Nembelas

Raut wajah yang tak mampu menyembunyikan kegundahannya. Tepung dan telur yang sudah dipecahkan nampak dibiarkan dalam wadah baskom berwarna hijau. Beberapa loyang yang sudah tersusun rapi berjejer di atas meja.

Ika menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik dapur. Setelah menerima telepon dari Wildan perasaannya semakin kacau. Pesanan kue kering pelanggannya terbengkalai dari kemarin.

Saat semalam Ika melihat sang mantan bersama gadis lain, hatinya berusaha untuk menerima. Biar bagaimanapun Wildan berhak bahagia atas hidupnya. Namun saat subuh tadi mengetahui mantannya itu menjadi tertuduh kasus hukum, Ika benar-benar syok. Wildan menjadi tersangka atas kasus pembun*han yang korbannya adalah Pak Anwar, gurunya sendiri.

Meski hanya seujung kuku, Ika menolak untuk percaya berita tersebut. Ika sangat tahu tentang Wildan. Laki-laki itu memang pemalas, dan tak bisa keluar dari lingkar perjudian, namun Wildan bukan seorang pemb*n*h. Hatinya terlalu lembut, apalagi korbannya adalah Pak Anwar. Rasanya sangat mustahil.

Berbekal keyakinan itu, tadi pagi Ika mendatangi tempat kejadian perkara. Dia memberi kesaksian pada petugas kepolisian, kalau dirinya sempat melihat Wildan bersama seorang perempuan asing tadi malam. Dia berusaha membuat Wildan terbebas dari tuduhan.

"Kok ngelamun to Nduk? Adonanmu nggak mungkin berubah jadi kue dengan sendirinya kan?" tegur seorang ibu-ibu memakai daster batik berwarna merah.

"Wildan baru menelponku Buk," sahut Ika. Perempuan yang menghampirinya itu adalah Bu Asih, Ibuknya.

Bu Asih mengusap lembut pundak anaknya.

"Kenapa memikirkan orang lain, saat rumah tanggamu sendiri bermasalah Nduk?" tanya Bu Asih. Matanya terlihat sayu memancarkan kesedihan.

"Wildan bersumpah kepadaku, kalau dia tidak melakukan kejahatan yang dituduhkan. Dia difitnah Buk," ucap Ika menatap mata Ibuknya. Ika ingin Bu Asih mempercayai Wildan, sama seperti dirinya.

"Tapi Nduk, tidak baik memikirkan laki-laki lain saat kamu sudah memiliki seorang suami." Bu Asih memberi nasehat.

Ika diam saja. Dia berbalik badan, dan memeluk Sang Ibuk yang berdiri di belakangnya. Selama ini apapun keputusan Ika, Bu Asih ada untuk mendukungnya. Bahkan saat sang Bapak melarang hubungan Ika dengan Wildan, Bu Asih masih tetap memberi dukungan untuk anaknya. Namun sayangnya, keputusan Sang Bapak dalam keluarga bersifat mutlak.

"Seandainya saja aku bersama Wildan Buk, rumah tanggaku pasti baik-baik saja. Hidup Wildan juga pasti lebih baik. Ibuk tahu sendiri kan, Wildan sebenarnya laki-laki yang bertanggung jawab? Hanya saja jalan hidupnya ditimpa kemalangan. Perpisahan membuat kami sama-sama sakit. Hidup kami hancur Buk," ratap Ika. Kini dia menangis, menumpahkan kesedihannya di pelukan Bu Asih. Perasaan yang sudah lama terpendam dan ditahan, kini meluap bersama terbitnya air jernih di sudut netra.

"Jangan begitu Nduk. Kamu hanya berandai-andai. Belum tentu hidupmu lebih bahagia jika bersama Wildan. Kamu tahu Nduk, kenapa dalam kehidupan diciptakan rasa kecewa? Karena dengan kecewa kamu akan belajar Nduk. Belajar ikhlas, belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Karena perjalanan hidup sejatinya adalah pembelajaran untuk membawa kita menjadi insan yang lebih baik Nduk," ucap Bu Asih dengan suara bergetar. Dia membelai lembut kepala putrinya.

"Bukan aku yang harus belajar Buk. Tapi Bapak. Bapak harus mulai mendengarkan keinginan anggota keluarganya. Bapak tak boleh selalu memaksakan kehendaknya." Ika semakin terisak, memeluk erat Ibuknya. Sementara, suara ayam jago berkokok nyaring di pekarangan belakang. Jawara kini telah dirawat oleh Ika, sesuai janjinya pada Wildan tadi malam.

...****************...

Mobil berwarna hitam menepi di sebuah rumah yang terbengkalai di pinggiran kota P. Mobil yang dikemudikan Angel itu berbelok masuk ke dalam garasi dengan pintu besi yang sudah berkarat. Wildan mengamati tempat asing yang terasa gerah dan berdebu itu.

"Ambil barang-barangmu. Dan segera turun," ucap Angel memberi perintah.

