..."Bukannya aku marah, hanya sedang kecewa. Dan bukannya aku nggak peduli, hanya saja mau dimengerti."...
..._Bianca Dealova Christabel...
...***...
Agam memberhentikan motor besarnya didepan sebuah cafe yang bisa di bilang cukup mewah, tempat yang biasa dikunjungi dirinya dan teman-temannya. Ia melepas helm full face-nya sebelum menyugar rambutnya kebelakang.
Laki-laki dengan jaket hitam senada dengan celana jeans itu turun dari motor dan berjalan memasuki cafe dengan memasukkan tangan disaku celana. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari dimeja bagian mana ketiga temannya duduk. Matanya berhenti tepat di meja bagian sudut.
"Nah akhirnya datang juga tuh muka tembok!" seloroh Camella dengan arah tatapan mengarah kepada Agam yang berjalan menghampiri mereka. Hal itu, membuat Nathan dan Bella mengalihkan perhatian secara kompak kearah Agam.
Agam mengambil posisi duduk didepan Nathan dan Camella. Aura dingin dan datarnya tak pernah lepas dari muka ganteng lelaki tersebut. Bella meraup wajah Agam. "Sekali-kali senyum napa!" Agam membalasnya dengan tatapan datar membuat Bella berdecak kesal.
"Dasar tembok!" makinya.
Nathan dan Camella terkekeh. "Udah dari sananya." sahut Nathan santai memangku kaki.
"Jadi gimana. Cobain menu baru atau enggak?"
"Belum mesan?" tanya Agam tanpa ekspresi.
"Belum lah! kan nungguin kamu!" cerocos Nathan. Ia melambai-lambaikan tangan untuk memanggil Waitress. Memancing Waitress datang dengan sopan dan memberikan buku menu kepada Nathan.
"Hmm kami mau cobain seluruh menu baru yang tersedia aja." ujar Nathan sambil melihat isi menu tersebut. Waitress itu mengangguk sembari meraih kembali buku menu kemudian berjalan kearah stand makanan.
"Sambil nunggu pesanan datang. Gimana kita main permainan!" Seru Bella.
"Ayok-ayok!"
"Tapi permainan apa?"
Bella mengerlingkan mata sembari mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di pipi berpikir. Ia tersenyum lebar saat mengingat sebuah ide permainan seru menurutnya.
"Kita suit! siapa kalah paling terakhir, dia harus menjawab satu masing-masing pertanyaan dari yang menang." Bella mengacungkan jari telunjuk menggulirkan menyapu ketiga temannya tidak ada yang luput.
"Dan kalo misalnya, pertanyaan itu tak bisa dijawab orang yang kalah tersebut. Maka orang itu harus menyelesaikan tantangan dari yang menang."
"Oke!" sahut Camella dan Nathan bersamaan. Agam hanya menatap mereka dengan raut datar tanpa minat. Kekanak-kanakan sekali! Pikirnya. Ketiganya menoleh bersamaan kepada Agam membuat laki-laki itu mengernyitkan dahi bingung. "Kenapa?"
"Kenapa kenapa! lo ikut main juga lah!" greget Nathan. Disambut oleh Agam dengan merotasikan bola mata malas. "Gak!"
"Please Gam, ikutlah yah yah yah!" ketiganya memberikan ekspresi memelas dan tatapan imut yang dibuat-buat. Agam berdecak kesal melihatnya.
"Yaudah ayok!" kesalnya.
"Yeay!" Sorak riang ketiganya bersamaan. Keempat remaja itu segera mempersiapkan tangan mereka ditengah-tengah dan melambai-lambaikan tangan tersebut di udara.
"Gunting batu kertas!"
Hening beberapa detik, Nathan, Camella dan Bella mendongak dengan senyuman penuh arti menatap Agam. Ketiganya membentuk tangan mereka dengan batu. Dan hanya Agam yang membentuk gunting. Alhasil, Agam lah yang kalah. Benar-benar kalah telak!
"Siapa dulu nih yang tanya?" tanya Camella menoleh kepada Nathan dan Bella.
"Lo aja deh." sahut Bella.
"Hmm oke." Camella mengetuk-ngetuk jari telunjuknya dipipi memikirkan pertanyaan yang cukup membuat Agam tak berkutik.
"Nama perempuan yang menjadi cinta pertama lo?"
Langsung saja Agam menjawab."Mira."
Mendengar jawaban Agam itu, membuat ketiga temannya itu langsung heboh ditempat. "Wahh serius?! cewek yang dari mana?! kita-kita pernah lihat gak?!"
