Pelajaran pertama X MIPA 7 hari ini adalah pelajaran olahraga. Matahari pagi yang bersinar begitu terik, mendukung kegiatan olahraga pagi ini.
Kali ini, para murid mengenakan baju training olahraga.
Bianca nampak sedikit kerepotan menguncir rambutnya sembari berlari kecil menuju lapangan.
"What--tunggu Bia!" heboh Tasya menghentikan langkahnya. Dia menatap kearah Tasya yang sedang berjalan mendekatinya dengan raut wajah seolah bertanya, 'kenapa?'
"Itu leher lo kenapa?!"
Kerutan samar terlihat di dahi Bianca "Leher?" beonya.
Tasya mengambil kaca mini dari dalam saku seragamnya. "Lo kaca deh." perintahnya dan langsung saja Bianca meraih cermin itu kemudian melihat pantulan lehernya dicermin.
"Lah ini kenapa dah?" Tangannya memegangi memar yang sedikit merah juga keunguan disana. Raut mukanya terlihat bingung. Perasaan, tadi dia tak merasa digigit oleh serangga ataupun nyamuk. Tadi pagi sebelum berangkat kesekolah pun ia tak sempat mengaca lantaran berangkat dengan terburu-buru.
"Itu--kok kayak hickey." terka Tasya yang memang benar adanya.
Memang, tadi malam Bianca tak dapat mengingatnya, karena memang kesadarannya saat itu tak penuh.
Akhirnya Bianca melepas kembali ikatan rambutnya dan membiarkannya tergerai indah agar menutupi memar itu. Walaupun dia tak tahu itu bekas gigitan apa, tetapi ia tak mau sampai orang-orang melihatnya dan salah paham.
"CEPAT BERBARIS!" Guru olahraga mulai terlihat gregetan marah ditengah lapangan sana saat melihat keduanya begitu lemot.
"Udah ayok, pak botak udah ngegas itu!" Bianca meraih tangan Tasya yang masih penasaran dengan bekas gigitan itu dan menariknya menuju tengah lapang.
"E-eh Bia! gak usah tarik-tarik!"
Para siswa kelas itu mulai mengambil barisan dilapangan sesuai instruksi dari Pak Botak__Guru olahraga. Kenapa julukannya Pak Botak? karena kepalanya botak seperti Saitama, begitu mengkilap, ditambah lagi terpapar sinar matahari.
Sementara itu, di atas pagar pembatas sana. Dengan kedua tangan bertumpu pada pagar, pandangan Agam menuju kebawah memperhatikan barisan X IPA 7 yang kini sudah berjejer rapih. Berhubung guru mata pelajaran kali ini sedang tak masuk lantaran sakit, maka dari itu Agam memilih untuk keluar mencari udara segar.
Sebenarnya, tatapannya terfokus di satu titik, yaitu Bianca.
Gadis itu nampak menggerutu kesal lantaran disuruh berbaris di depan. Melihat itu, berhasil membuat senyuman tipis terbit dibibir tebal Agam. "So cute."
"Iya cute" celetuk Nathan yang entah sejak kapan sudah berdiri disebelahnya. Agam sedikit terperanjat. Namun, ia tetap menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
Posisi Bianca saat ini dibarisan paling depan lantaran tubuhnya yang pendek.
"Anak-anak hari ini kita akan berolahraga dengan basket." Pak Botak berujar sembari berjalan pelan mondar-mandir. "Ingat! ini juga akan diambil sebagai nilai harian! Jadi kalian harus serius!" dia kemudian menoleh kepada Bianca. "Bia, kamu ambil bola basket di gudang peralatan olahraga." suruhnya.
Bianca memutar bola mata malas. "Dari sebanyak-banyaknya murid disini, kenapa harus aku sih pak!" kesalnya mendapat pelototan tajam dari sang Guru olahraga tersebut.
"Banyak protes kamu ya! mau nilaimu saya kurangi?" ancamnya.
Lagi, bola mata Bianca terputar kembali tanda dirinya sangat kesal. "Nilai terus jadi ancaman! gak ada yang lain napa!"
