Telu

Wildan menatap nanar wajah Bapaknya yang membiru. Laki-laki sepuh itu kini sudah tak bernafas, terbujur kaku dan dibaringkan di atas dipan ruang tamu. Banyak tetangga sekitar dan warga yang berkumpul. Termasuk Pak Kasun dan anggota kepolisian.

Wildan hanya bisa menangis. Kini dia merasa tak punya siapa-siapa lagi di dunia. Usianya memang sudah dewasa, tapi rasa takut akan kesepian membuatnya tersedu, menangis seperti bocah. Se buruk-buruknya Sang Bapak, setidaknya Wildan merasa memiliki seseorang di dunia ini. Namun kini, sudah tak ada lagi.

"Sabar Dan," ucap Pak Anwar sang guru ngaji menenangkan. Dia menepuk-nepuk bahu Wildan yang nampak berguncang.

Sebuah kalimat tulus dari Pak Anwar malah membuat hati Wildan semakin teriris. Bagi Wildan orang lain dapat dengan mudah mengucap kata sabar padanya, padahal mereka tak pernah tahu dan mengerti rasa sakit, rasa sepi di hati Wildan.

Jam 8 malam jenasah Pak Umar sudah selesai dikebumikan. Wildan masih menangis di teras depan rumah hingga matanya bengkak. Indera pendengarannya terasa semakin tajam mendengar bisik-bisik tetangga yang memuakkan.

"Pasti tuh, Pak Umar depresi karena punya anak nggak guna kayak Wildan. Udah tua bukannya kerja, nyari istri buat ngurus Bapaknya tapi malah judi sabung ayam," ucap salah satu tetangga.

"Iya bener Jeng. Lihat tuh dia nangis terus, pasti menyesal belum berbakti pada Bapaknya, tapi semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur kacang ijo," sambung yang lainnya.

Ingin rasanya Wildan berteriak, mengumpat atau bahkan mengusir orang-orang yang menggunjingnya. Namun, di sudut hati ada sebagian dari dirinya membenarkan apa yang dikatakan orang-orang itu.

"Dan, minum dulu ya." Pak Anwar menyodorkan air mineral pada Wildan. Meskipun enggan, Wildan tetap mengulurkan tangan menerima air pemberian Pak Anwar. Tenggorokannya benar-benar terasa kering.

"Kamu ingat apa yang kusampaikan dulu waktu ngaji di masjid?" tanya Pak Anwar setelah Wildan selesai meneguk air.

"Setiap kehidupan manusia selalu membawa dua sisi. Senang dan sedih. Jika kamu saat ini bersedih, boleh saja kamu menangis tapi jangan berlarut-larut. Kamu harus yakin, ada mentari indah nan hangat di balik awan mendung yang hitam pekat," lanjut Pak Anwar meski Wildan hanya diam saja, tak menyahut sedari tadi.

Malam kian larut, para tetangga satu persatu pulang ke rumahnya masing-masing. Dan saat jarum jam di dinding ruang tamu mengarah di angka 11, hanya tersisa Pak Anwar yang masih duduk di samping Wildan. Laki-laki sepuh itu beberapa kali batuk, mungkin udara malam yang dingin membuat alerginya kambuh.

"Bapak nggak pulang?" tanya Wildan. Timbul rasa iba di hatinya melihat tubuh renta Pak Anwar yang mengingatkan Wildan pada sosok Bapaknya yang sudah tiada.

"Ya aku pengen pulang, tapi kamu ikut aku ya. Kasihan kamu kalau sendirian di rumah ini," jawab Pak Anwar.

"Nggak Pak. Aku mau disini saja," sahut Wildan, mendongak menatap langit-langit teras yang penuh sarang laba-laba.

"Aku akan menemanimu kalau begitu." Pak Anwar tersenyum menatap Wildan.

"Hah? Tidur disini?" Wildan mengernyitkan dahi. Pak Anwar mengangguk yakin.

"Ayo kita masuk ke dalam Dan. Udara sangat dingin," ajak Pak Anwar. Kali ini Wildan menurut. Wajah tulus Pak Anwar membuat kekosongan di hati Wildan sedikit terisi.

"Bapak nanti tidur dimana?" tanya Wildan bingung. Di dalam kamarnya hanya ada satu ranjang yang muat untuk satu orang saja. Dan rasanya tak mungkin meminta Pak Anwar untuk tidur di kamar Bapaknya, bekas tempat g*ntung diri.

"Aku bisa tidur di sofa." Pak Anwar menunjuk sofa lusuh di tengah ruangan. Sofa berwarna cokelat tua yang sedikit berdebu dan bau apek.

Pak Anwar merebahkan badannya di sofa. Wildan berdiri termangu menatap guru ngaji yang ternyata sangat peduli padanya.

"Kenapa bengong disitu Dan?" Pak Anwar bertanya keheranan.

"Ah, nggak pa-pa Pak. Maafkan saya yang tidak bisa menyiapkan tempat nyaman untuk Njenengan tidur," ucap Wildan tertunduk.

