..."Terkadang, situasi lah yang membuat kita terlihat brengsek dimata orang lain."...
..._Lucas...
...***...
Mata indah yang biasa memancarkan keceriaan itu, kini memancarkan kesedihan disana. Bianca melirik kebawah. Arus air begitu mengalir kencang dibawah sana. Ia berdiri tegap di atas jembatan besar ditepi jalan. "LUCAS BRENGSEK!"
"LUCAS ANJING!"
"LUCAS JELEK!"
"SELALU INGIN DIMENGERTI TAPI TAK PERNAH NGERTIIN AKU ANJING!" Bianca menjerit kuat untuk mengutarakan keluh kesahnya yang terpendam. Tak mempedulikan tatapan aneh dari orang-orang berlalu lalang yang mungkin menyangka ia orang gila.
"ELLA ELLA ELLA TERUS! CEWEK LO GUE APA SI ELLA ITU SIH?!" Teriaknya lagi penuh kekesalan.
Perlahan, hujan turun membasahi sebagian kota. Wajah dan seluruh tubuh Bianca perlahan dibasahi oleh air hujan. Padahal tadi saat di pantai, langit tak mendung sama sekali, tak ada tanda-tanda jika akan turun hujan malam ini. Namun, butiran-butiran kristal air itu turun dengan derasnya seperti seakan mengerti kekacauan suasana hati Bianca saat ini.
Tak seperti yang lain, ketika hujan, orang-orang akan mencari tempat berteduh. Lain halnya Bianca, ia tetap berdiam diri diatas jembatan itu, seakan hujan bukanlah penghalang baginya. Gadis itu memejamkan mata dan menengadah, menikmati guyuran hujan menerpa di wajahnya.
Seseorang dari belakang menariknya pergelangannya tiba-tiba hingga membuatnya turun dari jembatan. "Apaan sih!" marah Bianca menyentak kasar tangan orang tersebut.
"Lo mau bunuh diri?!"
Bianca mendongak saat mendengar suara yang begitu familiar ini. Agam.
Lelaki itu memegangi pundak Bianca dan mengguncangnya kuat. "Gue gak tahu seputus asa apa lo sekarang! tapi setidaknya jangan berpikiran untuk bunuh diri! pikirkan perasaan orang-orang yang akan lo tinggalkan nanti!" Suara tegas dengan intonasi cukup tinggi itu terbawa arus oleh bunyi hujan.
Timbul kernyit bingung pada keningnya. Bunuh diri apaan! Segera lah ditepisnya kasar tangan Agam dari bahunya. "Siapa yang bunuh diri sih?!"
"Lah, bukannya lo mau bunuh diri?" cengo Agam.
"Apaan sih! alay banget! lo pikir gue sebodoh itu!" cebik Bianca memutar bola mata sebal.
"Terus, lo ngapain berdiri di atas jembatan itu?"
"Emang setiap orang berdiri diatas jembatan mau bunuh diri ya?" Pertanyaan Bianca kali ini membuat Agam kehilangan kata-kata. Benar juga apa yang dikatakan oleh Bianca.
Tadi, ia juga tak sempat berpikir jernih saat melihat gadis yang ia kenal berdiri diatas jembatan tersebut. Pikirannya langsung menerawang jauh saat itu. Maka dari itu, ia bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Jadi, lo ngapain tadi berdiri disitu?"
"Tadi gue cuma teriak-teriak doang buat ngeluarin semua keluh kesah gue."
Agam meraup wajahnya gusar lalu melepas jaket yang dikenakannya dan disampirkan nya ke pundak Bianca. "Gue anter lo pulang!"
"Gak!"
"Jangan keras kepala!" Agam menarik paksa pergelangan tangan Bianca menuju motornya. Siapa yang percaya sama kata-kata Bianca barusan? bisa saja gadis ini berbohong dan saat Agam meninggalkannya, gadis ini malah melompat kebawah. Tak akan ada yang tahukan pikiran orang? Kira-kira begitulah dipikiran negatif Agam saat ini.
"Naik cepet." titah Agam saat ia sudah memasangkan helm ke kepala Bianca. Bianca mencebikkan bibirnya kesal dan mau tidak mau dengan terpaksa naik keatas motor Agam.
