Angkot berhenti tepat di depan pintu masuk pusat perbelanjaan. Terlihat banyak sekali orang berlalu lalang. Ada yang menenteng plastik besar berisi barang belanjaan, ada juga yang sekedar nongkrong di bagian luar plaza. Cuaca cukup terik, membuat Wildan menyipitkan mata kala keluar dari angkot.
"Ngapain kita kesini?" tanya Wildan bingung.
Angel mengacuhkan pertanyaan Wildan. Dia berjalan masuk ke dalam gang kecil yang terletak di sebelah plaza. Wildan pun mengekor di belakang Angel. Dia mengatupkan mulutnya rapat-rapat, karena sadar perempuan yang ada di depannya itu enggan membuka pembicaraan.
Kondisi gang di tengah kota nampak kumuh dan sempit. Beberapa kios berjejer, menjual makanan untuk para pegawai plaza. Keramaian yang membuat Wildan merasa tak nyaman. Khawatir wajahnya yang sudah terpampang di surat kabar sebagai buron akan dikenali orang-orang.
Saat kaki melangkah masuk semakin jauh ke dalam gang, suasana berubah. Sunyi dan sepi. Beberapa rumah yang kurang terawat berderet dengan warna cat seragam. Angel melirik Wildan yang ada di belakangnya.
"Kenapa kamu seperti orang ketakutan begitu?" tanya Angel penuh selidik.
"Apa kamu lupa, kalau sekarang aku ini seorang buron. Mengajakku ke tengah keramaian kurasa ide yang sembrono," protes Wildan kesal.
"Ohhh, soal itu. Tenang saja, di kota, orang-orang takkan terlalu memperhatikanmu. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Tak ada waktu untuk melihat orang asing," sahut Angel santai. Dia kembali melangkahkan kakinya menyusuri jalanan yang sempit.
Sekitar sepuluh menit, sampailah mereka di ujung gang. Sebuah rumah sederhana ber cat putih pucat, dengan daun pintu dari kayu yang nampak kusam. Meski rumah dalam keadaan tertutup, Angel tanpa permisi langsung mendorong pintu dan masuk ke ruang tamu.
Wildan pun tetap mengekor di belakang. Saat masuk ruang tamu, nampak kursi dari rotan yang lawas ditata melingkar di tengah ruangan. Ada lemari di bagian sudut dengan pajangan mangkok-mangkok aneh dan terlihat kuno. Seorang perempuan berkacamata dengan rambut panjang nan hitam datang menghampiri.
"Masuk rumah orang tanpa permisi. Untung tak kuteriaki maling!" bentak perempuan berkacamata.
"Kupikir tak ada orang. Oh iya, aku membawa putra dari Badut nomor 2. Perkenalkan namanya Wildan," ucap Angel menunjuk Wildan yang masih sibuk memperhatikan ruang tamu rumah asing itu.
"Ah, iya. Namaku Wildan."
Wildan menjulurkan tangan kanannya mengajak bersalaman.
"Aku Nilla," ucap perempuan berkacamata itu, mengacuhkan ajakan Wildan untuk berjabat tangan.
"Aku mau ganti baju dulu," lanjut Nilla. Dia berjalan ke dalam kamar, dan menutup pintunya dengan cukup kencang.
"Hi hi hi." Angel terkekeh.
"Apanya yang lucu?" Wildan bersungut-sungut.
"Kamu tahu siapa Nilla itu? Dia adalah anak dari Pak Sumiran," ucap Angel masih dengan tawanya yang meringkik.
"Siapa itu Sumiran?" tanya Wildan tak mengerti.
"Ha ha ha. Kamu tak tahu apa-apa boy," tawa Angel semakin kencang.
Terdengar suara pintu dibuka. Pintu kamar yang terletak tak jauh dari lemari di sudut ruangan. Nilla keluar dari kamar mengenakan kaos oblong oversize warna putih dan celana pendek berwarna merah muda. Aroma parfum wangi dan sedikit manis menguar di udara.
"Sumiran Bapakku adalah korban perampokan topeng badut pada tahun 1991," ucap Nilla memicingkan mata ke arah Wildan.
"Dan di antara Badut perampok itu ada orangtua kita Wildan. Jadi, hal yang wajar jika Nilla membencimu," sahut Angel santai.
"Hah? Lalu, kita datang kemari untuk meminta maaf atas kesalahan orangtua kita? Begitukah Ngel?" tanya Wildan dengan mata terbelalak.
"Aku tak butuh kata maaf. Apalagi dari anak para badut. Pada kenyataannya baik aku ataupun kamu dibesarkan oleh keluarga yang tak lengkap," potong Nilla dengan ekspresi datar.
"Aku mengajakmu kemari untuk penebusan Wildan," sambung Angel.