"Lhah, aku sudah biasa kayak gini Dan. Di rumah biasanya juga ketiduran depan tv. Jarang sekali aku tidur di kamar. Tenang saja dan cepatlah tidur," sahut Pak Anwar meyakinkan.

Wildan menurut dan masuk ke dalam kamarnya. Pintu kamar tidur Wildan tepat menghadap ke sofa ruang tamu. Wildan duduk di sudut ranjang, memperhatikan Pak Anwar yang mencoba untuk memejamkan mata. Wildan yakin, sebenarnya guru ngaji itu merasa kurang nyaman merebahkan badannya di sofa tak terurus.

Wildan menghela nafas. Dirinya semakin merasa menjadi pribadi yang tak berguna dan hanya bisa merepotkan orang lain. Wildan mengambil selimut di atas ranjang kemudian berjalan mendekati Pak Anwar.

"Pak, udara sedang dingin. Njenengan pakai selimut ini, bersih kok," ucap Wildan lirih, menyerahkan selimut bermotif pulkadot pada Pak Anwar. Guru ngaji itu hanya mengangguk sembari tersenyum.

_

Udara memang terasa benar-benar beku. Wildan tak kunjung bisa memejamkan mata. Sementara Pak Anwar yang tidur di sofa ruang tamu, terdengar mendengkur kencang. Wildan melihat handphonenya. Ternyata sudah lewat tengah malam.

Perlahan Wildan bangun dari ranjangnya. Tak ingin membangunkan Pak Anwar, Wildan berjalan berjingkat menuju kamar Sang Bapak di dekat dapur. Dia hendak mengambil selimut yang ada di dalam lemari kamar Bapaknya.

Saat masuk ke dalam kamar Sang Bapak bulu kuduk Wildan berdiri tiba-tiba. Aura yang terasa di ruangan tempat Sang Bapak meninggal benar-benar mencekam. Lampu kamar terkesan lebih redup dan suram. Aroma wangi menyengat yang entah datang darimana, juga udara dingin namun pengap nan menyesakkan.

Wildan buru-buru meraih lemari kayu di sudut kamar. Dia menarik salah satu selimut lusuh yang ada di tumpukan paling atas. Tanpa sengaja sebuah benda kotak seukuran telapak tangan ikut jatuh menimpa kepalanya.

"Duh." Wildan meringis, mengusap-usap dahinya.

Benda kotak berbahan kayu itu kini menarik perhatian Wildan. Jangan-jangan isinya perhiasan. Wildan berjongkok dan memungut kotak kayu itu. Dia menarik pengait besi di bagian ujung dan membukanya perlahan.

Ternyata di dalam kotak terdapat selembar kertas biru yang dilipat rapi, sebuah amplop cokelat, dan sobekan surat kabar berwarna kecokelatan yang kumal.

"Apa ini? Benda nggak guna," gerutu Wildan menyadari tidak ada harta karun sesuai dugaannya tadi.

Wildan membaca potongan koran lusuh itu. Tertanggal 1 Januari 1992. Koran lawas rupanya. Terlihat jelas, judul artikel yang tercetak dengan huruf kapital berwarna hitam. 'Rumah konglomerat Sumiran disatroni perampok'.

Wildan penasaran. Dia membaca beberapa paragraf artikel tersebut. Disebutkan kalau sang konglomerat tewas dalam upaya membela diri. Sang istri lenyap tanpa jejak. Beberapa perhiasan raib, dan uang dengan jumlah 2 juta rupiah ludes digasak sang perampok.

"Dua juta? Jaman dulu itu jumlah yang besar ya. Kalau sekarang buat kebutuhan sebulan juga nggak cukup," gumam Wildan. Dia kembali melipat surat kabar lusuh itu.

Wildan kemudian membuka lipatan kertas berwarna biru yang tergeletak di sebelah amplop cokelat. Ternyata lipatan kertas tersebut adalah lembaran uang 50 ribu versi lama. Tercetak di bagian tengah, sebuah tulisan yang terbaca tahun 1991.

Bersambung___

Terpopuler

Comments

ſᑎ🎐ᵇᵃˢᵉ

ſᑎ🎐ᵇᵃˢᵉ

bapaknya wildan salah satu perampok konglomerat di tahun 1991 yah....

2023-08-26

0

Nuranita

Nuranita

pk anwar baik banget y jdi orang.....jarang2 lo orang peduli sama orang ga guna kek wildan.....maaf dan...ga niat bully qmu tpi emg kenyataan kn😂😂😂😂😂😂🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭

2023-04-15

0

ms. Ella

ms. Ella

tulisannya rapi, aku yg baca ceritanya ga bosen karena tata cara penulisannya rapi & alur ceritanya bagus bgt, bikin penasaran bt baca kisah selanjutnya...

