Loro

Bulan November tahun 2021.

Sepasang kaki melangkah gontai melewati jalanan aspal penuh lubang. Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib berkumandang di kejauhan. Beberapa orang terlihat berpakaian rapi menuju ke masjid. Berbeda dengan laki-laki berwajah lusuh yang kini tengah melangkah tanpa alas kaki menyusuri jalanan pasar kecamatan yang kumuh.

Namanya Wildan. Berusia tiga puluh tahun. Seorang pengangguran yang bercita-cita sukses dengan cara berjudi. Begitupun sore ini. Dia menenteng ayam jagonya yang berwarna merah mengkilap. Wildan memberinya nama Jawara.

Setiap hari Wildan mencekoki Jawara dengan ramuan jahe merah dan serangga tawon. Berharap ayam jago itu bisa garang dan menang dalam judi sabung ayam. Namun seperti yang sudah dapat diduga, tidak ada perjudian yang membawa kesejahteraan. Jawara menang satu kali dan kalah berturut-turut hingga sore ini.

Wildan pulang dengan kekalahan. Uang yang tadinya tersisa satu lembar berwarna merah sudah raib untuk bertaruh. Hanya ada Jawara dengan wajah penuh luka yang menemani Wildan kini.

Wildan mendongak menatap langit. Dia ingin menangis sejadi-jadinya. Di usianya yang sekarang, Wildan merasa hanya menjadi sampah di masyarakat. Saat semua teman SMA nya dulu sudah berumahtangga, dia malah bertingkah seperti bocah. Jangankan berumahtangga, pekerjaanpun dia tak punya.

Wildan menghentikan langkah di salah satu emperan kios yang tutup. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu seng yang sedikit berkarat. Wildan menurunkan Jawara dari gendongannya. Ayam jago itu tertunduk lemah, kehabisan tenaga.

"Namamu Jawara, tapi kalah terus. Seharusnya kuberi nama kamu Wildan saja. Sama sepertiku, orang yang selalu kalah dan gagal." Wildan menggerutu sambil menatap Jawara yang terlihat tak berdaya.

Saat Wildan tengah asyik dengan ayam jagonya, datanglah Pak Anwar seorang guru ngaji yang hendak pergi ke masjid. Melihat kondisi Wildan, Pak Anwar geleng-geleng kepala.

"Dan, cepet pulang mandi terus kalau keburu datanglah ke masjid," ucap Pak Anwar memberi nasehat. Wildan pura-pura tak mendengar.

"Kamu itu dulu pinter, paling pinter di antara murid-murid yang pernah belajar ngaji padaku. Tapi sekarang kok keblinger kayak begini." Pak Anwar kembali geleng-geleng kepala.

Wildan tak menyahut, menoleh pun tidak. Akhirnya, Pak Anwar pergi berlalu dengan hatinya yang penuh keprihatinan.

"Berisik! Hal paling mudah dilakukan di dunia ini adalah mengomentari hidup orang lain kakek tua," gerutu Wildan setelah Pak Anwar pergi.

Wildan kembali berjalan, masuk gang sempit di sebelah pasar. Dia menghindar bertemu orang-orang yang hendak berangkat ke masjid. Apalagi kalau sampai berpapasan dengan orangtua Ika, bisa semakin malu nantinya.

Wildan sebenarnya memiliki paras yang tampan. Kulitnya bersih dengan hidung mancung. Meskipun jarang berolahraga tubuhnya pun nampak tegap dan cukup atletis. Dulu dia memiliki pacar dari masa SMA namanya Ika.

Wildan dan Ika berhubungan sudah cukup lama. Bahkan sempat menjalani kisah LDR kala Ika harus kuliah di luar kota. Setiap sebulan sekali mereka bertemu. Ika selalu janjian dengan Wildan saat pulang dari asramanya. Mereka bertemu di terminal bis dan menyewa hotel murah di sekitar sana.

Semua itu mereka jalani selama bertahun-tahun, hingga akhirnya petaka terjadi. Hubungan asmara itu diketahui oleh ayah Ika. Wildan sempat dijebloskan ke penjara selama 5 bulan 15 hari dengan tuduhan membawa lari perempuan dengan tipu muslihat. Sejak saat itu, hubungan Ika dan Wildan kandas. Ika kini sudah berumahtangga tak jauh dari kampung Wildan.

Mengingat pahit getir hidupnya, tanpa terasa air mata menetes di pipi Wildan. Langkahnya yang lemas dan gontai membawa Wildan sampai di pekarangan sempit rumah beratap asbes dengan dinding tembok yang belum diplester. Wildan menjatuhkan tubuhnya di kursi 'menjalin' yang ada di sudut teras depan. Jawara dia biarkan terduduk lemas di bawah kursi.

Wildan menempati rumah kecil itu bersama Bapaknya yang sudah tua. Namanya Pak Umar. Usianya tepat menginjak 70 tahun di bulan ini. Ibuk Wildan sudah lama meninggal.

