Hari tersial bagi Bianca ternyata masih belum usai juga. Motor matic yang biasa ia gunakan, sedang berada di bengkel, dan Ayahnya hari ini tak jadi menjemput karena ada rapat mendadak di kantor.
Tiga puluh menit Bianca menunggu. Namun, tak ada satupun taksi lewat, ponselnya pun mati kehabisan daya. Disiang yang masih di bilang terik ia berjalan lesu di tepi jalan. Kakinya menendang-nendang kecil batu-batu kerikil, hari ini terasa begitu lelah baginya. Tenaganya serasa terkuras habis kerena hukuman dan pertarungannya dengan Sherly tadi disekolah.
Saat ditempat yang bisa dibilang sepi, Bianca merasa was-was saat dua preman bertubuh besar menghampirinya. "Hai cantik." sapa salah satu preman itu menatap genit kepada Bianca. Gadis itu memundurkan langkah.
"Main sama kami yuk cantik." goda preman lainnya menowel dagu Bianca.
Timbul gejolak panik dalam jiwanya, wajahnya berubah menjadi pias saking takutnya. Tanpa sadar ia menelan saliva takut. Ia mengambil ancang-ancang akan lari, namun salah satu preman itu menahan pergelangan tangannya. "Ikut kami dong cantik."
"Lepas!" Bianca menyentak-nyentak sekuat tenaga untuk melepaskan cekalan tangan preman itu. Tetapi, tak berefek sama sekali bagi laki-laki yang tubuhnya berbanding jauh dari tubuh kecil Bianca.
"Semakin kamu memberontak, semakin kami ingin menerkam mu gadis manis." goda salah satunya menjilat bibir bawah menatap Bianca dengan tatapan penuh damba. Melihat itu, membuat gadis itu bergidik ngeri.
Brukk!
Tubuh preman yang mencekal pergelangan tangan Bianca jatuh terduduk di tanah saat tendangan maut dari laki-laki berseragam putih abu-abu menyentuh bagian pinggang preman tersebut. Bianca melongo sesaat, kala menemuka lelaki itu ternyata Agam.
"Brengsek!" Desis Agam menggertakkan gigi. Matanya berkilat amarah dengan raut datar dan dingin.
Preman itu bangkit kembali dan hendak memberikan pukulan kepada Agam. Sayangnya dengan sigap, laki-laki itu menangkisnya lalu memberikan dua pukulan telak di wajah dan menendang perut preman itu sehingga jatuh kembali mengenaskan ke tanah.
Preman lainnya juga hendak memberikan pukulan pada Agam di bagian belakang. Tapi, Bianca yang melihatnya segera memekik panik. "Kak! Awas dibelakang!"
Sontak, Agam dengan gesit menghindari pukulan itu dan membalikkan badan. Kemudian ia menendang kuat perut preman itu hingga tubuh itu oleng dan tumbang ketanah. Tak membiarkan lawan bangkit, Agam naik keatas preman tersebut. Lalu memberikan pukulan membabi buta. "Mati Lo!"
Bianca bergeming faktor diserang shock dadakan. Bahkan tubuhnya sampai bergetar. Ia tahu bahwa laki-laki yang menjabat sebagai ketua osis di SMA Garuda ini memang badas. Namun, ia tak menyangka kalau Agam seberingas ini jika sedang marah atau emosi.
Setelah lawan sudah benar-benar babak belur dan tak bisa bergerak, barulah Agam menyudahi pukulannya. Ia menatap nyalang preman itu dan meludahinya tepat diwajah. "Beraninya sama cewek!"
Ia menyugar rambutnya kebelakang lalu bangkit dan menghampiri Bianca yang masih mematung. "Lo gapapa?" tanyanya datar.
Mendengar pertanyaan itu, barulah jiwa Bianca tertarik kepermukaan. Ia terkesiap. "I-iya gue gapapa."
"Gak ada yang jemput?" Bianca menggeleng sebagai jawaban. "Ayah sibuk. Gak ada taksi lewat. Hp mati." Bianca terlihat sangat lesu.
"Gue anter." Masih dengan tanpa ekspresi, Agam kemudian berjalan menuju motor ninja berwarna hitam miliknya. Lelaki itu membalikkan badan kembali saat Bianca tak mengikutinya. "Mau diculik lo?!" geramnya.
Bianca segera berlari kecil menghampiri Agam meninggalkan kedua preman yang sudah tergeletak mengenaskan di tanah. Siapa yang mau diculik! Kalau diculik sama opa-opa Korea mah Bianca mau! Tapi kalau sama preman-preman seperti tadi malah ngeri jadinya.
"Alamat rumah lo?"
Bianca menggaruk pipinya tak gatal. "Di jalan melati."
Agam segera meraih helm dan almamaternya yang terletak di tangki motor menyampirkan almamater dipundaknya kemudian menyerahkan helm kepada Bianca. "Pake."
"Terus kakak pake apa?" Bianca menyambut helm tersebut.
