Wildan menatap nanar wajah Bapaknya yang membiru. Laki-laki sepuh itu kini sudah tak bernafas, terbujur kaku dan dibaringkan di atas dipan ruang tamu. Banyak tetangga sekitar dan warga yang berkumpul. Termasuk Pak Kasun dan anggota kepolisian.
Wildan hanya bisa menangis. Kini dia merasa tak punya siapa-siapa lagi di dunia. Usianya memang sudah dewasa, tapi rasa takut akan kesepian membuatnya tersedu, menangis seperti bocah. Se buruk-buruknya Sang Bapak, setidaknya Wildan merasa memiliki seseorang di dunia ini. Namun kini, sudah tak ada lagi.
"Sabar Dan," ucap Pak Anwar sang guru ngaji menenangkan. Dia menepuk-nepuk bahu Wildan yang nampak berguncang.
Sebuah kalimat tulus dari Pak Anwar malah membuat hati Wildan semakin teriris. Bagi Wildan orang lain dapat dengan mudah mengucap kata sabar padanya, padahal mereka tak pernah tahu dan mengerti rasa sakit, rasa sepi di hati Wildan.
Jam 8 malam jenasah Pak Umar sudah selesai dikebumikan. Wildan masih menangis di teras depan rumah hingga matanya bengkak. Indera pendengarannya terasa semakin tajam mendengar bisik-bisik tetangga yang memuakkan.
"Pasti tuh, Pak Umar depresi karena punya anak nggak guna kayak Wildan. Udah tua bukannya kerja, nyari istri buat ngurus Bapaknya tapi malah judi sabung ayam," ucap salah satu tetangga.
"Iya bener Jeng. Lihat tuh dia nangis terus, pasti menyesal belum berbakti pada Bapaknya, tapi semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur kacang ijo," sambung yang lainnya.
Ingin rasanya Wildan berteriak, mengumpat atau bahkan mengusir orang-orang yang menggunjingnya. Namun, di sudut hati ada sebagian dari dirinya membenarkan apa yang dikatakan orang-orang itu.
"Dan, minum dulu ya." Pak Anwar menyodorkan air mineral pada Wildan. Meskipun enggan, Wildan tetap mengulurkan tangan menerima air pemberian Pak Anwar. Tenggorokannya benar-benar terasa kering.
"Kamu ingat apa yang kusampaikan dulu waktu ngaji di masjid?" tanya Pak Anwar setelah Wildan selesai meneguk air.
"Setiap kehidupan manusia selalu membawa dua sisi. Senang dan sedih. Jika kamu saat ini bersedih, boleh saja kamu menangis tapi jangan berlarut-larut. Kamu harus yakin, ada mentari indah nan hangat di balik awan mendung yang hitam pekat," lanjut Pak Anwar meski Wildan hanya diam saja, tak menyahut sedari tadi.
Malam kian larut, para tetangga satu persatu pulang ke rumahnya masing-masing. Dan saat jarum jam di dinding ruang tamu mengarah di angka 11, hanya tersisa Pak Anwar yang masih duduk di samping Wildan. Laki-laki sepuh itu beberapa kali batuk, mungkin udara malam yang dingin membuat alerginya kambuh.
"Bapak nggak pulang?" tanya Wildan. Timbul rasa iba di hatinya melihat tubuh renta Pak Anwar yang mengingatkan Wildan pada sosok Bapaknya yang sudah tiada.
"Ya aku pengen pulang, tapi kamu ikut aku ya. Kasihan kamu kalau sendirian di rumah ini," jawab Pak Anwar.
"Nggak Pak. Aku mau disini saja," sahut Wildan, mendongak menatap langit-langit teras yang penuh sarang laba-laba.
"Aku akan menemanimu kalau begitu." Pak Anwar tersenyum menatap Wildan.
"Hah? Tidur disini?" Wildan mengernyitkan dahi. Pak Anwar mengangguk yakin.
"Ayo kita masuk ke dalam Dan. Udara sangat dingin," ajak Pak Anwar. Kali ini Wildan menurut. Wajah tulus Pak Anwar membuat kekosongan di hati Wildan sedikit terisi.
"Bapak nanti tidur dimana?" tanya Wildan bingung. Di dalam kamarnya hanya ada satu ranjang yang muat untuk satu orang saja. Dan rasanya tak mungkin meminta Pak Anwar untuk tidur di kamar Bapaknya, bekas tempat g*ntung diri.
"Aku bisa tidur di sofa." Pak Anwar menunjuk sofa lusuh di tengah ruangan. Sofa berwarna cokelat tua yang sedikit berdebu dan bau apek.
Pak Anwar merebahkan badannya di sofa. Wildan berdiri termangu menatap guru ngaji yang ternyata sangat peduli padanya.
"Kenapa bengong disitu Dan?" Pak Anwar bertanya keheranan.
