Karakter tsundere

Sebelumnya, Bastian menghubungi Agam untuk menyuruhnya menjemput Cantika disekolah karena Beliau ada meeting mendadak di kantor. Jadi, ia tak ada waktu luang untuk menjemput Cantika hari ini.

Saat diperjalanan menuju sekolah Cantika, tiba-tiba ban motor ninja hitam milik Agam bocor. Oleh karena itu, ia membawa kendaraannya terlebih dahulu ke bengkel terdekat dari tempatnya. Tadi pun ia mendorong beberapa kilo menuju bengkel.

Karena dalam keadaan genting, Agam memerintahkan sang montir untuk secepatnya menambalkan ban motornya. Sudah lebih tiga puluh menit ia menunggu ditempat ini. Ia menunggu dengan perasaan tak tenang dan memainkan ponsel.

Kenapa tak tenang? mungkin kalian mengira ia tak tenang sebab mencemaskan Cantika. Namun, kalian salah jika mengiranya seperti itu.

"Yang, ban motornya udah selesai ditambal." Sang montir menggerakkan tangan ala-ala Banci. Lebih tepatnya, montir ditempat ini adalah waria. Ia menatap Agam genit. Agam yang melihat hal tersebut pun langsung mendelik jijik. Ia masih normal!

Inilah yang membuatnya tak tenang. Montir di bengkel ini tak normal. Sedari tadi waria ini terus-terusan menggodanya sampai membuat Agam merinding ditempat.

"Berapa?"

"Sebenarnya 150Ribu. Tapi, demi ayang ganteng, akyu kasih diskon deh. Jadinya, 100Ribu aja." Montir itu mengedipkan sebelah matanya ke Agam.

Dengan gerakan cepat Agam merogoh saku seragam dan mengeluarkan uang berwarna merah dan lima puluh ribu. Ia meletakkan uang itu diatas meja. "Gak perlu diskon."

Setelah mengatakan itu, Agam segera menaiki motor dan memasang helm. Ia segera berlalu dari sana. Tak ingin berlama-lama. Karena selain ia terburu-buru untuk menjemput sang Adik, ia juga tertekan digoda oleh banci tersebut.

Montir itupun memberengut dan memajukan bibir bawah menatap figur Agam yang kini kian menjauh dari tempatnya. "Ihh ayang! belum kenalan atuhh!" Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal.

Sepuluh menit Agam berkendara dan akhirnya sampai di sekolah Cantika. Namun, ternyata gerbang sudah ditutup. Ia yakin pasti para murid disekolah ini sudah pulang. Salahkan dirinya yang telat menjemput. Lantas, pak satpam yang melihat diapun datang menghampirinya dan bertanya. "Cari siapa Dek?"

"Cari adek aku pak."

"Aduhh, anak-anak sudah pulang dari tiga puluh menit yang lalu dek."

Agam menganggukkan kepala paham. "Yaudah saya permisi pak." pamitnya dan segera berlalu dari sana.

Dua puluh menit Agam berkendara mengitari disebagian kota untuk mencari Cantika. Tetapi tak kunjung juga ia menemukan sang Adik tersebut. Hal itu, membuat hatinya merasa cemas dan tak tenang. Dia tak tahu anak itu kemana. Walaupun ia selalu kelihatan datar dan dingin kepada adiknya, tetapi ia teramat sayang dengan adiknya tersebut.

Dan selang lima puluh menit sudah berlalu, akan tetapi, ia tak kunjung menemukan adiknya. Agam pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Jika adiknya tak ditemukan ataupun tak kembali ke rumah dalam kurun waktu 24jam, ia akan melaporkan kasus ini ke polisi. Setidaknya itu rencana yang terpikir dibenak Agam saat ini lantaran saking khawatirnya kepada keadaan Cantika.

Tak terasa, Agam pun sudah sampai didepan gerbang rumahnya. Dahinya berkerut samar saat melihat motor matic yang tak asing terparkir di perkarangan rumahnya.

Pak satpam pun membuka gerbang.

