...HAPPY READING!...
...***...
Hari yang sial dan benar-benar melelahkan lahir batin. Pada jam istirahat kali ini, Bianca uring-uringan sendiri membersihkan kamar kecil. Dengan langkah gontai, Bianca memasuki pintu utama toilet perempuan dengan ditangannya menggenggam sebuah ember bersama dengan pel. Dirinya baru saja selesai membersihkan toilet laki-laki.
Menghembuskan napas lelah, Bianca mengusap bulir-bulir kecil keringat yang mengalir di pelipisnya. Capek sekali membersihkan toilet-toilet sendirian!
Memilih memulai membersihkan lantai utama terlebih dahulu. Dengan cekatan, Bianca mencelupkan lap ke dalam ember yang berisi air dan mengepel lantai toilet tersebut.
Selang beberapa detik Bianca beraktifitas, ia membuang napas berusaha sabar sabar saat ember berisikan air itu sengaja ditendang oleh salah satu siswi. Bianca mengangkat pandangan agar dapat menatap siswi tersebut.
Sherly.
Kalau yang satu ini adalah perempuan idaman para laki-laki di SMA Garuda ini. Ada King, pasti ada Queen. Sama halnya seperti disekolah ini, Agam yang menjadi King dan Sherly yang menjadi Queen. Perempuan ini seangkatan dengan Bianca, namun beda kelas.
Kelas Sherly berada dikelas elite, khusus anak-anak pintar, X MIPA 1 tentunya. Dan gadis ini sudah menjadi kandidat terkuat para murid untuk menjadi anggota osis selanjutnya apabila para kakak kelas yang menjadi pengurus osis saat ini sudah pensiun nanti.
Selain kecantikan dan body goals yang Sherly miliki. Dirinya juga memilik otak cerdas, sebelas dua belas dengan Agam. Karena kecerdasan keduanya, hingga tak jarang para murid-murid disekolah ini mengatakan jika mereka berdua serasi jika menjadi pasangan, bisa dibilang the perfect couple jika bersatu.
"Ups sorry sengaja." Sherly membekap mulutnya dramatis dan terkekeh dengan nada mengejek membuat Bianca mendelik kesal kearahnya.
Bianca mencoba bersabar. Ia tak ingin tersulut emosi yang berpotensi dapat memperburuk keadaan nanti. Bianca membungkuk, dengan menggerakkan kedua tangannya ibarat mempersilahkan seorang ratu lewat. "Silahkan keluar tuan ratu. Jangan cari masalah."
Sherly mengibaskan rambut, berjalan angkuh. Ia berhenti tepat dihadapan Bianca, memberikan tatapan angkuh dan senyum miring. "Kalo gue gak mau keluar, gimana?"
Timbul geraman dalam hati Bianca melihat kelakuannya. Ingin sekali ia menceburkan kepala perempuan ini kedalam closet. Cari masalah sekali!
"Gue gak mau hukuman gue ditambah gara-gara dapet masalah sama lo. Jadi dengan senang hati, gue ingin lo keluar dari sini."
Sherly mengamati penampilan Bianca dari bawah sampai atas dengan delikan tak suka juga tatapan yang terkesan mengejek. "Gini ya penampilan orang-orang bodo. Kasian, sudah dikelas rendahan, sering dapet hukuman pula ups."
Beberapa siswi yang kebetulan tengah mencuci tangan di wastafel atau sekedar menambah make up sembari bercermin di kaca wastafel tersebut memusatkan atensi kepada keduanya.
Cukup! kali ini emosi Bianca benar-benar terpancing. Ia menjatuhkan kasar gagang pel kelantai toilet dengan mata menatap nyalang sang Queen SMA Garuda.
"Lebih bodoan mana? gue yang bodo ini--" tunjuk Bianca tertuju pada dirinya sendiri dan tersenyum miring, "Atau lo yang sangat cerdas ini. Tapi, gak punya attitude sama sekali?" imbuhnya pedas menunjuk Sherly.
Sherly mendorong bahu Bianca sehingga membuatnya mundur beberapa langkah. "Persetan sama Attitude! Mau gimanapun good attitude lo, kalo otak lo gak pintar dan wajah gak good looking, orang-orang gak bakal menghargai lo!" Sherly meletakkan jari telunjuknya di bagian kepala samping. "Pikir pake logika cuy!"
