Bianca keluar dari ruang osis dengan perasaan tak karuan dan kedua pipi memerah merona. Ia berjalan tergesa-gesa disepanjang koridor. Tasya yang semulanya sedang mens-croll beranda tik-tok dengan posisi duduk disalah satu bangku dipinggir koridor tersebut mulai mencibir dirinya saat melihatnya. "Mampus! dihukum lagi kan lo!" Tawa bahaknya turut membubuhi.
Sialnya kali ini tidak ada tanggapan dari sang empu, Bianca duduk disebelah Tasya dengan kedua tangan memegangi dadanya yang terasa berdebar begitu cepat. Rasanya ia mendadak mempunyai riwayat penyakit jantung.
Melihat hal tersebut, membuat tawaan Tasya mereda dalam seketika dan kerutan di dahinya muncul secara samar, "Kenapa lo?!"
Bianca menoleh dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan. "He took my first kiss" lirihnya yang tak dapat didengar teman disebelahnya. Ia tiba-tiba menjadi merasa bersalah dengan Lucas karena first kiss nya sudah diambil orang lain duluan. Tasya meraup muka Bianca gemas. "Gak jelas lo ah!"
Tasya berdiri dan menarik pergelangan tangan Bianca. Ia diseret dari sana, Bianca sendiri sedang tidak ada tenaga untuk melawannya. "Lo mau bawa gue kemana sih Sya?!"
"Beli minum! haus nih tenggorokan gue!"
Tasya menyeret Bianca dari sana. Saat hendak menuju kantin, Bianca berpapasan dengan Agam yang baru saja dari toilet. Agam melirik Bianca menggunakan ujung mata. Sedangkan Bianca, ia membuang muka kearah lain. Entahlah, sejak kejadian beberapa menit yang lalu, ia jadi tak mampu bersitatap dengan lelaki yang kerap menjatuhkan sanksi untuknya.
Saat memasuki kantin, hal yang pertama menyambut keduanya adalah sorotan tatapan para murid yang masih nangkring di kantin. Lebih tepatnya, hanya menyorot kepada Bianca. Ia duduk disalah satu bangku kantin. Sementara itu, Tasya berjalan menuju stand khusus minuman untuk membeli minuman yang segar-segar.
Bianca menajamkan pendengaran saat mendengar bisik-bisik dimeja sebelahnya. "Itu yang nama Bia?" salah satu siswi secara terang-terangan menunjuk kearah Bianca.
"Iya yang itu!"
"Berani banget ya sama si queen." Siswi itu menunduk melihat ponsel dan memperlihatkan video di ponselnya tersebut. "Liat, kasian banget kan si Queen?"
Bukan dimeja sebelahnya saja, Bianca dapat merasakan di meja-meja lain juga sedang menatap kearahnya sambil berbisik-bisik. Hal Itu membuatnya seketika menjadi risih.
"Oh, jadi ini bintang utama hari ini." Samuel datang menghampiri Bianca dan berdiri dihadapan gadis tersebut. Ia menampilkan senyum miring penuh arti. Timbul kedutan bingung pada keningnya . "Maksud lo?"
"Lo gak liat video yang di kirim di forum sekolah?"
Mendengar ucapan Samuel, dengan gerakan cepat Bianca segera merogoh saku seragam untuk mengambil ponselnya. Dia menyalakan benda pipi itu dan langsung membuka group forum sekolah. Sebuah Group forum sekolah SMA Garuda. Group komunitas yang dibuat oleh sang kepala sekolah ini. Yang didalamnya tergabung para Guru dan seluruh murid-murid di SMA Garuda ini.
Ia memplay cuplikan sebuah video di grup yang baru dikirim beberapa menit yang lalu. Ternyata video itu berisikan klarifikasi dari Sherly tentang kejadian kemarin.
"Aku membuat video ini untuk mengklarifikasi, kalau perkelahian antara aku dan Bianca kemarin itu. Murni, kesalahan Bianca." Sherly memasang mimik sedih dan berusaha berakting dengan tangisan dibuat-buat sedemikian rupa.
"D-dia nampar dan dorong aku duluan." Lirihnya menitikkan air mata. Bianca berdecih sinis melihat hal itu.
"Please.. kalian para Guru, harus menegakkan keadilan. Aku dirundung dan perundung harus mendapatkan hukuman."
