Club night

Selain merasa stres faktor persoalan perjodohan konyol dengan lelaki yang tak dikenalnya, Bianca juga masih merasa kesal dengan Lucas yang seenaknya meninggalkannya sendirian. Maka dari itu, ia mengiyakan ajakan Tasya untuk ke club malam ini dengan catatan untuk healing dari beban pikirannya.

Tampilan Bianca saat ini sudah rapi dengan outfit hoodie hitam dan celana jeans over size. Sembari menunggu Tasya menjemputnya, dirinya menyibukkan diri dengan ponsel untuk membaca-baca cerita novel di aplikasi online.

Saat ini, dia sendirian dirumah. Ayah dan Bundanya masih berada dikantor. Sementara itu, Bi Arsi masih dikampung halaman. Hanya ada dirinya dan Pak satpam yang berjaga didepan saja.

Sepersekian menit kemudian, telinganya mendengar suara bisingan motor dari luar, Bianca bangkit dan menyingkap tirai jendela. Terlihat didepan sana, Tasya baru saja memberhentikan motornya.

Biancapun segera beranjak keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.

Senyum sumringah Tasya menyambut Bianca saat gadis itu sudah berada didepan. "Cari cogan kita malam ini!" soraknya semangat.

Bianca mengibaskan rambutnya angkuh. "Sorry ada hati yang gue jaga."

Memutar bola mata malas, Tasya menoyor kepala Bianca. "Cowok brengsek kek gitu aja dipertahanin!" sewotnya.

"Dari pada situ, jomper!"

Tasya meraih helm cadangan di stang motornya. "Apaan dah jomper?"

"Jomblo permanen!" sahut Bianca lalu terbahak.

Mendengar cibiran itu, Tasya memberengut dan menyodorkan helm tersebut secara kasar kepada Bianca. Ia tak terima jika dikatai jomblo. "Apaan dah! gue gak jomblo ya, gue punya ayang!"

Bianca memasang helm dan memperagakkan kedua tangannya ala-ala mengutarakan puitis. "Gunung pun akan kudaki, Lautan kusebrangi. Demi dirimu oh Tasya ku." paparnya dengan nada puitis.

Tasya melingkarkan tangannya dileher Bianca dan memelintirnya. "Dasar!"

Bianca memegangi perutnya lantaran terasa keram karena ngabrut. "Hahaha sudah alay, Virtual lagi!"

Lagi, Tasya memberengut dan menaiki motor. Seraya mengaitkan rope helm, Tasya pun mencibir Tasya balik. "Dari pada lo! ditinggalin sendirian terus, kasian."

Muka Bianca langsung berubah jadi masam mendengar ucapan tersebut. Entah mengapa ia menjadi sangat kesal jika mengingatnya.

"Tau ah!

Kemudian ia segera naik di jok belakang motor Tasya saat gadis itu telah menyalakan mesin motor.

"Berangkat!" Bianca mengangkat kepalan tangannya di udara.

...***...

Kediaman Arbyshaka.

Agam berjalan menuju ruangan kerja Bastian. Tadi, saat makan malam, papanya menyuruhnya keruang kerjanya nanti kalau ia telah selesai belajar, katanya ada yang perlu dibicarakan, penting.

Agam membuka handle pintu. Pertama yang ia lihat adalah sang Papa sedang berkutat dengan laptop di pangkuannya. "Papa mau ngomong apa?"

Bastian mendongak menatap Agam lalu menegakkan duduknya. "Duduk." pintanya menunjuk salah satu sofa tunggal dengan dagu.

"Sepenting apa sih pa?" Agam duduk ditempat yang dimaksud papanya tadi.

Bastian melepas kacamata dan menutup laptop dihadapannya. Beliau meletakkan benda itu diatas meja lalu kembali menegakkan duduknya. Raut wajahnya berubah menjadi serius.

"Papa mau jodohin kamu dengan anak teman papa." ujarnya to the poin membuat Agam tercengang sekejap.

Agam menunduk menatap kedua kakinya yang terjuntai kelantai. "Kalo Agam bilang tidak, apa papa akan membatalkan rencana perjodohan itu?" laki-laki itu kembali mengangkat pandangannya menatap sang papa.

