Sewelas

"Segera berkemas! Ikutlah denganku. Semakin lama kamu menunda, bahaya bisa saja kian mendekat," perintah Angel.

Pada akhirnya Wildan tidak memiliki pilihan lain. Dia masuk ke dalam kamarnya, mengambil tas ransel kumal dari semasa SMA dulu. Kemudian Wildan memasukkan beberapa lembar kaos dan celana layak pakai. Tak lupa kotak kayu yang ada di bawah kasur juga dia masukkan ke dalam ransel.

Dengan tergesa-gesa Wildan membanting celengan bergambar ayam jago kegemukan yabg terbuat dari tanah liat. Suara pecahnya celengan dibarengi berseraknya koin-koin receh terdengar nyaring di telinga. Wildan segera memungutnya, memasukkan uang recehan itu ke dalam sebuah kantong plastik.

Sementara Angel menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dia mendongak menatap langit-langit rumah yang usang. Pikirannya mengawang jauh. Sekilas pandang pun terlihat jelas, perempuan muda itu memaksa bersikap tegar, padahal batinnya tengah terguncang. Pak Anwar yang mengamatinya menyadari akan hal itu.

"Kelihatannya, kamu menyembunyikan kepedihan hatimu Nona. Atau jangan-jangan kamu sebenarnya tak tega menyiksa orangtua sepertiku? Kamu pun berhati lembut seperti halnya Wildan, namun memaksakan diri berbuat jahat. Begitukah?" tanya Pak Anwar penuh selidik.

"Kamu menganggap perbuatanku ini jahat Pak Tua? Menyiksa seorang penjahat meskipun dia sudah tua, itu bukanlah sebuah kejahatan. Bukankah dalam lubuk hatimu yang terdalam kamu merasa pantas mendapatkan siksaan seperti ini?" balas Angel tanpa menoleh sedikit pun. Dia masih tetap mengamati langit-langit rumah Wildan. Ada beberapa ekor cicak yang bergerombol disana, seolah tengah membicarakan dua orang manusia yang ada di bawahnya.

"Apa maksudmu?" Pak Anwar balik bertanya.

"Bukankah seumur hidupmu kamu dihantui penyesalan telah melakukan perampokan bahkan menghabisi seorang sahabat sendiri? Apa yang kalian lakukan di masa lalu, bukankah terasa tak sebanding dengan apa yang kalian nikmati di masa sekarang?" kali ini Angel menatap tajam pada Pak Anwar. Tatapan mata yang sungguh menghujam hati Pak Anwar.

"Seandainya saja kalian tak melakukan perampokan itu, mungkin hidup kalian bakal lebih mulia dan makmur sekarang. Bukankah itu yang ada di pikiran sepuhmu Pak Tua?" desak Angel sekali lagi.

Pak Anwar menelan ludah. Tak berkutik diberondong pertanyaan yang keluar dari mulut Angel. Pertanyaan yang seolah tahu isi hati Pak Anwar selama ini. Laki-laki tua itu selalu berusaha melupakan dosa masa lalunya, menjalani kehidupan normal dan sederhana. Mengajar anak-anak kecil di kampung, meski rasa bersalahnya selalu menghantui.

"Siapa kamu sebenarnya Nona? Aku sama sekali tak mengenalimu, tapi kamu seolah mengenalku se detail itu," ucap Pak Anwar dengan bola mata yang bergetar.

"Baiklah, sebaiknya kita berkenalan Pak Tua. Aku tak ingin menyiksamu dengan rasa penasaran. Namaku Angelica Sukma Santoso," jawab Angel. Dia masih duduk di sofa dengan sebelah kakinya yang diangkat. Terlihat urakan dan tak sopan.

"Santoso?" Pak Anwar mengernyitkan dahi.

Angel menghela nafas perlahan. Dia berdiri, dan melangkah gontai memungut tas ransel yang ada di sudut ruangan. Dia mengeluarkan topeng badut ber tuliskan angka 7 di bagian dahinya. Kemudian Angel kembali mendekati Pak Anwar.

"Kamu mengenali Santoso? Namamu, juga topeng itu? Bagaimana bisa?" tanya Pak Anwar nampak heran. Dahinya menunjukkan kerutan-kerutan, pertanda dia tengah berpikir.

"Aku anaknya," jawab Angel singkat.

"Hah? Jangan membual!" bantah Pak Anwar tak percaya.

Angel memicingkan matanya, tersenyum sekilas. Dia mengembalikan topeng badut itu ke dalam tas ranselnya.

"Jawab aku! Siapa kamu sebenarnya?" tanya Pak Anwar sekali lagi.

Pada saat yang sama Wildan keluar dari kamar. Di pundaknya terlihat tas ransel butut, sedangkan tangan kanannya membawa sekantong plastik besar uang receh.

"Pfftttt!" Angel menutup mulutnya, menahan tawa.