Salah satu siswi menyenggol lengan teman disebelahnya dan berbisik. "Gue tebak, bentar lagi bakal ada perang dunia ketiga."
"Saksikan aja." Bukannya melerai, malah ketiga siswi itu menikmati perdebatan antara Bianca dan Sherly, bahkan ada yang sudah mengeluarkan ponsel untuk merekam dan mengabadikan momen epic ini.
Bianca mendorong balik bahu Sherly dengan kekuatan penuh hingga gadis itu jatuh terjerembab dilantai toilet. "Itu penilaian orang-orang yang hanya menilai fisik dan materi! dan itu hanya dilakukan oleh orang yang bodoh! Satu lagi, gue sama sekali gak peduli pada penilaian buruk orang terhadap gue, karena gue hidup bukan untuk membuat mereka terkesan!"
"Berani ya lo dorong gue!"
"Emang kenapa gue gak berani?! Lo aja dorong gue tadi!" Bianca melipat kedua tangannya didepan dada menatap angkuh Sherly dari atas.
Sherly menggeram marah, dengan kedua tangan terkepal kuat, ia bangkit dengan amarah yang meluap. "Dasar rendahan!" tangannya menarik kuat rambut Bianca membuat kepala gadis itu terdongak.
"Awshh sakit anjing!" Rambut Bianca serasa ingin copot dari kepala. Jelas ia tak akan tinggal diam, ia balas menarik kuat rambut Sherly balik sehingga terjadilah aksi saling menjambak tersebut.
"Wah makin seru nih! cepet! cepet! panggil yang lain!" siswi itu memukul-mukul girang lengan temannya untuk menyuruh memanggil murid-murid lain agar menyaksikan perkelahian tersebut. Sontak, salah satunya keluar dari toilet dengan buru-buru.
"PERHATIAN! PERHATIAN! DI TOILET PEREMPUAN ADA PERKELAHIAN ANTARA QUEEN SMA GARUDA DAN RUBBISH SMA GARUDA!" Suara bak toa itu begitu menggema di koridor. Siswi itu berlari-lari mengumumkan perkelahian antara Bianca dan Sherly.
Para murid-murid yang mendengarnya otomatis berhamburan lari menuju toilet perempuan untuk menyaksikan kejadian tersebut. Agam dan Nathan yang baru keluar dari kantin pun merasa heran saat melihat segerombolan para siswa yang berlarian kecil menuju toilet.
Agam menahan salah satu murid laki-laki untuk bertanya lantaran penasaran. "Ini kenapa?"
"Itu, katanya ada perkelahian di toilet cewek."
Agam dan Nathan saling pandang. "Siapa sama siapa?" Kali ini giliran Nathan yang bertanya lagi, Murid laki-laki itu menggeleng tak tahu sebagai tanggapan. "Kalo penasaran, yaudah ikut aja." Seperti perkataannya, mereka yang merasa penasaran, akhirnya Agam dan Nathan ikut menuju toilet.
"Ayo Queen! Jangan sampai kalah!"
"Queen!"
"Queen!"
"Queen!"
Sorakan demi sorakan diiringi bunyi tepukan tangan terdengar begitu riuh didalam toilet. Bianca dan Sherly masih belum kunjung menghentikan aksi saling menjambak rambut dan juga saling mencakar. Bukan hanya itu, bahkan rambut keduanya sangat berantakan dan beberapa bekas cakaran di area wajah, seragam keduanya pun sudah kusut dan awut-awutan. Penampilan mereka jauh dari kata rapi.
Agam dan Nathan membela kerumunan anak-anak yang berkerumun padat di ambang pintu sampai kedalam toilet, mereka berdua menerobos masuk. Mata Agam membulat saat melihatnya. Lagi lagi gadis ini lagi!
"HENTIKAN!" Teriakkan lantang itu berhasil membuat keadaan yang semulanya ricuh seketika menjadi hening. Juga aksi Bianca dan Sherly yang saling menjambak rambut itu terhenti. Nafas kedua perempuan itu menderu dengan dada naik turun mengatur napas mereka yang tidak beraturan. Keduanya saling melemparkan tatapan tajam penuh permusuhan.
Agam melemparkan tatapan dingin namun mendominasi kepada Bianca dan Sherly secara bergantian. "Bianca! Bisa sekali saja jangan berbuat ulah?!" bentaknya membuat sang pemilik nama menoleh sinis kearahnya.
