Tangan Bianca melingkar dileher Agam yang menggendongnya berjalan menuju mobil. Tentu saja Agam membawa mobil Papanya. Dia tak akan mampu membawa orang mabuk menggunakan motor.
Dan lihatlah Nathan saat ini. Ia begitu kerepotan mengurus Tasya. Cowok itu mengacak rambutnya frustasi. "Gimana nih njirr!"
Dia sudah menaikkan Tasya terlebih dahulu diatas motor. Tetapi tubuh gadis itu malah terhuyung. Kelihatannya gadis itu telah kehilangan sepenuhnya kesadarannya. Nathan mengalihkan pandangannya kearah Agam yang kini memasukkan Bianca kedalam mobil.
"Gam.. Bantuin dong." pintanya memelas. Agam berdecak menutup pintu mobil dan berjalan mendekati Nathan.
"Lo mau gue ngapain?"
"Lo pegangin dulu nih anak, tahan supaya tidak jatuh." Agam menurut. Ia memegangi kedua bahu Tasya agar tak terjatuh.
Nathan membuka jaketnya terlebih dahulu barulah naik keatas motor. Ia melingkarkan kedua tangan Tasya di pinggangnya dan menahannya menggunakan sebelah tangan.
Tangan lainnya ia gunakan untuk menyerahkan jaket tersebut. "Lo iketin jaket ini kepinggang kami."
Agam menyaut malas jaket tersebut. Berasa kek babu dianya. Lantas, ia mengikatnya kuat di pinggang Tasya dan Nathan agar gadis itu tak terjatuh. "Thanks Gam!"
Memutar bola mata tanda Agam jengah. "Gue duluan!" pamit Nathan mengangkat sebelah tangannya di udara dan berlalu dari sana.
Agam menghembuskan napas gusar kemudian berjalan memasuki mobil.
Setelah Agam memasang sabuk pengamannya, ia beralih memasangkan sabuk pengaman kepada Bianca.
Itu semua tak luput dari tatapan Bianca yang saat ini tak sepenuhnya sadar. Perlahan, kedua tangannya bergerak melingkar dileher Agam dan memeluknya.
Langsung saja Agam segera melepas tangan tersebut. "Jangan macem-macem!"
Gadis itu mencebikkan bibirnya. Ia melipat kedua tangannya didepan dada seperti orang mengambek kepada pacarnya. Kepalanya sedikit sempoyongan karena terasa seperti melayang.
"Cowok brengsek! seenaknya ninggalin gue sendiri! Lihat aja gue bakal cari cowok baru!" gerutu Bianca tak jelas.
Sembari memutar setir, Agam menggeleng-gelengkan kepala. Kini mobil itu telah berlalu dari parkiran.
Sebelah tangan Bianca terangkat, jari telunjuknya bergerak menulis pola abstrak diudara. "A.G.A.M." ejanya lalu tertawa seperti orang gila. "Ketos nyebelin! galak! tapi bibirnya..."
Agam diam menunggu perkataan Bianca selanjutnya.
"Manis." lanjutnya menggumam tapi masih dapat didengar oleh lelaki disebelahnya.
Senyuman Agam terbentuk sangat tipis, telinganya memerah salting mendengar perkataan Bianca. "Mau lagi?" tanyanya dengan intonasi rendah dan tak mendapat respon dari gadis disebelahnya.
Agam melirik Bianca yang kini sudah kehilangan kesadaran. Kepalanya hendak terhantuk di kaca pintu mobil, untung sebelah tangan Agam dengan sigap menahan kepala gadis itu dan ia pindahkan untuk menyandar di bahunya.
Dengan dahi berkerut Agam melirik kaca spion untuk memastikan. Dan benar saja sesuai firasatnya, sebuah mobil hitam mengikutinya dari belakang dan kalau tak salah mobil itu sudah mengikutinya sedari berlalu dari parkiran. Dikiranya tadi memang hanya kebetulan searah. Namun, sudah sejauh ini tetap mengikutinya itu membuat Agam merasa was-was.
Untuk lebih memastikan apakah mobil itu betul mengikutinya atau tidak, Agam berbelok ke geng kecil untuk bersembunyi. Dan benar saja, dari balik kaca spion, Agam dapat melihat bahwa mobil itu tampak berhenti sejenak saat kehilangan jejaknya kemudian melanjutkan kembali lajunya.
"Siapa sih?"
...***...
Mobil yang dikendarai Agam berhenti tepat didepan gerbang rumah Bianca. Saat satpam membuka gerbang barulah Agam memasukkan mobilnya ke perkarangan rumah Bianca.
Lelaki itu keluar dari mobil dengan Bianca digendongannya.
"Itu Non Bia kenapa?" tanya Pak Satpam menghampiri keduanya.
"Mabok." Singkatnya dan melirik rumah Bianca. "Didalam ada orang pak?"
Pak Satpam itu menggeleng, "Gak ada, nyonya sama tuan masih dikantor."