2023-02-18

0

lihat semua
Episodes
1 Siji
2 Loro
3 Telu
4 Papat
5 Limo
6 Nem
7 Pitu
8 Wolu
9 Songo
10 NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
11 Sepuluh
12 Sewelas
13 Rolas
14 Telulas
15 Patbelas
16 Limolas
17 Nembelas
18 Pitulas
19 Wolulas
20 Songolas
21 Rongpuluh
22 Selikur
23 Rolikur
24 Telulikur
25 Patlikur
26 Selawe
27 Nemlikur
28 Pitulikur
29 Wolulikur
30 Songolikur
31 Telungpuluh
32 Telungpuluh Siji
33 Telungpuluh Loro
34 Telungpuluh Telu
35 Telungpuluh Papat
36 Telungpuluh Limo
37 Telungpuluh Nem
38 Telungpuluh Pitu
39 Telungpuluh Wolu
40 Telungpuluh Songo
41 Patangpuluh
42 Patangpuluh Siji
43 Patangpuluh Loro
44 Patangpuluh Telu
45 Patangpuluh Papat
46 Patangpuluh Limo
47 Patangpuluh Nem
48 Patangpuluh Pitu
49 Patangpuluh Wolu
50 Patangpuluh Songo
51 Seket
52 Seket Siji
53 Seket Loro
54 Seket Telu
55 Seket Papat
56 Seket Limo
57 Seket Nem
58 Seket Pitu
59 Seket Wolu
60 Seket Songo
61 Sewidak
62 Sewidak Siji
63 Pengumuk an (Umuk = cerita dalam dialeg tempat tinggal yang nulis)
64 Sewidak Loro
65 Sewidak Telu
66 Sewidak Papat
67 Sewidak Limo
68 Sewidak Nem
69 Sewidak Pitu
70 Sewidak Wolu
71 Sewidak Songo
72 Pitungpuluh
73 Pitungpuluh Siji
74 Pitungpuluh Loro
75 Pitungpuluh Telu
76 Uneg-uneg (boleh Skip)
77 Pitungpuluh Papat
78 Pitungpuluh Limo
79 Pitungpuluh Nem
80 Pitungpuluh Pitu
81 Pitungpuluh Wolu
82 Pitungpuluh Songo
83 Wolongpuluh
84 Wolongpuluh Siji
85 Wolongpuluh Loro
86 Wolongpuluh Telu
87 Wolongpuluh Papat
88 Wolongpuluh Limo
89 Wolongpuluh Nem
90 Wolongpuluh Pitu
91 Wolongpuluh Wolu
92 Wolongpuluh Songo
93 Sangangpuluh
94 Sangangpuluh Siji
95 Sangangpuluh Loro : Akhir
96 Ijin Promo Judul Baru
97 Judul Horor Baru bung Kus
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Siji
2
Loro
3
Telu
4
Papat
5
Limo
6
Nem
7
Pitu
8
Wolu
9
Songo
10
NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
11
Sepuluh
12
Sewelas
13
Rolas
14
Telulas
15
Patbelas
16
Limolas
17
Nembelas
18
Pitulas
19
Wolulas
20
Songolas
21
Rongpuluh
22
Selikur
23
Rolikur
24
Telulikur
25
Patlikur
26
Selawe
27
Nemlikur
28
Pitulikur
29
Wolulikur
30
Songolikur
31
Telungpuluh
32
Telungpuluh Siji
33
Telungpuluh Loro
34
Telungpuluh Telu
35
Telungpuluh Papat
36
Telungpuluh Limo
37
Telungpuluh Nem
38
Telungpuluh Pitu
39
Telungpuluh Wolu
40
Telungpuluh Songo
41
Patangpuluh
42
Patangpuluh Siji
43
Patangpuluh Loro
44
Patangpuluh Telu
45
Patangpuluh Papat
46
Patangpuluh Limo
47
Patangpuluh Nem
48
Patangpuluh Pitu
49
Patangpuluh Wolu
50
Patangpuluh Songo
51
Seket
52
Seket Siji
53
Seket Loro
54
Seket Telu
55
Seket Papat
56
Seket Limo
57
Seket Nem
58
Seket Pitu
59
Seket Wolu
60
Seket Songo
61
Sewidak
62
Sewidak Siji
63
Pengumuk an (Umuk = cerita dalam dialeg tempat tinggal yang nulis)
64
Sewidak Loro
65
Sewidak Telu
66
Sewidak Papat
67
Sewidak Limo
68
Sewidak Nem
69
Sewidak Pitu
70
Sewidak Wolu
71
Sewidak Songo
72
Pitungpuluh
73
Pitungpuluh Siji
74
Pitungpuluh Loro
75
Pitungpuluh Telu
76
Uneg-uneg (boleh Skip)
77
Pitungpuluh Papat
78
Pitungpuluh Limo
79
Pitungpuluh Nem
80
Pitungpuluh Pitu
81
Pitungpuluh Wolu
82
Pitungpuluh Songo
83
Wolongpuluh
84
Wolongpuluh Siji
85
Wolongpuluh Loro
86
Wolongpuluh Telu
87
Wolongpuluh Papat
88
Wolongpuluh Limo
89
Wolongpuluh Nem
90
Wolongpuluh Pitu
91
Wolongpuluh Wolu
92
Wolongpuluh Songo
93
Sangangpuluh
94
Sangangpuluh Siji
95
Sangangpuluh Loro : Akhir
96
Ijin Promo Judul Baru
97
Judul Horor Baru bung Kus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!