Raut wajah yang tak mampu menyembunyikan kegundahannya. Tepung dan telur yang sudah dipecahkan nampak dibiarkan dalam wadah baskom berwarna hijau. Beberapa loyang yang sudah tersusun rapi berjejer di atas meja.
Ika menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik dapur. Setelah menerima telepon dari Wildan perasaannya semakin kacau. Pesanan kue kering pelanggannya terbengkalai dari kemarin.
Saat semalam Ika melihat sang mantan bersama gadis lain, hatinya berusaha untuk menerima. Biar bagaimanapun Wildan berhak bahagia atas hidupnya. Namun saat subuh tadi mengetahui mantannya itu menjadi tertuduh kasus hukum, Ika benar-benar syok. Wildan menjadi tersangka atas kasus pembun*han yang korbannya adalah Pak Anwar, gurunya sendiri.
Meski hanya seujung kuku, Ika menolak untuk percaya berita tersebut. Ika sangat tahu tentang Wildan. Laki-laki itu memang pemalas, dan tak bisa keluar dari lingkar perjudian, namun Wildan bukan seorang pemb*n*h. Hatinya terlalu lembut, apalagi korbannya adalah Pak Anwar. Rasanya sangat mustahil.
Berbekal keyakinan itu, tadi pagi Ika mendatangi tempat kejadian perkara. Dia memberi kesaksian pada petugas kepolisian, kalau dirinya sempat melihat Wildan bersama seorang perempuan asing tadi malam. Dia berusaha membuat Wildan terbebas dari tuduhan.
"Kok ngelamun to Nduk? Adonanmu nggak mungkin berubah jadi kue dengan sendirinya kan?" tegur seorang ibu-ibu memakai daster batik berwarna merah.
"Wildan baru menelponku Buk," sahut Ika. Perempuan yang menghampirinya itu adalah Bu Asih, Ibuknya.
Bu Asih mengusap lembut pundak anaknya.
"Kenapa memikirkan orang lain, saat rumah tanggamu sendiri bermasalah Nduk?" tanya Bu Asih. Matanya terlihat sayu memancarkan kesedihan.
"Wildan bersumpah kepadaku, kalau dia tidak melakukan kejahatan yang dituduhkan. Dia difitnah Buk," ucap Ika menatap mata Ibuknya. Ika ingin Bu Asih mempercayai Wildan, sama seperti dirinya.
"Tapi Nduk, tidak baik memikirkan laki-laki lain saat kamu sudah memiliki seorang suami." Bu Asih memberi nasehat.
Ika diam saja. Dia berbalik badan, dan memeluk Sang Ibuk yang berdiri di belakangnya. Selama ini apapun keputusan Ika, Bu Asih ada untuk mendukungnya. Bahkan saat sang Bapak melarang hubungan Ika dengan Wildan, Bu Asih masih tetap memberi dukungan untuk anaknya. Namun sayangnya, keputusan Sang Bapak dalam keluarga bersifat mutlak.
"Seandainya saja aku bersama Wildan Buk, rumah tanggaku pasti baik-baik saja. Hidup Wildan juga pasti lebih baik. Ibuk tahu sendiri kan, Wildan sebenarnya laki-laki yang bertanggung jawab? Hanya saja jalan hidupnya ditimpa kemalangan. Perpisahan membuat kami sama-sama sakit. Hidup kami hancur Buk," ratap Ika. Kini dia menangis, menumpahkan kesedihannya di pelukan Bu Asih. Perasaan yang sudah lama terpendam dan ditahan, kini meluap bersama terbitnya air jernih di sudut netra.
"Jangan begitu Nduk. Kamu hanya berandai-andai. Belum tentu hidupmu lebih bahagia jika bersama Wildan. Kamu tahu Nduk, kenapa dalam kehidupan diciptakan rasa kecewa? Karena dengan kecewa kamu akan belajar Nduk. Belajar ikhlas, belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Karena perjalanan hidup sejatinya adalah pembelajaran untuk membawa kita menjadi insan yang lebih baik Nduk," ucap Bu Asih dengan suara bergetar. Dia membelai lembut kepala putrinya.
"Bukan aku yang harus belajar Buk. Tapi Bapak. Bapak harus mulai mendengarkan keinginan anggota keluarganya. Bapak tak boleh selalu memaksakan kehendaknya." Ika semakin terisak, memeluk erat Ibuknya. Sementara, suara ayam jago berkokok nyaring di pekarangan belakang. Jawara kini telah dirawat oleh Ika, sesuai janjinya pada Wildan tadi malam.
...****************...
Mobil berwarna hitam menepi di sebuah rumah yang terbengkalai di pinggiran kota P. Mobil yang dikemudikan Angel itu berbelok masuk ke dalam garasi dengan pintu besi yang sudah berkarat. Wildan mengamati tempat asing yang terasa gerah dan berdebu itu.
