Kepedulian Agam

Dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana, Agam berjalan tegap keluar dari kawasan sekolah. Aura dingin dan raut datarnya tak pernah lepas dari wajah gantengnya. Itu memang sudah menjadi ciri khasnya tersendiri. Tujuannya kali ini menuju kios yang berada diseberang, tak jauh dari sekolah.

Dia menyeberangi jalan terlebih dahulu, lalu berjalan empat menit barulah dirinya sampai di kios tersebut.

Tatapan matanya mengedar mencari benda yang akan dibelinya.

"Dek, mau beli apa?" Ibu-ibu pemilik kios itupun bertanya.

Agam nampak berpikir beberapa detik untuk menimbang-nimbang. Apakah dia akan menyebutkan benda yang dicarinya atau tidak.

Dipikir-pikir, disebutkan ataupun tidak pastilah akan diketahui Ibu itu jika saat membayarnya.

Dan pada akhirnya, Agam pun bersuara dengan nada sedikit pelan lantaran merasa malu. Tetapi, ekspresi nya tetap nampak biasa saja.

"Pembalut."

Ibu itu melipat bibir menahan tawa saat mendengarnya."Yang merek apa dek?"

"Emang merek apa yang berkualitas buk?"

"Hmm, kebanyakan cewek pakeknya yang daun sirih."

"Yaudah itu aja."

Tante-tante pemilik kios itupun mengangguk-anggukkan kepala dan berjalan kearah tempat dimana benda itu berada.

Pandangan Agam kembali mengedar dijualan yang berada di tempat ini. "Obat pereda nyeri haid ada gak buk?" ceplosnya.

"Itu, ada di atas rak sebelah kamu." Ibu itu menunjuk rak disebelah Agam menggunakan dagu.

Agam lantas segera meraih satu botol herbal dengan merek kiranti tersebut.

"Buat pacar ya?" celetuk mbak itu kepo sembari membungkus dua benda yang dipilih Agam tadi.

Agam mengangguk singkat. Sebenarnya dia hanya tak ingin meladeni tante-tante ini makanya ia mengiyakan saja.

"Beruntung banget ya pacar kamu, udah dapet yang super ganteng, dingin, perhatian pula." Ibu itu kemudian menyerahkan kantong kresek yang sudah berisikan benda tadi.

"Berapa semuanya?" tanya Agam mengalihkan topik.

"Lima belas ribu."

Agam mengambil uang yang kebetulan pas dari dalam sakunya dan memberikannya kepada Ibu itu. Tanpa mengucapkan kata permisi, dia segera berlalu dari sana. Selain buru-buru lantaran cemas dengan keadaan Bianca, ia juga tak ingin berlama-lama dengan tante rempong itu.

Ibu itu menopang kedua tangannya di dagu menatap figur Agam yang telah manjauh. "Pengen kembali ke masa mudah lagi deh." gumamnya.

...***...

Perempuan yang bernama Zella ternyata berada di sebelah ruang Bianca yang hanya terpisahkan oleh tirai saja. Tempat ini memang sudah menjadi tempat kebiasaannya untuk membolos dan menenangkan diri. Disinilah ia bisa mendapatkan ketenangan tanpa gangguan dari orang-orang sekitar.

Sedari tadi dia tidur disini dan baru saja terbangun. Semulanya, ia menyingkap tirai saat merasa ada grusuhan di sebelah. Dan saat ia melihat seseorang yang menolongnya tadi sedang terbaring lemah, ia pun beranjak mendekat kepada Bianca.

"Dia kenapa?" tanyanya tertuju untuk Tasya yang saat ini duduk disamping ranjang Bianca.

Tasya menghembuskan napas lalu tatapannya turun menatap Bianca yang kini masih memejamkan mata.

"Datang bulan."

Zella mengangguk-anggukkan kepala. "Pantesan. Memang kadang-kadang kalo orang dateng bulan itu ya kayak gitu." ujarnya berdiri disamping ranjang Bianca.

Kening Tasya mengernyit melihat perempuan yang pernah dia lihat tetapi tak di kenali ini sok akrab. "Kenal lo sama Bia?"

Seraya mengangguk, Zella pun berucap. "Kenal, tadi dia nolongin aku waktu di gudang."

Tasya hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Dia pun kembali diam, tak mencoba mencari-cari topik pembicaraan untuk perempuan itu. Entah mengapa ia tak suka melihat perempuan ini. Hatinya merasa jika orang ini munafik berkedok good attitude. Tetapi, entahlah, Tasya tak ingin suudzon sama orang.