"Awas kamu ya! beneran bapak kurangin nilai kamu dibagian olahraga!"
Tasya yang berada dibelakangnya pun memukul kecil punggung gadis itu.
"Udah sana, ntar dikurangi beneran, nanti nanges lo!"
Bianca menghembuskan napas panjang. "Iya iya!" pasrahnya dan berjalan gontai dari sana menuju gudang peralatan olahraga.
Semua itu tak luput dari pandangan Agam. Melihatnya, dia merasa imut sekaligus gemas dengan tingkah gadis itu. Tanpa sadar senyuman tipisnya kembali terukir.
Tetapi, perlahan senyuman itu kian meluntur, ada satu hal yang membuatnya salah fokus, dan itu bisa terlihat dimata tajam Agam dari tempatnya ini.
"Sumpah! semenjak kejadian diruang osis itu lo mulai nampak gak waras! Liat aja, bentar senyum, bentar kembali datar!" cibir Nathan yang tak sengaja melihat gurat senyuman Agam barusan.
Agam tak menanggapinya, lelaki itu menegakkan badan dan berlalu dari sana tanpa sepatah katapun membuat Nathan yang tak mendapatkan respon reflek mengumpat. "Dasar tembok sialan!"
***
Mulut Bianca tak berhenti menggerutu dengan kesebalan nya. "Dasar pak botak sialan!" Sebanyak-banyaknya ancaman, kenapa harus nilai coba jadi sasaran?
Bahkan nama beberapa hewan yang biasa digunakan orang untuk mengumpat semua ia lafalkan. "Anjing! monyet! babi! kucing!" kemudian menggeplak mulutnya sendiri. "Kok kucing sih! jangan ah! kucing kan imut!"
Disepanjang perjalan mulut Bianca tak berhenti mendumel merutuki Pak Botak.
"Ehm"
Suara deheman tersebut mampu membuat omelan juga langkah Bianca terhenti, atensinya teralih pada lelaki di tangga penghubung antara X dan XI, berdiri di anak tingga terakhir.
Terlihat Agam sedang melipat kedua tangannya didepan dada dengan tatapan mengarah kepada Bianca.
"Kenapa?! mau hukum lagi?! Aduhh aku kan lagi gak buat salah apa-apa kak!"
Laki-laki itu tak menjawab. Dia melangkah mendekati Bianca dan membuka almamater yang dikenakannya. Tangannya hendak meraih pinggang Bianca. Namun, gadis itu memundurkan langkah lantaran tak tahu apa tujuan darinya.
"Kakak mau ngapain sih?!" Bianca sempat berpikir, bahwa Agam akhir-akhir ini semakin tak ada jarak dengannya.
Agam berdecak, lalu menarik paksa pinggang Bianca untuk mendekat kepadanya.
Pandangan gadis itu turun kebawah untuk melihat pergerakan dari Agam yang saat ini sedang mengikat almamater tersebut di pinggang rampingnya.
Dia mendongak saat laki-laki itu menegakkan kembali tubuhnya. Bukannya menuju wajah atau mata, tatapan Bianca malah terarah ke jakun Agam. "Celana lo, bernoda."
Jakun itu bergerak-gerak ketika lelaki itu berbicara, sehingga gadis itu secara reflek menyentuhnya sebab kelihatan gemas. Tentu saja Bianca tanpa sadar, karena tindakannya tanpa terpikir dahulu.
Agam membeku beberapa saat, dirinya merasa seperti tersengat arus listrik ketika Bianca menyentuh jakunnya. Sebelah tangannya menahan tangan Bianca membuat sang empu mengangkat pandangannya dan matanya terkunci tepat dimata tajam lelaki tersebut.
"Jangan," Agam menatap matanya begitu dalam dan intens. Hal itu mampu membuat Bianca tersadar dan memundurkan langkah dengan gugup. "M-maaf kak. Reflek tadi." ucapnya merasa kikuk.
Agam berdehem pelan untuk menetralkan rasa gugupnya. "Gapapa." singkatnya. "Mau kemana?"
