Dengan muka lesunya, Bianca duduk ditepi lapangan dengan posisi memeluk lutut. Entah mengapa tubuhnya terasa lemas. Dia sedang menunggu giliran untuk bermain basket. Satu persatu para murid bermain juga melatih diri dan yang menjadi pelatih adalah Samuel.
katanya Lelaki itu adalah kapten basket disekolah lamanya. Jadi, ia yang dijadikan oleh pak Botak untuk melatih murid-murid yang lainnya.
Saat ini giliran Tasya. Gadis itu terlihat sedang berdiri dengan bola basket ditangannya. Samuel berdiri dibelakangnya dan menuntun tangan Tasya untuk memasukkan bola itu kedalam ring. "Gini, nah iya bener."
Lalu Tasya menggerakan kedua tangannya untuk menshooting bola itu yang sayangnya meleset dari ring kemudian bergulir kearah Bianca.
"Bia, bolanya!"
Bianca memberengut terlebih dahulu barulah melempar bola itu kearah Tasya. Entah mengapa dia merasa mager.
Tasya mengambil bola tersebut dan kembali mengarahkannya seperti yang diajar oleh Samuel tadi. Bola itu melayang saat ia menshootingnya dan masuk tepat di ring. "Yeayy masuk!" soraknya girang bertepuk tangan seraya meloncat-loncat kecil.
Samuel menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. Padahal, baginya itu hal kecil, tetapi bagi pemula-pemula seperti Tasya, pastilah hal yang luar biasa. "Lanjut!"
Tasya berlari kecil kearah Bianca. "Bi, gue kekantin dulu ya! mau beli minum."
"Yo!" tatapan Bianca terarah kearah figur Tasya yang kini sudah mulai menjauh menuju kantin. Didetik ia kembali memutar kepala mengarah lapangan saat itu juga dia mengedip-ngedipkan mata dan menggeleng kan kecil kepalanya lantaran disekitaranya terasa berputar. "Ini kenapa dah."
"Bianca! Giliran lo tuh! tinggal lo sendiri yang belum" ucap salah satu siswa.
Bianca memaksakan untuk berdiri. Tepat saat tubuhnya berdiri tegap, disekitaranya terlihat making berputar dan diarea perutnya terasa sangat perih. Tangannya memegangi kepala juga perutnya. Pandangannya mulai buram dan kegelapan pun menyambut.
Brukk
"Bia!"
Tubuhnya tumbang dipinggir lapangan tersebut. Semua murid yang ada dilapangan itupun sontak berhamburan dan berkerumun disekitarnya.
Begitupula Samuel, dia melempar bola basket ditangannya ke sembarang arah dan berlari kearah Bianca.
Langkahnya perlahan makin memelan saat melihat lelaki yang berjalan begitu lebar membela kerumunan.
"Minggir!"
Lalu dengan gerakan pasti lelaki itu mengangkat tubuh mungil Bianca dan digendongnya ala bridal style.
Itu semua tak luput dari penglihatan Samuel yang kini sudah menghentikan langkah. Dia melipat tangannya didepan dada menatap punggung tegap Agam yang sedang menggendong Bianca.
Senyum miring tersungging di bibirnya. "Agam Ezekiel Arbyshaka huh?"
...***...
Camella menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan muka malasnya. "Arghh gabut banget!"
Sedikit mengalihkan pandangannya dari ponsel, Nathan pun berceletuk. "Open BO sana! biar gak gabut."
Bella terbahak mendengarnya. "Lo aja yang booking dia Nath."
Tak ingin mendengar kebisingan dikelas ini, Agam menyumpal telinganya menggunakan earphone. Memang pada dasarnya lelaki itu paling benci dengan keramaian dan kebisingan. Kedua matanya terpejam menikmati alunan lagu.
"Mau yang perawan!" sahut Nathan enteng dan menaikkan kakinya diatas meja.
Camella menendang bangku Nathan lantaran kesal dengan ucapan lelaki itu barusan. "Lo kira gue cewek apaan!"
