Uang 50 ribu dengan tahun cetak 1991, terlihat utuh dan mengkilap. Wildan mengamatinya, sempat curiga itu hanya uang kertas mainan. Namun dilihat dari bahannya, Wildan meyakini yang ada di tangannya itu adalah uang asli.
Wildan duduk bersimpuh di lantai. Dia mengambil handphone di saku celana. Kemudian berselancar di dunia maya, memastikan ada tidaknya uang berwarna biru yang ada di tangannya itu pada tahun 1991.
"Beneran ada," gumam Wildan saat melihat hasil pencariannya di internet.
"Ini termasuk langka. Jangan-jangan harganya berkali-kali lipat saat ini," ucap Wildan antusias. Rasa duka yang tadi menyiksa, kini sudah sedikit hilang. Di benaknya kembali muncul keinginan untuk berjudi yang dia sebut sebagai sebuah investasi.
Wildan kembali melipat uang lawas itu dan memasukkannya ke dalam penutup silikon handphonenya yang bening. Kemudian dia mengambil amplop cokelat yang ada di dalam kotak kayu.
"Duit lagi nih," gumam Wildan sembari merobek ujung amplop.
Ternyata di dalam amplop isinya adalah sepucuk surat. Wildan hafal betul tulisan dalam surat itu adalah milik Bapaknya, terlihat rapi dengan huruf tegak bersambung.
"Kusimpan di tempat semua ini berawal. Sampai jumpa di neraka." Wildan membaca kalimat paling atas dari surat tersebut.
Setelah kalimat itu, Wildan merasa semakin tak mengerti maksud dan isi surat karena semua berupa angka yang berurutan. 199114 199115 199116 dan seterusnya. Angka berderet memenuhi seluruh kertas. Di bagian ujung kanan bawah surat terdapat sebuah tanda tangan. Juga tulisan yang terbaca Badoet 2.
Wildan mengulang membaca kalimat dalam surat. Namun, dia tak bisa menangkap pesan dari Sang Bapak. Wildan mengembalikan benda-benda di genggamannya ke dalam kotak kayu. Dia segera beranjak dari kamar suram dengan aroma kembang yang entah datang darimana, kemudian berjalan berjingkat menuju ke kamarnya.
Wildan sesaat mematung di ruang tamu dan mengamati Pak Anwar yang tidur dengan sangat lelap. Mulutnya terbuka dengan dengkuran super keras khas Bapak-bapak. Dia merasa berdosa sempat menilai buruk pada Pak Anwar sebagai orangtua cerewet yang suka ikut campur dan menggurui. Nyatanya, hanya Pak Anwar lah orang yang peduli pada Wildan saat ini.
Wildan kembali ke dalam kamarnya. Kemudian dia menyimpan kotak kayu di bawah tempat tidur. Sementara uang 50 ribu lawas tetap berada di balik silikon penutup handphonenya. Wildan merebahkan badan di kasur lusuh yang terasa keras. Seakan dia tidur di atas tumpukan kayu.
Langit-langit kamar penuh dengan sarang laba-laba yang menggantung berwarna kehitaman. Ada pula beberapa ekor cicak yang mengendap-endap berburu nyamuk. Wildan melamun, pikirannya mengawang jauh. Teringat kebersamaannya dengan Sang Bapak.
Wildan tidak cukup akrab dengan Bapaknya. Hal yang akhirnya dia sesali saat ini. Andai waktu bisa diputar kembali Wildan ingin setidaknya berbincang-bincang dengan Bapaknya di sore hari. Sekedar bertanya apakah Bapak sudah makan? Apa yang sedang Bapak pikirkan?
Mereka tinggal bersama dalam satu atap yang sama, tapi saling acuh dan jarang bertegur sapa. Watak dan karakter yang serupa membuat Bapak dan anak itu sulit mengungkapkan rasa sayangnya. Saat Sang Bapak telah tiada barulah terasa bahwa hidup Wildan menjadi hampa. Sebuah keseharian melihat Bapaknya termenung di sofa ruang tamu, sebuah hal biasa dan sepele yang kini Wildan rindukan.