Pertanyaan itu sebenarnya Agam hanya sekedar basa-basi saja, karena sebenarnya dia sudah tahu kemana tujuan Bianca.
"Oh, gue mau ke gudang peralatan olahraga. Mau ngambil bola basket."
Agam hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan wajah datarnya. "Yaudah sana."
Bianca hendak berlalu dengan dengusan sebal di mulutnya. Tetapi, sebelum dirinya benar-benar berlalu, Agam menahan pergelangan tangannya dan dengan gerakan pasti menyingkap rambutnya yang terurai.
Tanda merah juga keunguan itu terlihat cukup jelas dileher jenjang mulus milik Bianca.
Cup.
Bianca mematung saat dengan gerakan cepat lelaki itu memberikan kecupan ringan dilehernya tepat ditanda tersebut. Kemudian mulut Agam mendekat ke telinga Bianca. "Lo, tembus." bisiknya lalu menegakkan badan dan segera berlalu dari sana meninggalkan Bianca yang masih bergeming dengan kedua pipi sudah memerah bak kepiting rebus.
Sementara Nathan yang melihatnya dari balik lorong tangga, mengangakan lebar mulutnya sebab saking terkejutnya. Niatnya tadi hanya mengikuti Agam lantaran penasaran lelaki itu entah mau kemana. Ternyata oh ternyata dia sungguh begitu tercengang melihat kejadian tadi. Nathan sungguh tak menyangka, Agam yang kelihatan datar dan dingin itu menjadi seperti itu. Bahkan tadi, ia sempat mengucek beberapa kali matanya lantaran ia kiranya salah melihat.
"Sejak kapan lo disitu?"
Nathan terperanjat lantaran Agam tiba-tiba sudah berjalan mendekatinya. Dirinya spontan membuang pandangannya kearah lain pura-pura tak tahu. "Jalan ke toilet mana yaa.." gumamnya tak jelas.
"Lo liat kan?" Agam melipat tangannya didepan dada dan menyandarkan punggungnya ke dinding. Posisinya saat ini dianak tangga terakhir sedangkan Nathan berada hanya dianak tangga satu tingkat darinya.
Nathan menggaruk kepalanya dengan raut cengo, pura-pura bingung dan tak tahu. "Liat apaan?"
"Tadi."
"E-enggak! gue gak liat lo cium leher Bianca sumpah!" ceplosnya lalu mengatupkan mulut dan menggeplaknya. "Kok malah keceplosan sih!"
"Lo liat pun gak papa."
Mendengar itu, Nathan mengalihkan pandangannya kearah Agam. "Lo suka sama Bianca?"
Agam diam, belum merespon. Dia memasukkan kedua tangannya disaku celana dengan tatapan mengarah keatas, membayangkan wajah cantik gadis itu. Lagi-lagi, senyuman tipis itu kembali terukir dibibirnya. "Maybe."
Nathan bertepuk tangan kagum. "Ini patut dirayakan! sewa ballrom hotel kita deh! seluruh murid SMA Garuda harus diundang, termasuk guru-guru juga. Dengan tema pesta. 'The ice has melted' " Lalu terbahak. Namun, perkataan Agam berikutnya membuat tawanya mereda seketika.
"Sebelum waktu itu tiba, gue pengen dekat dengan cewek yang gue suka. Walau hanya sementara." Aura Agam mendadak menjadi dingin, wajahnya pun nampak berubah datar semula, sorot matanya terlihat tajam tapi terdapat kilat kesedihan disana.
"Kok sementara? lo cuma main-main sama dia?" tanya Nathan mendadak serius.
Agam menggeleng. "Bukan."
"Terus?"
Hembusan napas kasar terdengar dari mulut Agam dan menegakkan badan. "Udahlah, gak usah dibahas." lalu melangkah menaiki anak tangga. Nathan mengikutinya dari belakang.
"Lah, sekali-kali curhat sama gue napa Gam!"
Agam tanpa aba-aba menghentikan langkahnya. Tentu membuat langkah Nathan reflek terhenti juga.