"Ambil barang-barangmu. Dan segera turun," ucap Angel memberi perintah.
"Kita sudah sampai?" tanya Wildan seraya meraih ranselnya yang tergeletak di kursi belakang.
"Kita turun disini. Terus naik angkot ke tempat kenalanku. Jangan bawel deh, banyak nanya!" Angel bersungut-sungut.
"Mobil ditinggal disini? Rumah siapa ini?" Wildan tak mampu membendung rasa penasarannya, meski Angel sudah melarang banyak bertanya.
"Rumah kosong. Aman pokoknya. Dah, ayo jangan loyo!" bentak Angel. Perempuan itu menyambar kemeja kotak-kotak dan sebuah topi berwarna biru tua. Nampak keren saat dikenakan.
Wildan pun turun dari mobil. Dia mengamati sekilas garasi tempat mobil Angel terparkir. Cat dinding yang sudah pudar dan mengelupas. Juga ban dan velg bekas nampak tertumpuk di sudut ruangan.
"Ayo!" seru Angel mengajak Wildan untuk melangkah.
Setengah berlari Wildan mengekor di belakang Angel. Dia sempat menoleh dan melihat rumah terbengkalai itu. Rumah lawas yang cukup luas. Di bagian depan tertulis angka 32 dan sebuah papan nama kusam tertempel di atas pintu. Meski samar, namun masih bisa terbaca. Seruni.
Angel dan Wildan sampai di tepian jalan raya. Tak perlu waktu lama, angkot berwarna biru terlihat berhenti menghampiri.
"Mau kemana Mbak?" tanya sopir angkot.
"P Plaza Pak," jawab Angel langsung masuk ke dalam angkot. Wildan menyusul.
Di dalam angkot terasa lega. Hanya ada seorang ibu-ibu yang duduk di sudut. Memang kian hari angkutan umum semakin sepi penumpang. Orang-orang lebih memilih kendaraan pribadi untuk mobilitasnya sehari-hari.
"Sim card ku bagaimana?" tanya Wildan saat angkot sudah kembali berjalan.
"Nanti ada di tempat temenku," jawab Angel singkat.
Wildan mengangguk. Pada akhirnya sepanjang jalan, tak ada lagi percakapan. Sesekali Wildan mencuri pandang pada Angel. Gadis yang ada di sampingnya itu benar-benar terlihat cantik dan cocok memakai topi baseball. Bulu bulu halusnya di bagian tengkuk, nampak jelas di tengah-tengah kulit putih nan bersih.
Takut dengan perasaannya, Wildan buru-buru mengalihkan pandangan. Kini, matanya tertuju pada ibu-ibu di sudut angkot yang ada di hadapannya. Perhiasan emas imitasinya nampak berat di bagian leher dan lengan. Setiap kali angkot melewati jalanan berlubang, terdengar suara gemerincing dari perhiasan yang beradu.
Setelah beberapa kali mobil angkot berguncang, wajah sang ibu nampak berubah. Ekspresi panik terlihat jelas. Secara tiba-tiba Ibu itu memuntahkan isi perutnya.
"Hooekkkk!"
Wildan yang telat menghindar, harus menerima kenyataan kaki dan celananya penuh dengan muntahan ibu-ibu asing itu.
"Kiri Pak Sopir!" teriak Ibu itu dan segera berdiri dari duduknya. Setelah angkot berhenti, dia turun dari mobil. Mengacuhkan Wildan yang masih melongo, kakinya penuh dengan isi perut yang sebagian tercerna.
"Kalau nyetir yang bener doongg!" bentak Ibu asing itu pada sopir angkot sambil menyerahkan uang 10 an ribu.
Angel tertawa terbahak-bahak melihat Wildan yang mendapat rejeki tak terduga.
"Puas? Ketawanya puas?" Wildan bersungut-sungut.
Sopir angkot menyodorkan satu wadah tissue. Wildan pun segera membersihkan kakinya. Sesekali, dia menutup mulutnya. Mencegah agar dirinya tidak ikut-ikutan muntah.
"Ha ha ha ha. Ini namanya malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diminta," tawa Angel terdengar semakin nyaring. Pak Sopir angkot ikut-ikutan tersenyum sembari melirik kaca spion.
Bersambung___
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Rose_Ni
Jawara gak dijadikan saksi kah?
2024-03-06
0
IG: _anipri
ingat Ika Dan. siapa tahu kalian akan ditakdirkan untuk bersama lagi. wkwkwk
2023-01-23
0
IG: _anipri
heh ... rumah siapa? apa jangan-jangan rumah Sumiran?
2023-01-23
0