"Pak Anton, itu motor siapa?" Agam menunjuk motor matic merah itu menggunakan dagu.

Satpam yang bernama Anton itupun sontak menoleh kearah motor yang dimaksud Agam. "Oh itu, motor cewek yang nganterin Cantika, den."

"Cantika udah pulang?" tanyanya mendapat anggukan dari Pak Anton.

Setelah mengetahui jika Cantika sudah pulang, Agam kemudian bergegas melajukan motornya masuk dan memarkirkannya di bagasi.

Tanpa ba-bi-bu ia segera berjalan dengan langkah lebar kearah pintu utama dan masuk. Raut wajahnya terlihat sangat jelas jika dirinya sangat menghawatirkan adiknya tersebut.

Matanya memindai liar mencari keberadaan sang adik. "Cantika!" panggilnya, tak mendapat respon. Namun, ia mendengar suara ocehan juga tawaan dari arah ruang tamu.

Ia segera berjalan kearah tempat itu. "Cantika!" Agam menghampiri Cantika dan langsung meraih gadis itu kedalam pelukannya. Ia belum menyadari bahwa ada orang lain ditempat ini. "Tadi papa hubungin gue, buat jemput lo."

"A-abang, sesak.."

Agam makin mengeratkan pelukannya kepada gadis kecil tersebut dan menggumam, "Kenapa gak tunggu sampe Abang datang? bikin khawatir, tahu."

"Cantika mana tahu Abang yang jemput." Cantika memberengut.

"Lagian, Abang kelamaan, jadi, Cantika coba pulang sendiri. Tapi, malah kesasar." Lanjutnya mendumel masih didalam pelukan sang Kakak.

Agam mengurai pelukan dan mengacak gemas rambut Cantika. "Yaudah maaf."

Bianca berdehem untuk menetralkan suasana, ia merasa terabaikan disini. Posisinya saat ini duduk di sofa tunggal sebelah kiri.

Mendengar deheman tersebut, Agam baru sadar jika ada orang lain disini. Agam sontak menoleh kearah Bianca.

Dan kembali mendatarkan raut wajahnya. "Thanks." Sudah dia duga, gadis inilah yang telah mengantarkan adiknya. Saat melihat motor yang terparkir di depan rumah, ia sudah tahu.

"Jadi, lo kakaknya Cantika?"

Agam tak menjawab, dia duduk di space kosong disamping adiknya. Malah Cantika yang mengangguk semangat untuk memberikan respon kepada Bianca. "Ini Abang Cantika. Tapi dia orangnya cuek, dingin, datar. Cantika berasa punya Abang seleb." celotehnya.

Bianca terkekeh mendengarnya. "Disekolah juga dia juga gitu kok. Kalo ngomong sama dia berasa kek ngomong sama tembok." cibirnya melirik Agam yang tetap dengan ekspresi datarnya. "Tuh liat! sekarang aja mukanya tetap datar!" tunjuknya ke muka Agam.

Agam tak merespon. Namun, atensinya teralih ke arah sikut dan lengan Bianca yang terdapat luka dan darah mengering.

"Abang, sekali-kali senyum napa!" dengus Cantika melempar bantal sofa kepada Agam.

Agam memutar bola mata malas. "Mahal!"

"Dasar!"

Bianca terkekeh kecil melihat interaksi antara adik dan kakak tersebut. Sifat keduanya sangat berbanding terbalik. Cantika cerewet juga ramah. Agam yang datar, dingin dan irit bicara. Dilihat-lihat pun keduanya seperti bukan saudara.

Bianca kemudian melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. "Tika, mumpung kakak lo udah disini, aku pamit ya mau pulang."

"Yahh, padahal Cantika pengen main-main dulu sama kakak." Cantika terlihat kecewa.

"Nanti kapan-kapan kakak main lagi kesini deh." Bianca berdiri dan menyaut tasnya diatas meja.

Mata Cantika berbinar senang mendengarnya. "Beneran?" tanyanya mendapat anggukan dari Bianca.