"Kita sudah sampai?" tanya Wildan seraya meraih ranselnya yang tergeletak di kursi belakang.

"Kita turun disini. Terus naik angkot ke tempat kenalanku. Jangan bawel deh, banyak nanya!" Angel bersungut-sungut.

"Mobil ditinggal disini? Rumah siapa ini?" Wildan tak mampu membendung rasa penasarannya, meski Angel sudah melarang banyak bertanya.

"Rumah kosong. Aman pokoknya. Dah, ayo jangan loyo!" bentak Angel. Perempuan itu menyambar kemeja kotak-kotak dan sebuah topi berwarna biru tua. Nampak keren saat dikenakan.

Wildan pun turun dari mobil. Dia mengamati sekilas garasi tempat mobil Angel terparkir. Cat dinding yang sudah pudar dan mengelupas. Juga ban dan velg bekas nampak tertumpuk di sudut ruangan.

"Ayo!" seru Angel mengajak Wildan untuk melangkah.

Setengah berlari Wildan mengekor di belakang Angel. Dia sempat menoleh dan melihat rumah terbengkalai itu. Rumah lawas yang cukup luas. Di bagian depan tertulis angka 32 dan sebuah papan nama kusam tertempel di atas pintu. Meski samar, namun masih bisa terbaca. Seruni.

Angel dan Wildan sampai di tepian jalan raya. Tak perlu waktu lama, angkot berwarna biru terlihat berhenti menghampiri.

"Mau kemana Mbak?" tanya sopir angkot.

"P Plaza Pak," jawab Angel langsung masuk ke dalam angkot. Wildan menyusul.

Di dalam angkot terasa lega. Hanya ada seorang ibu-ibu yang duduk di sudut. Memang kian hari angkutan umum semakin sepi penumpang. Orang-orang lebih memilih kendaraan pribadi untuk mobilitasnya sehari-hari.

"Sim card ku bagaimana?" tanya Wildan saat angkot sudah kembali berjalan.

"Nanti ada di tempat temenku," jawab Angel singkat.

Wildan mengangguk. Pada akhirnya sepanjang jalan, tak ada lagi percakapan. Sesekali Wildan mencuri pandang pada Angel. Gadis yang ada di sampingnya itu benar-benar terlihat cantik dan cocok memakai topi baseball. Bulu bulu halusnya di bagian tengkuk, nampak jelas di tengah-tengah kulit putih nan bersih.

Takut dengan perasaannya, Wildan buru-buru mengalihkan pandangan. Kini, matanya tertuju pada ibu-ibu di sudut angkot yang ada di hadapannya. Perhiasan emas imitasinya nampak berat di bagian leher dan lengan. Setiap kali angkot melewati jalanan berlubang, terdengar suara gemerincing dari perhiasan yang beradu.

Setelah beberapa kali mobil angkot berguncang, wajah sang ibu nampak berubah. Ekspresi panik terlihat jelas. Secara tiba-tiba Ibu itu memuntahkan isi perutnya.

"Hooekkkk!"

Wildan yang telat menghindar, harus menerima kenyataan kaki dan celananya penuh dengan muntahan ibu-ibu asing itu.

"Kiri Pak Sopir!" teriak Ibu itu dan segera berdiri dari duduknya. Setelah angkot berhenti, dia turun dari mobil. Mengacuhkan Wildan yang masih melongo, kakinya penuh dengan isi perut yang sebagian tercerna.

"Kalau nyetir yang bener doongg!" bentak Ibu asing itu pada sopir angkot sambil menyerahkan uang 10 an ribu.

Angel tertawa terbahak-bahak melihat Wildan yang mendapat rejeki tak terduga.

"Puas? Ketawanya puas?" Wildan bersungut-sungut.

Sopir angkot menyodorkan satu wadah tissue. Wildan pun segera membersihkan kakinya. Sesekali, dia menutup mulutnya. Mencegah agar dirinya tidak ikut-ikutan muntah.

"Ha ha ha ha. Ini namanya malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diminta," tawa Angel terdengar semakin nyaring. Pak Sopir angkot ikut-ikutan tersenyum sembari melirik kaca spion.

Bersambung___

Terpopuler

Comments

Rose_Ni

Rose_Ni

Jawara gak dijadikan saksi kah?

2024-03-06

0

IG: _anipri

IG: _anipri

ingat Ika Dan. siapa tahu kalian akan ditakdirkan untuk bersama lagi. wkwkwk

2023-01-23

0

IG: _anipri

IG: _anipri

heh ... rumah siapa? apa jangan-jangan rumah Sumiran?