Lelaki itu sedikit menoleh kebelakang. "Curhat sama lo pun, gak bakal bisa ngubah masa depan gue yang sudah ditentukan." ujarnya kemudian berlalu.
Memang, sifat dominan dari Agam membuat orang-orang termasuk Nathan yang sudah cukup lama berteman dengannya tak dapat menebak segala tindakannya.
Diwaktu yang sama, namun lain posisi. Bianca berjalan hampir mendekati gudang peralatan olahraga. Kedua pipinya masih bersemu dengan debaran jantung yang begitu cepat, kedua tangan memegangi dadanya.
"Bener-bener dah tuh ketos! hobi banget ya buat gue hampir jantungan!" gerutunya lalu menampar-nampar kecil kedua pipinya.
"Sadar Bia! dia itu si ketos nyebelin! galak! si muka datar! dingin spek kulkas sepuluh pintu! lo gak boleh berdebar-debar karena cowok ngeselin itu!" Lalu menghembuskan napas.
Tangannya berhenti di udara ketika hendak membuka gagang pintu saat mendengar rusuh didalam ruangan tersebut.
"Hapus foto itu bangsat!"
"T-tapi-"
Plakkk
Dengan gerakan pelan Bianca membuka pintu tersebut. Matanya membelalak saat melihat kondisi seorang perempuan yang sedang ditindas oleh Sherly. Perlahan dia mengambil ponselnya dari saku dan merekam perbuatan Sherly saat ini.
Posisinya sekarang, Sherly menjambak kuat rambut korban hingga kepala perempuan itu terdongak. Tangisan lirih terdengar darinya.
"Aku gak bakal sebarin foto itu.."
"Gue mana tahu pikiran lo anjing!" sentak Sherly menghempas kepala perempuan berkaca mata itu hingga terhantuk kedinding. Tubuh lemahnya merosot kebawah.
Perempuan itu mengalihkan pandangan kearah Bianca yang tak sengaja dilihatnya, dia menatap padanya dengan tatapan seolah meminta pertolongan.
Dengan segera Bianca masuk dan membantu perempuan itu berdiri. "Sherly! lo mau jadi psycho ya?!" dia menatap Sherly dengan tatapan tajam penuh amarah.
"Ini bukan urusan lo!" tunjuk Sherly pada Bianca. "Ini urusan gue sama dia!" tunjuknya kepada perempuan itu.
Bianca tersenyum miring dan mengangkat ponselnya diudara. Dia memplay cuplikan video yang ia rekam tadi. "Kalo lo gak mau akhiri ini, gue bakal laporin lo ke guru dengan video ini."
Mata Sherly membulat melihatnya. Langsung saja dia mencoba merampas ponsel itu. Namun, dengan gerakan kilat Bianca menjauhkan ponselnya. "See, masih mau lanjut? atau.. lo bakal kena hukuman? bahkan perbuatan lo ini bisa di bawa kejalur hukum selama mempunyai bukti sekuat ini." ancamnya membuat Sherly tak berkutik. Kedua tangannya terkepal kuat dan menoleh sinis pada perempuan tadi. "Awas ya lo!" tunjuknya kepadanya dan berlalu dari sana.
"Lo gak papa?" tanya Bianca pada perempuan berkacamata itu dan mendapat anggukkan kepala darinya. "Gak papa. Makasih yaa."
Bianca menganggukkan kepala kemudian berjalan kearah keranjang yang berisikan bola-bola basket. "Dari kelas mana?"
"Dari kelas sepuluh MIPA 1."
Gerakan tangan Bianca terhenti. "Sekelas dengan Sherly?"
Perempuan itu mengangguk.
"Nama lo?" tanya Bianca sembari mengambil satu bola basket dari keranjang.
"Zella."
***
...•TBC•...
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Untungnya bener Bia orangnya,Coba kalo bukan,Kasian Bia kamu lambung tinggi,setelah itu kamu hempaskan,..
2024-11-26
0
Qaisaa Nazarudin
Udah berani ya pak Ketos main nyosor aja..🤣
2024-11-26
0
Qaisaa Nazarudin
Apa dirumah tadi Bia gak berkaca..
2024-11-26
0