"Yaudah aku pamit pulang ya." pamitnya. Ia hendak berlalu dari sana. Namun, suara Agam kembali menghentikkan langkahnya.

"Tunggu."

Bianca menoleh dengan raut bingung. "Kenapa?"

Agam melirik Cantika. "Kamu keatas gih, ambil kotak P3K di laci Abang."

Gadis kecil itu menatap Agam polos. "Buat apa Bang?"

"Udah, ambilin aja sana."

Walaupun masih dalam keadaan otak masih loading, Cantika tetap bangkit dan berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamar Agam.

Agam melirik Bianca yang saat ini masih berdiri ditempatnya tadi. "Mau sampai kapan berdiri terus?"

"Kan gue mau pulang."

"Duduk." titah Agam datar.

Raut wajah Bianca terlihat bingung. Namun ia tetap menurut, ia kembali berjalan kearah sofa tadi dan mendudukkan dirinya kembali ditempat itu. "Emang kenapa sih?"

Lagi-lagi Agam tak merespon, ia tetap memperlihatkan tatapan dingin dan datarnya kearah Bianca membuat gadis itu berdecak sebal. Ia memilih diam saja, dari pada berbicara dengan Agam berasa kaya berbicara dengan tembok.

Tiga detik dalam keadaan hening. Sungguh, Bianca tak suka keadaan hening seperti ini. "Ternyata, King SMA Garuda punya hati juga ya." celetuknya tiba-tiba.

Sebelah alis Agam terangkat menatap Bianca. "Maksud?"

"Iya, lo tadi kelihatan peduli banget sama adek lo. Gak nyangka gue sumpah."

Jujur, Bianca sempat tercengang melihat sikap Agam terhadap Cantika tadi. Tak menyangka jika lelaki yang terlihat datar, dingin, dan galak ini bisa sepeduli itu kepada seseorang.

"Dia kan adek--"

"Bang, ini kotak P3K nya." Cantika datang dan meletakkan kotak P3K tersebut diatas meja. "Emang buat apa sih?" tanyanya menatap bingung kepada Agam.

"Ke kamar gih, ganti baju seragam lo dulu." Bukannya menjawab, Agam malah menyuruhnya untuk kekamar.

Cantika tersenyum jahil dan mengacungkan jari telunjuknya kepada Agam. "Ciee mau berduaan sama kakak Bia ya?"

Agam mendelik samar, "Apa sih."

"Iya-iya deh, gue ke kamar dulu ya kak Bia," Cantika mendekat kepada Bianca dan membisikkan sesuatu. "Kakak gak pengen ada pengganggu. Dia pengen berduaan sama kamu."

Cantika terkikik geli kemudian berlari kecil menaiki anak tangga.

Kedua pipi Bianca memerah tanpa sebab. Entah mengapa ia jadi teringat kejadian tadi waktu disekolah. Ia tiba-tiba merasa udara ditempat ini menjadi panas. Padahal sebelumnya, ia merasa adem-adem saja. Gadis itu mengipasi wajahnya menggunakan tangan.

"Kenapa lo?" Agam meraih kotak P3K dan membukanya.

"E-enggak, gerah aja." Tangan Bianca berayun-ayun di udara.

Agam melirik Bianca dan menepuk space kosong disebelahnya, "Sini."

"Kenapa sih?"

Lelaki itu berdecak. Dia tak ingin kebanyakan basa-basi. Inginnya, jika ada sesuatu yang ia suruh harus segera dilaksanakan. "Cepetan sini."

Bianca berpindah posisi duduk disebelah Agam. Ia menatap laki-laki itu heran. "Emang Kakak mau ngapain sih?"

Agam tak menjawab, tangannya terulur meraih sikut Bianca dan meneliti luka itu. Ia menghela napas dan meraih obat juga kapas di kotak yang sudah ia buka tadi.

Dengan telaten Agam mengolesi luka itu, sekali-kali ia meniup ditempat luka tersebut agar tak terlalu perih jika tersentuh cairan alkohol. Bahkan Bianca tak merasakan perih sama sekali lantaran Agam mengobati-nya penuh kelembutan.