Pintu terbuka menampakkan Agam yang baru saja datang dengan menenteng kresek ditangannya. "Bia udah sadar?" tanyanya mendapat gelengan kepala dari Tasya.

Bahu Agam melemas. Ia berdiri disamping ranjang Bianca dan menatap gadis itu dengan tatapan cemas sekaligus kasihan. Lelaki itu kemudian mengalihkan pandangan menatap datar Tasya dan Zella bergantian. "Kalian, boleh keluar."

"Apa sih Kak! gue kan bestie Bia, ngapain coba gue keluar!" ucap Tasya ngegas. "Seharusnya Kakak aja yang keluar sana!"

"Mata pelajaran kedua hampir dimulai"

"Terus Kakak nggak masuk kelas gitu?"

"Gue nemenin Bia disini."

Bukannya menuruti perkataan dari Agam, Tasya malah menyandarkan punggungnya disandaran kursi. "Gue yang bakal jagain Bia."

Sementara Zella, hanya menjadi penonton saja. Dia merasa tak seharusnya ia ikut nimbrung dipercakapan mereka.

"Lo ke kelas aja, bantu izinin Bia." ujar Agam seraya meletakkan kantong kresek diatas meja dekat ranjang Bianca.

Tasya nampak berpikir beberapa detik. Tatapannya mengarah kepada Agam yang saat ini terlihat sedang mencemaskan keadaan Bianca. Senyum penuh makna tersinggung dibibirnya. Ah dirinya mulai mengerti, bahwa lelaki ini mulai interseted dengan Bianca. Terlihat dari gerak-gerik dan juga tatapannya.

"Yaudah!" pasrahnya mengalah kemudian bangkit. Ia pun melirik dengan tatapan tak suka kepada Zella yang hanya berdiam diri. "Lo juga! ayok keluar!"

Kedua perempuan itu beranjak keluar dari UKS tersebut.

Atensi Agam terus berpusat kepada Bianca yang saat ini masih memejamkan matanya. Gadis itu terlihat sangat pucat. Bahkan, Agam tak sadar jika dua perempuan tadi sudah keluar.

Kemudian tangannya bergerak membuka ponsel dan mengetikkan pesan kepada Nathan.

Nathan

Izinin gue pelajaran kedua, gue nemenin Bianca di UKS.

Agam mendudukkan dirinya ditempat Tasya tadi. Sebelah tangannya terulur mengusap kepala Bianca lembut dan menelusuri hingga pipi. Bahkan dalam keadaan tak sadar pun, kecantikannya itu tak luntur sama sekali dimata lelaki itu "Lo, cantik Bi."

Pergerakan tangan Agam ternyata mampu membuat Bianca tersadar dari alam bawah sadarnya. Perlahan kelopak mata yang dihiasi bulu lentik itu terbuka sedikit demi sedikit dan mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya.

Hal yang pertama dilihatnya adalah ketua osis yang dibencinya itu menatapnya datar tetapi terdapat gurat khawatir dibaliknya. "K-ka Agam.."

Bianca dengan lemas mencoba bangun dan Agam yang melihat itupun secara otomatis membantu gadis itu untuk bangun. "Ada yang sakit hm?"

"Perut gue Kak.." Lirih Bianca memegangi perutnya yang masih terasa perih.

Agam menyaut kantong kresek diatas meja dan mengeluarkan obat herbal pereda nyeri tamu bulanan dari dalam. "Lo, minum ini. Kalo udah baikan, gue temenin ketoilet pake pembalut."

Meskipun perut terasa begitu sakit dan perih. Akan tetapi, rasa malu Bianca lebih besar dari pada rasa sakit itu saat mendengar perkataan Agam. Kedua pipinya bersemu. "Kakak ngapain beli gituan?"

"Lo lagi datang bulan kan?" pertanyaan Agam itu membuat Bianca semakin malu. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Ih Kakak tahu dari mana sih!" sejenak dirinya melupakan rasa sakit perutnya saking malunya.

Agam meraih kedua tangan Bianca yang menutupi wajah cantiknya. "Gue liat lo tadi pagi tembus."

Otak Bianca kembali berputar disaat tadi pagi. Ketika Agam mengikat almamater dipinggangnya juga membisikkan sesuatu. Pada saat itu Bianca tak terlalu mendengarnya lantaran gugup.

Bianca mengangkat pandangan menatap Agam yang saat ini menyodorkan herbal tersebut. "Minum." gadis itu lantas segera menyautnya dan meminumnya beberapa teguk.

Kemudian Bianca menutup kembali tutupnya dan menyerahkannya kembali ke Agam. "Thanks Kak."

