Plang!
Suara pecahan gelas kaca terdengar begitu nyaring dari arah dapur.
Secara otomatis Bastian yang mendengarnya segera berjalan dengan tergesa-gesa menuju dapur. "Ada apa Dian?"
Mata Bastian membulat melihat Diandra sang istri tengah bersandar dibagian dinding dapur dengan menahan kesakitan tiada tara. Wanita itu merintih. Air ketuban mengalir dari sela-sela kaki.
Bastian ling-lung. Seketika, dirinya tak tahu harus berbuat apa. Pikirannya tiba-tiba terasa kosong saat melihat istrinya begitu kesakitan. Dia begitu panik dan takut. Tanpa pinggir panjang ia segera berlari keruang tengah dan menyaut kunci di atas meja. Setelahnya, ia kembali menuju dapur.
"M-mas.." rintih Diandara mengerang sakit. Tubuhnya hendak merosot kelantai, untung dengan sigap Bastian menahan tubuhnya dan menggendong Diandara ala bridal style.
"Tahan ya sayang, kita ke rumah sakit."
"Papa mau kemana?" tanya Agam mengucek mata. Dia terbangun dari tidurnya lantaran mendengar gaduh dari dapur tadi.
"Papa mau bawa mama ke rumah sakit. Kamu dirumah aja ya, jangan takut, ada pak Anton jaga didepan sana."
Setelah mengatakan itu, Bastian dengan terburu-buru beranjak dari sana dengan Diandara berada di gendongannya.
"Tahan ya sayang." Bastian mengusap bulir keringat di dahi Diandra yang saat ini tengah menahan kesakitannya. Sementara sebelah tangan Bastian masih sibuk menyetir.
"Erghh mas.. sakitt.." lirihnya. Bulir air mata turun mengalir membasahi pipi.
Bastian mengumpat dalam hati saat ponsel didalam saku celananya berdering. Ia mengabaikan telepon tersebut karena saat ini masih dalam keadaan genting. Istrinya lebih penting untuk saat ini. Namun, telepon tersebut terus berdering beberapa kali membuatnya cukup terganggu.
Akhirnya, ia mengangkat telepon tersebut dengan perasaan emosi. Ia tak sempat melihat siapa yang menghubunginya. "Kalo gak penting gue bunuh lo!"
"Santai-santai Bas.. tadi ada orang dari perusahaan lain yang nanya tentang perusahaan lo ke gue. Mungkin dia mau bekerja sama dengan lo."
Raut wajah Bastian seketika menjadi serius mendengar penuturan itu. Ia mengapit ponsel itu di antara bahu dan telinga dengan kedua tangannya sibuk mengemudi.
"Nama perusahaannya?"
Bastian tak terlalu memperhatikan kedepan hingga ia tak menyadari bahwa kendaraan beroda empat melaju cepat dari arah depan sana, walaupun masih terbilang cukup jauh jaraknya, tetapi kecepatan mobil itu sangat kencang.
Diandara yang melihat itu nampak panik. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan suara. "M-mas.."
"Bentar ya sayang." Bastian masih sibuk bercengkrama dengan orang dibalik telepon.
"Didepan.."
Terlambat, saat Bastian mengangkat pandangan, mobil itu sudah tepat berada didepannya dan dengan spontan dia membelokkan stir.
Brakkk
Mobil itu menabrak keras pembatas jalan dan ringsek.
...***...
Agam berbaring dengan posisi terlentang diatas ranjang. Dia meletakkan sebelah tangannya didahi dengan tatapan menatap langit-langit kamar. Dirinya kembali merenungi masa-masa yang telah ia lewati beberapa tahun silam.
Kata kebanyakan orang, Ayah adalah sosok superhero yang rela berkorban untuk keluarga. Tetapi, itu tidak bagi Agam. Menurut dari cerita Ibunya, dia dan Ibunya ditinggalkan oleh sosok yang orang-orang sebut sebagai pahlawan tersebut saat Ayahnya tahu jika Ibunya sedang mengandung dirinya. Dia tidak lebih dari anak yang tak di inginkan dari Ayah biologisnya sendiri. Alhasil, Ibunya harus menanggung semuanya sendiri.
