Hari ini adalah hari ketiga papa Ella dirawat di Rumah Sakit Islam Siti khadijah. Keadaan tubuhnya sudah lumayan pulih, dengan hasil pemeriksaan GDA yang mulai turun menjadi di kisaran angka 300-an. Memang masih jauh diatas nilai ambang normal tetapi sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
Pengobatan diabetes pun dilanjutkan dengan menggunakan bantuan hormon insulin yang disuntikkan sehari dua kali. Diet dan pola makan rendah gula pun mulai diterapkan. Nyatanya cukup susah untuk mengurangi asupan gula dan karbohidrat yang sudah mendarah daging bagi lidah orang jawa.
Pengobatan infeksi di kaki papa Ella juga tetap dilanjutkan dengan pemberian antibiotik, antiinflamasi dan analgesic yang diinjeksikan ke selang infuse. Bahkan setiap hari dilakukan rawat luka dan penggantian kasa dan perban di kaki papa Ella.
Yang melegakan dari perkembangan luka papanya adalah tidak adanya infeksi sekunder dan komplikasi. Sehingga penyembuhan dan pertumbuhan jaringan baru di di kaki itu menunjukkan hasil yang cukup baik.
Yah walaupun masih akan dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menumbuhkan kembali jaringan yang dikerok itu. Mungkin akan dibutuhkan waktu berbulan-bulan, dan biasanya perawatan di Rumah sakit hanya sampai menstabilkan keadaan umum saja. Selanjutnya rawat luka dapat dilakukan di rumah dengan memanggil perawat home visite.
Sore itu ada beberapa rekan kerja papanya yang menjenguk ke rumah sakit. Papa Ella adalah seorang kepala sekolah di salah satu SMA negeri di Surabaya. Otomatis jumlah rekan guru yang menjenguk kali ini lumayan banyak. Membuat suasana kamar melati 7 ini menjadi lebih ramai dari pada biasanya yang cuma berpenghuni tiga orang, Ella, mama dan papanya.
"Kamu udah besar ya nak Ella, udah jadi dokter. Cantik pula," salah satu teman papa Ella yang Ella bahkan tak tahu namanya memuji Ella berbasa-basi. Tapi Ella merasa tidak nyaman dengan sifat sok dekatnya.
"Iya papa dan mamamu pasti sangat bangga punya anak seorang dokter, Nggeh mboten pak Bowo?" teman papa yang lain ikut menambahi.
"Ah biasa aja Om, Tante," jawab Ella sedikit kikuk dan canggung dengan pujian-pujian mereka. Dia membantu mamanya untuk menyuguhkan minuman gelasan dan beberapa biskuit kalengan untuk para tamu yang berkunjung.
"Udah punya pacar belum? Lebih pas lagi kalau dapat pacar sesama dokter. Cocok wes."
"Di Banyu Harum masa belum nemu dokter yang masih lajang nak Ella? Kan banyak tu yang masih muda-muda."
"Atau mau yang profesi lainnya? Anak tante ada ni dosen di universitas Unmar. Mau coba kenalan?" Salah satu emak-emak malah mencoba promosiin putranya.
"Anak om aja ni ada engginer, sekarang kerja di pertamina," sahut yang lainnya.
Ella benar-benar merasa semakin tidak nyaman dengan pembicaraan para orang tua ini. Pembicaraan tentang perjodohan, tentang pernikahan, seolah-olah tujuan utama dalam kehidupan hanyalah untuk menikah. Ella memang setuju bahwa pernikahan itu penting, tetapi pendidikan dan cita-cita nya juga penting baginya.
Dan prioritas utama untuk Ella saat ini adalah fokus menyelesaikan tugas dan kewajiban interenship-nya dahulu daripada memikirkan pernikahan yang entah kapan akan terjadi dan dengan siapa nantinya.
Yah memang pembicaraan seperti itu tak bisa dihindari mengingat usia Ella yang sudah 24 tahun. Usia dimana kebanyakan teman-teman wanita seusianya sudah banyak yang memiliki pasangan, bertunangan atau sekedar memiliki pacar.
Tetapi bagi Ella di usia ini dia baru saja menyelesaikan studynya, dia baru akan mulai mengepakkan sayapnya. Meniti kariernya di dunia medis yang sudah menjadi impiannya sejak dahulu.