"Yaudah aku izin masuk ya pak mau bawa Bianca kedalam. "
"Oh, silahkan atuh. Yang penting jangan diapa-apain ya."
"Gak pak, cuma bawa keruangan aja, habis itu saya segera keluar." ujarnya meyakinkan dan mendapat anggukan dari pak satpam tersebut.
Dengan gerakan sedikit repot Agam membuka handle pintu utama dan berjalan masuk. Dia membawa Bianca entah keruangan apa. Ia tak tahu karena ini rumah orang asing.
Agam menurunkan tubuh Bianca di sofa panjang lalu memutar-mutar bahu untuk merenggangkan ototnya yang terasa keram.
Dia melirik Bianca sekejap dan menghembuskan napas.
Saat Agam hendak pergi, didetik yang sama pula Bianca malah menahan dan menarik pergelangan tangannya tiba-tiba. Alhasil, cowok itu kehilangan keseimbangan dan tubuh kekarnya jatuh menimpa tubuh mungil Bianca.
Dalam keadaan setengah sadar, Bianca menangkup rahang Agam menatapnya dengan tatapan sayu. "Muka lo kek ketos nyebelin itu ih!" aroma alkohol menguar dari mulut gadis itu.
Agam malah salah fokus ke bibir Bianca yang bergerak, memancing pikirannya langsung liar. Tanpa sadar dia meneguk saliva melihatnya.
"Ih lucu!" Telunjuk Bianca memain-mainkan jakun Agam yang bergerak. Laki-laki itu menahan tangan Bianca yang nakal. "Jangan." peringatnya dengan suara berat.
Bianca memajukan bibir bawahnya gemas. "Padahal gemes! Bia pengen pegang! pengen elus-elus! peng--emphh"
Bibir Bianca telah dibungkam oleh bibir tebal milik Agam. Padahal, tadi lelaki itu sudah berusaha menahan hasratnya untuk mencium gadis ini. Namun, pertahanan itu runtuh seketika saat melihat bibir itu terus mengoceh.
Sebelah tangan Agam bergerak menahan tengkuk Bianca untuk memperdalam ciuman. Bukan sekedar kecupan saja, kali ini Agam m.e.l.u.m.a.t bibir pink itu penuh kelembutan dan menyesapnya dalam.
Bianca diam tak membalas ciuman itu. Memang, dia belum tahu teknik ciuman. Apalagi kesadarannya saat ini tak full.
Lima detik Agam m.e.l.u.m.a.t bibir Bianca. Saat gadis itu memukul-mukul dadanya tanda kehabisan napas barulah ia menyudahinya. Dada keduanya naik turun dengan nafas yang memburu.
Wajah kedua remaja itu memerah padam dengan tatapan keduanya terkunci cukup lama. Mata Agam dipenuhi dengan kabut gairah saat ini.
Cowok itu merendahkan wajah dan mendekatkan bibirnya di leher Bianca.
Cup.
Bianca melipat bibir menahan lenguhan yang hendak keluar dari mulutnya saat Agam menyesap lehernya. Tentu Agam tak berhenti disitu saja, bibirnya terus bergerak menelusuri leher mulus itu hingga mencapai telinga dan menggigit kecil daun telinga tersebut.
"Enghhh"
Saat mendengar suara lenguhan itu, barulah Agam tersadar dari kekhilafannya dan secepat kilat segera bangkit.
Agam meraup wajahnya kasar. Bisa-bisanya dirinya kehilangan kendali, apalagi dengan orang yang tak sadar.
Kedua tangannya bertumpu diatas meja. Jantungnya berdetak begitu kencang membuat tangannya terkepal kuat merasakan gejolaknya hingga urat tangannya pun nampak menonjol.
"Damn it! I can be crazy."
Kemudian tatapannya teralih kearah Bianca yang kini sudah terlelap diatas sofa. "Lo lakuin apa ke gue Bianca?" lirihnya.
...***...
Mobil yang dikendarai Agam melaju begitu cepatnya membela jalanan ibu kota. Saat ini jalanan sedang sepi lantaran malam sudah larut. Ia sesuka hatinya mengendarai kendaraan tersebut dengan laju yang sangat kencang.
Hatinya saat ini sedang kacau. Terlepas dari perjodohan dengan perempuan yang sama sekali belum ia kenali. Dia juga baru menyadari perasaannya kepada Bianca yang sudah cukup dalam. Lantas apa yang harus dia lakukan?
Dia tak bisa menolak perjodohan itu tetapi rasa ingin memiliki Bianca sangat besar. Otak Agam saat ini benar-benar buntu. Apalagi Agam ingat tadi saat di ruang kerja papanya, papanya bilang akan mendatangi rumah gadis itu lusa malam.
Agam memukul setir frustasi. "Arghhh Bianca!" cengkramannya di setir menguat. "Gue harus apa?" lanjutnya melirih.
...***...
Pada saat yang sama, sebuah mobil mewah memasuki perkarangan rumah Bianca.
Kedua sepasang suami istri yang masih mengenakan sepasang setelan kerja itu turun dari dalam mobil. Walaupun malam sudah cukup larut, keduanya tetap kelihatan sangat berwibawa.