Hamil diluar nikah dan diusir dari rumah. Mengandung sembilan bulan tanpa ada yang menemani disisinya dan menyemangatinya untuk berjuang. Melahirkan sampai merawat Agam hingga tumbuh besar.
Dan saat usia Agam 10 tahun, dia harus kehilangan sosok malaikat tanpa sayap tersebut. Ibunya meninggal lantaran sakit berat. Saat itu, ia kehilangan arah. Dirinya tak tahu bagaimana menjalani kehidupannya selanjutnya.
Sampai datang Bastian sebagai sanak saudara jauh dari Ibunya dan mengangkat Agam sebagai anak.
Agam bisa merasakan kasih sayang keluarga yang lengkap. Pria yang di sebutnya papa sangat baik dan begitu menyayanginya, sangat pantas disebut sebagai superhero.
Dan juga Agam kembali mendapat kasih sayang seperti Ibunya dari Mama Diandra. Tetapi, lagi-lagi, ia harus menerima kepahitan dari kehilangan sosok malaikat tanpa bersayap itu lagi. Mama Diandra meninggal lantaran kecelakaan. Untung, anak didalam kandungannya bisa terselamatkan.
Agam sempat berpikir. Apakah semesta tak mengizinkan dirinya mendapat kasih sayang dari seorang perempuan sampai-sampai Tuhan harus mengambil sosok malaikat-malaikat tanpa bersayap yang begitu menyayanginya?
Siapa sangka, The king SMA Garuda mempunyai kisah yang begitu menyedihkan seperti itu?
Agam bisa menggunakan perjodohan itu untuk keluar dari rumah ini. Bukannya ia tak mau hidup di tempat ini lagi. Tetapi, semata-mata ingin mengurangi beban Bastian. Sudah cukup ia merepotkan Bastian selama ini. Dia juga tak bisa menolak perjodohan itu. Apalagi, papanya berutang budi kepada orang yang telah menolong nyawanya saat itu.
Saat kecelakaan tragis beberapa tahun lalu, Bastian hampir merenggang nyawa lantaran pendarahan pasca operasi jantung yang tertusuk beling kaca mobil. Plus, Bastian memang mempunyai penyakit jantung koroner. Untung, dokter utusan dari teman papanya itu sangat efisien dalam melakukan penanganan hingga Bastian bisa terselamatkan. Dan kalian tahu pendonor jantung tersebut? ia adalah adik dari teman Bastian yang tentu saja sudah menjadi almarhum.
Oke kembali lagi, bayangan wajah Bianca tiba-tiba muncul di kepala Agam. Mata indah dan bibir manis itu kembali terngiang-ngiang dipikirannya. Entah mengapa Agam menjadi merasa bersalah kepada gadis itu lantaran ia menyetujui perjodohannya dengan perempuan lain. Padahal, keduanya tak ada hubungan apapun. Bianca pun sangat membencinya.
Agam bangun dan mengacak kasar rambutnya frustasi. Ia kemudian bangkit dan meraih kotak rokok serta pematik diatas nakas.
Laki-laki itu berjalan menuju balkon dan berdiri disana. Ia mengambil satu batang rokok dari kotak dan menyalakannya. Kemudian menyesap nikotin itu dan mengepulkan asapnya keudara.
Siapa sangka sang ketua osis yang tegas dan berwibawa bisa menyentuh benda tersebut? tentu tak ada yang tahu. Bahkan, papanya saja tak tahu. Ia juga mengonsumsi nikotin hanya saat stres saja.
Pandangan Agam mengarah keatas langit. Ia menumpukkan kedua tangannya di atas pagar balkon. Rasa nikotin yang sedang di sesapnya saat ini entah mengapa mengingatkannya dengan rasa bibir gadis itu. Hal itu membuat telinga Agam memerah. Kedua lengannya mengeras menahan gejolak didalam dada. Tiap teringat bibir itu dirinya selalu merasakan debaran aneh didalam dadanya.