Bianca menatap laki-laki itu dalam diam. Dari perlakuan Agam saat ini, ia bisa menyimpulkan bahwa Agam adalah tipe lelaki yang mempunyai karakter tsundere.

"Luka kenapa?" tanya Agam disela-sela aktifitasnya.

"Jatuh dari motor."

Agam menyentil dahi gadis itu. "Ceroboh."

Sebelah tangan Bianca mengusap-ngusap dahinya dan mengerucutkan bibirnya gemas. "Sakit tau." adunya.

Agam membereskan kembali obat antiseptik itu kedalam kotak lantaran ia telah selesai mengobati Bianca. "Lain kali hati-hati."

Bianca memberengut. "Iya iya."

Agam menegakkan duduknya dan menoleh kepada Bianca dengan ekspresi datar. "Sana pulang."

"Kok ngusir sih?!"

"Kan emang lo tadi maunya pulang kan?" Agam melipat kedua tangannya didepan dada.

Bianca melempar bantal sofa kepada Agam hingga nemplok di wajah gantengnya. "Anjing lo!" umpatnya sembari beranjak dari sana dengan perasaan kesal. Ia bingung dengan laki-laki itu, sifatnya cepat sekali berubah. Padahal, baru saja Bianca merasa hangat diperlakukan lembut oleh Agam seperti tadi. Namun, laki-laki itu kembali memunculkan sifat dingin dan datarnya.

...***...

Pukul 03:55 Bianca sampai dirumah. Ia meletakkan tasnya diatas meja belajar kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu. Lelah sekali rasanya terkena sial terus.

Bahkan, badannya terasa sakit semua. Lima detik ia berdiam dengan pikiran kosong, perlahan, kelopak matanya kian menutup lantaran terasa berat karena rasa kantuk. Dunia mimpi hendak menyambutnya, akan tetapi, deringan ponsel mampu membuat kesadarannya kembali.

Gadis itu mendengus jengkel lantaran merasa terganggu. Ia membuka ponsel dan mengangkat panggilan tersebut tanpa memperhatikan siapa yang menelepon.

"Kenapa?"

"Bia, bales chat aku. Dari tadi malem, kamu belum bales chat aku Bi." Suara Lucas terdengar dari seberang telepon.

Bianca memberengut. Entah mengapa ia jadi hilang respect dengan lelaki ini lantaran sudah beberapa kali ia meninggalkannya sendirian demi cewek lain. "Kenapa?"

"Kamu marah sama aku Bi? maaf yaa soal yang semalem.."

Ini yang paling tak disukai oleh Bianca. Tiap melakukan kesalahan selalu meminta maaf tetapi selalu di ulangi kembali, itupun kesalahan yang sama. Kalau dipikir-pikir, buat apa meminta maaf kalau pada akhirnya diulangi lagi?

"Udah, itu doang?"

"Aku bener-bener minta maaf Bi. Janji gak bakal ulangi lagi." suara Lucas terdengar meyakinkan.

Bianca memutar bola mata malas. Entahlah, ia merasa kata-kata dari Lucas semuanya hanya omong kosong. Beberapa kali Lucas berjanji beberapa kali juga ia mengingkarinya dan itu semua membuatnya merasa kecewa. Ia tak akan tertipu untuk yang kesekian kalinya.

"Kalo lo cuma mau membicarakan hal omong kosong, mending matiin dah, ngantuk gue, mau bobok."

"Lo-gue? Bi? Kamu manggil Lo-gue sama aku?"

"Terserah gue!" cuek Bianca memutuskan panggilan sepihak. Ia masih sangat teramat kesal dengan laki-laki itu. Untuk beberapa pekan ke depan ia tak ingin melihat muka lelaki itu.

Sementara itu disisi lain, Lucas memandangi layar ponselnya dengan tatapan kosong lantaran Bianca telah mengakhiri panggilan. "Bi, maafin aku." gumamnya.