Tiba-tiba ringtone hand phone Ella berbunyi. I love you three thousand, Ella langsung bereaksi saat ponselnya berbunyi. Panggilan masuk yang terasa tepat pada waktunya. Menyelamatkannya dari situasi yang tidak menyenangkan ini.
"Permisi ya om, tante semuanya. Saya mau menerima telpon dulu," Pamit Ella mengambil kesempatan untuk kabur meninggalkan ruangan.
Sekilas Ella melirik phonsel-nya dan mendapati nama Ardi disana. Ella terus saja berjalan keluar dari kamar papanya dan mengambil posisi di sebelah kursi tunggu yang terdapat di koridor rumah sakit, deretan kursi yang membelakangi dinding dan jendela-jendela kaca di belakangnya. Dari jendela kaca super besar di lantai tiga ini Ella dapat melihat air mancur dan tatanan taman yang indah di taman yang terletak tepat di bawah gedung rawat inap ini.
"Hallo, Ella!" terdengar suara Ardi saat Ella menekan tombol hijau di ponselnya. Dari nada suaranya pria itu terdengar tidak sabar.
"Ya mas Ardi?" jawab Ella kalem.
"Kamu kenapa El? Kenapa kamu susah sekali dihubungin tiga hari ini?" tanya Ardi.
"Gak apa-apa mas. Cuman agak sibuk"
"Sibuk apa? Masa buat sekedar membalas pesan dan menerima telpon juga gak sempet?" Ardi semakin mendesak.
"Iya maaf mas," Ella tak sanggup beralasan.
"Ella...Kamu dimana sekarang? Ngaku kamu dimana! Share lokasi, El!" Nada suara Ardi sedikit meninggi terdengar. Ardi sedang berusaha keras untuk meredam emosinya.
Bagaimana tidak emosi, Ella seakan menghilang begitu saja tanpa kabar selama tiga hari ini. Bahkan pesan yang dia kirim jarang dibalas, telpon juga tidak pernah diangkat. Seakan gadis itu menghindarinya, menjauh darinya.
"Aku di rumah sakit," jawab Ella.
"Rumah sakit mana? Aku ke RSUD G tadi nyariin kamu! Kamu gak ada disana..." Ardi mengambil jeda dengan menarik napas.
"Aku ketemu temanmu si Intan, dia bilang kamu sudah gak masuk kerja tiga hari ini!"
Ella sangat kaget mengetahui kenyataan Ardi mencarinya sampai ke RSUD G demi mencari keberadaannya. Lebih kaget lagi mengetahui Intan malah memberitahu Ardi tentangnya. Berarti jangan-jangan Ardi sudah tahu kalau dirinya berada di Surabaya saat ini?
Ella jadi merasa bersalah pada Ardi. Bukan maksudnya untuk menghindari pria itu. Tetapi selama tiga hari ini Ella memang sengaja ingin memfokuskan seluruh perhatiannya pada keluarganya. Sebagai bentuk penebusan rasa bersalah kepada mama dan papanya. Karena dia tahu bahwa dirinya tak akan bisa lama menemani mereka di rumah sakit ini.
Besok dirinya sudah harus kembali ke Banyu Harum untuk balik bertugas lagi di RSUD G. Dia tak ingin terlalu banyak merepotkan teman-teman setim UGD nya untuk mengcover ketidak hadirannya di UGD.
"Ella! Aku sudah tahu tentang papamu. Aku tahu keadaan papamu. Aku juga sudah tahu kamu berada di Surabaya sekarang. Kasih tahu El, kamu dimana tepatnya? Share location please!" Kali ini suara Ardi sedikit melunak, dia sadar marah pun tak akan menyelesaikan masalah. Bisa-bisa Ella akan semakin kabur dan menghindarinya.
"Buat apa? Mas Ardi kan sudah tahu aku Surabaya." Ella tak dapat menebak maksud dan tujuan Ardi meminta lokasinya.
"Aku juga di Surabaya sekarang. Aku mau kesana! Mengejarmu!" ujar Ardi dengan sedikit geram.