"I want to feel those lips again."
Agam kemudian menggelengkan kepala agar sadar. Dia tak boleh sampai tertarik kepada gadis itu karena ia sudah mempunyai calon istri. Setidaknya itu keteguhan yang ditetapkannya dalam hati.
Akan tetapi, bayangan wajah gadis itu tetap muncul dikepalanya. Laki-laki itu meraup wajahnya kasar kemudian membuang putung rokok kelantai dan menginjaknya.
Agam berjalan masuk kembali kedalam kamar dan mendudukkan diri di kursi meja belajar. Ia memilih untuk belajar mengalihkan pikirannya saat ini.
Tangannya terhenti di udara saat hendak mengambil buku. Suara deringan ponsel dari atas nakas membuat atensinya teralih. Dia meraih ponsel itu dan mengangkatnya setelah melihat nama si penelepon.
"Kenapa?"
"Hallo Gam, temenin gue jemput Tasya dong." nada suara Nathan dari seberang sana terdengar begitu memelas.
Agam berjalan kembali kearah meja belajar. "Sibuk." singkatnya dan hendak mematikan telepon. Namun, ucapan Nathan berikutnya membuat niatnya terurung.
"Sama Bia juga! gue gak bisa bawa tuh dua anak. Gue kan cuma punya motor. Bantuin yaa.."
Agam menumpukkan tangannya diatas sandaran kursi dengan sebelah alis terangkat. Entah mengapa sesuatu yang berhubungan dengan Bianca membuatnya seakan-akan penasaran. "Emang mereka kenapa?"
"Mabuk! tadi kakak Tasya telepon gue, suruh jemput mereka, katanya dia gak bisa antar, soalnya masih ada urusan."
Mengetuk-ngetuk kan jari di sandaran kursi, kemudian Agam bertanya. "Dimana?"
"Di club punya sepupu gue. Lo pasti tahukan? lo udah pernah sekali kesana."
Agam menegakkan badan dan menyaut jaket yang tersampir di atas pintu. "Otw."
...***...
"Ayolah Sya, lepasin Darren dulu aduhh nih anak!"
Tasya yang dalam keadaan tak sepenuhnya sadar, tentu saja tak mendengarkan perkataan kakaknya, gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Darren. Posisi keduanya saat ini duduk menyandar disofa.
Sedari tadi, Tasya memeluk tubuh Darren dan tak mau melepasnya. Edgar pun sudah beberapa kali mencoba untuk memisahkan. Namun, tak berhasil. Tasya malah semakin menguatkan lilitan tangannya. Ia mengendus-ngendus dibagian dada bidang Darren, aroma mint begitu menguar dari sana. "Wangi!"
Lihatlah muka Darren sekarang, nampak sangat tertekan. Ia melemparkan tatapan memelas kepada Axel yang duduk di tempat berlawanan untuk meminta pertolongan. Namun, laki-laki itu malah mengalihkan pandangan ke tempat lain pura-pura tak melihat kearahnya.
Darren berdecak. "Gar, lepasin nih Adek lo! pengap nih gue!" keluhnya. Edgar menarik tubuh Adiknya itu tak terlalu kuat tetapi tak juga terlalu lembut. "Ayo Sya, lepasin ih. Kamu ini hobby banget ya bikin kakak repot."
Tasya mendongak menatap sayup wajah Darren dan menangkup kedua pipi Pria itu. "Katanya mau check in di hotel. Ayok!" entah sadar atau tidak ia mengatakan itu.
Mata Edgar dan Darren membulat mendengarnya. "Jangan ngawur deh lo! gue buang lo ke laut kalo berani macem-macem ya!" Edgar menarik paksa tubuh Tasya hingga lilitan itu terlepas.
