"Segera berkemas! Ikutlah denganku. Semakin lama kamu menunda, bahaya bisa saja kian mendekat," perintah Angel.
Pada akhirnya Wildan tidak memiliki pilihan lain. Dia masuk ke dalam kamarnya, mengambil tas ransel kumal dari semasa SMA dulu. Kemudian Wildan memasukkan beberapa lembar kaos dan celana layak pakai. Tak lupa kotak kayu yang ada di bawah kasur juga dia masukkan ke dalam ransel.
Dengan tergesa-gesa Wildan membanting celengan bergambar ayam jago kegemukan yabg terbuat dari tanah liat. Suara pecahnya celengan dibarengi berseraknya koin-koin receh terdengar nyaring di telinga. Wildan segera memungutnya, memasukkan uang recehan itu ke dalam sebuah kantong plastik.
Sementara Angel menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dia mendongak menatap langit-langit rumah yang usang. Pikirannya mengawang jauh. Sekilas pandang pun terlihat jelas, perempuan muda itu memaksa bersikap tegar, padahal batinnya tengah terguncang. Pak Anwar yang mengamatinya menyadari akan hal itu.
"Kelihatannya, kamu menyembunyikan kepedihan hatimu Nona. Atau jangan-jangan kamu sebenarnya tak tega menyiksa orangtua sepertiku? Kamu pun berhati lembut seperti halnya Wildan, namun memaksakan diri berbuat jahat. Begitukah?" tanya Pak Anwar penuh selidik.
"Kamu menganggap perbuatanku ini jahat Pak Tua? Menyiksa seorang penjahat meskipun dia sudah tua, itu bukanlah sebuah kejahatan. Bukankah dalam lubuk hatimu yang terdalam kamu merasa pantas mendapatkan siksaan seperti ini?" balas Angel tanpa menoleh sedikit pun. Dia masih tetap mengamati langit-langit rumah Wildan. Ada beberapa ekor cicak yang bergerombol disana, seolah tengah membicarakan dua orang manusia yang ada di bawahnya.
"Apa maksudmu?" Pak Anwar balik bertanya.
"Bukankah seumur hidupmu kamu dihantui penyesalan telah melakukan perampokan bahkan menghabisi seorang sahabat sendiri? Apa yang kalian lakukan di masa lalu, bukankah terasa tak sebanding dengan apa yang kalian nikmati di masa sekarang?" kali ini Angel menatap tajam pada Pak Anwar. Tatapan mata yang sungguh menghujam hati Pak Anwar.
"Seandainya saja kalian tak melakukan perampokan itu, mungkin hidup kalian bakal lebih mulia dan makmur sekarang. Bukankah itu yang ada di pikiran sepuhmu Pak Tua?" desak Angel sekali lagi.
Pak Anwar menelan ludah. Tak berkutik diberondong pertanyaan yang keluar dari mulut Angel. Pertanyaan yang seolah tahu isi hati Pak Anwar selama ini. Laki-laki tua itu selalu berusaha melupakan dosa masa lalunya, menjalani kehidupan normal dan sederhana. Mengajar anak-anak kecil di kampung, meski rasa bersalahnya selalu menghantui.
"Siapa kamu sebenarnya Nona? Aku sama sekali tak mengenalimu, tapi kamu seolah mengenalku se detail itu," ucap Pak Anwar dengan bola mata yang bergetar.
"Baiklah, sebaiknya kita berkenalan Pak Tua. Aku tak ingin menyiksamu dengan rasa penasaran. Namaku Angelica Sukma Santoso," jawab Angel. Dia masih duduk di sofa dengan sebelah kakinya yang diangkat. Terlihat urakan dan tak sopan.
"Santoso?" Pak Anwar mengernyitkan dahi.
Angel menghela nafas perlahan. Dia berdiri, dan melangkah gontai memungut tas ransel yang ada di sudut ruangan. Dia mengeluarkan topeng badut ber tuliskan angka 7 di bagian dahinya. Kemudian Angel kembali mendekati Pak Anwar.
"Kamu mengenali Santoso? Namamu, juga topeng itu? Bagaimana bisa?" tanya Pak Anwar nampak heran. Dahinya menunjukkan kerutan-kerutan, pertanda dia tengah berpikir.
"Aku anaknya," jawab Angel singkat.
"Hah? Jangan membual!" bantah Pak Anwar tak percaya.
Angel memicingkan matanya, tersenyum sekilas. Dia mengembalikan topeng badut itu ke dalam tas ranselnya.
"Jawab aku! Siapa kamu sebenarnya?" tanya Pak Anwar sekali lagi.