"Bacot! tinggal pake aja susah amat." geram Agam gregetan. Ia meraih helm ditangan Bianca lalu dengan gerakan cepat memasangkannya di kepala gadis itu. Detik berikutnya, Agam segera menaiki motor besarnya. Decakan kecil terdengar dari mulutnya saat netranya melihat sesuatu.
Sebelah tangannya lantas meraih almamater dipundaknya lalu menarik tangan gadis itu untuk mendekat padanya dan mengikat almamater itu ke pinggang ramping Bianca. "Besok-besok gak usah pake rok sekalian."
Bianca mengerjapkan kelopak mata sambil menggaruk kepalanya tak gatal, memang kadang otaknya rada-rada lelet sesuai situasi.
"Mau naik atau enggak? kalo gak, gue tinggal nih." Agam sudah menghidupkan mesin motornya. Dan gadis itu malah plonga-plongo. Mendapat teguran dari Agam, barulah Bianca ketitik fokusnya, ia Tak ingin ditinggalkan sendiri ditempat ini, dengan grusa-grusu Bianca segera menaiki motor tersebut.
****
Bianca memperhatikan pantulan dirinya di cermin meja rias. Ia meregangkan rahangnya kemudian meringis kecil saat merasakan ngilu dibagian pipi. "Sakit juga bekas cakaran si Mak lampir." Menelisik luka goresan dibagian pipinya. Bianca membuka laci dan mengambil salep dari sana.
Dengan telaten Bianca mengolesi salep itu kebagian-bagian goresan diarea pipinya. Sesekali ia meringis kecil merasa sedikit ngilu dengan luka-luka kecil tersebut.
"Dasar mak lampir." makinya kesal saat mengingat kejadian tadi siang. Atensinya teralih ke ponselnya diatas meja rias saat benda pipi itu bergetar. Ia meraih ponsel berlogo Apple tersebut dan tersenyum manis saat melihat notifikasi yang rupanya dari kekasihnya.
Lucas♥️
Lagi dimana?
^^^Bianca🖤^^^
^^^Dirumah.^^^
Lucas♥️
Siap-siap gih. Gue jemput.
Senyum manis terbit dibibir tipis Bianca. Tak membalas chat itu, Bianca malah jingkrak-jingkrak ditempatnya saking bahagianya. Dengan perasaan yang berbunga-bunga lantas, ia segera menyimpan kembali salep dan beranjak untuk bersiap-siap.
****
Dengan telaten Bianca mengoles lipstik di bibirnya lalu melipat kedua bibirnya agar merata. "Oke selesai. "
Ia menyisipkan rambutnya kebelakang telinga, sekali lagi menatap refleksi dirinya di cermin. Saat ini ia mengenakan kemeja crop berwarna peach dan rok kotak-kotak selutut.
Mimik wajahnya berubah menjadi tertekuk saat melihat beberapa bekas cakaran di bagian wajahnya. Walaupun sudah disamarkan menggunakan bedak, namun masih juga terlihat. Bianca berdecak sebal.
Tok tok tok..
"Non, Den lucas sudah ada didepan." panggil Bi Asri__ART yang bekerja ditempat ini.
"Iya Bi." Bianca meraih tas mininya diatas meja rias dan menyampirnya. Lantas, ia bergegas keluar agar kekasihnya tak menunggu lama diluar sana.
"Non gak makan dulu? makan malam udah siap Non." tanya Bi Asri saat Bianca keluar dari balik pintu.
"Enggak bi. Aku makan diluar sama Lucas."
"Kalo Bunda dan Ayah pulang cepat malam ini dan aku belum pulang, Bibi bilang ya sama mereka. Kalo aku lagi keluar sama Lucas." Pinta Bianca mendapat anggukkan dari Bi Asri.
"Baik non."
Bianca turun dengan senyum tertahan di bibirnya. Hingga ia sampai di depan rumahnya pun senyuman itu tak kunjung luntur dari bibirnya.
"Tambah cantik aja sih." celetuk Lucas merentangkan tangan. Posisinya saat ini duduk menyamping di atas motor besarnya. Bianca segera masuk ke dalam dekapan sang kekasih. Kedua remaja itu saling berpelukan erat menyalurkan kerinduan yang bersarang.
"Kangen banget." gumam Lucas menghirup aroma sampo dari rambut Bianca.
"Padahal baru seminggu gak ketemu."
"Seminggu berasa setahun tahu gak."
Bianca memukul pelan dada laki-laki itu. "Norak!" cibirnya membuat Lucas terkekeh ringan.
Setelah lima menit, Lucas tak kunjung mengurai pelukan itu dan terus mengurung Bianca didalam rengkuhan hangatnya. Entahlah, ia sangat merindukan gadis yang sangat dicintainya ini setelah Ibunya.
"Jadi gak nih jalannya?" tanya Bianca mencebikkan bibirnya gemas.
Lucas mengurai pelukan sembari terkekeh. Ia kemudian memasangkan helm ke kepala Bianca. Ia mengubah posisi duduknya sambil memasang helmnya lalu menghidupkan motor. Bianca tanpa sungkan naik ke jok motor Lucas.
