Hari ini, untuk ke sekian kalinya Ika bertengkar dengan sang suami. Pertengkaran yang terjadi berulang kali dalam kurun waktu hanya satu minggu. Awal mula perdebatan hebat pasangan suami istri itu kala Ika mendengar kabar kematian Pak Umar, ayah dari Wildan. Ika meminta ijin untuk datang ke rumah duka, namun berujung dia dipulangkan oleh sang suami ke rumah orangtuanya.
Cinta pertama selalu berkesan, bahkan sulit untuk dilupakan. Ika pun merasa demikian. Dia sulit melupakan sosok Wildan. Meski seburuk apapun yang dikatakan orang-orang, di mata Ika Wildan tetaplah laki-laki paling tulus yang pernah dia temui. Tak pernah sekalipun Wildan berbuat kasar padanya, baik secara verbal maupun fisik.
Meski sulit melepaskan diri dari bayang-bayang Wildan, Ika tetap berusaha menjadi seorang istri yang baik. Bahkan dia membantu keuangan sang suami dengan berjualan kue kering. Pesanan secara online nyatanya cukup tinggi dan membuat Ika menjadi wanita yang mandiri.
Begitupun hari ini, pesanan kue kering sangat banyak. Ika belum sempat membuat adonan karena sedari pagi harus berdebat dengan sang suami. Saat hatinya sudah tenang, dia ingin memulai untuk memasak. Tapi sayangnya persediaan telur di rumah orangtua Ika tak cukup. Meski cuaca sedang tak bersahabat, hujan sangat lebat, Ika tetap berjalan menuju ke warung di ujung pertigaan. Siapa sangka sepulang dari warung, dia malah melihat Wildan berada di dalam mobil bersama seorang perempuan muda nan cantik. Terlihat samar-samar, perempuan itu melepaskan pakaiannya di hadapan Wildan.
...****************...
Bertemu pandang dengan seorang mantan yang masih diharapkan untuk bisa kembali saat sedang bersama perempuan lain dalam mobil, sebuah hal yang tak pernah terbayang di benak Wildan. Apalagi perempuan di sebelah Wildan hanya mengenakan sebuah br* berenda nan seksi. Sungguh suasana yang membuat canggung. Wildan kehilangan suaranya, tenggorokan tercekat dan hanya mampu menatap Ika sambil menggeleng perlahan.
Ika memalingkan wajah. Rasa sakit terasa menghujam sudut hatinya. Padahal dia sadar betul, dirinya dan Wildan kini tak memilki hubungan apa-apa. Ika menggenggam gagang payungnya dengan erat. Tangannya terlihat bergetar menahan getir.
Wildan sadar, kejadian ini bisa membuat Ika salah faham. Tanpa mempedulikan hujan yang semakin deras, Wildan melompat keluar dari dalam mobil. Dia segera berlari dan berteduh di dalam payung hitam yang digenggam Ika.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ika berusaha menguasai rasa terkejutnya.
"Entahlah. Aku hanya merasa tidak ingin membuatmu salah faham," jawab Wildan di antara suara bibirnya yang gemetar kedinginan.
"Banyak hal yang terjadi hari ini. Mungkin jika aku bercerita pun kamu akan sulit untuk percaya. Perempuan yang ada di dalam mobil itu aku tak mengenalnya. Tapi dia menolongku. Untuk sementara waktu aku harus pergi dari tempat ini," lanjut Wildan menatap dua bola mata Ika. Pupil jernih yang selalu Wildan rindukan.
"Pergi kemana? Berdua dengan perempuan cantik itu?" tanya Ika lirih.
"Ya dengannya. Untuk menyelesaikan sebuah masalah. Mungkin aku akan pergi jauh. Mungkin aku akan menghilang. Dan mungkin juga aku takkan kembali," ucap Wildan ragu-ragu.
Ika tersentak mendengar ucapan Wildan. Dadanya terasa terbakar. Timbul tanya di benaknya, apakah ini sebuah salam perpisahan? Sudut mata yang sayu itu mulai nampak berair.
"Takdir seperti sedang meledekku Ika. Entah bagaimana benang nasib membawamu bertemu denganku malam ini. Seolah memberiku kesempatan untuk berpamitan." Wildan menghela nafas.
Ika diam mematung. Ingin rasanya bersandar pada pundak bidang laki-laki yang ada di hadapannya itu, namun dia sadar mereka bukan siapa-siapa, tak punya hubungan apa-apa.
"Oh iya Ika, satu lagi. Ayamku Jawara, kutinggalkan di rumah. Aku sengaja meninggalkannya, karena kurasa aku tak mungkin bisa mengurusnya dengan kondisiku yang sekarang. Jika berkenan, jaga Jawara. Ayam itu bagaikan saudaraku sendiri," ucap Wildan sambil memaksa bibirnya untuk tersenyum. Ika hanya mengangguk perlahan.