Pada saat yang sama Wildan keluar dari kamar. Di pundaknya terlihat tas ransel butut, sedangkan tangan kanannya membawa sekantong plastik besar uang receh.
"Pfftttt!" Angel menutup mulutnya, menahan tawa.
"Laki-laki seusiamu jika ingin sukses, seharusnya memiliki tabungan beberapa puluh juta dalam rekening. Tapi lihatlah kamu sekarang, sekantong uang receh yang tak genap satu juta. Are you serious?" ejek Angel. Dia terkekeh, pundaknya yang ramping nampak berguncang pelan.
"Jangan mengolok-olokku. Apa yang baru saja kalian bicarakan?" tanya Wildan bersungut-sungut.
"Bukan hal yang penting," sahut Angel cepat.
Wildan mendekati Pak Anwar. Dia menghela nafas, memperhatikan sang mantan guru yang penuh luka di sekujur tubuhnya. Hidung Pak Anwar terlihat robek akibat sabetan gear, rambutnya yang putih di bagian belakang kepala nampak menggumpal dengan cairan merah kental yang mulai mengering. Juga sebuah pisau lipat yang masih bertengger di paha kanannya.
Wildan berjongkok di hadapan Pak Anwar. Dia meletakkan kantong plastik berisi uang receh di lantai. Wildan hendak melepaskan tali karet ban bekas yang mengikat Pak Anwar dengan erat. Namun, dengan kasar Angel menarik pundak Wildan, hingga laki-laki itu jatuh terjengkang.
"Apa yang mau kamu lakukan bod*h?" bentak Angel. Dia melotot menatap Wildan.
"Sebelum pergi, aku ingin melepas ikatannya. Toh dia tak mungkin bisa pergi kemana-mana dengan luka di kaki seperti itu," ucap Wildan menunjuk paha Pak Anwar dengan luka yang masih basah.
"Lihatlah, dia sudah setua ini. Apalagi rumahku jauh dari tetangga. Kalau sampai besok tidak ada yang menemukannya disini, dia bisa mati. Tolonglah, aku tidak mau menjadi seorang pembun*h," ucap Wildan memelas.
Angel berdehem sejenak, mengalihkan pandangannya dari bola mata Wildan yang memancarkan ketulusan. Pada akhirnya Angel menuruti permintaan Wildan, melepaskan tali yang mengikat tubuh renta Pak Anwar.
"Maafkan aku Wildan," ucap Pak Anwar, setelah ikatan di kedua tangannya dilepaskan.
"Setelah ini, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal Pak," sahut Wildan.
"Kemanapun pergimu, berhati-hatilah. Jangan mempercayai siapapun, termasuk perempuan ini." Pak Anwar menunjuk Angel.
"Ayo kita segera pergi. Kalau kamu lemot, kutinggal!" bentak Angel pada Wildan. Perempuan cantik nan galak itu langsung berlari keluar rumah.
Wildan pun menyusul. Meski hujan sangat deras, dia tetap berlari membelah udara dingin yang membuat bibirnya membiru. Sesekali terdengar guntur menggelegar, dibarengi cahaya terang di kaki langit.
Setelah beberapa menit menyusuri jalanan tanah yang becek, Wildan akhirnya keluar dari gang rumahnya. Nampak sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan. Angel segera masuk ke dalam mobil, mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Wildan pun menyusulnya, dan melemparkan tas ransel di kursi belakang.
Angel menyalakan lampu kabin mobil. Tanpa Wildan duga, Angel dengan santai melepas kaosnya yang basah. Kulitnya yang putih bersih terpancar di bawah sorot lampu kabin yang berwarna sedikit kuning. Wildan tertegun, tak mampu mengalihkan pandangan dari perempuan yang kini hanya memakai kaos dalam putih berenda itu. Refleks jakunnya naik turun menelan ludah.
"Sial! Kamu tak pernah melihat perempuan? Hah?" bentak Angel, saat sadar tengah ditatap Wildan hingga mimisan.
"Ah, maaf," ucap Wildan seraya mengalihkan tatapannya.
Wildan melemparkan pandangan ke jalanan di sebelah kiri tempatnya duduk. Tanpa diduga dia bertemu pandang dengan seorang perempuan yang tengah berjalan kaki memakai payung hitam, sambil menenteng kresek besar bermotif garis-garis. Perempuan itu adalah Ika, mantan Wildan.
Bersambung___
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Rose_Ni
anda tercyduk/Grin/
2024-03-06
0
Rose_Ni
apa mungkin Angel anak korban perampokan
2024-03-06
0
Diankeren
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-12-20
0