"Berangkat!" seru Bianca mengangkat kepalan tangannya di udara. Hal itu, membuat Lucas menggeleng-gelengkan kepala. Selalu begini. Mungkin kata 'Berangkat' menjadi yel-yel pacarnya itu.
****
Agam begitu memfokuskan diri berkutat dengan buku dibawahnya. Ia menulis deretan demi deretan angka juga huruf di lembaran buku. Dirinya sedang mengerjakan tugas Matematika.
"f(x, y) \= ax +__"
Pintu dibuka oleh gadis kecil yang cantik yang tak lain adalah adiknya. Namanya Cantika, yang masih duduk dibangku sekolah dasar.
"Abang belajar terus ih." cibirnya berjalan memasuki kamar Agam dan duduk ditepi kasur king size milik kakaknya. Kakinya ia ayun-ayunkan di udara.
"Emang kamu. Kerjaan main terus." sindir Agam tanpa menoleh. Dia masih berkutat dengan buku didepannya.
Seraya menggaruk pipi tak gatal, Cantika melirik kearah ponsel Agam diatas nakas saat benda pipi tersebut menyala dan berdering samar. Ia meraihnya dan membaca nama si penelepon yang tertera dilayar. "Bang, Nathan nelepon nih. Angkat gak?"
"Angkat aja."
Cantika menekan icon hijau untuk mengangkat panggilan. "Hallo, kenapa Kak?"
"Loh Tika? Kakak kamu mana?"
Cantika melirik Agam yang sibuk dengan dunia belajarnya. "Lagi ngerjain tugas."
"Kasih deh hp ke dia, gue mau bicara."
Melangkah mendekati Agam yang tidak jauh darinya, Cantika menyerahkan ponsel itu sesuai interuksi. "Tuh, katanya mau bicara sama Abang."
Decakan terdengar dari mulut Agam, dengan gerakan yang sedikit repot, ia mengambil benda pipi itu lalu mengapitnya ditelinga dan pundak. Tangannya masih mencatat jawaban di buku.
"Kenapa?" tanyanya datar.
"Ngumpul di cafe biasa yuk. Katanya ada beberapa menu baru."
"Sibuk." sahut Agam singkat.
"Ayolah. Ada Mella sama Bella juga."
"Gak!"
Nathan mendesah kecewa."Kalo gak ada lo gak rame."
"Gak peduli."
"Please.. Gam." mohon Nathan memelas membuat Agam mendengus sebal.
"Ayolah, ayolah, kita kan kawan." lanjutnya membujuk.
Agam menghembuskan napas berat. Mau tidak mau ia harus mau. Jika tidak, Nathan akan terus memaksanya sampai ia mau.
"Yaudah." Finalnya terpaksa.
Terdengar rusuh sekali Nathan di seberang telepon saat Agam menyetujui. "Yess!" soraknya.
"Di cafe biasakan?"
"Yoee!"
Setelah itu, Agam memutuskan panggilan dan meraup wajahnya kasar. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Abang mau keluar?" tanya Cantika mendapat anggukan singkat dari Kakaknya.
****
Di cafe, Dua pria bersetelan jas dan juga celana formal sedang duduk berhadapan. Bastian menyeruput secangkir cofee yang mereka pesan beberapa menit lalu mengangkat kepala menatap sang lawan bicara. "Jadi, ada apa gerangan, tiba-tiba kamu ngajak ketemu Ndra?"
Raut Rendra tiba-tiba menjadi serius. "Jadi gini Bas. Rencananya aku dan istriku akan pergi keluar negeri di bulan ini untuk memperbaiki perusahaan yang tiba-tiba turun drastis disana. Dan itu pasti membutuhkan waktu yang cukup lama." jedanya menghembuskan napas panjang. "Tetapi sebelum keluar negeri, aku mau menjodohkan putriku sama laki-laki yang baik menurutku dan itu putramu."
Bastian mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja. "Kenapa tak kamu bawa saja putrimu?"
Rendra menggeleng. "Aku gak mau anak aku terpengaruh dengan pergaulan luar." tuturnya lalu menyeruput cofee instan yang tersedia.
Bastian mengusap-usap dagu berpikir. "Tapi, anak kita masih sangat muda. Apa bisa mereka menjalankan rumah tangga? apalagi tidak berdasarkan cinta."
Sorotan Rendra menerawang kedepan. "Cinta akan timbul seiring berjalannya waktu Bas. Aku yakin mereka akan saling jatuh cinta pada saatnya. Dan untuk umur, tak apalah masih muda, yang penting putramu bisa menjaga putriku dengan baik. Hanya itu."
Bastian mengangguk-anggukkan kepala. "Baiklah. Aku akan coba mendiskusikan mengenai perjodohan itu dengan putraku."
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Yura
Hobi preman nih gini :hai cantik
2023-05-15
5
Yura
Nasibmu sial kali
2023-05-15
1
Qaisaa Nazarudin
Kalo hanya utk menjaga,Lucas juga bisa kan?? Lagi pun ayahnya sama hundanya juga tau Bianca pacaran sama Lucas,Apa menurut mereka Lucas bukan pria yg baik2??🤦🏻♀️🤦🏻♀️
2023-04-08
2