"Gue terus! gue terus! gue terus! seolah-olah hanya gue yang salah!" sentak Bianca menunjuk Sherly. "Kenapa bukan dia yang disalahin?! kenapa?!" marahnya dengan senyum miris. Apakah yang bodoh selalu salah dan yang pintar selalu benar?
"Kenapa?! apa karena dia pintar, jadi dia selalu benar?! dan gue yang bodoh ini selalu disalah kan? begitu?!" tudingnya berhasil membuat Agam tertegun. Agam kemudian kembali menata ekspresinya. "Maksud lo apa?!"
Bianca melangkah mendekati Agam lalu menunjuk laki-laki tepat didadanya. "Lo itu pintar! Gak udah sok gak paham! di kejadian ini pun lo menyimpulkan kalo gua sendiri yang salah kan?!"
Agam menatap Bianca dan senyum miring yang tersamar. "Memang lo yang salah kan? secara lo kan memang pembuat onar disekolah ini."
Bianca berdecih sinis dan meludah dilantai toilet. Ia bertepuk tangan kagum tawa sumbangnya memenuhi bilik toilet. "Gue kagum sama manusia sekarang! seenaknya menyimpulkan sesuatu tanpa tahu gimana cerita sebenarnya!"
"Memang kenyat--" Nathan memegangi bahu Agam dari belakang. "Udah Gam. Kita interogasi dulu." selanya tak ingin masalah ini bertambah semakin runyam.
Agam menarik napas kasar. "Kalian ikut gue keruang osis, kalian berdua akan di interogasi disana." Jedanya lagi dan lagi menatap Bianca beserta Sherly secara bergantian. "Kalau misalnya, masalah ini tak dapat di selesaikan kami para osis. Terpaksa, kalian berdua akan ditangani oleh Guru BK."
"Lah ini kenapa ramai-ramai dah?" Seloroh Tasya linglung membela kerumunan. Gadis itu baru saja dari kios sebelah membeli pembalut. Sempat heran, lantaran di kantin dan juga di koridor tak ada murid-murid.
Tadinya niat Tasya ke toilet ini untuk mengenakkan pembalut yang di belinya. Namun, ia melihat banyaknya orang-orang berkerumun di toilet ini. Disebelah tangannya membawa kantong kresek mini yang berisi pembalut.
Melihat penampilan Bianca yang saat ini sangat berantakan, Tasya menjadi heboh sendiri. "Ya ampun! Itu kenapa my bestai jadi berantakan gitu?!" Ia menghampiri Bianca. "Itu juga kenapa pipi lo jadi lecet-lecet gini ya ampun!" Tasya membolak-balikkan badan Bianca untuk memastikan apakah ditubuh gadis ini ada luka juga atau tidak.
"Siapa sih yang buat lo sampe gini?!" marahnya menoleh pada Sherly dan melemparkan tatapan curiga. "Pasti lo kan?" tudingnya tepat sasaran.
Sherly mengedikan bahu tidak acuh. "Tanya sendiri ke teman lo itu."
"Lo--"
"Udah-udah! gak usah nambah suasana semakin runyam." Lerai Nathan kemudian mengedarkan pandangan, menyapu seluruh siswa yang ada di toilet tersebut. "Ngapain masih pada disini?! Bubar sana!" suruhnya.
Murid-murid itu menyoraki terlebih dahulu sebelum keluar dari dalam toilet. "Kalian berdua ikut keruang osis." perintah Agam datar seraya memasukkan kedua tangannya disaku celana kemudian berlalu dari sana.
Hal itu membuat Tasya melemparkan tatapan tanya kepada Bianca dan berbisik. "Lo buat masalah apa lagi?"
Bianca menghela napas berat lalu menunjuk wajahnya sendiri. "Luka-luka ini lo kira apa? ini yang buat gue dapet masalah. Dan ini gara-gara anak itu tuh." Bianca menunjuk Sherly dengan dagu.
****
Seorang pria setengah baya dengan setelan jas dan celana formal duduk tegap, berkutat dengan laptop dihadapannya. Tulisan RENDRA ARSENIO GIOVAN terpampang jelas dimeja kerjanya. Siapa yang tak kenal Rendra? Beliau adalah pengusaha terhebat.
Seorang yatim piatu yang merintis usahanya dari nol, melalui lika-liku kehidupan juga ketegaran dengan hujatan, makian dan cercaan para orang-orang sebelum dirinya mencapai puncak kejayaannya.
