Typo Tandain!
...HAPPY READING!...
...***...
Tak berselang lama, muncul notifikasi whatsaap diatas layar ponsel Bianca.
0823Xxxxx
Sv Agm
^^^Bianca:v^^^
^^^Ok^^^
Panggilan suara dari Agam memenuhi layar ponsel Bianca. Kening gadis itu mengernyit dengan jarinya bergulir menggeser ke icon hijau.
"Hallo ada apa, Kak?"
Hening, tak sahutan dari seberang.
"Hallo? gak ada orang?"
Masih tak ada jawaban. Bianca kembali melihat panggilan itu, ternyata masih terhubung. "Orangnya mana sih?" monolognya.
Lalu menempelkan kembali benda pipi itu ketelinganya. "Kalo masih gak ada suara, gue matiin ya."
"Hm." hanya itu yang terdengar dari seberang sana.
"Kenapa nelepon Kak?"
"Hm."
"Hm hm terus! gagu ya?" Cebik Bianca merasa jengkel.
"Mau gak?"
Alis Bianca saling bertaut bingung dengan pertanyaan Agam. "Mau apa?"
"Kawin lari sama gue."
Bianca tertawa renyah mendengar penuturan dari Agam yang menurutnya hanya candaan semata. "Hahaha gila kali kawin lari sama lo, mending gue kawin lari sama-- sama-- teman lo itu siapa namanya?" Matanya mengerling keatas memikirkan nama tersebut. "Hmm nah Nathan! dari pada sama lo idihh!"
"Gue serius."
Tawa Bianca seketika mereda ketika mendengar Agam seperti orang yang serius. "Kakak apaan sih!"
"Intinya mau atau tidak?"
"Ya enggak lah! emang kakak siapa gue sampai ngajakin gue kawin lari?" tanyanya langsung.
Hati Agam tersentil mendengar ucapan Bianca barusan. Lelaki itu tentu sadar jika dirinya bukan apa-apa bagi Bianca, dia tak lain hanya ketos nyebelin dimatanya, akan tetapi, otak Agam berusaha menyanggah semua itu untuk menyenangkan hatinya.
Agam menghela napas kasar. "Lo, punya pacar?"
"He-em emang apa urusannya sama Kakak?"
Lagi, lagi, hati Agam terasa seperti ditusuk benda tajam tak kasat mata ketika mendengar itu. Dadanya terasa berdenyut nyeri. Perasaannya bercampur aduk. Sakit, emosi sekaligus sedih tercampur menjadi satu, tanpa sadar cengkramannya diponsel menguat hingga urat-urat tangannya mencuat.
"Mau ya?"
"Gak! kakak apa-apaan sih!"
Agam kembali menghela napas kasar. "Yaudah. tapi, lo ingat gak tentang kompensasi kemarin waktu di UKS?"
"Hmm," Bianca berpikir beberapa detik. "Oh, iya-iya gue ingat. Nanti gue ganti besok ya harga pembalut sama herbal nya. Oh iya, sama almama--."
"Kalo gue mau kompensasinya berbentuk tindakan, lo mau gak?" sela Agam memotong celotehan Bianca.
"Hm emang kakak mau gue ngapain?"
"Lo, pura-pura hamil anak gue."
Mata Bianca membulat mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Agam. "What--? gila kali lo! gak mau gue!"
"Ini perintah! gue gak butuh penolakan!"
"Ya terus fungsinya gue pura-pura hamil anak lo untuk apa?!" Bianca tiba-tiba merasa frustasi dengan Agam yang tak jelas akan segala tindakannya. Dia adalah cowok yang dingin, pandai bersosialisasi tetapi juga pendiam dan tertutup akan segala hal. Sulit sekali menebak isi pikiran dari seorang Agam Ezekiel Arbyshaka.
"Biar perjodohan gue sama cewek yang gak gue kenal bisa dibatalin papa."
Mulut Bianca terkatup, lidahnya mendadak keluh untuk menanggapi ucapan dari Agam barusan. Padahal tadinya, dia tak peduli atas alasan apa Agam menyuruhnya melakukan hal yang diluar nalar. Tetapi setelah mendengar ucapan Agam barusan, mendadak hatinya tergerak ingin membantu lelaki ini untuk membatalkan perjodohan itu. Mungkin karena dirinya dan Agam senasib.
"Kenapa lo gak terima aja?" Entah mengapa dia menjadi penasaran yang menjadi alasan lelaki ini tak mau menerima perjodohan itu.
"Ada orang yang gue suka."
"Hah? dengan yang lo dingin dan datar itu, punya orang yang disukai?!" Sungguh Bianca tidak menyangka, seorang the king SMA Garuda yang terkenal datar, dingin dan hati batu itu bisa mempunyai orang yang disukai. Bianca berdecih kagum. "Pasti tuh cewek cantik banget ya, bisa buat hati seorang Agam Ezekiel Arbyshaka luluh." lalu terkekeh.
"Itu lo, Bianca." Ingin sekali kalimat itu Agam sampaikan kepada Bianca, tetapi mulut lelaki itu tak mampu untuk menyampaikannya. Dia hanya mampu mengucapkannya dalam hati.
"Hmm, tapi kalo semisalnya gue pura-pura hamil anak lo, berarti gue dong yang bakal nikah sama lo."
"Itu urusan nanti, pokok utamanya adalah perjodohan itu harus batal sebelum malam ini."
"Berarti secepatnya dong?!" heboh Bianca langsung berdiri dari duduknya lantaran terkaget-kaget.