Dulu sewaktu SD Wildan sempat merasakan menjadi anak orang kaya. Pak Umar terbilang sukses dengan toko alat pancingnya. Namun, saat Wildan kelas 4 SD sang Ibu meninggal tanpa alasan yang jelas. Ingatan Wildan samar-samar kala itu. Seingatnya sang Ibu ditemukan di tepi jalan raya dalam keadaan tak bernyawa.

Setelah hari itu Pak Umar berubah. Hidupnya berantakan. Alkohol adalah tempat pelariannya. Toko alat pancing terbengkalai, begitupun pendidikan dan kehidupan Wildan menjadi tak terurus. Toko dan rumah besar yang mereka tempati disita oleh bank. Pak Umar akhirnya membeli rumah kecil yang hingga kini mereka tempati.

Wildan mengingat masa kecilnya sebagai kehidupan yang penuh kebahagiaan. Sedangkan masa remaja merupakan masa kelam yang ingin dia lupakan. Hampir tiap malam dia harus mengurus sang Bapak yang tertidur di halaman rumah sepulang dari tempat mabuk-mabukan.

Seringkali Wildan mendengar Pak Umar meracau dalam keadaan tak sadarkan diri. Pak Umar kerap menyebut soal topeng badut dan nama-nama asing yang tak pernah Wildan kenali. Pak Umar sering pula menyebut kematian sang isteri karena seseorang bernama Sumiran.

Langit yang mulai gelap membuat Wildan tersadar lampu rumah belum dinyalakan. Rumah yang nampak tak terawat semakin terlihat kumuh dan suram.

"Paakk? Lampu belum nyala lhoo," teriak Wildan memanggil Pak Umar.

Suasana hening, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Wildan mengernyitkan dahi, karena dia yakin Bapaknya ada di dalam. Tapi kenapa rumah dibiarkan gelap gulita? Wildan beranjak dari kursi dan melangkah ke dalam ruang tamu.

Ruang tamu benar-benar gelap. Wildan mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba membiasakan netra dalam pekatnya kegelapan. Wildan meraih saklar di tengah ruangan. Dia menyalakan lampu ruang tamu dan teras depan.

Kini terlihat jelas, tidak ada siapapun di ruang tamu juga di depan TV. Wildan tak menemukan sang Bapak yang biasanya di waktu maghrib hanya duduk melamun. Tak mungkin rasanya orangtua yang sudah lansia itu keluar rumah saat hari sudah gelap.

"Pak? Bapak tidur?" teriak Wildan. Dia berjalan mendekati bilik kamar di bagian belakang dekat dapur.

Wildan mengetuk pintu kamar Pak Umar beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Dia menempelkan telinga di daun pintu berbahan kayu sengon yang nampak usang.

Dok. . .

Dokk

Dookkk

Terdengar suara ketukan yang berjeda dari dalam kamar. Seperti bunyi seseorang yang tengah memukul dinding dengan palu.

"Pak? Bapak ngapain?" tanya Wildan sekali lagi.

Suasana masih tetap hening. Tak ada jawaban dari dalam kamar.

"Pak? Wildan masuk ya?" teriak Wildan sekali lagi.

Wildan meraih kenop pintu kamar dan mendorongnya perlahan. Kamar yang terasa pengap dengan aroma sedikit pesing menguar di udara. Wildan segera meraih saklar dan menyalakan lampu.

Pemandangan di dalam kamar Sang Bapak, membuat dada Wildan terasa sesak. Kaki Pak Umar menjuntai di tengah ruangan terombang ambing menyentuh dinding kamar menghasilkan bunyi ketukan yang berjeda. Sang Bapak telah tiada, tergantung pada seutas tali kabel yang terpaku dengan langit-langit kamar.

"Bapaaakkk!" pekik Wildan pilu.

Terpopuler

Comments

Rose_Ni

Rose_Ni

gebetan Bang

2024-03-06

0

Rose_Ni

Rose_Ni

berbanding terbalik dgn namanya

2024-03-06

0

Diankeren

Diankeren

slah sndiri nma Wildan
coba nma mu : al wais Neverlus 🤣 psti menang trus g prnah klah

