"Kita dijebak!" pekik Angel geram.
"Apa maksudmu?" tanya Wildan penasaran.
"Buka handphonemu! Baca artikel terbaru dari situs berita harian kota," perintah Angel. Dia melompat dan duduk di kap mobil. Matanya nyalang memandang area persawahan yang hijau menyegarkan.
Wildan pun menurut. Dia segera meraih handphone di saku celananya dan berselancar di dunia maya. Sebuah artikel dengan judul huruf kapital nampak mencolok. SEORANG GURU NGAJI T*WAS BERSIMBAH D*RAH DI RUMAH KOSONG. TERDUGA PELAKU BERNAMA WILDAN, SANG PEMILIK RUMAH KOSONG.
Dalam artikel dijelaskan bahwa hasil pemeriksaan ditemukan sidik jari Wildan di senjata yang digunakan untuk menghabisi korban. Berdasar kesaksian warga, Wildan diketahui bersama seorang perempuan asing. Ditampilkan pula foto Wildan yang masuk daftar pencarian orang. Sebuah artikel yang membuat Wildan terduduk lemas.
"Tadi malam seharusnya kita kembali ke rumah dulu untuk memeriksa keadaan Pak Anwar," ucap Wildan lirih. Dia berjongkok bersandar pada roda mobil.
"Aku tak menduga sama sekali akan jadi seperti ini. Kupikir mereka berkomplot. Tapi aku heran, kamu masih sempat memikirkan orang lain, saat keadaanmu terjepit seperti ini. Apalagi orang itu hampir menghabisimu," sahut Angel geleng-geleng kepala.
Wildan menangis. Bahunya berguncang hebat. Dua hal yang membuatnya rapuh saat ini. Pertama, sekarang dia menjadi seorang buronan. Dan yang kedua adalah t*wasnya sang guru dengan cara yang mengenaskan.
"Sesaat sebelum pergi dari rumah, kamu membantu si badut nomor 6, melepaskan tali yang mengikatnya. Juga mencabut pisau lipat yang melukai pahanya. Saat itulah sidik jarimu tertinggal dan bekas tanganku terhapus. Seandainya saja kamu tak melakukan hal itu, pasti aku lah yang akan dicari polisi," ucap Angel setengah meledek.
"Tak selamanya rasa peduli akan membawamu pada kebaikan. Contohnya kejadian kali ini." Angel tersenyum sekilas.
Wildan tak menggubris ejekan Angel. Dia masih terisak, melepaskan rasa sesak di dadanya. Wildan tak peduli terlihat lemah ataupun rapuh. Baginya, tak masalah seorang laki-laki menangis. Tidak ada yang salah dengan air mata.
Setelah beberapa saat lamanya, Wildan menyeka air mata menggunakan punggung tangan. Dia berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang berdebu. Angel segera turun dari kap mobil, kala Wildan terlihat hendak melangkahkan kakinya.
"Mau kemana kamu?" tanya Angel sambil meraih lengan Wildan.
"Aku mau ke polsek," jawab Wildan singkat.
"Hah? Gendeng! Mau apa?" Angel terbelalak, kaget bukan main.
"Membersihkan namaku. Aku mau menyerahkan diri, dan menjelaskan semua yang sebenarnya telah terjadi. Aku akan melaporkan si arloji emas yang entah siapapun itu," ucap Wildan penuh keyakinan.
"Kamu pikir mereka akan percaya? Otakmu masih ada di dalam kepala kan? Atau jangan-jangan sudah pindah di dengkul?" Angel menunjuk-nunjuk dahi Wildan.
"Dengan bukti sidik jari di pisau lipat, kamu akan langsung dijebloskan dalam tahanan. Takkan ada yang percaya dengan omonganmu," lanjut Angel kesal. Wildan terdiam kali ini.
"Lagipula bukankah sudah kuceritakan kemarin, Badut nomor 8 si arloji emas dulunya adalah seorang petugas. Sangat besar kemungkinan saat ini dia adalah orang yang punya pengaruh besar. Salah langkah akan membuatmu masuk dalam perangkap." Angel mengarahkan tatapan matanya yang tajam pada Wildan.
Wildan mundur beberapa langkah, dan menyandarkan tubuhnya pada body mobil yang berdebu. Apa yang dikatakan Angel benar adanya. Keputusan yang diambil tanpa pikir panjang sama saja dengan menggali lubang kubur sendiri.
"Lalu, apa yang mesti kulakukan sekarang?" tanya Wildan pasrah.
"Buang nomor handphone lamamu. Ganti dengan nomor baru. Setelah itu kita ke kota sebelah, kita bersembunyi dulu beberapa saat di rumah kenalanku," jawab Angel.
"Yakin aman?" tanya Wildan lagi.