Darren menghela napas lega. Edgar menggaruk tengkuk lehernya tak gatal dan menatap kikuk kepada Darren. "Maafin Adek gue ya. Dia hobby nya memang gitu suka bikin orang tertekan."
Edgar memang kenal dengan Darren dan Axel lantaran kedua pria itu kerak main ketempat ini.
Sementara Bianca, duduk di sofa yang sama dengan Axel tepat disebelah lelaki itu. Tak seperti Tasya, ia terlihat enteng duduk disana. Dia menyandarkan kepalanya disandaran sofa dengan memejamkan mata lantaran merasa pening. Salahkan keduanya, tak biasa minum alkohol tetapi menghabiskan beberapa gelas akibat tak menyelesaikan tantangan permainan. Akibatnya, beginilah jadinya. Lain halnya Darren dan Axel, keduanya memang sudah pro jika soal minuman keras.
"Nah tuh anak baru dateng." tatapan Edgar tertuju kepada orang yang baru datang.
Nathan tampak berjalan tergesa-gesa dengan mata memindai disekitar untuk mencari yang seseorang yang dicarinya. Di ikuti Agam dari belakang yang hanya berjalan santai.
"Sini woi!" Edgar melambaik-lambaikan tangan kearah Nathan membuat atensi cowok itu terpusat kearahnya.
Nathan dan Agam berjalan menuju meja tersebut.
"Ya ampunn nih anak bener-bener dah bikin repot mulu!" keluh Nathan mengambil Tasya dari Kakaknya. Ia memapah gadis itu. Tatapannya teralih kearah Darren yang duduk disebelah Edgar. "Siapa?"
"Temen." jawab Edgar sembari bangkit. "Gue serahin nih adek gue sama lo. gue masih ada urusan." lanjutnya hendak beranjak dari sana. Namun, Nathan menahan pergelangan tangannya.
Sebelah alis Edgar terangkat. "Kenapa?"
Menyengir bak kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya, Nathan mengadahkan tangan meminta upah.
Edgar memutar bola mata malas mengambil dompet didalam saku celana. Ia mengeluarkan tiga lembar uang seratus. "Nih. Anter bae-bae tuh Adek gue! awas ya lo anuin. Gue bunuh lo!"
"Yaelah Gar! sepupu gue ini! yakali lah gue macem-macemin." Nathan mengantongi rezekinya itu.
Diwaktu yang sama, Axel memapah Bianca untuk membantunya berdiri. Namun, Agam yang melihatnya, segera menepis tangan Axel dari bahu Bianca. "Jangan sentuh dia!" ujarnya dingin tapi penuh penekanan. Ia mengambil alih gadis itu, menyelipkan tangannya di punggung juga di belakang lutut dan menggendongnya ala bridal style. Agam memberikan tatapan mengantimidasi kepada Axel sebelum beranjak dari sana.
Axel menggaruk pipi bingung menatap kearah figur Agam dan Nathan yang kini sudah mulai menjauh. "Salah gue apa?" gumamnya.
...•TBC•...
...***...
Mulai dari eps ini, aku bakal up satu kali satu minggu. Karena selain sibuk, aku juga mau refresh otak untuk mikirin alur ceritanya biar makin seru dan gak membosankan.
Kalo lagi mood baik, aku usahain up 1-3 kali satu minggu deh, tapi gak janji🙂
See you pekan depan:)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Oh ternyata Agam udah suka sama Bia,.Terus gimana Bia gak benci sama loe,Kalo kenyataan nya lie selalu nyalahin dia tanpa mencari tau kebenaran yg terjadi,Contoh nya saat dia bertengkar dengan mak lampir di toilet,Padahal emang tuh cewek yg salah mancing2,dok kecantikan..🙄🙄
2024-11-26
0
Qaisaa Nazarudin
Aman Gam valon mu dengan gadis mu adalah orang yg sama..🤣🤣
2024-11-26
0
Erina Situmeang
tapi juga lucu loh tasyanya 😂
2023-09-09
0