Hal yang pertama menyambut mereka saat masuk adalah keheningan juga sepi.
Rendra menghembuskan napasnya saat melihat anak gadisnya berbaring di sofa ruang keluarga. "Na, anak gadis kita tidur disofa."
Mendengar ucapan dari suaminya, Alena lantas menolehkan kepala kearah sofa dimana Bianca tertidur disana. Langkahnya mendekatinya dan diikuti Rendra .
Beliau menekuk lutut dan memandangi wajah lugu sang anak yang terlelap tidur. Sebelah tangannya terulur mengusap lembut surai anaknya. "Waktu cepat sekali berlalu ya Ndra, sekarang Bianca kita udah sebesar ini." ujar Alena.
Rendra juga ikut memandanginya dan menggeleng pelan. "Sebesar apapun dia akan tetap jadi Bianca kecil kita."
"Gimana kita batalin aja perjodohan itu dan kita bawa Bianca bersama kita ke Amerika?" tanya Alena. Beliau hanya takut jika anaknya tak bahagia dengan perjodohan yang bisa dibilang sangat konyol untuk zaman modern.
Rendra menggeleng tegas. "Enggak Na. keputusan aku itu udah bulat. Dan tadi Bastian telepon aku untuk ngabarin, besok lusa malam mereka akan mendatangi rumah kita."
Tatapan Alena terus berpusat kepada sang anak. Netranya terlihat berkaca-kaca. "Aku takut, lelaki gak bisa buat Bianca bahagia." lirihnya. Tentu seorang Ibu sangat ingin melihat anaknya hidup bahagia dan Beliau berharap lelaki itu dapat membahagiakan Bianca.
"Aku yakin Na, pilihan aku gak akan salah. Kalau semisalnya laki-laki itu tak memperlakukan anak kita dengan baik, aku pasti gak akan tinggal diam. " ucap Rendra mengusap pundak sang istri.
Usapan tangan Alena yang tak berhenti sedari tadi di kepala sang anak, ternyata mampu membuat tidur Bianca terganggu. Gadis itu perlahan membuka kelopak mata dan meringis kecil saat merasa kepalanya begitu pening.
"Bunda, Ayah." Bianca bangun dengan nyawa yang belum terkumpul penuh.
Saat gadis itu membuka suara, barulah aroma alkohol itu menguar dan tercium oleh kedua orang tuanya.
"Bia, kamu habis minum?"
Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat kesadaran Bianca langsung full lantaran menegang. Dia mengatupkan mulutnya.
"Habis dari mana kamu?!" nada suara Rendra dingin tetapi auranya saat ini begitu dark membuat suasana menjadi mencekam.
Gadis itu menggigit bibir saking gugupnya. "T-tadi aku main ke club sama Tasya" cicitnya takut-takut.
Rendra meraup wajahnya, raut mukanya terlihat sangat marah. "Lihatlah Na, belum juga ditinggal keluar negeri, anak ini sudah berani macam-macam tanpa sepengetahuan kita!" tatapannya menajam menatap Bianca.
"Memang paling bener dia harus dijodohkan!"
Tak ada yang bisa dilakukan oleh Alena selain hanya mengusap punggung anaknya yang nampak bergetar ketakutan lantaran ini pertama kalinya Rendra memperlihatkan amarah kepada Bianca.
"Anak gadis berani-beraninya main ketempat bejat seperti itu?! mau jadi apa kamu Bia?!" bentak Rendra berhasil membuat Bianca tersentak. Air mata gadis itu turun mendengar bentakan Rendra, pasalnya baru kali ini dia dibentak seperti itu oleh Ayahnya. "M-maf Yah."
Hanya dua kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Bianca, rasa takut menggelayuti perasaannya.
"Udah berapa kali kamu main ketempat seperti itu?!"
"Udah Ndra!" tegur Alena. Beliau tak mampu melihat anak gadisnya ketakutan dan menangis. "Gak papa Bia, Ayah kamu memang gitu kalo lagi marah. Kamu ke kamar aja gih."
Bianca mengangguk pelan dan beranjak dari duduknya. Diliriknya takut-takut Ayahnya yang saat ini sudah duduk seraya memijat pelipisnya. Kemudian gadis itu segera berjalan menaiki anak tangga.
"Kamu seharusnya gak usah pake bentak Bianca segala. Lihat, dia ketakutan banget." Alena berbicara tertuju untuk sang suami.
Rendra menghela napas panjang. "Reflek tadi."
...•TBC•...
...***...
Like sama vote nya jangan lupa ya:)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Hah lega..Aku tadi sempat deg degan takutnya saat mereka lagi kissing kepergok ama ortu Bianca,Langsung aja di nikahin mereka..😂😂😜
2024-11-26
0
Erina Situmeang
wajar seorang ayah marah saat tau anak gadisnya minum alkohol
2023-09-09
0
XYZJA
sepasang suami? gay kah?
2023-07-28
0