"Ya, kujamin. Biar bagaimanapun saat ini kamu tak memiliki pilihan lain, kecuali ikut denganku." Angel tersenyum, menyeringai.
"Emm, bolehkah aku menelpon seseorang sebelum kubuang nomor ini?" Wildan bertanya dengan mata berkaca-kaca. Angel menghela nafas, kemudian mengangguk perlahan.
"Tak boleh lebih dari 10 menit," ucap Angel kemudian.
Wildan segera mencari sebuah nomor dan melakukan panggilan. Beberapa saat lamanya, akhirnya telepon diangkat. Sebuah suara perempuan yang kalem terdengar.
"Ika?" pekik Wildan tak sabar.
Angel tak terlalu terkejut mendengarnya. Dia sudah menduga, Wildan akan menghubungi sang mantan. Sepertinya memang laki-laki itu tak memiliki siapa-siapa lagi kecuali Ika.
Tak lebih sepuluh menit, Wildan menutup panggilan telepon. Dia benar-benar menurut dengan perintah Angel.
"Ika bilang, dia yang menjadi saksi dan memberi informasi ke pihak polisi kalau aku bersamamu. Dia berusaha menghindarkan aku dari tuduhan," ucap Wildan lirih.
"Baguslah. Sang mantan percaya padamu rupanya," sahut Angel datar.
"Kerabat Pak Anwar saat ini juga berusaha mencari dan memburuku. Mereka tak terima, apalagi Pak Anwar terkenal sebagai sesepuh kampung. Orang yang care dan ramah. Semua ini semakin rumit, bagai benang kusut." Wildan mendongak menatap langit pagi yang biru.
"Apakah di sisa umurku sekarang, aku harus menjalani kehidupan dalam pelarian? Membayangkannya saja aku sudah lelah," keluh Wildan.
"Tegakkan pundakmu. Kamu laki-laki. Bersemangatlah! Lautan kehidupan takkan selamanya penuh badai. Pasti ada masanya tenang tanpa gelombang." Angel mendekatkan tubuhnya pada Wildan yang bersandar di body mobil. Kemudian menatap wildan dengan bola mata yang bulat dan jernih.
"Apa sih?" protes Wildan salah tingkah.
"Lihat mataku. Aku pun sama sepertimu. Kehilangan orang yang penting dalam hidup. Tapi apakah aku terlihat putus asa? Kalau aku bisa bersemangat, kamu pun bisa!" Angel menepuk-nepuk pipi Wildan. Laki-laki itu hanya bisa menelan ludah.
"Sekarang, serahkan handphonemu!" Angel merebut handphone di tangan Wildan. Dia segera mematikan handphone tersebut dan mengambil sim card nya. Angel membanting sim card ke tanah kemudian menginjak-injaknya.
"Kita beli sim card baru. Setelah ini, jangan menghubungi siapapun lagi. Keluar dari akunmu yang lama. Untuk sementara buat email baru," perintah Angel.
"Sekarang, masuklah ke dalam mobil. Kita harus segera pergi," lanjut Angel.
"Aku mau ke kali dulu sebentar ya. Pengen buang air kecil nih," sahut Wildan tiba-tiba.
"Kamu kan laki, dalam mobil nanti juga bisa kan pake botol?" bentak Angel kesal. Wildan menggeleng cepat.
"Sekalian aku mau cuci muka. Sebentar saja," pinta Wildan.
"Yasudah cepat." Angel menghela nafas. Wildan segera berlari-lari kecil melewati pematang sawah.
Angel masuk ke dalam mobil. Dia menelpon sebuah nomor.
"Badut nomor 2 sudah tiada. Kini aku bersama anaknya. Badut nomor 6 dihabisi badut nomor 8. Sepertinya mereka pun saling sikut untuk mengamankan dirinya masing-masing. Semua badut harus ditemukan. Setidaknya di masa tua sebelum ajal menjemput, mereka harus mempertanggungjawabkan dosa masa lalunya." Angel menutup panggilan telepon.
Angel meletakkan handphone di dasboard mobil. Dia menjatuhkan kepalanya di kursi kemudi. Matanya mengawang jauh memandangi area persawahan di hadapannya. Tanpa terasa bulir-bulir air bening, menetes dari sudut mata.
......................
Setelah Wildan kembali dari sungai, tanpa berucap apapun lagi, Angel segera menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil hitam itu pun melesat membelah udara beku pagi hari dengan suara knalpotnya yang garang.
Bersambung___
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Rose_Ni
fix bukan anak Santoso
2024-03-06
0
Diankeren
enjel n bni'y sumiran Lgi tlpn an 😁🤭
2023-12-20
0
Diankeren
btuul sih.... bgus rupa bgus hti. kbrntungan blm nemplok aja sama lu. sing sbr y wil
2023-12-20
0