"Mama gue." sahut Agam datar membuat ketiga temannya mendesah kesal.
"Bukan gitu konsepnya Gam. Maksud dari pertanyaan Mella itu. Cewek yang menjadi cinta pertama lo, yang lo liatnya itu sebagai lawan jenis." jelas Nathan gregetan.
"Gak ada."
Ketiganya meremas jemari menahan kesal. "Oke giliran lo lagi Nath." titah Camella menghembuskan napas.
"First kiss?!" Satu alis Nathan terangkat.
Agam terdiam saat pertanyaan itu berujar. Dirinya tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan yang mengandung unsur 18+ dari Nathan tersebut.
"Bunana cake, pastry cream, sanwich telur, latte dan capuccino." Sela sang Waitress meletakkan satu persatu hidangan diatas meja. Agam dapat bernapas lega. Akhirnya dirinya selamat dari pertanyaan yang membuatnya frustasi!
"Selamat menikmati." Waitress itu kemudian beranjak dari sana. Mata Nathan, Camella dan Bella berbinar saat melihat hidangan tersebut. Seketika ketiganya melupakan tentang permainan mereka tadi dan teralih kepada hidangan manis di hadapan mereka.
"Loh Gam kamu disini?" Agam menoleh kepala kearah sumber suara. Terlihat pria setengah baya sedang berjalan menghampirinya.
"Pa? papa ngapain disini?"
"Tadi papa ketemu sama teman papa disini." Bastian menoleh kepada tiga teman Agam yang sedang sibuk menyantap makanan.
"Hai om." Sapa Nathan ramah. Ia menyengir menatap Bastian sembari mengunyah makanan didalam mulut. Bastian menanggapinya dengan senyum ramah dan anggukkan kepala sekilas.
"Cantika sama siapa dirumah?" tanyanya mengalihkan atensi lagi pada Agam.
"Sama Bi Siti." Jawab Agam seadanya.
"Loh bi Siti kan kalo jam sembilan udah pulang kerumahnya Gam. Papa bakalan lembur di kantor malam ini."
Bastian melirik jam tangan yang melingkar di lengannya. "Sepuluh menit lagi jam sembilan. Pulang gih Gam, temenin Cantika dirumah. Kasian, nanti dia sendirian." pintanya.
Agam melirik teman-temannya yang kebetulan melirik kepadanya juga. "Gih pulang sana. Kasian Adek kamu sendirian dirumah,"
"Tapikan dia belum makan nih menu baru, enak banget. Cobain dulu deh Gam sebelum pulang." tawar Camella mendapat gelengan dari Agam.
"Gue pulang duluan." pamitnya singkat. Ia segera bangkit dari duduk dan beranjak pergi dari sana.
"Yaudah. Om juga permisi dulu yah." pamit Bastian tertuju untuk ketiga remaja yang tidak lain rekan dari sang putra. Nathan, Camella dan Bella mengangguk sebagai tanggapan.
"Hati-hati om." seru Nathan.
****
Suara deburan ombak mengalun begitu merdu, ribuan bintang bertaburan atas langit sana. Sinar rembulan bersinar begitu terang malam ini. Mata Bianca terpejam menikmati semilir angin yang berhembus. Disinilah dirinya dan Lucas berada, berdiri di ujung dermaga menikmati pemandangan laut malam juga benda-benda di angkasa ditemani sinar rembulan.
Tak hanya mereka berdua ditempat ini, ada beberapa pasangan seperti mereka juga menikmati suasana malam ditempat ini.
Kedua tangan Lucas menyelip di pinggang ramping Bianca, gadis itu dapat merasakan bobot bertumpu di bahunya, Lucas memeluknya dari belakang dengan dagu bertumpu di atas bahu Bianca dengan tatapan mengarah keatas langit.
"Kamu lihat Bintang yang paling terang sana?" tanyanya menunjuk bintang yang berkelip paling terang. Bianca menganggukkan kepala.
"Bintang itu namanya sirius" Lucas menyelipkan rambut Bianca yang menjuntai kebelakang telinga dengan tatapan mengarah kewajah Bianca menatap gadis itu dari sudut samping.
"Cahayanya lebih terang diantara dari ribuan bintang lainnya." Lucas kembali mengalihkan tatapannya kearah langit.
"Seperti kamu Bi. Bagi aku, diantara gadis-gadis di bumi ini, kamulah yang paling bersinar di mata aku seperti bintang itu." bisiknya setelah akhirnya mengecup ringan telinga Bianca.