"Laki-laki seusiamu jika ingin sukses, seharusnya memiliki tabungan beberapa puluh juta dalam rekening. Tapi lihatlah kamu sekarang, sekantong uang receh yang tak genap satu juta. Are you serious?" ejek Angel. Dia terkekeh, pundaknya yang ramping nampak berguncang pelan.

"Jangan mengolok-olokku. Apa yang baru saja kalian bicarakan?" tanya Wildan bersungut-sungut.

"Bukan hal yang penting," sahut Angel cepat.

Wildan mendekati Pak Anwar. Dia menghela nafas, memperhatikan sang mantan guru yang penuh luka di sekujur tubuhnya. Hidung Pak Anwar terlihat robek akibat sabetan gear, rambutnya yang putih di bagian belakang kepala nampak menggumpal dengan cairan merah kental yang mulai mengering. Juga sebuah pisau lipat yang masih bertengger di paha kanannya.

Wildan berjongkok di hadapan Pak Anwar. Dia meletakkan kantong plastik berisi uang receh di lantai. Wildan hendak melepaskan tali karet ban bekas yang mengikat Pak Anwar dengan erat. Namun, dengan kasar Angel menarik pundak Wildan, hingga laki-laki itu jatuh terjengkang.

"Apa yang mau kamu lakukan bod*h?" bentak Angel. Dia melotot menatap Wildan.

"Sebelum pergi, aku ingin melepas ikatannya. Toh dia tak mungkin bisa pergi kemana-mana dengan luka di kaki seperti itu," ucap Wildan menunjuk paha Pak Anwar dengan luka yang masih basah.

"Lihatlah, dia sudah setua ini. Apalagi rumahku jauh dari tetangga. Kalau sampai besok tidak ada yang menemukannya disini, dia bisa mati. Tolonglah, aku tidak mau menjadi seorang pembun*h," ucap Wildan memelas.

Angel berdehem sejenak, mengalihkan pandangannya dari bola mata Wildan yang memancarkan ketulusan. Pada akhirnya Angel menuruti permintaan Wildan, melepaskan tali yang mengikat tubuh renta Pak Anwar.

"Maafkan aku Wildan," ucap Pak Anwar, setelah ikatan di kedua tangannya dilepaskan.

"Setelah ini, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal Pak," sahut Wildan.

"Kemanapun pergimu, berhati-hatilah. Jangan mempercayai siapapun, termasuk perempuan ini." Pak Anwar menunjuk Angel.

"Ayo kita segera pergi. Kalau kamu lemot, kutinggal!" bentak Angel pada Wildan. Perempuan cantik nan galak itu langsung berlari keluar rumah.

Wildan pun menyusul. Meski hujan sangat deras, dia tetap berlari membelah udara dingin yang membuat bibirnya membiru. Sesekali terdengar guntur menggelegar, dibarengi cahaya terang di kaki langit.

Setelah beberapa menit menyusuri jalanan tanah yang becek, Wildan akhirnya keluar dari gang rumahnya. Nampak sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan. Angel segera masuk ke dalam mobil, mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Wildan pun menyusulnya, dan melemparkan tas ransel di kursi belakang.

Angel menyalakan lampu kabin mobil. Tanpa Wildan duga, Angel dengan santai melepas kaosnya yang basah. Kulitnya yang putih bersih terpancar di bawah sorot lampu kabin yang berwarna sedikit kuning. Wildan tertegun, tak mampu mengalihkan pandangan dari perempuan yang kini hanya memakai kaos dalam putih berenda itu. Refleks jakunnya naik turun menelan ludah.

"Sial! Kamu tak pernah melihat perempuan? Hah?" bentak Angel, saat sadar tengah ditatap Wildan hingga mimisan.

"Ah, maaf," ucap Wildan seraya mengalihkan tatapannya.

Wildan melemparkan pandangan ke jalanan di sebelah kiri tempatnya duduk. Tanpa diduga dia bertemu pandang dengan seorang perempuan yang tengah berjalan kaki memakai payung hitam, sambil menenteng kresek besar bermotif garis-garis. Perempuan itu adalah Ika, mantan Wildan.