Dan untuk sekarang, Pria itu telah sukses menjadi pengusaha kaya dan ternama. Bahkan, cabang-cabang perusahaannya pun merembet keluar-luar negeri.
Rendra mengulurkan tangannya untuk meraih ponselnya diatas meja saat benda pipi itu berdering. Dahi rendra berkerut saat melihat si pemanggil. Beliau menekan icon hijau untuk menyambungkan panggilan.
"Why?" tanyanya mengapit ponselnya diantara bahu dan telinga, kedua tangannya masih sibuk berkutat dengan keyboard laptop didepannya.
"Sir, the company's revenue here is getting lower this month. And I intervened, I can't handle this anymore" kata diseberang telepon.
Mendengar kabar tersebut, pria itu spontan menghirup oksigen dalam sebelum membalas. "Alright, I'll think of a solution later."
Setelah mengatakan beberapa kalimat itu, Rendra memutuskan sambungan telepon. Beliau memijat pelipisnya gusar. Belum juga dirinya menyelesaikan proyeknya saat ini. Malah ada kabar buruk dari luar negeri tentang cabang perusahaannya disana.
Beliau menolehkan kepala kearah pintu saat wanita setengah baya dengan setelan kemeja putih dan rok span pendek berwarna hitam masuk. Ditangannya membawa secangkir kopi. "Kenapa Ndra?"
"Ini, perusahaan di Amerika tiba-tiba merosot drastis. Aku gak tahu gimana menangani masalah ini."
Wanita bernama Alena yang berstatus sebagai Mrs Giovan itu meletakkan cangkir kopi di atas meja lalu mendekati Rendra. Beliau mengusap-usap bahu sang suami untuk menenangkan. "Yaudah kita kesana untuk menghandle perusahaan itu."
"Pasti butuh waktu beberapa tahun untuk memperbaiki perusahaan itu." gumam Rendra. Dirinya merasa bimbang memikirkan persoalan itu. "Gimana dengan Bianca? Gak mungkinkan kita tinggalin dia di kota ini sendiri?"
"Kita bawa aja dia, Ndra. Gampang kan?"
Rendra menggeleng sebagai tanggapan. "Aku gak mau dia terpengaruh dengan pergaulan negara luar. Kamu kan tahu gimana pergaulan di negara luar?"
Alena berjalan kearah sofa dan mendudukkan dirinya disana. "Apa kita titip aja ke mama papa aku?"
"Gak Na, kamu tahukan, kedua orang tua kamu gak pernah suka sama aku karena aku hanya anak piatu. Pasti, mereka gak akan nerima Bia."
"Lalu gimana Ndra? Apa kita jodohkan saja dia, supaya ada yang jaga dia di kota ini?"
Rendra merenung sesaat untuk memikirkan usulan sang Istri. Sepertinya ia bisa melakukan saran terakhir dari sang istri tadi. "Yaudah kita jodohin dia agar ada yang jaga."
"Tapi dengan siapa? Apa dengan pacar Bianca yang sering datang ke rumah?"
Rendra menggeleng. "Bukan, aku udah lama memperhatikan sikap lelaki itu. Selain tampangnya, tak ada yang spesial darinya, aku melihat gelagatnya seperti orang brengsek."
"Jadi dengan siapa Ndra?"
Rendra melipat tangannya diatas meja dengan pandangan lurus ke depan. "Kamu tahu Bastian mempunyai anak laki-laki?" tanyanya menoleh pada Alena dan mendapat gelengan kepala dari istrinya. "Masa iya? Aku gak pernah lihat anaknya."
"Iya kamu gak tahu karena kamu gak pernah main ke rumah Bastian. Aku pernah melihat anak laki-lakinya. Laki-laki itu terlihat seperti pria baik dan bertanggung jawab."
Sebagai seorang Ayah, tentu saja ia menginginkan yang terbaik untuk putrinya. Mungkin ini terdengar egois, tetapi ini adalah yang terbaik menurut Rendra untuk sang putri semata wayangnya. "Aku akan mencoba bernegosiasi dengan Bastian. Mudah-mudahan saja dia mau bekerja sama." lanjutnya menggumam.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Rinaku
ssttt..pasti agamm
2023-09-10
0
Erina Situmeang
Agam kahh?
2023-09-09
0
Mukmini Salasiyanti
Ho... Ho... Ho...
Petualangan dimulai...
🥰🏃♂️
2023-07-14
0