Agam menganggukkan kepala sambil menyimpan botol herbal tadi didalam kantong kresek, "Gak gratis, nanti bakal gue tagih kompensasinya." ujarnya lalu meletakkan kembali kantong kresek tersebut diatas meja.

"Iya Kak, nanti gue bakal ganti kok." Tiga detik setelah Bianca mengatakan beberapa kalimat itu. Ia kembali memegangi dan meremas perutnya saat perih itu kembali menjalar. Rintihan sekaligus ringisan terdengar dari mulutnya.

"Sakit lagi?" Wajah Agam tetap terlihat tenang walaupun dalam hati cemas setengah mati.

Bianca mengangguk lemas, wajahnya sangat memelas juga bibir yang pucat.

Lelaki itu merentangkan tangan membuat Bianca mengernyitkan kening bingung disela-sela rasa sakitnya. "A..pa?"

"Peluk sini."

Bianca menggeleng pelan tanda tak mau. Memang pelukan bisa menyembuhkan rasa sakitnya?

Decakan kecil terdengar dari Agam. Kedua tangannya lantas melingkar di leher Bianca dan membawanya kedalam dekapannya, membuat gadis itu sedikit tersentak dengan tindakan Agam yang tiba-tiba. Akan tetapi perih diperutnya begitu mendominasi, sehingga dirinya secara otomatis mengeratkan peluknya kepada lelaki itu.

"Sakit.."

Agam membelai kepala Bianca penuh kelembutan. "Kalo sakit banget, nangis aja."

"Huwaaa, sakit Kak.." Bianca menangis seperti anak kecil. Sebenarnya, dia menangis bukan hanya karena merasa sakit, Akan tetapi, sekaligus terharu dengan kepedulian Agam kepadanya. Dia menangis sesenggukkan di dada bidang lelaki itu dan menyeka air hidungnya dibaju seragam Agam.

Lelaki itu tak merasa jijik sama sekali, ia menepuk-nepuk punggung Bianca untuk menenangkan. Meskipun ini tak bisa meredakan rasa sakit perutnya, setidaknya gadis ini bisa lega jika mengeluarkan tangisan untuk pelampiasan rasa sakitnya.

...•TBC•...

...***...