2023-12-19

1

lihat semua
Episodes
1 Siji
2 Loro
3 Telu
4 Papat
5 Limo
6 Nem
7 Pitu
8 Wolu
9 Songo
10 NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
11 Sepuluh
12 Sewelas
13 Rolas
14 Telulas
15 Patbelas
16 Limolas
17 Nembelas
18 Pitulas
19 Wolulas
20 Songolas
21 Rongpuluh
22 Selikur
23 Rolikur
24 Telulikur
25 Patlikur
26 Selawe
27 Nemlikur
28 Pitulikur
29 Wolulikur
30 Songolikur
31 Telungpuluh
32 Telungpuluh Siji
33 Telungpuluh Loro
34 Telungpuluh Telu
35 Telungpuluh Papat
36 Telungpuluh Limo
37 Telungpuluh Nem
38 Telungpuluh Pitu
39 Telungpuluh Wolu
40 Telungpuluh Songo
41 Patangpuluh
42 Patangpuluh Siji
43 Patangpuluh Loro
44 Patangpuluh Telu
45 Patangpuluh Papat
46 Patangpuluh Limo
47 Patangpuluh Nem
48 Patangpuluh Pitu
49 Patangpuluh Wolu
50 Patangpuluh Songo
51 Seket
52 Seket Siji
53 Seket Loro
54 Seket Telu
55 Seket Papat
56 Seket Limo
57 Seket Nem
58 Seket Pitu
59 Seket Wolu
60 Seket Songo
61 Sewidak
62 Sewidak Siji
63 Pengumuk an (Umuk = cerita dalam dialeg tempat tinggal yang nulis)
64 Sewidak Loro
65 Sewidak Telu
66 Sewidak Papat
67 Sewidak Limo
68 Sewidak Nem
69 Sewidak Pitu
70 Sewidak Wolu
71 Sewidak Songo
72 Pitungpuluh
73 Pitungpuluh Siji
74 Pitungpuluh Loro
75 Pitungpuluh Telu
76 Uneg-uneg (boleh Skip)
77 Pitungpuluh Papat
78 Pitungpuluh Limo
79 Pitungpuluh Nem
80 Pitungpuluh Pitu
81 Pitungpuluh Wolu
82 Pitungpuluh Songo
83 Wolongpuluh
84 Wolongpuluh Siji
85 Wolongpuluh Loro
86 Wolongpuluh Telu
87 Wolongpuluh Papat
88 Wolongpuluh Limo
89 Wolongpuluh Nem
90 Wolongpuluh Pitu
91 Wolongpuluh Wolu
92 Wolongpuluh Songo
93 Sangangpuluh
94 Sangangpuluh Siji
95 Sangangpuluh Loro : Akhir
96 Ijin Promo Judul Baru
97 Judul Horor Baru bung Kus
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Siji
2
Loro
3
Telu
4
Papat
5
Limo
6
Nem
7
Pitu
8
Wolu
9
Songo
10
NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
11
Sepuluh
12
Sewelas
13
Rolas
14
Telulas
15
Patbelas
16
Limolas
17
Nembelas
18
Pitulas
19
Wolulas
20
Songolas
21
Rongpuluh
22
Selikur
23
Rolikur
24
Telulikur
25
Patlikur
26
Selawe
27
Nemlikur
28
Pitulikur
29
Wolulikur
30
Songolikur
31
Telungpuluh
32
Telungpuluh Siji
33
Telungpuluh Loro
34
Telungpuluh Telu
35
Telungpuluh Papat
36
Telungpuluh Limo
37
Telungpuluh Nem
38
Telungpuluh Pitu
39
Telungpuluh Wolu
40
Telungpuluh Songo
41
Patangpuluh
42
Patangpuluh Siji
43
Patangpuluh Loro
44
Patangpuluh Telu
45
Patangpuluh Papat
46
Patangpuluh Limo
47
Patangpuluh Nem
48
Patangpuluh Pitu
49
Patangpuluh Wolu
50
Patangpuluh Songo
51
Seket
52
Seket Siji
53
Seket Loro
54
Seket Telu
55
Seket Papat
56
Seket Limo
57
Seket Nem
58
Seket Pitu
59
Seket Wolu
60
Seket Songo
61
Sewidak
62
Sewidak Siji
63
Pengumuk an (Umuk = cerita dalam dialeg tempat tinggal yang nulis)
64
Sewidak Loro
65
Sewidak Telu
66
Sewidak Papat
67
Sewidak Limo
68
Sewidak Nem
69
Sewidak Pitu
70
Sewidak Wolu
71
Sewidak Songo
72
Pitungpuluh
73
Pitungpuluh Siji
74
Pitungpuluh Loro
75
Pitungpuluh Telu
76
Uneg-uneg (boleh Skip)
77
Pitungpuluh Papat
78
Pitungpuluh Limo
79
Pitungpuluh Nem
80
Pitungpuluh Pitu
81
Pitungpuluh Wolu
82
Pitungpuluh Songo
83
Wolongpuluh
84
Wolongpuluh Siji
85
Wolongpuluh Loro
86
Wolongpuluh Telu
87
Wolongpuluh Papat
88
Wolongpuluh Limo
89
Wolongpuluh Nem
90
Wolongpuluh Pitu
91
Wolongpuluh Wolu
92
Wolongpuluh Songo
93
Sangangpuluh
94
Sangangpuluh Siji
95
Sangangpuluh Loro : Akhir
96
Ijin Promo Judul Baru
97
Judul Horor Baru bung Kus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!