mengucapkan terima kasih dan Ella beranjak berjalan perlahan kembali ke instalasi UGD.
Ella bertanya-tanya dalam hati kenapa tiba-tiba Sari mengajak ke Rumah Ardi? Apa ada acara? Tapi kalau ada acara kan tidak mungkin semendadak itu ngasih tahunya. Terus untuk siapa obat-obatan tadi? Apa mas Ardi yang sakit? Ella menjadi sedikit khawatir dan merasa bersalah.
Ella ingat betul keadaan Ardi kemarin memang sudah pucat, ditambah kena angin laut malam-malam, udah gitu jasnya juga dipinjamkan ke Ella.
'Aduh jangan-jangan mas Ardi masuk angin? Gara-gara aku?'
Sesampai di UGD ternyata dokter Roni sudah tiba. Seorang dokter interenship seperti Ella yang sedang pengabdian di RSUD G ini. Roni adalah lulusan universitas negeri yang bergengsi, Unibrew.
Orangnya juga ramah dan berpenampilan sangat menarik. Ella segera melakukan operan jaga dengannya. Memberikan tumpukan rekam medis pasien ke tangan Roni. Kemudian dia mengemasi barang dan alat tulisnya , serta melepas dan melipat jas dokternya ke dalam tote bagnya.
"El? udah siap?" Sari menyapa dan menghampiri Ella di UGD.
"Udah, Sar. Yuk berangkat." Jawab Ella menghampiri Sari.
"Ron, duluan ya. Semoga aman sore ini," pamit Ella pada Roni.
"Yoi, selamat bersenang-senang ya," jawab Roni pada Ella dan Sari sekaligus.
"Iiiihhhh sok tau. Emang kita mau ngapain?" jawab Sari sewot dan Ella hanya tertawa mendengar ucapan itu.
Memang Sari dan Roni yang paling sering bergurau diantara teman-teman satu angkatan interenshipnya. Ella berjalan dengan langkah cepat mengikuti Sari ke parkiran mobil di depan UGD.
"Yuk El," Sari masuk kedalam mobil nissan juke putihnya, dan Ella pun ikut masuk serta mengambil duduk di kursi sebelah driver. Yah mengingat Sari adalah sepupu Ardi, tidak mengherankan kalau dia juga tajir melintir.
Tak lama kemudian Sari menyalakan mesin dan melajukan mobilnya meninggalkan pelataran UGD. Mobil putih itu melaju dengan kencang menyusuri kota Genting yang panas membara di siang bolong ini.
"Emang ada apa kita ke rumah mas Ardi?" Ella menanyakan pertanyaannya yang belum terjawab oleh Sari tadi.
"Mas Ardi gak ada kabarnya dari kemarin siang. Pulang dari menghadiri tender di kota Jembar terus ilang gak ada kabar lagi." Jawab Sari sambil terus konsen nyetir mobil.
"Hah? Gak ada kabar gimana?" Ella sedikit khawatir mendengar jawaban Sari.
"Ya gak bisa dihubungin El. Kamu juga terakhir kontak sama dia kapan?"
"Kemarin malam masih ketemu aku untuk dinner. Setelah nganterin aku pulang gak ada kabar lagi sampai sekarang. Pesanku juga masih centang satu." Ella memeriksa Hp-nya.
"Budhe Kartika tadi telpon aku minta tolong buat nengokin ke rumahnya. Takut anaknya kenapa-napa."
"Lho mas Ardi gak tinggal sama orang tuanya?" Ella penasaran kok ibunya Ardi malah nyuruh Sari untuk ngecek keadaan anaknya sendiri.
"Keluarga mas Ardi tinggal di Banyu Harum kota. Sedangkan Mas Ardi punya rumah dan tinggal sendiri di kota Genting ini, karena lebih deket ke perusahaan yang dipegangnya. Aku dan keluargaku kan tinggal di Genting juga, jadi budhe Kartika sering minta tolong aku buat nengokin rumah mas Ardi."
"Oohhh," Ella tidak menyangka hubungan Sari sedekat itu dengan Ardi.
"Sering? dia sering ngilang gini?"
"Hahahha dulu sering banget. Terutama kalau lagi ada masalah di perusahaannya. Biasanya dia tau-tau gak masuk kerja dan ngilang begitu saja. Kabur!" Sari tertawa geli mengingat tingkah nakal Ardi dulu.
"Hah? Kabur kemana? Ngapain?"
"Ya macem-macem. Kadang ke pantai, ke gunung, kadang juga tahu-tahu di Jembar main ke kampusku dan Larasati, adik perempuannya. Ya pokoknya kabur dari keruwetan kantornya. Memang papanya terlalu keras si waktu itu. Beliau bener-bener pingin mas Ardi langsung jadi pemimpin perusahaan."