Bianca menyunggingkan senyuman tersipu. Untunglah sekarang malam, jadi merah merona diwajahnya tak terlalu nampak. Inilah yang membuatnya sangat menyukai laki-laki ini, perlakuannya sangat romantis hingga membuat dirinya seperti melayang di udara.
Lucas mengurai pelukan dan mengubah posisi Bianca beralih menghadapnya. Lelaki itu menatap mata Bianca intens. Mata keduanya terkunci beberapa detik. Perlahan, tatapan Lucas turun ke bibir tipis berwana pink Bianca. Tangannya terangkat, ia mengusap bibir itu lembut.
"Boleh?" Lucas menatap mata gadis di hadapannya untuk meminta izin. Bianca bergeming sesaat. Lima bulan mereka menjalin hubungan. Namun, keduanya belum pernah berciuman dibibir. Di satu sisi, ia penasaran dengan rasa tersebut. Namun, disisi lain juga ia agak tegang. Pasalnya, ini adalah first kiss-nya
Perlahan, Bianca menganggukkan kepala sedikit ragu membuat kedua sudut bibir Lucas terangkat membentuk senyuman manis. Laki-laki itu perlahan mendekat, dan memiringkan wajahnya. Bianca menahan napas tegang saat jarak antara bibir keduanya tinggal satu centi.
Sedikit lagi, posisi bibir mereka nyaris bersentuhan, sialnya deringan ponsel didalam saku celana Lucas mampu membuat mereka cukup terganggu. Bianca membekap mulut Lucas dengan telapak tangannya. "Ponsel lo bunyi."
Lucas meraih tangan Bianca. "Udah, abaikan. Lanjut aja." ujarnya memiringkan kembali wajahnya mencoba membungkam bibir pink itu. Ia berdecak kesal saat ponselnya kembali berbunyi. "Ganggu banget sih." gerutunya. Dengan gerakan malas Lucas merogoh saku celana untuk mengeluarkan ponsel dari sana.
Kerutan didahi terlihat jelas saat melihat nama sang penelepon. Lucas kemudian menangkat panggilan tersebut. "Kenapa?"
"L-luc, hikss."
Mendengar tangisan diseberang, membuat raut Lucas seketika menjadi panik. Tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya karena cemas. "Kenapa La?"
"A-aku di pukul papa.." lirih dari seberang telepon.
"Kenapa Luc?" tanya Bianca bingung saat melihat Lucas yang berubah menjadi seperti orang linglung. Lucas tak merespon Bianca. Ia mondar-mandir tak jelas. "Lo, dimana sekarang?"
"A-aku kabur dari rumah. D-dan aku diculik. Aku disekap dirumah tua--"
"Berani-beraninya kamu nelepon kenalan kamu!" terdengar rusuh sekali diseberang sana. Seperti ponsel tersebut direbut oleh seseorang dan dilempar disembarang tempat.
"J-jangan!"
Panggilan terputus seketika membuat pikiran Lucas mendadak kalut. Ia menoleh kepada Bianca dengan raut panik. "Bia, kamu bisa pulang sendiri?"
"K-kamu mau kemana?"
"Aku harus nemuin Ella. Dia lagi butuh aku." ujar Lucas yang terlihat cemas sekaligus gelisah, Lelaki itu bergerak tak tenang. Melihat ekspresi yang begitu khawatir itu, membuat Bianca tersenyum getir. 'Ella lagi?'
"Aku gak punya banyak waktu. Kamu pulang sendiri ya Bia. Kali ini ngertiin aku." Lucas menepuk kedua bahu Bianca meminta agar gadis itu mengerti.
Bianca mengangguk kecil dan berusaha tersenyum manis. Mungkin bagi Lucas itu adalah senyuman tulus. Namun, dibalik itu, Lucas tak tahu jika senyuman itu adalah senyuman pahit yang penuh kekecewaan.
"Thanks Bi." Lucas mengecup sekilas pipi kanan Bianca sebelum benar-benar pergi meninggalkan gadis tersebut.
Bianca menatap nanar punggung Lucas yang detik demi detik kian menjauh dari pandangannya. "Kamu selalu minta aku buat ngertiin kamu. Tapi kamu gak pernah ngertiin aku." Gumamnya lirih.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Erina Situmeang
kalau laki" seperti itu lebih baik di putusin aja
2023-09-09
0
Mukmini Salasiyanti
Udahlah, bia
tinggalkan lucas... m
2023-07-14
1
Qaisaa Nazarudin
Karena keadaan mungkin Lucas lebih memilih sahabat,tapi disbb kan alesan inilah ntar Lucas akan menyesali sikapnya saat Bia di jodohkan dgn Agam,percaya deh..
2023-04-09
2