Melihat klarifikasi yang tentu saja berisi kebohongan itu membuat Bianca mendesis marah. "Bangsaat tuh anak!"
"See? lo memang orang seperti itu?" tanya Samuel yang entah sejak kapan sudah duduk disebelah Bianca. Bianca menghembuskan napas gusar. "Terserah lo nilai gua kaya gimana. Gue gak peduli."
Tasya datang dengan dua botol mini minuman coca-cola ditangannya. Ia melempar satu botol kearah Bianca dan dengan sigap gadis itu menangkapnya.
"Bia, kayaknya ada yang gak beres deh, dari tadi murid-murid di kantin ini natap lo terus sambil bisik-bisik gitu." Tasya duduk didepan Bianca dan Samuel. Tatapannya berkeliaran kemana-mana, menyapu penjuru kantin yang mana banyak murid-murid memusatkan atensi kepada mereka.
"Lo liat video yang dikirim di group forum sekolah."
Merasa penasaran, Tasya segera membuka ponselnya. Ia memplay cuplikan video yang dikirim disitu.
"Padahal gue baru tadi gabung tuh di grup. Eh, udah disuguhin video penindasan." Samuel dengan entengnya mengangkat sebelah kakinya diatas meja. Sepersekian detik kemudian, raut muka Tasya berubah menjadi marah setelah menonton video tersebut. "Wahh bener-bener nih anak. Semakin dibiarin semakin menjadi-jadi."
"Lagian, lo ada masalah apa sih sama tuh si queen-queen itu? dendam amat dia kayaknya sama lo." Samuel bertanya sambil melirik Bianca. Bianca membuang napas panjang. Ia benar-benar jengah dengan si Sherly. "Gak tahu gue."
"Gue tebak nih yah. Bentar lagi lo bakal ada panggilan dari ruang BK." tebak Samuel.
Dan benar saja, belum lima detik Samuel berbicara seperti itu. Datanglah satu siswa di kantin tersebut dan memanggil Bianca. "Bianca, lo di panggil keruang BK."
"Bia, gue temenin." ucap Tasya mendapat gelengan kepala dari Bianca. "Gak usah Sya. Gue bisa menyelesaikan ini sendiri."
Bianca bangkit meletakkan botol Coca-cola yang belum ia teguk sama sekali itu diatas meja dan segera beranjak meninggalkan kantin. Samuel dan Tasya menatap punggung Bianca dalam diam. "Temen lo itu suka bikin masalah ya?" celetuk Samuel disambut tatapan sinis dari Tasya.
"Dia gak bakal bakal bikin masalah kalo gak ada yang cari masalah duluan sama dia."
****
"Wah, kalian! liat nih video klarifikasi dari Sherly."
Perkataan dari Nathan itu membuat Camella dan Bella menghentikan aktifitas pergibahan mereka. Keduanya sama-sama mendekat kepada Nathan dan menonton video yang tertera dilayar ponsel Nathan.
"Diliat-liat pun udah jelas banget kalau si Sherly-Sherly itu bohong! Liat tuh-tuh nangisnya aja kek ke paksa gitu." Bella menerka-nerka dan menunjuk layar benda pipi yang di tangan Nathan menampilkan seorang Sherly disana.
Camella mengangguk setuju.
"Tangisannya itu kek berkesan dibuat-buat gak sih?"
Nathan mengadakan pandangan kearah Agam yang sibuk memilih-milih buku yang berada dijajaran rak. Keempatnya saat ini berada di perpustakaan. Niat awal mereka kesini memang hanya menemani Agam yang katanya mencari buku yang dibutuhkannya di perpustakaan ini. Oleh sebab itu, ketiga nya masing-masing fokus dengan kegiatan tersendiri sebelum Nathan menunjukkan video tentang Sherly tadi.
"Gam, lo belum liat video yang dikirim di group forum sekolah?"
Agam menggeleng singkat tanpa menoleh. Ia masih sibuk mencari-cari buku yang dibutuhkannya. "Lo sini deh, ini berhubungan dengan Bia."
Mendengar nama Bia, reflek membuat pergerakan Agam terhenti. Ia menoleh kepada Nathan dengan raut wajah penasaran. "Masalah apa emang?"