"Sayaanggg! Siapa itu? Lama banget ih! Aku sudah nungguin lho, udah lepas baju juga!" teriak Angel tiba-tiba dari dalam mobil.
Wildan dan Ika kompak menoleh, menatap Angel. Perempuan itu nampak mengucir rambut dan mengedipkan sebelah matanya. Sebuah senyuman terkembang, sambil menggigit bib*r bawahnya. Wildan melongo dengan tingkah Angel. Sedangkan wajah Ika memerah menahan amarah.
"Dasar laki-laki! Semua sama saja!" teriak Ika.
Plaakkk
Sebuah tamparan melayang, telak menghantam pipi kanan Wildan. Dengan menghentakkan kakinya, Ika berjalan pergi meninggalkan Wildan yang masih berdiri di tengah hujan.
"Dasar Mak Lampir brengsekkk!" gumam Wildan setelah beberapa saat lamanya. Dia berlari masuk ke dalam mobil dan langsung mencengkeram lengan putih bersih Angel.
"Apa maksudmu? Apa maumu? Tak cukupkah kamu melihat hidupku hancur? Bahkan kamu merusak momen perpisahan dengan mantanku?" bentak Wildan geram.
"Oohhh mantan. Pengen CLBK niihh. Thiklek nyemplung kalen, timbang golek mending balen." Angel terkekeh.
"Kalau saja kamu bukan perempuan, sudah kupukul dari tadi," ucap Wildan bersungut-sungut.
"Aku berusaha menyelamatkan mantanmu itu bod*h! Kamu harus ingat, kamu sekarang diincar. Bagaimana kalau ada yg mengawasimu, melihatmu ngobrol dengan mantanmu itu? Kamu nggak mau kan dia ikut diincar gara-gara pamitanmu yang menye-menye itu?" Angel menarik lengannya, melepaskan cengkeraman Wildan.
Wildan terdiam mendengar penjelasan Angel. Pada saat yang sama, di kejauhan terlihat sorot lampu mobil datang mendekat. Angel segera mematikan lampu kabin.
"Menunduk! Ada yang datang!" perintah Angel, menarik tubuh Wildan. Lengan Angel dikalungkan di leher Wildan, memaksanya agar menunduk.
Wildan kini dapat merasakan sensasi kulit mulus menyentuh lehernya. Aroma wangi semerbak menyapa indera penciuman Wildan dengan sopan.
Sementara itu dua buah mobil sedan berwarna gelap terlihat menepi. Ada beberapa orang yang turun dari dalam mobil menggunakan payung hitam. Angel mencoba mengintip, tapi tak terlihat jelas akibat air hujan yang mengalir di kaca depan.
...****************...
Pak Anwar baru saja mengikat luka di paha menggunakan sobekan kain lengan bajunya. Dia kesulitan saat mencoba menggerakkan kaki. Sepertinya otot kuadrisep telah robek cukup dalam. Dengan usia yang tak lagi muda, bisa saja Pak Anwar tak mampu pulih seperti semula.
Terdengar beberapa langkah kaki berjalan di teras depan. Dua orang berambut cepak dengan badan kekar terlihat masuk ke dalam rumah. Di susul seorang laki-laki yang mengenakan kemeja hitam lengan panjang. Sebuah arloji emas terpasang di pergelangan tangan kirinya.
"Bagaimana Anwar? Kamu mendapatkan uang itu?" tanya laki-laki arloji emas.
"Kamu tak melihat luka di kakiku ini? Sebagai teman lama bukankah sebaiknya kamu mengkhawatirkan keadaanku?" sahut Pak Anwar acuh.
"Padahal kupikir kemampuan bela diri kita setara Anwar. Tapi kamu kalah melawan bocah kemarin sore. Ah, kamu tak pernah melatih tubuhmu sih. Beda denganku yang masih bugar," ejek laki-laki arloji emas.
"Ini bukan ulah Wildan. Ada satu perempuan yang datang. Namanya Angel. Dia mengaku sebagai anak Santoso," ucap Pak Anwar mengatur nafasnya.
"Hah? Itu tak mungkin Anwar. Santoso tidak memiliki anak perempuan," bantah laki-laki arloji emas. Dia melihat sebuah pisau lipat tergeletak di lantai. Tangannya yang terbalut sarung tangan hitam memungutnya perlahan.
"Kamu tahu Anwar, kamu akan menjadi pion yang berguna untuk perburuan uang lama itu," ucap laki-laki arloji emas sambil menyeringai lebar.
"Apa maksudmu?" tanya Pak Anwar tak mengerti.
Bersambung___
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Rose_Ni
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-03-06
0
Rose_Ni
awas ketauan suami, dibikinnya ayam sayur 'ntar
2024-03-06
0
Diankeren
emang apes idup lu wil
mdh²an stelah ktemu enjel idup mu lbih baik y Le
2023-12-20
0