****
Brakkk
Dengan seluruh pakaian yang basah kuyup, Lucas menendang pintu rumah tua yang terbengkalai ditempat sepi. "Hmphhh."
Tatapan Lucas semakin menajam dengan ekspresi yanng penuh kilat amarah saat melihat kondisi sang sahabat saat ini. Perempuan itu sedang hendak dilecehkan oleh tiga laki-laki berbadan besar. Posisinya adalah perempuan itu terbaring disebuah meja kusam. Salah satunya menahan kedua tangannya untuk mengunci pergerakan. Dan yang duanya lagi mulai melucuti pakaian gadis tersebut.
Bahkan, perempuan itu sudah bertelanjang dada. Butir-butir air bening terus menetes dari matanya membuat Lucas semakin emosi melihatnya. "Jangan sentuh sahabat gue!" tekannya. Berjalan lah ia mendekat, dan menarik kerah jaket salah satu laki-laki itu. Kemudian ia memberikan lima pukulan di wajah dan tiga pukulan dibagian perut hingga membuat tubuh lawan sampai tertekuk.
Setelah lawan tersebut tak berdaya. Lucas menghempaskannya ke dinding. Ia beralih menatap nyalang laki-laki yang kini mengambil langkah mendekatinya dan menendang Lucas hingga terhempas dan punggungnya terbentur kuat di kursi kusam yang ada disudut. Lucas bangkit dengan perasaan emosi yang begitu menggebu-gebu.
Dia meraih kursi tersebut dan sekuat tenaga melemparkannya kearah laki-laki itu dan menghantam kepalanya sangat kuat hingga sandaran kursi tersebut patah. Tubuh lelaki tersebut oleng dan tumbang. Lucas kemudian merajut langkah lebih dekat dan menginjak-nginjak brutal perut buncit orang tersebut hingga terbatuk-batuk darah.
Sedangkan lelaki lainnya, sekujur tubuhnya bergetar hebat akibat ketakutan melihat kebrutalan Lucas. Lantas, ia segera kabur dari sana. Cari aman.
"Woi berhenti lo anjing!" teriak Lucas saat melihat punggung lelaki itu menghilang dari balik pintu. Rencananya, dia ingin menghabisi ketiganya. Tetapi, satu malah berhasil meloloskan diri.
Lucas beralih menoleh kepada perempuan yang saat ini tengah menekuk lutut dan menangis pilu di atas meja. Dia menghampirinya dan memeluknya penuh kelembutan. "Udah gak papa gue disini."
"Takut.." Lirihnya sendu. Lucas menepuk-nepuk punggungnya untuk mengalirkan ketenangan.
"Sekarang udah ada gue. Gak akan ada yang gangguin lo lagi."
Lucas menguraikan pelukan dan menatap mata perempuan tersebut. Mata itu terlihat sangat sendu membuat Lucas merasa iba dan semakin merasa bersalah. Ia menyalahkan diri sendiri karena merasa gagal menjaga sahabatnya ini.
"Lo, ikut gue ke rumah yah."
****
Kendaraan yang ditunggangi Agam berhenti tepat didepan gerbang rumah Bianca. Bianca turun setelah motor Agam berhenti, dan melepas helm milik Agam kemudian memberikannya kepada sang pemilik.
"Kakak gak masuk dulu? hujan masih deras banget ini." tawar Bianca menyerahkan jaket Agam dan di ambil laki-laki itu tanpa basa basi. Dengan gerakan cepat Agam memakai jaket tersebut walaupun dalam keadaan basah.
Agam menggelengkan kepala atas tawaran Bianca barusan. "Enggak, adek gue nunggu dirumah." Balasnya seadanya sambil memasang helm. "Masuk sana." dagunya menunjuk rumah Bianca.
Setelah mengatakan itu, Agam pun berlalu dari sana dengan mengendarai motornya. Di detik yang sama pula, Bianca membuka gerbang dan berlari kecil masuk menuju pintu utama rumahnya.