Bastian menggelengkan kepala. Agam yang melihat tanggapan itupun membuat bahunya melemas. "Kalo gitu, ngapain pake diomongin lagi."

"Kamu tahu kenapa papa gak bisa nolak perjodohan ini?" tanya Bastian menoleh kepada Agam.

Agam menggeleng tak tahu.

Tatapan Bastian beralih lurus ke depan. Pandangannya menerawang jauh. "Karena papa ingin balas Budi kepada orang itu. Jika bukan karena dia, mungkin papa sudah ikut bersama mama mu. Dan, kamu juga Cantika hidup luntang-lantung tak jelas." Raut wajahnya berubah menjadi sendu dan matanya terlihat kilat kesedihan disana.

Agam menganggukkan kepala paham. Ia tentu mengerti perasaan papanya. "Iya pa, aku gak akan menolak."

"Baiklah, lusa malam, kita datangi rumah gadis itu."

...***...

Dan disini kedua remaja itu sekarang, didepan club. Bianca menatap tempat itu dengan tatapan wah. Terakhir kali ia ketempat ini, waktu kelulusan SMP.

"Ayo masuk! Sampe kapan cuma liatin terus!"

Tasya menarik tangan Bianca untuk masuk kedalam. Jika kalian ingin tahu kenapa Bianca dan Tasya bisa masuk walaupun masih dibawah umur, jawabannya adalah tempat ini adalah milik kakak Tasya. Tak mungkin keduanya bisa masuk tanpa koneksi, sementara umur belum mencukupi. Dengan adanya koneksi sang Kakak, keduanya bisa keluar masuk bebas ditempat ini. Bahkan mereka bisa duduk di meja VIP.

Hal yang pertama menyambut mereka ketika masuk adalah lampu disko berkelap-kelip, suara dentuman musik yang begitu menggema, dan orang-orang disekitar yang berjoget-joget santai.

"Nah tuh kakak gue!" Tunjuk Tasya kepada sang Kakak yang sedang berjalan menghampiri mereka. Edgar namanya.

"Tasya, kamu kesini kok gak kabarin kakak dulu?" Edgar merangkul Tasya dan menuntunnya.

Keysa melipat tangannya didepan dada. "Emang pake kabarin dulu! suka-suka akulah!" sewotnya. Laki-laki itupun hanya terkekeh kecil melihat tingkah adiknya yang menurutnya menggemaskan. Edgar melirik kearah Bianca yang berjalan disebelah Adiknya. "Hai Bia."

Bianca tersenyum ramah menanggapinya. "Hai Kak Edgar."

Edgar membawa kedua remaja itu di salah satu meja yang tersedia.

"Kalian duduk yang enteng ya, Kakak ada urusan bentar. Jangan macem-macem dulu sebelum kakak kembali." Peringatnya menunjuk Tasya dan Bianca bergantian.

Keduanya pun mengangguk patuh.

Tatapan dua remaja itu menuju punggung Edgar dan saat figur Edgar sudah semakin menjauh Tasya pun berseru. "Kamu tunggu disini dulu, aku mau mesan minuman alkohol!"

Tentu saja mereka tak akan mendengarkan peringatan dari Edgar tadi.

"Oke." Sahut Bianca.

Mata Bianca memindai diarea sekitar. Aktifitas ditempat ini benar-benar tak layak dilihat anak-anak seumurannya. Ada yang sudah mabuk-mabukkan, berjoget ria, dan ada juga yang saling bercumbu. Bahkan para wanita malam dengan gencarnya melancarkan aksi untuk menggoda para lelaki disini. Ditempat ramai seperti ini tak akan ada yang peduli perbuatan seseorang.

Selang tiga menit, Tasya datang dengan satu botol bir dan juga dua gelas di tangannya. "Kita minum yeayy!" soraknya duduk disebelah Bianca.

Minuman dengan kadar alkohol 2-8 persen. Dikarenakan keduanya memang tak biasa minum alkohol, jadi, mereka hanya bisa minum yang kadarnya rendah saja.

Mata Bianca berbinar melihat minuman keras yang saat ini diletakkan oleh Tasya diatas meja. Tangannya terulur meraih gelas. Namun, ia dihentikan oleh sang sahabat.

Tasya menggerak-gerakkan jari telunjuknya diudara. "No no no, lo belum boleh minum. Kita harus main permainan lebih dulu biar lebih seru!"