"He-em. Lo segera ke sini deh, soalnya malem ini papa gue udah ada rencana datengin rumah perempuan itu."
"Bianca! kamu gak mau cobain ikan tumis buatan Bunda?!" Itu suara Rendra dari arah dapur.
Bianca sedikit menjauhkan dan memiringkan ponselnya "Bentar Yah!" Lalu kembali menempelkan benda pipi itu di telinganya.
"Gue belum ada persiapan! setidaknya kasih kisi-kisinya dong!"
"Hmm, kamu dateng aja ke rumah gue untuk minta pertanggung jawaban. Urusan akting nya, itu biar aku bantu-bantu deh."
"T-tap-"
Panggilan terputus. Bianca menatap layar ponselnya dengan nanar kemudian mengacak rambutnya frustasi. "Dasar ketos ngerepotin!"
***
"O-om A-agamnya ad- ehm ehm."
Saat ini Bianca sudah berada tepat didepan pintu utama rumah Agam. Dirinya sedang melatih-latih dialog yang akan dia katakan kepada papa Agam.
"I-itu Om ak-aku mau minta pertangg-- Aduhh gimana ini?!" dia jadi tegang sendiri, bahkan tangannya sudah keringan dingin.
"Oke oke, sekali lagi!" Bianca mengambil napas dalam dan menghembuskannya. "Om, Kak Agam---"
Ceklek
Dialog dari Bianca terpotong oleh pintu terbuka memunculkan pria setenga baya dari dalam sana dengan membawa kantong kresek besar ditangannya.
Bastian sedikit kaget dengan keberadaan seorang gadis didepan pintu tersebut. "Siapa ya?" tanyanya Bingung.
Bianca kelimpungan, dia mendadak lupa akan dialog yang ia latih berkali-kali tadi. "A-anu Om.."
"Hm? kenapa?"
"K-kak Agam ada?"
"Agam? ada urusan apa kamu mencarinya?" tanya Bastian dengan sebelah alis terangkat.
"I-itu om, a-aku kesini mau minta pertanggung jawaban!" Mata Bianca tertutup kuat setelah mengatakan itu karena tegang hingga kedua tangannya sudah meremas pinggiran bajunya.
"Minta pertanggung jawaban?"
"Iya Om."
"Om gak tahu apa yang kamu maksud. Tapi, kalo kamu cari Agam, dia ada didalem. Kamu masuk aja dulu ya. Om mau buang sampah dulu." Bastian mengangkat kantong kresek itu diudara.
Bianca mengangguk. "Iya Om."
***
"Tujuan aku kesini untuk meminta pertanggung jawaban Om, karena Agam telah menghamili aku.." Entah mengapa akting Bianca saat ini sangat terlihat sempurna. Dia mengatakannya dengan lirihan juga seperti tengah menahan tangisan.
Hening..
Bastian masih mencoba untuk menerka dari ucapan Bianca barusan. "Maksudnya apa Gam?" Bastian melirik Agam yang saat ini duduk disamping gadis itu.
"Hm pa, sebenarnya, alasan aku gak mau nerima perjodohan itu karena aku udah melakukan kesalahan dengan menghamili gadis ini." Agam menunduk.
"Tunggu-tunggu, jadi, maksud kamu, gadis ini kamu perkosa?!" Bastian langsung berdiri saking emosi mendengar penuturan Agam barusan. Matanya menyorot tajam kearah Agam yang saat ini hanya menundukkan kepala.
"Hikss Om, aku takut.. karena perjodohan itu, Agam gak mau tanggung jawab dan anak didalam kandungan ini gak punya Ayah.." Air mata Bianca berderai dengan tangan mengusap perut datarnya.
Bastian duduk kembali dan memijat pelipisnya. "Agam.. Agam.. Papa gak pernah ajarin kamu berbuat seperti itu..", lirihnya merasa kecewa.
Agam mengangkat pandangannya menatap sang papa. "Pah, itu semua kecelakaan, saat itu aku melakukannya tanpa sadar karena sedang terpengaruh minuman alkohol."
Helaan napas panjang terdengar dari Bastian dan menoleh kearah Bianca yang saat ini tengah menangis lirih. "Baiklah Nak, kamu gak perlu menangis seperti itu. Anak aku akan bertanggung jawab dan perjodohan yang aku rencanakan akan dibatalkan. Aku akan segera menentukan tanggal pernikahan kalian."
Lalu menoleh kearah Agam. "Gam, kamu tetap harus ikut papa kerumah teman papa malam ini."
"Kenapa pa? bukannya perjodohan itu akan segera dibatalkan?" Agam sedikit melirik kepada Bianca yang juga kebetulan sedang meliriknya juga.
"Kamu yang harus jelasin semua tentang alasan pembatalan rencana perjodohan itu.."
Agam menegakkan duduknya. "Baik pa." tegasnya.
Bastian beralih menoleh kearah Bianca. "Nak, kamu kenal Agam dimana?"
"Hmm, kami satu sekolah om." Bianca mengatakannya dengan sisa-sisa tangisannya.
Bastian mengangguk-anggukkan kepala. "Nama kamu siapa?"
"Bianca, Om.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Erina Situmeang
bukannya dibatalin gam...malah langsung di nikahi dan terkabul deh ajakan kamu ke bia😂
2023-09-09
0
Thinkerlie 11
lancar banget ngibulnya 🤣
2023-07-27
0
She Jutex MImi
hahahhaha bukanya batal auto tambah nyepetin
2023-07-20
1