"Luc, kamu habis hubungin pacar kamu?" celetuk perempuan yang baru saja datang dan mendudukkan dirinya di sofa seberang Lucas.

Lelaki itu menganggukkan kepala. Wajahnya terlihat muram. "Kayaknya kali ini dia marah banget La. Pasalnya, udah beberapa kali dia, gue tinggal sendirian saat lo butuh gue."

Perempuan itu bangkit mendekati Lucas dan menepuk pundak lelaki itu untuk memberinya semangat. "Gak papa Luc, itu hanya emosi sesaat aja. Nanti, kalo dia udah merasa baikan lagi, dia pasti bakal maafin kamu."

Lucas menunduk dengan perasaan berkecamuk. "Gue harap begitu." gumamnya.

...•TBC•...

...***...

Terpopuler

Comments

Ratu Fadira

Ratu Fadira

nah itu dia jd bumerang buat dia sendiri kan, wajar kl bianca marah krn bkn sekali sprti itu

2024-08-11

0

Erina Situmeang

Erina Situmeang

ya marah lah...
kalau tiap jumpa ditinggalin melulu

2023-09-09

0

Heni Hendrayani🇵🇸🇵🇸🥰🥰

Heni Hendrayani🇵🇸🇵🇸🥰🥰

ninngalin cewek nya sendirian malam malam d tempat sepi demi nyelamatin shsbt nya yg perempuan lah dia gak mikir gitu kalau cewek nya kenpa knapa?