2023-01-23

0

lihat semua
Episodes
1 Siji
2 Loro
3 Telu
4 Papat
5 Limo
6 Nem
7 Pitu
8 Wolu
9 Songo
10 NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
11 Sepuluh
12 Sewelas
13 Rolas
14 Telulas
15 Patbelas
16 Limolas
17 Nembelas
18 Pitulas
19 Wolulas
20 Songolas
21 Rongpuluh
22 Selikur
23 Rolikur
24 Telulikur
25 Patlikur
26 Selawe
27 Nemlikur
28 Pitulikur
29 Wolulikur
30 Songolikur
31 Telungpuluh
32 Telungpuluh Siji
33 Telungpuluh Loro
34 Telungpuluh Telu
35 Telungpuluh Papat
36 Telungpuluh Limo
37 Telungpuluh Nem
38 Telungpuluh Pitu
39 Telungpuluh Wolu
40 Telungpuluh Songo
41 Patangpuluh
42 Patangpuluh Siji
43 Patangpuluh Loro
44 Patangpuluh Telu
45 Patangpuluh Papat
46 Patangpuluh Limo
47 Patangpuluh Nem
48 Patangpuluh Pitu
49 Patangpuluh Wolu
50 Patangpuluh Songo
51 Seket
52 Seket Siji
53 Seket Loro
54 Seket Telu
55 Seket Papat
56 Seket Limo
57 Seket Nem
58 Seket Pitu
59 Seket Wolu
60 Seket Songo
61 Sewidak
62 Sewidak Siji
63 Pengumuk an (Umuk = cerita dalam dialeg tempat tinggal yang nulis)
64 Sewidak Loro
65 Sewidak Telu
66 Sewidak Papat
67 Sewidak Limo
68 Sewidak Nem
69 Sewidak Pitu
70 Sewidak Wolu
71 Sewidak Songo
72 Pitungpuluh
73 Pitungpuluh Siji
74 Pitungpuluh Loro
75 Pitungpuluh Telu
76 Uneg-uneg (boleh Skip)
77 Pitungpuluh Papat
78 Pitungpuluh Limo
79 Pitungpuluh Nem
80 Pitungpuluh Pitu
81 Pitungpuluh Wolu
82 Pitungpuluh Songo
83 Wolongpuluh
84 Wolongpuluh Siji
85 Wolongpuluh Loro
86 Wolongpuluh Telu
87 Wolongpuluh Papat
88 Wolongpuluh Limo
89 Wolongpuluh Nem
90 Wolongpuluh Pitu
91 Wolongpuluh Wolu
92 Wolongpuluh Songo
93 Sangangpuluh
94 Sangangpuluh Siji
95 Sangangpuluh Loro : Akhir
96 Ijin Promo Judul Baru
97 Judul Horor Baru bung Kus
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Siji
2
Loro
3
Telu
4
Papat
5
Limo
6
Nem
7
Pitu
8
Wolu
9
Songo
10
NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
11
Sepuluh
12
Sewelas
13
Rolas
14
Telulas
15
Patbelas
16
Limolas
17
Nembelas
18
Pitulas
19
Wolulas
20
Songolas
21
Rongpuluh
22
Selikur
23
Rolikur
24
Telulikur
25
Patlikur
26
Selawe
27
Nemlikur
28
Pitulikur
29
Wolulikur
30
Songolikur
31
Telungpuluh
32
Telungpuluh Siji
33
Telungpuluh Loro
34
Telungpuluh Telu
35
Telungpuluh Papat
36
Telungpuluh Limo
37
Telungpuluh Nem
38
Telungpuluh Pitu
39
Telungpuluh Wolu
40
Telungpuluh Songo
41
Patangpuluh
42
Patangpuluh Siji
43
Patangpuluh Loro
44
Patangpuluh Telu
45
Patangpuluh Papat
46
Patangpuluh Limo
47
Patangpuluh Nem
48
Patangpuluh Pitu
49
Patangpuluh Wolu
50
Patangpuluh Songo
51
Seket
52
Seket Siji
53
Seket Loro
54
Seket Telu
55
Seket Papat
56
Seket Limo
57
Seket Nem
58
Seket Pitu
59
Seket Wolu
60
Seket Songo
61
Sewidak
62
Sewidak Siji
63
Pengumuk an (Umuk = cerita dalam dialeg tempat tinggal yang nulis)
64
Sewidak Loro
65
Sewidak Telu
66
Sewidak Papat
67
Sewidak Limo
68
Sewidak Nem
69
Sewidak Pitu
70
Sewidak Wolu
71
Sewidak Songo
72
Pitungpuluh
73
Pitungpuluh Siji
74
Pitungpuluh Loro
75
Pitungpuluh Telu
76
Uneg-uneg (boleh Skip)
77
Pitungpuluh Papat
78
Pitungpuluh Limo
79
Pitungpuluh Nem
80
Pitungpuluh Pitu
81
Pitungpuluh Wolu
82
Pitungpuluh Songo
83
Wolongpuluh
84
Wolongpuluh Siji
85
Wolongpuluh Loro
86
Wolongpuluh Telu
87
Wolongpuluh Papat
88
Wolongpuluh Limo
89
Wolongpuluh Nem
90
Wolongpuluh Pitu
91
Wolongpuluh Wolu
92
Wolongpuluh Songo
93
Sangangpuluh
94
Sangangpuluh Siji
95
Sangangpuluh Loro : Akhir
96
Ijin Promo Judul Baru
97
Judul Horor Baru bung Kus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!