Kening Bianca mengernyit dengan tatapan penasaran. "Permainan apa?"

"Truth Or Dare! Kalo lo gak bisa jawab atau nyelesaiin tantangan yang lo pilih. Lo harus minum satu gelas alkohol. Deal?!"

"Deal!" sahut Bianca semangat. Ia jadi bersemangat jika mengikuti permainan seperti ini.

"Tapi sebelum itu..kita cari orang lain untuk ikut main, gak seru kalo cuma berdua." Tasya mengedarkan pandangan mencari-cari diarea sekitar. Siapa tahu saja ditempat ini ada yang mau ikut.

Matanya berbinar kagum saat melihat dua pria yang seumuran dengan kakaknya sedang mengobrol santai disalah satu meja lain. Tanpa berkata-kata lagi ia berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri kedua pria tersebut.

Sementara itu, Bianca menatap heran kearah Tasya lalu menggeleng-gelengkan kepala saat tahu niat sahabatnya tersebut. Berani sekali anak itu, pikirnya.

"Hai!" sapa Tasya melambaikan tangan.

Atensi kedua pria itu teralih kepadanya dan menatapnya dengan raut bingung. Kerutan didahi keduanya terlihat jelas.

"Ren, kenalan lo?!" salah satu laki-laki yang bernama Alex menyikut lengan teman disebelahnya. Tatapannya terarah kepada Tasya.

Lelaki yang bernama Darren itupun mengepulkan asap rokok keudara dan menatap lamat Tasya. Ia kemudian mengangkat bahu tak tahu. "Gue mana punya kenalan bocil."

Tasya memberengut kesal lantaran ia disebut bocil. Mukanya berubah menjadi tertekuk dengan bibir maju satu centi. "Gue bukan bocil tau! gue udah kelas sepuluh!"

Mendengar ucapan Tasya, membuat Alex tertawa lucu dan meledeknya. "Bagi kami, lo itu bocil."

Darren menatap Tasya dari bawah sampai atas. "Bocil, mending lo pulang, belajar sana!" usirnya dengan kata-kata yang begitu menohok di relung hati Tasya. Kemudian ia dengan santai meraih segelas minuman keras dan meneguknya.

Tasya menghentak-hentakkan kakinya dilantai saking kesalnya. "Ih! gue cuma mau ngajakin kalian main truth or dare!" pintanya dengan nada merengek.

Kedua pria itu saling pandang dan saling memberikan tatapan. Alex melemparkan ekspresi seolah berkata "Gimana?"

Seolah mempunyai telepati, Darren paham dengan itu dan menjawab dengan anggukkan kepala sebagai persetujuan. Dari pada bocil didepan mereka ini menangis, mending di iyain saja biar senang.

Begitulah jika mempunyai teman serefkuensi. Ekspresi aja bisa dijadikan komunikasi.

Darren membuang putung rokok dan menginjaknya untuk mematikan api. "Meja lo dimana?"

Tasya menunjuk kearah meja yang ditempatinya tadi. "Sana tuh!"

Kedua pria itu berdiri dari duduknya.

"Ayok."

Tasya berjalan kearah meja yang dimana ada Bianca disana. Dua lelaki itu mengikutinya dari belakang.

Saat ia sampai di mejanya tadi, saat itu juga ia menjadi heboh dengan muka riangnya. "Bia! liat nih gue dapet dua cogan!"

"Kayaknya kita bakal main sama dua bocil deh." bisik Alex kepada Darren dengan arah tatapan mengarah kepada Bianca dan Tasya. Lihatlah sekarang, dua bocil yang mereka maksud itu terlihat sangat bersemangat.

"Pokoknya gue udah tandain yang outfit Loong sleeve, gak mau tahu pokoknya! pokoknya dia, titik!" Tasya menangkup kedua pipinya sendiri.

Bianca melirik kearah lelaki yang dimaksud oleh sahabatnya ini. "Yang itu?" tunjuknya kepada Darren mendapat anggukan cepat dari Tasya .

Darren dan Alex duduk disofa berlawanan dengan kedua remaja tersebut. "Ayo mulai aja mainnya." celetuk Darren tak ingin berlama-lama.