Hal yang pertama Bianca lihat ketika memasuki ruang keluarga adalah Bundanya yang mondar-mandir tak jelas seperti orang yang sedang mencemaskan sesuatu dan Ayahnya yang duduk di sofa dan berkutat dengan laptop di hadapannya. Kedua orang tuanya sepertinya belum menyadari ada dirinya disini
"Ayah, Bunda." sapanya.
Mendengar suara itu, membuat Alena dan Rendra spontan langsung menoleh. Dengan langkah cepat Alena berjalan mendekati Bianca. Beliau memegangi kedua bahu anak gadisnya tersebut dengan raut cemas yang terungkap dibalik mimiknya.
"Kamu kemana aja?"
"Aku tadi keluar sama Lucas. Bi Arsi gak bilang?"
Alena menggeleng. "Dari kami sampai dirumah, Bi Arsi tak kelihatan. Mungkin sudah tidur." Beliau memandangi penampilan Bianca saat ini. "Kenapa basah gini?"
"Gak sempat neduh tadi."
Alena dapat bernapas lega. Untunglah putrinya ini baik-baik saja. "Yaudah, kamu ke atas, ganti baju kamu dan jangan lupa mandi air hangat." titahnya yang dibalas oleh Bianca dengan anggukan, ia berjalan lesu menaiki anak tangga.
"Apakan aku bilang?" celetuk Rendra sambil melepas kacamata. Kening Alena berkerut samar mendengarnya. "Bilang apa?"
Rendra memangku kaki dan menyesap secangkir kopi. "Laki-laki itu brengsek."
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" Alena berjalan mendekati sang suami lalu duduk space kosong disebelahnya.
"Aku yakin, Laki-laki itu meninggalkan anak gadis kita sendirian." Tebak Rendra tepat sasaran.
****
Bianca berjalan menuju kasur sambil menggosok-gosokkan handuk di rambut. Ia kemudian meraih ponselnya diatas nakas. Hal yang ia lihat adalah notifikasi chat dari Lucas.
Lucas🖤
Maaf tadi aku ninggalin kamu. Aku harap kamu ngertiin aku. Ella hampir dilecehkan Bi. Aku ngerasa gagal sebagai sahabat.
Bianca menghela napas gusar dan melempar asal benda pipi tersebut diatas kasur sambil menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Bianca meraih boneka beruang pemberian Lucas dan di angkatnya untuk menghadap dirinya.
"Lo tau Luc? Lo itu cowok terbrengsek dan teranjing yang pernah aku temui! dasar jelek!" Ia memukul-mukul brutal kepala boneka itu melampiaskan rasa kesalnya seakan-akan menganggap benda empuk itu adalah Lucas.
Setelah puas, Bianca melempar asal benda tersebut diatas kasur. Ia berbaring dengan posisi terlentang menatap langit-langit kamar. Ia kemudian meraih kembali ponselnya dan membuka notif dari Tasya.
BestaiSerefkuensi
Woy lu udah kerjain tugas Bahasa indonesia belum ?
Mata Bianca melebar saat melihat chat dari Tasya. Ia lupa mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan besok!
^^^Unyunyu🤡^^^
^^^Lupa sumpah! Ini gue baru mau ngerjain.^^^
Bianca melempar asal kembali benda pipi itu dan berjalan menuju meja belajar. Ia mencari-cari buku bahasa Indonesia diantara beberapa tumpukan buku.
Ceklek
Pintu dibuka oleh Alena dari luar tanpa mengetuk dan dengan spontan Bianca memusatkan atensi kearahnya "Kenapa Bun?"
Beliau masuk dengan secangkir teh hangat ditangannya. "Kamu minum nih teh anget, biar gak masuk angin, tadi kamu basah banget" pintanya meletakkan cangkir tersebut diatas nakas.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Ratu Fadira
lucas sahabat yg baik itu bagus, tp kl seperti itu terus bs jd bumerang buat hubungannya dngn bianca. krna dia akan selalu menomer dua kan bianca dr pd sahabatnya.
2024-08-11
0
Erina Situmeang
teman yg baik
2023-09-09
0
She Jutex MImi
oke lah berarti lu milih gagal jd sahabat Dr pd gagal jd pacar... tinggal nungguin putusnya...
2023-07-20
0