Kekehan kecil terdengar dari mulut Nathan dan mengadahkan pandangan menatap Camella. "Canda Mel, aelah baperan lo ah!"
Bella yang berada di sebelah Camella merangkul gadis itu "Kan gue udah bilang Nath! booking aja nih temen laknat gue! lo bakalan puas. Secarakan dia masih virgin." timpalnya bercanda.
Camella menoyor kepala Bella. "Gila lo jadi temen!"
"Nanti aja kalo udah sah." Nathan kembali menurunkan pandangannya ke ponsel. Saat ini dia sedang memainkan game online. "Itu-itu, jaga turet dibawa!"
Mendengar candaan Nathan itu membuat Camella mendelik jijik.
"Wah ngundang ya kalo nikah! bisa makan banyak gue nya!" heboh Bella, alisnya naik turun berniat menggoda Camella.
"Idihh kayak gue mau aja sama dia!" sindir Camella tertuju untuk Nathan yang kini sedang serius bermain game onlinenya.
"Eh anjirr! kalah kan!" Lantaran kesal, Nathan secara spontan membanting ponselnya dimeja. Sedetik kemudian raut wajahnya pun berubah menjadi panik saat dia baru tersadar. "Ponsel gue!" paniknya meraih ponselnya kembali. Kedua sudut bibirnya melengkung kebawah saat melihat layar ponselnya yang lecet alias tergores di beberapa bagian.
Camella menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. "Bisa tertekan gue kalo punya suami kaya gitu di masa depan." gumamnya. Bella yang mendengarnya pun tergelak. "Hahaha, Berasa punya suami gila gak sih?!"
Kemudian menunjuk Nathan yang kini mengusap-ngusap ponselnya penuh kasih sayang dan dikecupnya beberapa kali. "Tuh liat, gak waras banget kan tuh anak?!"
Camella meraup wajah Bella. "Udah ah! kantin yuk! laper nih gue! bosan juga dikelas kalo jam kosong gini." lalu berdiri dari duduknya.
"Nath, ikut gak lo? kekantin kita nih!" ajak Camella menoleh kepada Nathan yang mengadahkan pandangan kearahnya dengan mimik muka sedih masih persoalan ponselnya.
"Iya ikut." Nathan bangkit dengan wajah tertekuk dan menoleh pada Agam yang berada disebelahnya. "Gam, kita ke kantin nih."
Tak mendapat respon, Lelaki itu hanya memejamkan mata.
Nathan menghembuskan napas lalu menarik earphone Agam hingga terlepas. "Apa sih!"
"Kita mau ke kantin! ikut gak lo?! sekalian liatin crush lo kan lagi olahraga dilapangan!" ucap Nathan ngegas mendapat tatapan datar namun tajam dari Agam.
Atensi murid-murid dikelas itu teralih kepada Nathan lantaran suaranya yang cukup keras tadi.
"Udahlah ayok!" Nathan menarik lengan Agam untuk berdiri. Keempat anggota osis itu keluar beriringan dari dalam kelas.
Bella bersenda gurau untuk menghibur Nathan yang saat ini sedang bersedih lantaran ponselnya.
Bukan tanpa alasan Nathan bersedih hanya lantaran persoalan sepele seperti itu. Kalau kalian ingin tahu, ponsel itu adalah hadiah terakhir dari mendiang Ibu dan Ayahnya. Jadi, dia sangat menyayangi juga menjaganya sepenuh hati.
Maka dari itu, saat ponsel itu lecet, dirinya merasa gagal menjaga hadiah terakhir dari kedua orang tuanya. Dia bahkan merutuki dirinya sendiri tadi yang tanpa sadar membanting ponsel itu. Teman-temannya tak ada yang tahu, makanya mereka menertawainya seperti orang gila tadi.
Sementara Agam, selama perjalanan mereka dikoridor, tatapan Lelaki itu terus tertuju kelapangan. Lebih tepatnya terfokus pada Bianca.