Kedua remaja itu pun memusatkan sepenuhnya atensi kepada dua pria yang saat ini duduk didepan mereka.

"Kami gak mau berlama-lama main sama bocil." lanjutnya lagi.

Tasya mendelik kesal kearah Darren. Ia heran dengan lelaki itu, padahal dirinya dan Bianca tak bisa jika di sebut bocil lagi karena porsi tubuh mereka bisa dibilang berisi alias bohay. "Lihat baik-baik dong! tubuh kita kayak bocil atau enggak?!"

Ia berdiri dan menggerakkan tangannya mengitari pinggangnya. "Montok gini dibilang bocil!" cebiknya.

Sebelah sudut bibir Darren terangkat membentuk senyuman miring ala-ala devil. "Masa iya? buktiin dong."

Tasya duduk kembali dan melipat kedua tangannya didepan dada. Arah tatapannya mengarah kepada Darren. "Gimana buktiinnya?!"

"Kita check in di hotel. Buktiin kegue kalo lo emang gak bocil." tantangnya semakin menjadi. Ia tak serius dalam perkataannya barusan dan berniat hanya menggoda gadis itu saja.

Akan tetapi, tanggapan dari Tasya tak sesuai dengan pikirannya.

"Oke!"

Darren melongo ditempat. Alexpun tak kalah cengonya, mulutnya terbuka lebar-lebar.

Bianca hanya menyimak obrolan keduanya. Ia berusaha memutar otak untuk mengerti percakapan dari Tasya dan Darren. Bola matanya berpindah-pindah ke siapa yang akan berbicara.

"Lo tahu apa yang lo omongin barusan?" tanya Alex masih tak percaya dengan respon Tasya tadi. Mungkin saja gadis ini tak tahu dari maksud omongan temannya tadi.

"Check in di hotel kan? pasti om Darren mau unboxin gue kan?!"

Mata Darren membulat tak terima ia dikatai Om. Sementara Alex ngakak ditempat. "Heh gue bukan om-om ya! gue masih muda!"

Senyum remeh muncul di bibir Tasya. Ia menatap Darren dengan tatapan mencibir. "Oh ya? mana coba buktiin." balasnya balik menantang.

"Wah nantangin nih bocah!"

"Ini permainannya kapan dimulai yah?" Celetuk Bianca menggaruk pipi cengo. Sedari tadi ia mencoba bersabar untuk menyimak percakapan tiga orang ini dan ia sudah paham. Dan semakin lama ia merasa pembicaraan ini semakin meresahkan.

"Iya tuh! mending main aja!" Alex mencoba mengalihkan topik tadi.

Darren dan Tasya tak merespon, keduanya saling melemparkan tatapan sinis.

Bianca menggoyang-goyangkan lengan Tasya. "Ayolahh Sya, mulai aja permainannya. Kalo gak, pulang nih gue."

"Iya iya." Tasya menyahut malas dengan sedikit melirik kearah Darren yang saat ini memutar bola mata malas. Gadis itu meraih botol minuman bir diatas meja dan memposisikannya.

"Oke siap?"

Raut wajah ke empatnya mulai serius saat benda itu berputar dan berakhir dengan perlahan memelan dan berhenti tepat kearah Darren.

Tasya Mengusap-ngusap kedua tangan dan melemparkan senyum penuh arti kearah Darren. "Truth atau dare?"

Langsung, Darren menjawab. "Truth!"

"Oke!" Tasya menatap Alex dan Bianca bergantian. "Siapa nih yang nanya?"

"Lo aja." Alex yang menjawab dan mendapat anggukan setuju dari Bianca.

Tasya tersenyum-senyum penuh makna menatap Darren. "Mantan kesayangan?"

Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat Darren mematung. Seketika aura yang semula netral itu berubah menjadi dark. Tatapannya menjadi tajam dan dingin. Alex yang peka terhadap sang sohib segera menyela. "Ganti pertanyaan aja. Pertanyaan itu, Darren gak bisa jawab."

Tasya mendesah kecewa. Entah mengapa ia menjadi penasaran dengan masa lalu lelaki itu. "Kok gitu sih! gak bisa diganti lah!"

"Ikuti peraturan aja, kalo gak bisa jawab, minum satu gelas alkohol." sela Bianca. Ia tiba-tiba merasa ngeri melihat perubahan aura dari Darren.