"Penebusan?" Wildan semakin bingung.
"Membantu Nilla memburu para badut yang tersisa," jawab Angel dengan ekspresi wajah yang serius. Matanya nyalang menatap Wildan yang sesekali menelan ludah, membasahi tenggorokan yang terasa kering.
"Maksudmu kita harus melakukan kejahatan? Mengintai? Menguntit? Bahkan mencelakai orang lain? Edan! Aku nggak mau!" Wildan segera berdiri, menolak usulan Angel.
"Kalau kamu menolak, maka kutelpon polsek terdekat! Kamu adalah buron!" ancam Nilla dengan bola matanya yang bulat di balik kacamata tebal.
Wildan terdiam, kehabisan kata-kata. Dia seperti berada di dalam kandang dua singa betina. Sedangkan dirinya terasa seperti Jawara si ayam jago. Hanya namanya saja yang terdengar pemberani, nyatanya hanyalah mangsa empuk yang tidak mengenyangkan.
"Hah? Ha ha ha ha. Lihat wajah 'mendho' nya Nilla. Sesuai pesanku di whatsapp tadi kan? Aku membawa laki-laki yang unik nan beg*!" Angel tergelak, disusul Nilla. Tawa mereka pecah bersamaan. Wildan melongo dibuatnya.
"Nilla hanya mengerjaimu. Sial! Wajah panikmu membuatku tertawa hingga mau nangis rasanya," ucap Angel menepuk-nepuk pahanya sendiri.
"Apa maksudnya?" Wildan menuntut penjelasan.
"Kamu pikir kita mau jadi penjah*t? Buron sepertimu?" Nilla terkekeh.
"Wildan, kita datang kesini memang untuk penebusan. Tapi bukan untuk mencelakai para badut. Melainkan berusaha mencari cara dan celah untuk membuktikan dosa mereka di masa lalu, dan menyeretnya ke balik jeruji besi. Biarkan masa tua mereka menuai hasil atas kejahat*n yang telah ditabur," jelas Angel. Suaranya terdengar bergetar. Raut wajahnya pun nampak memerah.
"Dan itu semua kuncinya ada di kamu," lanjut Angel menunjuk Wildan.
"Aku?" tanya Wildan tak mengerti.
"Ya, uang 50 ribuan lawas dan surat wasiat Bapakmu," jawab Angel.
Wildan masih diam saja. Jauh di lubuk hatinya, dia masih menyangkal jika Bapaknya dulu pernah terlibat dalam sebuah kejahat*n. Apalagi nama Sumiran yang dikatakan Angel sebagai korban peramp*kan merupakan nama yang kerap dipanggil oleh Bapaknya dulu saat dalam kondisi mabuk. Nama yang disebut sebagai penyebab dari meninggalnya Ibuk Wildan.
"Malah bengong, hey!" teriak Angel, membuyarkan lamunan Wildan.
"Aku masih belum faham dengan isi surat wasiat Bapak," sambung Wildan lirih.
"Bolehkah kami melihatnya?" pinta Nilla.
Tidak ada pilihan lain bagi Wildan. Dia mengambil kotak kayu di dalam ranselnya. Kemudian mengeluarkan selembar kertas usang yang terlipat rapi dalam kotak tersebut.
"Kusimpan di tempat semua ini berawal. Sampai jumpa di neraka." Angel dan Nilla bersama-sama membaca surat wasiat milik Bapaknya Wildan.
"Deret angka aneh apa ini?" tanya Angel penasaran.
Wildan menggeleng perlahan. Meski sebenarnya dia sudah tahu bahwa deret angka itu adalah nomor seri dari uang lima puluh ribuan lawas yang salah satunya ada di tangan Wildan. Dia masih belum bisa mempercayai Angel dan Nilla.
"Makanya, sudah kukatakan aku belum faham. Surat wasiat itu aneh," gumam Wildan.
"Mungkin para Badut mengerti dengan maksud dan isi surat ini. Aku berasumsi surat wasiat ini bukan untuk anaknya, melainkan untuk para badut, rekan-rekannya dulu." Angel menyampaikan dugaannya. Sebuah tebakan yang cerdas dan masuk akal.
"Kalau demikian, benang takdir saat ini bergerak dengan sangat tepat. Aku baru saja mendapat informasi tentang seseorang yang kemungkinan besar adalah salah satu Badut. Bawa surat ini padanya, dan tanyakan artinya!" Nilla tersenyum lebar. Sebuah senyuman yang terlihat mengerikan dengan tatapan mata yang berapi-api.
Bersambung___
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Rose_Ni
berganti perankah
2024-03-06
0
IG: _anipri
ngakak
2023-01-23
1
IG: _anipri
heh ... baru tahu
2023-01-23
0