"Ah, nggak pa-pa Pak. Maafkan saya yang tidak bisa menyiapkan tempat nyaman untuk Njenengan tidur," ucap Wildan tertunduk.
"Lhah, aku sudah biasa kayak gini Dan. Di rumah biasanya juga ketiduran depan tv. Jarang sekali aku tidur di kamar. Tenang saja dan cepatlah tidur," sahut Pak Anwar meyakinkan.
Wildan menurut dan masuk ke dalam kamarnya. Pintu kamar tidur Wildan tepat menghadap ke sofa ruang tamu. Wildan duduk di sudut ranjang, memperhatikan Pak Anwar yang mencoba untuk memejamkan mata. Wildan yakin, sebenarnya guru ngaji itu merasa kurang nyaman merebahkan badannya di sofa tak terurus.
Wildan menghela nafas. Dirinya semakin merasa menjadi pribadi yang tak berguna dan hanya bisa merepotkan orang lain. Wildan mengambil selimut di atas ranjang kemudian berjalan mendekati Pak Anwar.
"Pak, udara sedang dingin. Njenengan pakai selimut ini, bersih kok," ucap Wildan lirih, menyerahkan selimut bermotif pulkadot pada Pak Anwar. Guru ngaji itu hanya mengangguk sembari tersenyum.
_
Udara memang terasa benar-benar beku. Wildan tak kunjung bisa memejamkan mata. Sementara Pak Anwar yang tidur di sofa ruang tamu, terdengar mendengkur kencang. Wildan melihat handphonenya. Ternyata sudah lewat tengah malam.
Perlahan Wildan bangun dari ranjangnya. Tak ingin membangunkan Pak Anwar, Wildan berjalan berjingkat menuju kamar Sang Bapak di dekat dapur. Dia hendak mengambil selimut yang ada di dalam lemari kamar Bapaknya.
Saat masuk ke dalam kamar Sang Bapak bulu kuduk Wildan berdiri tiba-tiba. Aura yang terasa di ruangan tempat Sang Bapak meninggal benar-benar mencekam. Lampu kamar terkesan lebih redup dan suram. Aroma wangi menyengat yang entah datang darimana, juga udara dingin namun pengap nan menyesakkan.
Wildan buru-buru meraih lemari kayu di sudut kamar. Dia menarik salah satu selimut lusuh yang ada di tumpukan paling atas. Tanpa sengaja sebuah benda kotak seukuran telapak tangan ikut jatuh menimpa kepalanya.
"Duh." Wildan meringis, mengusap-usap dahinya.
Benda kotak berbahan kayu itu kini menarik perhatian Wildan. Jangan-jangan isinya perhiasan. Wildan berjongkok dan memungut kotak kayu itu. Dia menarik pengait besi di bagian ujung dan membukanya perlahan.
Ternyata di dalam kotak terdapat selembar kertas biru yang dilipat rapi, sebuah amplop cokelat, dan sobekan surat kabar berwarna kecokelatan yang kumal.
"Apa ini? Benda nggak guna," gerutu Wildan menyadari tidak ada harta karun sesuai dugaannya tadi.
Wildan membaca potongan koran lusuh itu. Tertanggal 1 Januari 1992. Koran lawas rupanya. Terlihat jelas, judul artikel yang tercetak dengan huruf kapital berwarna hitam. 'Rumah konglomerat Sumiran disatroni perampok'.
Wildan penasaran. Dia membaca beberapa paragraf artikel tersebut. Disebutkan kalau sang konglomerat tewas dalam upaya membela diri. Sang istri lenyap tanpa jejak. Beberapa perhiasan raib, dan uang dengan jumlah 2 juta rupiah ludes digasak sang perampok.
"Dua juta? Jaman dulu itu jumlah yang besar ya. Kalau sekarang buat kebutuhan sebulan juga nggak cukup," gumam Wildan. Dia kembali melipat surat kabar lusuh itu.
Wildan kemudian membuka lipatan kertas berwarna biru yang tergeletak di sebelah amplop cokelat. Ternyata lipatan kertas tersebut adalah lembaran uang 50 ribu versi lama. Tercetak di bagian tengah, sebuah tulisan yang terbaca tahun 1991.
Bersambung___
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
ſᑎ🎐ᵇᵃˢᵉ
bapaknya wildan salah satu perampok konglomerat di tahun 1991 yah....
2023-08-26
0
Nuranita
pk anwar baik banget y jdi orang.....jarang2 lo orang peduli sama orang ga guna kek wildan.....maaf dan...ga niat bully qmu tpi emg kenyataan kn😂😂😂😂😂😂🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
2023-04-15
0
ms. Ella
tulisannya rapi, aku yg baca ceritanya ga bosen karena tata cara penulisannya rapi & alur ceritanya bagus bgt, bikin penasaran bt baca kisah selanjutnya...
2023-02-18
0