Selanjutnya Ardi mengutak atik ponselnya dan mengirimkan lokasi tempatnya berada lewat aplikasi chatting. Sebagai bukti bahwa dirinya juga sudah sampai di kota Surabaya. Baru sampai lebih tepatnya, dirinya baru sampai di terminal bis antar provinsi Bungurasih setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh.
"Aku disini."
Sekali lagi Ella kaget melihat pesan dari Ardi. Pria itu mengirimkan koordinat lokasinya saat ini. Di terminal bis Bungurasih. Jadi benar Ardi sudah mengejarnya sampai ke kota Surabaya? Ella tahu betul jarak antara Banyu Harum-Surabaya sangat jauh. Ardi pasti harus menempuh perjalan selama tujuh jam-an naik bis untuk mencarinya ke kota ini.
Mau tak mau hati Ella pun luluh, terharu dengan perbuatan Ardi untuknya kali ini. Hari ini adalah hari kamis, hari efektif. Bagaimana mungkin seorang CEO perusahaan seperti Lazuardi Pradana dapat keluyuran keluar kota seenaknya?
Bagaimana mungkin Ardi dapat meninggalkan semua pekerjaannya di kantor hanya untuk mencari dirinya? Bagaimana dengan segala urusan dan pekerjaan di kantornya?
Bagaimana seorang Ardi Pradana yang workaholic, yang rela begadang sepanjang malam hanya untuk bekerja dan bekerja. Bekerja tanpa memperdulikan segala sesuatu bahkan kesehatannya sendiri.
Tiba-tiba saja menjadi seorang pria yang tidak bertanggung jawab yang kabur begitu saja dari kantornya, dari pekerjaannya. Demi dirinya? Ardi bahkan sampai-sampai mencarinya ke RSUD G, bahkan lebih jauh mengejarnya sampai ke kota Surabaya ini.
"Aku sekarang berada di RSI Siti Khadijah. Kamar Melati 7," Ella akhirnya menyerah akan kegigihan Ardi dan mengirimkan koordinat lokasi tempatnya berada saat ini.
"Ok tunggu aku kesana. Kamu jangan kemana-mana. Tetap disana jangan pergi-pergi lagi," ujar Ardi seakan takut Ella pergi menghilang lagi darinya.
"Bagaimana mas Ardi mau kesininya?" tanya Ella sedikit khawatir. Apa pria itu tahu jalanan di kota Surabaya? Bagaimana kalau dia nyasar? Apalagi Ella tahu Ardi tidak membawa kendaraan pribadinya saat ini? Apa aku harus menjemputnya di teminal?
"Gampang. Banyak taxi di terminal. Asal ada lokasi jelas kamu dimana aku bisa kesana dengan mudah."
"Oh iya bener banget," Ella mau tak mau jadi tertawa geli.
Bagaimana dia bisa lupa kalau Ardi adalah seorang Sultan. Pasti dia tak akan terlalu kesulitan untuk mencari segala fasilitas yang memudahkannya dengan segala materi yang dimiliknya. Dan lagi beberapa tahun yang lalu Ardi juga berkuliah di kota Surabaya ini. Jadi sedikit banyak pria itu pasti masih mengingat jalanan di kota ini.
"Aku kangen banget sama kamu, El." Ardi tiba-tiba menyeletuk sedih.
"Haaah?" Ella kaget mendengarnya.
"Jangan pernah menghilang lagi. Kumohon."
Ucapan Ardi mengakhiri percakapannya dengan nada yang sedikit dramatis. Membuat Ella terdiam tak bisa menjawabnya.
Tak lama kemudian Ardi melihat sebuah taxi yang melintas di depannya. Dia langsung melambaikan tangan menghentikan taxi itu.
"Udahan dulu, aku udah dapat taxi." Ardi menutup sambungan telponya.
~∆∆∆~
🌼LIKE, AND KOMENTAR JANGAN LUPA YA😉🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 260 Episodes
Comments
Zulfa
wah rumah sakitnya deket banget sama rumahku
2022-11-28
0
Maimai
aku juga kangen loh sama kamu ardi, beberapa bab kamu nhak ada, serasa hampa 😘
2022-11-17
0
Maimai
ini mah minta tolong aja sama Hendri
2022-11-17
0