"Yaudah." Pasrah Tasya menuangkan bir ke gelas lalu di geserkannya kearah Darren.

"Oke lanjut ayok."

Tasya kembali memposisikan botol bir tersebut. Ia kembali memutar botol itu hingga berhenti tepat kearah Bianca membuat gadis itu memejamkan mata sekilas. Kenapa harus berhenti tepat kearahnya sih! pikirnya.

Tasya menatap Bianca dengan senyuman jahil. "Truth or dare?!"

"Truth aja deh."

Langsung saja Tasya memberi pertanyaan. "Oke! Lo ngapain sama kak Agam tadi siang di ruang osis hayo!"

Pertanyaan dari Tasya sontak membuat otak Bianca berputar kembali ke kilas balik kejadian tadi siang diruang osis. Kedua pipinya merona mengingatnya. Ia seperti tersipu tanpa sebab.

Darren dan Alex saling pandang.

"Loh merah pipinya! ngapain hayoo?!" goda Tasya menunjuk Bianca membuat gadis itu reflek menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya. "Gak bisa gue jawabnya. Minum alkohol aja yaa."

"Yaelah kalian, masih kecil udah pacaran! belajar dulu yang bener." celetuk Alex memangku kaki.

"Dih siapa yang pacaran!" elak Bianca menuangkan bir kedalam gelas lalu meneguknya. Ia meringis samar merasakan sensasi panas mengenai kerongkongannya.

"Lanjut?"

...•TBC•...

...***...

Terpopuler

Comments

Erina Situmeang

Erina Situmeang

emang si Tasya ya lihat tau aja lihat cogan

2023-09-09

0

Tatik Wae

Tatik Wae

ngeri... anak kls 1 sma nglayap d club minum beralkhol lg.. katanya jorok...