Nathan berdecak gemas, "Makanya sini kalo penasaran."
Tanpa pikir panjang, Agam segera mendekat ke meja dimana ketiga temannya berada. Nathan meletakkan benda pipi itu diatas meja lalu menggeser kearah Agam. "Kayaknya tuh anak bakalan ada masalah lagi." kata Bella.
Agam mengangkat sebelah alis melihat video tersebut. "Bukannya ini masalah udah kelar kemarin?"
"Nah itu dia, si Sherly-Sherly itu kayaknya sengaja buat si Bianca dapet hukuman." Agam terdiam dengan perasaan gundah yang tiba-tiba bangkit menguasainya. Ia merasa cemas tanpa sebab.
Walaupun wajahnya mendeskripsikan ketenangan dan ketidak minatan pada video itu, berbeda dengan hatinya yang saat ini mencemaskan keadaan Bianca. Ia pun tak mengerti dengan perasaan seperti ini, itu terasa asing baginya.
Tidak banyak berpikir lagi, Agam segera beranjak dan keluar dari perpustakaan. Hal itu, mengundang tatapan bingung sekaligus penasaran ketiga temannya. "Kemana tuh anak?"
Nathan tersenyum penuh makna menatap punggung Agam yang kini telah menghilang dibalik pintu dan menggumam. "The ice starts to melt"
"Lo kayaknya tau sesuatu?" Camella curiga melihat gelagat Nathan. Ia menunjuk Nathan dan memicingkan mata menatapnya.
Nathan meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala. "Gak tau."
"Eh Ngomong-ngomong, tadi Agam sudah nyelesaiin tantangan dari gue gak?" timpal Bella mengingat tantangannya tadi. Nathan mengangguk sebagai tanggapan
Melihat tanggapan tersebut membuat kedua perempuan itu menjadi heboh. Pertanyaan bertubi-tubi mereka lontarkan. Bahkan Nathan tak tahu harus menjawab apa.
"Cium di mana? di pipi?"
"Di pipi kanan? atau pipi kiri?"
"Di dahi? di bibir? atau..."
Camella menutup mulutnya dramatis. "Omo! jangan-jangan di leher!" tangannya mencengkram bahu Bella lalu menggoyang-goyangkan tubuh Bella rusuh.
Nathan menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. Andaikan mereka tahu Agam mengecup Bianca dibibir, bisa pingsan ke dua gadis ini. "Lo kira vampir!"
****
Di sebuah ruangan, tepatnya diruang BK. Bianca dan Sherly duduk berhadapan dengan Guru BK. Suasana tegang tiba-tiba meliputi ruangan ini. Pak Suripto selaku Guru BK pun menyodorkan ponsel dan melayangkan tanya perihal video di layar ponsel tersebut. "Maksud dari video ini apa?"
Bianca menegakkan tubuh, "Itu tentang perkelahian kemarin pak."
"Kenapa gak ada yang laporin ke Guru?"
"Udah diselesaiin sama anggota osis." jawab Bianca. Pak Suripto manggut-manggut. "Lalu kenapa dibahas lagi?"
Sherly memasang raut wajah tak terima. "Pak, masalah ini gak bisa dibiarin gitu aja. Yang salah di situ Bianca Pak. Dia harus di beri hukuman." Bianca dan Sherly saling melempar tatapan tidak bersahabat.
"Kamu ada bukti bahwa Bianca yang salah?" tanya Pak Suripto membuat Sherly tak berkutik.
Memang kemarin, setelah permasalahan itu dinyatakan selesai, para anggota osis memusnahkan semua video-video perkelahian Bianca dan Tasya yang sempat direkam oleh beberapa murid. Walau adapun, itu tak akan menjadi bukti, karena di video itu hanya berisikan saat di pertengahan aksi, tak terlihat siapa yang mulai duluan.
"Y-yah buktinya itu ada di video itu pak."
"Di video ini hanya berisi klarifikasi kamu, bukan bukti."
"T-tapi--"
Pak Suripto mengacungkan tangan memberi interuksi agar Sherly berhenti berbicara. "Udah diselesaikan sama anggota osis kan?" tanyanya mendapat anggukan ragu dari Sherly.