Terpopuler

Comments

Mukmini Salasiyanti

Mukmini Salasiyanti

So cweeetttt

2023-07-14

0

itha Nurhayati 😎

itha Nurhayati 😎

kok tamat si Kaka🤔🤔🤔🤔knp ngegantung

2022-11-05

2

lihat semua
Episodes
1 Terlambat lagi
2 Perkelahian di toilet perempuan
3 Diinterogasi diruang osis
4 Keberingasan the king SMA Garuda
5 Kecewa yang kesekian kalinya
6 Laki-laki brengsek
7 Perjodohan yang tak diinginkan
8 Menjadi candu
9 Pembelaan The King SMA Garuda
10 Bertemu anak kecil
11 Karakter tsundere
12 Club night
13 Kisah the King SMA Garuda
14 Rendra marah
15 Perempuan berkacamata
16 Datang bulan
17 Kepedulian Agam
18 18
19 19
20 20
21 VISUAL!
22 Dan ternyata
23 22
24 23
25 Menyesakkan
26 25
27 Parkiran
28 Cari angin dimalam hari
29 Kejadian
30 Kecemasan Bianca
31 Terciduk
32 Rumah pohon
33 Hari H
34 Ungkapan Agam
35 Nama anak
36 Menidurkan bayi besar
37 Jam kosong
38 Dia, siapa?
39 Beres-beres barang
40 Rumah baru
41 Nasi goreng
42 Something
43 Queen nembak King
44 Penyembuh akan menjadi luka baru?
45 Sebuah kisah
46 Pilihan
47 Teror?
48 Pengumuman Camping
49 Dua garis?
50 Kesalahan
51 Dalam perjalanan
52 Terciduk
53 Gubuk
54 Air terjun
55 Tidak akan mengalah
56 Sisi lain
57 Obsesi
58 Nenangin diri
59 Siapa?
60 First night
61 Pagi hari
62 Pergi dari rumah
63 Ingin pulang ke orang tua
64 Teror lagi?
65 Pilihan Camella
66 Sus?
67 Manja
68 Hamidun?
69 Minta jatah
70 Kerinduan pasturi muda
71 Kehabisan stok
72 Sherly, strong!
73 Perempuan rendahan
74 Kecelakaan?
75 Bocil nya Agam sudah dewasa
76 Rawat bayi besar
77 Di usir
78 Pulang ke rumah
79 Sayang?
80 Adik, coming soon!
81 Bakso buaya
82 Suami Vs Pacar
83 Menantu durhaka
84 Uwuw depan umum
85 Di keluarkan
86 Rencana licik
87 Di culik?
88 Terbongkar
89 Memberi pelajaran
90 Akhir dari kisah double S
91 Anjing dan kucing
92 Masih dengan penyesalan
93 Ketemu Samuel
94 Kejujuran
95 Di culik lagi?
96 Pertemuan Ayah dan Anak
97 Adik?
98 Ikut Ayah?
99 Musibah
100 Kabar duka
101 Alena dan Rendra
102 Pewaris
103 London
104 Terjebak
105 Cantika sadar
106 Keputusan Zella
107 Ini adalah yang terbaik
108 Keberangkatan Gilbert (End)
109 Promosi!
110 Epilog!
111 Extra part 01
112 Extra part 02
113 Extra part 03
114 Extra part 04
115 Extra part 05
116 Extra part 06
117 Extra part 07
118 Extra part 08
119 Extra part 09
120 Extra part 10
121 Extra part 11
122 Extra part 12
123 Extra part 13
124 Extra part 14
125 Extra part 15
126 Extra part 16
127 Extra part 17
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Terlambat lagi
2
Perkelahian di toilet perempuan
3
Diinterogasi diruang osis
4
Keberingasan the king SMA Garuda
5
Kecewa yang kesekian kalinya
6
Laki-laki brengsek
7
Perjodohan yang tak diinginkan
8
Menjadi candu
9
Pembelaan The King SMA Garuda
10
Bertemu anak kecil
11
Karakter tsundere
12
Club night
13
Kisah the King SMA Garuda
14
Rendra marah
15
Perempuan berkacamata
16
Datang bulan
17
Kepedulian Agam
18
18
19
19
20
20
21
VISUAL!
22
Dan ternyata
23
22
24
23
25
Menyesakkan
26
25
27
Parkiran
28
Cari angin dimalam hari
29
Kejadian
30
Kecemasan Bianca
31
Terciduk
32
Rumah pohon
33
Hari H
34
Ungkapan Agam
35
Nama anak
36
Menidurkan bayi besar
37
Jam kosong
38
Dia, siapa?
39
Beres-beres barang
40
Rumah baru
41
Nasi goreng
42
Something
43
Queen nembak King
44
Penyembuh akan menjadi luka baru?
45
Sebuah kisah
46
Pilihan
47
Teror?
48
Pengumuman Camping
49
Dua garis?
50
Kesalahan
51
Dalam perjalanan
52
Terciduk
53
Gubuk
54
Air terjun
55
Tidak akan mengalah
56
Sisi lain
57
Obsesi
58
Nenangin diri
59
Siapa?
60
First night
61
Pagi hari
62
Pergi dari rumah
63
Ingin pulang ke orang tua
64
Teror lagi?
65
Pilihan Camella
66
Sus?
67
Manja
68
Hamidun?
69
Minta jatah
70
Kerinduan pasturi muda
71
Kehabisan stok
72
Sherly, strong!
73
Perempuan rendahan
74
Kecelakaan?
75
Bocil nya Agam sudah dewasa
76
Rawat bayi besar
77
Di usir
78
Pulang ke rumah
79
Sayang?
80
Adik, coming soon!
81
Bakso buaya
82
Suami Vs Pacar
83
Menantu durhaka
84
Uwuw depan umum
85
Di keluarkan
86
Rencana licik
87
Di culik?
88
Terbongkar
89
Memberi pelajaran
90
Akhir dari kisah double S
91
Anjing dan kucing
92
Masih dengan penyesalan
93
Ketemu Samuel
94
Kejujuran
95
Di culik lagi?
96
Pertemuan Ayah dan Anak
97
Adik?
98
Ikut Ayah?
99
Musibah
100
Kabar duka
101
Alena dan Rendra
102
Pewaris
103
London
104
Terjebak
105
Cantika sadar
106
Keputusan Zella
107
Ini adalah yang terbaik
108
Keberangkatan Gilbert (End)
109
Promosi!
110
Epilog!
111
Extra part 01
112
Extra part 02
113
Extra part 03
114
Extra part 04
115
Extra part 05
116
Extra part 06
117
Extra part 07
118
Extra part 08
119
Extra part 09
120
Extra part 10
121
Extra part 11
122
Extra part 12
123
Extra part 13
124
Extra part 14
125
Extra part 15
126
Extra part 16
127
Extra part 17

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!