Bersambung___

Terpopuler

Comments

Rose_Ni

Rose_Ni

anda tercyduk/Grin/

2024-03-06

0

Rose_Ni

Rose_Ni

apa mungkin Angel anak korban perampokan

2024-03-06

0

Diankeren

Diankeren

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2023-12-20

0

lihat semua
Episodes
1 Siji
2 Loro
3 Telu
4 Papat
5 Limo
6 Nem
7 Pitu
8 Wolu
9 Songo
10 NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
11 Sepuluh
12 Sewelas
13 Rolas
14 Telulas
15 Patbelas
16 Limolas
17 Nembelas
18 Pitulas
19 Wolulas
20 Songolas
21 Rongpuluh
22 Selikur
23 Rolikur
24 Telulikur
25 Patlikur
26 Selawe
27 Nemlikur
28 Pitulikur
29 Wolulikur
30 Songolikur
31 Telungpuluh
32 Telungpuluh Siji
33 Telungpuluh Loro
34 Telungpuluh Telu
35 Telungpuluh Papat
36 Telungpuluh Limo
37 Telungpuluh Nem
38 Telungpuluh Pitu
39 Telungpuluh Wolu
40 Telungpuluh Songo
41 Patangpuluh
42 Patangpuluh Siji
43 Patangpuluh Loro
44 Patangpuluh Telu
45 Patangpuluh Papat
46 Patangpuluh Limo
47 Patangpuluh Nem
48 Patangpuluh Pitu
49 Patangpuluh Wolu
50 Patangpuluh Songo
51 Seket
52 Seket Siji
53 Seket Loro
54 Seket Telu
55 Seket Papat
56 Seket Limo
57 Seket Nem
58 Seket Pitu
59 Seket Wolu
60 Seket Songo
61 Sewidak
62 Sewidak Siji
63 Pengumuk an (Umuk = cerita dalam dialeg tempat tinggal yang nulis)
64 Sewidak Loro
65 Sewidak Telu
66 Sewidak Papat
67 Sewidak Limo
68 Sewidak Nem
69 Sewidak Pitu
70 Sewidak Wolu
71 Sewidak Songo
72 Pitungpuluh
73 Pitungpuluh Siji
74 Pitungpuluh Loro
75 Pitungpuluh Telu
76 Uneg-uneg (boleh Skip)
77 Pitungpuluh Papat
78 Pitungpuluh Limo
79 Pitungpuluh Nem
80 Pitungpuluh Pitu
81 Pitungpuluh Wolu
82 Pitungpuluh Songo
83 Wolongpuluh
84 Wolongpuluh Siji
85 Wolongpuluh Loro
86 Wolongpuluh Telu
87 Wolongpuluh Papat
88 Wolongpuluh Limo
89 Wolongpuluh Nem
90 Wolongpuluh Pitu
91 Wolongpuluh Wolu
92 Wolongpuluh Songo
93 Sangangpuluh
94 Sangangpuluh Siji
95 Sangangpuluh Loro : Akhir
96 Ijin Promo Judul Baru
97 Judul Horor Baru bung Kus
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Siji
2
Loro
3
Telu
4
Papat
5
Limo
6
Nem
7
Pitu
8
Wolu
9
Songo
10
NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
11
Sepuluh
12
Sewelas
13
Rolas
14
Telulas
15
Patbelas
16
Limolas
17
Nembelas
18
Pitulas
19
Wolulas
20
Songolas
21
Rongpuluh
22
Selikur
23
Rolikur
24
Telulikur
25
Patlikur
26
Selawe
27
Nemlikur
28
Pitulikur
29
Wolulikur
30
Songolikur
31
Telungpuluh
32
Telungpuluh Siji
33
Telungpuluh Loro
34
Telungpuluh Telu
35
Telungpuluh Papat
36
Telungpuluh Limo
37
Telungpuluh Nem
38
Telungpuluh Pitu
39
Telungpuluh Wolu
40
Telungpuluh Songo
41
Patangpuluh
42
Patangpuluh Siji
43
Patangpuluh Loro
44
Patangpuluh Telu
45
Patangpuluh Papat
46
Patangpuluh Limo
47
Patangpuluh Nem
48
Patangpuluh Pitu
49
Patangpuluh Wolu
50
Patangpuluh Songo
51
Seket
52
Seket Siji
53
Seket Loro
54
Seket Telu
55
Seket Papat
56
Seket Limo
57
Seket Nem
58
Seket Pitu
59
Seket Wolu
60
Seket Songo
61
Sewidak
62
Sewidak Siji
63
Pengumuk an (Umuk = cerita dalam dialeg tempat tinggal yang nulis)
64
Sewidak Loro
65
Sewidak Telu
66
Sewidak Papat
67
Sewidak Limo
68
Sewidak Nem
69
Sewidak Pitu
70
Sewidak Wolu
71
Sewidak Songo
72
Pitungpuluh
73
Pitungpuluh Siji
74
Pitungpuluh Loro
75
Pitungpuluh Telu
76
Uneg-uneg (boleh Skip)
77
Pitungpuluh Papat
78
Pitungpuluh Limo
79
Pitungpuluh Nem
80
Pitungpuluh Pitu
81
Pitungpuluh Wolu
82
Pitungpuluh Songo
83
Wolongpuluh
84
Wolongpuluh Siji
85
Wolongpuluh Loro
86
Wolongpuluh Telu
87
Wolongpuluh Papat
88
Wolongpuluh Limo
89
Wolongpuluh Nem
90
Wolongpuluh Pitu
91
Wolongpuluh Wolu
92
Wolongpuluh Songo
93
Sangangpuluh
94
Sangangpuluh Siji
95
Sangangpuluh Loro : Akhir
96
Ijin Promo Judul Baru
97
Judul Horor Baru bung Kus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!