2023-08-27

0

Adnie Utami

Adnie Utami

kalo bisa jgn ada kata2 binatang dung

2023-06-21

9

lihat semua
Episodes
1 Terlambat lagi
2 Perkelahian di toilet perempuan
3 Diinterogasi diruang osis
4 Keberingasan the king SMA Garuda
5 Kecewa yang kesekian kalinya
6 Laki-laki brengsek
7 Perjodohan yang tak diinginkan
8 Menjadi candu
9 Pembelaan The King SMA Garuda
10 Bertemu anak kecil
11 Karakter tsundere
12 Club night
13 Kisah the King SMA Garuda
14 Rendra marah
15 Perempuan berkacamata
16 Datang bulan
17 Kepedulian Agam
18 18
19 19
20 20
21 VISUAL!
22 Dan ternyata
23 22
24 23
25 Menyesakkan
26 25
27 Parkiran
28 Cari angin dimalam hari
29 Kejadian
30 Kecemasan Bianca
31 Terciduk
32 Rumah pohon
33 Hari H
34 Ungkapan Agam
35 Nama anak
36 Menidurkan bayi besar
37 Jam kosong
38 Dia, siapa?
39 Beres-beres barang
40 Rumah baru
41 Nasi goreng
42 Something
43 Queen nembak King
44 Penyembuh akan menjadi luka baru?
45 Sebuah kisah
46 Pilihan
47 Teror?
48 Pengumuman Camping
49 Dua garis?
50 Kesalahan
51 Dalam perjalanan
52 Terciduk
53 Gubuk
54 Air terjun
55 Tidak akan mengalah
56 Sisi lain
57 Obsesi
58 Nenangin diri
59 Siapa?
60 First night
61 Pagi hari
62 Pergi dari rumah
63 Ingin pulang ke orang tua
64 Teror lagi?
65 Pilihan Camella
66 Sus?
67 Manja
68 Hamidun?
69 Minta jatah
70 Kerinduan pasturi muda
71 Kehabisan stok
72 Sherly, strong!
73 Perempuan rendahan
74 Kecelakaan?
75 Bocil nya Agam sudah dewasa
76 Rawat bayi besar
77 Di usir
78 Pulang ke rumah
79 Sayang?
80 Adik, coming soon!
81 Bakso buaya
82 Suami Vs Pacar
83 Menantu durhaka
84 Uwuw depan umum
85 Di keluarkan
86 Rencana licik
87 Di culik?
88 Terbongkar
89 Memberi pelajaran
90 Akhir dari kisah double S
91 Anjing dan kucing
92 Masih dengan penyesalan
93 Ketemu Samuel
94 Kejujuran
95 Di culik lagi?
96 Pertemuan Ayah dan Anak
97 Adik?
98 Ikut Ayah?
99 Musibah
100 Kabar duka
101 Alena dan Rendra
102 Pewaris
103 London
104 Terjebak
105 Cantika sadar
106 Keputusan Zella
107 Ini adalah yang terbaik
108 Keberangkatan Gilbert (End)
109 Promosi!
110 Epilog!
111 Extra part 01
112 Extra part 02
113 Extra part 03
114 Extra part 04
115 Extra part 05
116 Extra part 06
117 Extra part 07
118 Extra part 08
119 Extra part 09
120 Extra part 10
121 Extra part 11
122 Extra part 12
123 Extra part 13
124 Extra part 14
125 Extra part 15
126 Extra part 16
127 Extra part 17
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Terlambat lagi
2
Perkelahian di toilet perempuan
3
Diinterogasi diruang osis
4
Keberingasan the king SMA Garuda
5
Kecewa yang kesekian kalinya
6
Laki-laki brengsek
7
Perjodohan yang tak diinginkan
8
Menjadi candu
9
Pembelaan The King SMA Garuda
10
Bertemu anak kecil
11
Karakter tsundere
12
Club night
13
Kisah the King SMA Garuda
14
Rendra marah
15
Perempuan berkacamata
16
Datang bulan
17
Kepedulian Agam
18
18
19
19
20
20
21
VISUAL!
22
Dan ternyata
23
22
24
23
25
Menyesakkan
26
25
27
Parkiran
28
Cari angin dimalam hari
29
Kejadian
30
Kecemasan Bianca
31
Terciduk
32
Rumah pohon
33
Hari H
34
Ungkapan Agam
35
Nama anak
36
Menidurkan bayi besar
37
Jam kosong
38
Dia, siapa?
39
Beres-beres barang
40
Rumah baru
41
Nasi goreng
42
Something
43
Queen nembak King
44
Penyembuh akan menjadi luka baru?
45
Sebuah kisah
46
Pilihan
47
Teror?
48
Pengumuman Camping
49
Dua garis?
50
Kesalahan
51
Dalam perjalanan
52
Terciduk
53
Gubuk
54
Air terjun
55
Tidak akan mengalah
56
Sisi lain
57
Obsesi
58
Nenangin diri
59
Siapa?
60
First night
61
Pagi hari
62
Pergi dari rumah
63
Ingin pulang ke orang tua
64
Teror lagi?
65
Pilihan Camella
66
Sus?
67
Manja
68
Hamidun?
69
Minta jatah
70
Kerinduan pasturi muda
71
Kehabisan stok
72
Sherly, strong!
73
Perempuan rendahan
74
Kecelakaan?
75
Bocil nya Agam sudah dewasa
76
Rawat bayi besar
77
Di usir
78
Pulang ke rumah
79
Sayang?
80
Adik, coming soon!
81
Bakso buaya
82
Suami Vs Pacar
83
Menantu durhaka
84
Uwuw depan umum
85
Di keluarkan
86
Rencana licik
87
Di culik?
88
Terbongkar
89
Memberi pelajaran
90
Akhir dari kisah double S
91
Anjing dan kucing
92
Masih dengan penyesalan
93
Ketemu Samuel
94
Kejujuran
95
Di culik lagi?
96
Pertemuan Ayah dan Anak
97
Adik?
98
Ikut Ayah?
99
Musibah
100
Kabar duka
101
Alena dan Rendra
102
Pewaris
103
London
104
Terjebak
105
Cantika sadar
106
Keputusan Zella
107
Ini adalah yang terbaik
108
Keberangkatan Gilbert (End)
109
Promosi!
110
Epilog!
111
Extra part 01
112
Extra part 02
113
Extra part 03
114
Extra part 04
115
Extra part 05
116
Extra part 06
117
Extra part 07
118
Extra part 08
119
Extra part 09
120
Extra part 10
121
Extra part 11
122
Extra part 12
123
Extra part 13
124
Extra part 14
125
Extra part 15
126
Extra part 16
127
Extra part 17

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!