"Yasudah, lagian kamu juga gak ada buktikan?" Sherly terdiam dan Bianca menatapnya dengan tatapan mengejek. Dalam hati, Bianca tertawa puas. Berani-beraninya ia buat klarifikasi seperti itu, sementara tak punya bukti. Ia pikir, semua orang bisa dikelabui dengan bualan konyolnya?
Pak Suripto memutuskan tak menghukum Bianca maupun Sherly sebab permasalah tersebut telah diselesaikan oleh anggota osis. Apalagi ia tak tahu menahu tentang kejadian ini. "Masalah ini dianggap clear. Kalian boleh keluar."
Berbeda dengan Bianca beranjak dengan perasaan puas. Sherly, ia beranjak dengan perasaan yang menggebu-gebu karena Bianca tak mendapat hukuman sedikit pun. Seperti itulah dirinya, ia tak akan puas jika seseorang yang berani melawannya tak mendapat hukuman.
Tepat diambang pintu, Bianca menepuk bahu Sherly sekali. "Ternyata Queen SMA Garuda tak sepintar yang gue kira." ejeknya dengan senyum remeh, kemudian berlalu.
Sherly menatap punggung Bianca dengan sorot tajam dan penuh kilat amarah. Tangannya terkepal kuat.
Disepanjang lorong koridor, murid-murid yang dilalui Bianca tak berhenti berbisik-bisik dan menatap tak suka kearahnya. Bianca memilih tak mengindahkan dan hanya menatap ke depan dengan perasaan risih. "Seharusnya dia dikeluarin dari sekolah ini karena udah nampar Sherly!" ucap salah satu siswi menyudutkan Bianca.
"Bener! gak adil banget kan?! Queen sekolah ini ditindas, sementara penindas gak dapat hukuman."
"Bener bangett!" timpal yang lainnya secara bersamaan semakin menyudutkan Bianca.
Mendengar penuturan demi penuturan dari beberapa siswa itu, Bianca tersenyum miris. "Semudah itukah orang percaya tanpa liat kejadian sebenarnya?" lirihnya terdengar getir. Semakin kesini, manusia memang semakin tidak waras. Mana dia juga manusia lagi.
Salah satu siswa berceletuk lagi membuat Bianca semakin tertohok. "Kalo dasarnya memang sampah yah akan tetap jadi sampah!" Perkataan itu mengundang gelak tawa meremehkan dari kumpulan murid-murid lain yang tinggal dikoridor.
"Siapa yang kalian bilang sampah?" Suara bariton yang terkesan dingin dan tenang itu mampu membuat keadaan ditempat itu menjadi hening seketika. Bianca memutar balikan badan guna melihat sang pemilik suara yang terdengar familiar tersebut.
Agam. Laki-laki itu terkekeh ringan dengan aura dinginnya. "Sampah sebenarnya itu yang seenaknya menyimpulkan tanpa tau cerita yang sebenarnya. Iyakan Bi?"
Bianca diam, tak menjawab. Ia masih bingung dengan lelaki itu yang tiba-tiba membelanya. Pasalnya, baru kemarin, ketos inilah yang paling memojokkan dirinya saat di toilet.
Bahkan, para siswa di koridor itu juga ikut diam dengan perasaan tak percaya sekaligus penasaran. Jarang sekali melihat The king SMA Garuda ini memihak seseorang, terlebih lagi perempuan. Bukan cuma jarang, bahkan tak pernah sama sekali.
Agam meraih tangan mungil Bianca dan ditariknya entah kemana. Para murid yang berada ditempat itupun menatap figur keduanya yang mulai menjauh. Kala punggung Agam dan Bianca benar-benar hilang dari pandangan mereka, para murid itupun mulai berbisik-bisik lagi.
Salah satu siswi menyikut lengan teman disebelahnya. "Kayaknya ada something."
"Iya kayaknya."
****
Bagi para readers yang membaca story ini, jangan lupa like juga vote sebanyak-banyaknya! biar author makin semangat updatenya! oh ya, tambahin ke favorit juga yaa:)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Erina Situmeang
bisik " tetangga memang tajam ya😂
2023-09-09
0
Puput
Enath kenapa Nama Sherly yang gue tau tukang Drama, temen sekelas gue juga gini
2023-08-01
1
Vivian
tengah malam woi ngakak😂
2023-07-16
0