"Tapi kan basicnya mas Ardi itu arsitek, enginer, orang yang bebas berkreasi. Tahu-tahu disuruh mengurusi managerial perusahaan yang ruwet dan saklek gitu setelah lulus kuliah. Jelas aja dia setres."
Ella hanya bisa mendengarkan cerita panjang Sari tentang Ardi. Sedikit senang juga bisa mengetahui perjalanan hidup Ardi yang ternyata tidak mudah meskipun dia anak sultan. Tapi ada rasa tidak nyaman juga menyadari Sari yang sepertinya tahu terlalu banyak tentang Ardi. Masa iya Sari sedekat itu dengan sepupunya? atau jangan-jangan ada perasaan lebih?
"Ya itu cerita dulu, waktu dia masih tahap belajar jadi direktur di perusahaannya sediri. Tapi sekarang dia sudah sudah jadi direktur yang handal, gak pernah gitu lagi. Makanya mamanya khawatir terjadi apa-apa sama mas Ardi yang tiba-tiba ngilang."
"Mungkin dia sakit..." Ella sedikit khawatir.
"Iya makanya tadi aku bawain obat-obatan tu sama bubur ayam kesukaannya." Sari membelokkan mobilnya memasuki komplek perumahan elit Mutiara Genting Asri.
"Eh tapi mas Ardi itu sehat kok, El. Gak ada penyakit aneh-aneh," tambahnya melihat Ella yang diam saja dalam kekhawatirannya.
"Iya paling cuma kecapekan," jawab Ella mengingat perkataan Ardi kemarin malam.
Sari menghentikan mobilnya di depan rumah mewah berdesain minimalis modern dua lantai yang terdapat di jalan utama perumahan elit ini.
'Duh udah perumahan elit, lokasi rumah di jalan utama, rumahnya segede dan sebagus ini lagi?' batin Ella berdecak kagum mengamati rumah Ardi. Semewah ini adalah rumah Ardi sendiri? Terus rumah orang tuanya kayak apa?
Sari mengajak Ella memasuki pagar dan halaman rumah Ardi. Mobil pajero hitam yang kemarin terpakir di car port depan garasi. Disebelah car port terdapat taman kecil minimalis yang menyejukkan dengan dipadukan dengan air mancur minimalis tiga tingkat. Benar-benar tatanan yang apik, tak mengherankan kalau ini adalah rumah seorang arsitek. Meskipun seorang pria, Ardi pasti tahu betul bagaimana menata rumah.
Sari menggedor pintu rumah dan menekan bel beberapa kali tetapi tak ada jawaban. Seakan rumah itu kosong tak berpenghuni. Dengan sedikit kesal Sari mengeluarkan Hp-nya dan berusaha menelpon Ardi. Tapi tetap saja keterangan 'nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi' yang didapatnya. Sepertinya hp Ardi mati, kehabisan batrei.
Akhirnya Ella mengambil duduk di kursi teras simple saja sambil mengamati taman. Sementara Sari masih sibuk menggedor pintu dan memencet bel tanpa kenal lelah.
"Hadoh budek banget ini orang? Mas Ardi? hoooi bukain pintu!" Teriak Sari frustasi dan Ella hanya bisa tertawa geli mendengarnya.
~∆∆∆~
FYI (For Your Informations)
Dokumen-dokumen di rumah sakit ada banyak. Setiap pasien memiliki rekam medis pribadi yang wajib diisi oleh dokter setiap selesai melakukan tindakan atau terapi. Biasanya berupa lembaran-lembaran isian tentang keadaan pasien dan hasil-hasil pemeriksaan penunjang seperti hasil lab. Dokumen ini harus di kembalikan ke bagian rekam medis setiap selesai pelayanan.
Selain rekam medis masih ada buku register pasien yang berisi rincian lengkap pasien yang dirawat per unit pelayanan. Menjelaskan tentang diagnosa, terapi dan obat-obatan apa saja yang telah dilakukan pada suatu pasien. Buku ini milik unit pelayanan, dan diisi oleh perawat yang bertugas sesuai dengan rekam medis pasien yang telah diisi dokternya. Buku inilah yang biasanya digunakan sebagai operan kepada teman yang jaga si sift berikutnya.
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, dan VOTE. Makasih 😘🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 260 Episodes
Comments
Icah Cahyani
lanjut say
2024-06-15
0
Maimai
klo gini mah kamu harus punya kunci cadangan nya Sari, biar gampang masuk klo ardi sakit
2022-11-15
0
Hetty Mahfud
woiii aku benculuk thorrr wkwkwkkwk
2021-09-28
1