Langkahnya perlahan semakin memelan ketika melihat gerak-gerik gadis itu yang tak beres. Mendadak perasaannya jadi tak enak melihatnya.
Bahkan teman-temannya pun sudah agak jauh mendahuluinya.
Mata Agam membelalak.
Agam langsung berlari cepat dengan perasaan yang begitu panik saat melihat tubuh Bianca yang oleng.
Gadis itu sudah tumbang ditempatnya. Murid-murid dilapangan berhamburan dan mengerumun disekitarnya.
Agam datang dengan langkah lebar dan membela kerumunan para siswa tersebut. "Minggir!" Lalu menggendong Bianca ala bridal style menuju UKS.
...***...
Dengan mata terpejam. Bianca meringis dan merintih kesakitan sembari meringkuk memegangi perutnya. "Sakit.."
Agam yang biasanya pandai menyembunyikan ekspresi itu pun kini mengeluarkan raut paniknya walaupun tak terlalu nampak.
Dokter yang bertugas di UKS ini sedang memeriksa Bianca.
"Dia gimana Dok?"
"Gak papa, cuma sedang datang bulan aja, kamu pacarnya kan? beliin roti gih, disini tak tersedia benda itu." perintah dokter itu sembari menyimpan kembali alat pemeriksaannya.
Jemari Agam bergerak mengutak-atik ponsel untuk mengubungi Nathan.
Diseberang sana, Nathan mengerutkan kening saat melihat panggilan dari Agam. "Hallo?"
Sambil mengunyah makanan, Bella pun bertanya. "Siapa?"
"Agam."
"Emang tuh anak kemana sih? hilang mendadak tadi." sahut Camella setelah meneguk es teh.
Nathan tak merespon pertanyaan dari Camella. Raut wajahnya terlihat bingung. "Emang kenapa sih?"
"Bacot! intinya, suruh teman Bia ke UKS!"
Panggilan terputus membuat Nathan semakin bingung, teman yang mana yang dimaksud dari Agam? secarakan teman kelas Bianca kan banyak.
Netranya tak sengaja teralih kearah gadis yang tak lain adalah sepupunya yang hendak akan keluar dari pintu kantin. Nathan tahu jika gadis itulah yang paling dekat dengan Bianca.
"Woy Sya!"
...***...
Suara rintihan kecil masih terdengar dari mulut Bianca. Hal itu membuat perasaan Agam menjadi kalut.
Tangannya terulur mengusap peluh dipelipis Bianca. "Bi, Jangan gini. Lo bikin gue cemas." lirihnya. Meskipun dia mengatakannya dengan raut datar tetapi matanya bisa menjelaskan semuanya, jika ia tak tega melihat Bianca seperti ini.
Dia tahu bahwa gadis ini seperti ini karena tamu bulanan. Bukan tanpa alasan tadi pagi ia mengikat almamaternya di pinggang Bianca. Semata-mata hanya ingin menyembunyikan noda merah di celananya yang akan membuat gadis ini malu.
Tak berselang lama, Tasya pun datang ke UKS dengan raut wajah paniknya. Dia bahkan membuka pintu UKS dengan kasar.
"Kak Agam, itu Bia kenapa? kok sampe dibawa ke UKS sih?!" Tasya berjalan cepat menuju ranjang UKS tepat dimana Bianca berbaring.
Agam berdiri dari duduknya. "Lo, jagain Bia bentar. Gue bakal balik lagi kesini." pintanya kemudian segera beranjak keluar dari sana.
...•TBC•...
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
C a l l i s t o ®
Pengen jadi pahlawaan utk pujaan hati.. Dari bibir turun ke hati eaaa
2025-03-03
0
Rara Kusumadewi
tak kirain Tasya yg beli pembalut... ternyata Agam sendiri...good boy
2023-05-25
5
Qaisaa Nazarudin
wkwkwk ku pikir Agam akan menyuruh Tasya yg beli,Eh ternyata kebalik😅😅😅😜😜
2023-04-09
1