2023-07-27

0

lihat semua
Episodes
1 Terlambat lagi
2 Perkelahian di toilet perempuan
3 Diinterogasi diruang osis
4 Keberingasan the king SMA Garuda
5 Kecewa yang kesekian kalinya
6 Laki-laki brengsek
7 Perjodohan yang tak diinginkan
8 Menjadi candu
9 Pembelaan The King SMA Garuda
10 Bertemu anak kecil
11 Karakter tsundere
12 Club night
13 Kisah the King SMA Garuda
14 Rendra marah
15 Perempuan berkacamata
16 Datang bulan
17 Kepedulian Agam
18 18
19 19
20 20
21 VISUAL!
22 Dan ternyata
23 22
24 23
25 Menyesakkan
26 25
27 Parkiran
28 Cari angin dimalam hari
29 Kejadian
30 Kecemasan Bianca
31 Terciduk
32 Rumah pohon
33 Hari H
34 Ungkapan Agam
35 Nama anak
36 Menidurkan bayi besar
37 Jam kosong
38 Dia, siapa?
39 Beres-beres barang
40 Rumah baru
41 Nasi goreng
42 Something
43 Queen nembak King
44 Penyembuh akan menjadi luka baru?
45 Sebuah kisah
46 Pilihan
47 Teror?
48 Pengumuman Camping
49 Dua garis?
50 Kesalahan
51 Dalam perjalanan
52 Terciduk
53 Gubuk
54 Air terjun
55 Tidak akan mengalah
56 Sisi lain
57 Obsesi
58 Nenangin diri
59 Siapa?
60 First night
61 Pagi hari
62 Pergi dari rumah
63 Ingin pulang ke orang tua
64 Teror lagi?
65 Pilihan Camella
66 Sus?
67 Manja
68 Hamidun?
69 Minta jatah
70 Kerinduan pasturi muda
71 Kehabisan stok
72 Sherly, strong!
73 Perempuan rendahan
74 Kecelakaan?
75 Bocil nya Agam sudah dewasa
76 Rawat bayi besar
77 Di usir
78 Pulang ke rumah
79 Sayang?
80 Adik, coming soon!
81 Bakso buaya
82 Suami Vs Pacar
83 Menantu durhaka
84 Uwuw depan umum
85 Di keluarkan
86 Rencana licik
87 Di culik?
88 Terbongkar
89 Memberi pelajaran
90 Akhir dari kisah double S
91 Anjing dan kucing
92 Masih dengan penyesalan
93 Ketemu Samuel
94 Kejujuran
95 Di culik lagi?
96 Pertemuan Ayah dan Anak
97 Adik?
98 Ikut Ayah?
99 Musibah
100 Kabar duka
101 Alena dan Rendra
102 Pewaris
103 London
104 Terjebak
105 Cantika sadar
106 Keputusan Zella
107 Ini adalah yang terbaik
108 Keberangkatan Gilbert (End)
109 Promosi!
110 Epilog!
111 Extra part 01
112 Extra part 02
113 Extra part 03
114 Extra part 04
115 Extra part 05
116 Extra part 06
117 Extra part 07
118 Extra part 08
119 Extra part 09
120 Extra part 10
121 Extra part 11
122 Extra part 12
123 Extra part 13
124 Extra part 14
125 Extra part 15
126 Extra part 16
127 Extra part 17
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Terlambat lagi
2
Perkelahian di toilet perempuan
3
Diinterogasi diruang osis
4
Keberingasan the king SMA Garuda
5
Kecewa yang kesekian kalinya
6
Laki-laki brengsek
7
Perjodohan yang tak diinginkan
8
Menjadi candu
9
Pembelaan The King SMA Garuda
10
Bertemu anak kecil
11
Karakter tsundere
12
Club night
13
Kisah the King SMA Garuda
14
Rendra marah
15
Perempuan berkacamata
16
Datang bulan
17
Kepedulian Agam
18
18
19
19
20
20
21
VISUAL!
22
Dan ternyata
23
22
24
23
25
Menyesakkan
26
25
27
Parkiran
28
Cari angin dimalam hari
29
Kejadian
30
Kecemasan Bianca
31
Terciduk
32
Rumah pohon
33
Hari H
34
Ungkapan Agam
35
Nama anak
36
Menidurkan bayi besar
37
Jam kosong
38
Dia, siapa?
39
Beres-beres barang
40
Rumah baru
41
Nasi goreng
42
Something
43
Queen nembak King
44
Penyembuh akan menjadi luka baru?
45
Sebuah kisah
46
Pilihan
47
Teror?
48
Pengumuman Camping
49
Dua garis?
50
Kesalahan
51
Dalam perjalanan
52
Terciduk
53
Gubuk
54
Air terjun
55
Tidak akan mengalah
56
Sisi lain
57
Obsesi
58
Nenangin diri
59
Siapa?
60
First night
61
Pagi hari
62
Pergi dari rumah
63
Ingin pulang ke orang tua
64
Teror lagi?
65
Pilihan Camella
66
Sus?
67
Manja
68
Hamidun?
69
Minta jatah
70
Kerinduan pasturi muda
71
Kehabisan stok
72
Sherly, strong!
73
Perempuan rendahan
74
Kecelakaan?
75
Bocil nya Agam sudah dewasa
76
Rawat bayi besar
77
Di usir
78
Pulang ke rumah
79
Sayang?
80
Adik, coming soon!
81
Bakso buaya
82
Suami Vs Pacar
83
Menantu durhaka
84
Uwuw depan umum
85
Di keluarkan
86
Rencana licik
87
Di culik?
88
Terbongkar
89
Memberi pelajaran
90
Akhir dari kisah double S
91
Anjing dan kucing
92
Masih dengan penyesalan
93
Ketemu Samuel
94
Kejujuran
95
Di culik lagi?
96
Pertemuan Ayah dan Anak
97
Adik?
98
Ikut Ayah?
99
Musibah
100
Kabar duka
101
Alena dan Rendra
102
Pewaris
103
London
104
Terjebak
105
Cantika sadar
106
Keputusan Zella
107
Ini adalah yang terbaik
108
Keberangkatan Gilbert (End)
109
Promosi!
110
Epilog!
111
Extra part 01
112
Extra part 02
113
Extra part 03
114
Extra part 04
115
Extra part 05
116
Extra part 06
117
Extra part 07
118
Extra part 08
119
Extra part 09
120
Extra part 10
121
Extra part 11
122
Extra part 12
123
Extra part 13
124
Extra part 14
125
Extra part 15
126
Extra part 16
127
Extra part 17

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!