"Pak, kenapa Bapak pergi meninggalkanku sendirian?" Wildan merintih memeluk guling. Air matanya kembali menetes. Perih rasanya, baik hati maupun netra. Perlahan di antara isak tangisnya, Wildan terlelap.
...****************...
Suara Jawara berkokok yang terdengar aneh membangunkan Wildan dari tidurnya. Ayam jago dengan penuh luka di bagian kepalanya itu sudah mampu berkokok meski suaranya lirih. Wildan mengusap-usap matanya dan meraih handphone di atas meja. Jam 6 pagi.
Wildan duduk di sudut ranjang, mengedarkan pandangan ke arah ruang tamu. Sofa tempat Pak Anwar tidur nampak kosong. Selimut terlipat rapi di dudukan sofa. Mungkin Pak Anwar sudah pulang, sengaja tidak membangunkan Wildan yang masih terlelap.
Tidur memang merupakan sebuah anugerah. Dengan tidur setiap orang akan terlupa dengan masalahnya. Tidur bagaikan tombol restart yang akan membuat orang merasa lebih baik saat terbangun di pagi hari.
Wildan beranjak keluar kamar, pintu depan nyatanya sudah terbuka lebar. Udara pagi terasa dingin menyegarkan meniup rambut Wildan yang lurus dan sedikit gondrong. Wildan berjalan malas ke teras depan. Dilihatnya Jawara sudah asyik mematuk-matuk jagung kering di permukaan tanah. Sepertinya Pak Anwar yang memberinya makan.
"Sekarang aku hanya punya kamu Jawara. Makan yang banyak biar sehat lagi," ucap Wildan menatap Jawara. Ayam jago itu nampak menoleh seolah mengerti ucapan majikannya.
Tiba-tiba Wildan merasakan perutnya bergemuruh. Rasa lapar menghasilkan suara aneh dari usus dua belas jari dalam perut. Wildan ingat, sejak kemarin siang tidak ada sebutir pun nasi yang masuk ke dalam mulutnya. Rasa lapar memaksanya untuk beranjak menuju ke dapur meskipun dia tidak yakin ada bahan masakan disana.
Saat hendak menuju ke dapur, Wildan melewati kamar Bapak. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dari dalam, membuat Wildan melompat kaget setengah mati.
"Kir*k!" umpat Wildan.
Sosok yang keluar dari dalam kamar Sang Bapak juga tak kalah kaget dari Wildan. Matanya melotot sambil memegangi dadanya sendiri.
"Pak Anwar?" pekik Wildan dengan mulut ternganga. Nyatanya Pak Anwar belum pulang, melainkan berada di dalam kamar Sang Bapak.
"Njenengan sedang apa di kamar Bapakku?" tanya Wildan heran.
"Eh, ng nganu ini. Aku nggak kuat dingin. Tadi malam aku numpang tidur di kamar Bapakmu. Mau ijin dulu ke kamu, tapi nggak tega mau bangunin," ucap Pak Anwar beralasan. Dia terlihat salah tingkah.
"Ohhh. Sebenarnya tadi malam aku pun ingin menawari Njenengan agar tidur di kamar Bapak saja. Tapi mengingat keadaan kematian Bapak kemarin kupikir Njenengan nggak berkenan," sambung Wildan.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan Dan. Oh iya, aku mau pulang dulu. Nanti malam aku kesini lagi," ucap Pak Anwar sembari menepuk-nepuk bahu Wildan.
"Terimakasih ya Pak. Jadi merepotkan Njenengan." Wildan tertunduk tak tahu lagi harus berkata apa. Pak Anwar begitu baik padanya.
"Oh iya, tadi sempat kulihat nggak ada apapun di dapur. Sepertinya berasmu juga habis. Datanglah ke rumahku, kita makan bersama. Istriku pasti sudah masak," lanjut Pak Anwar.
Wildan menggeleng perlahan. Dia merasa sangat malu, dan tak ingin merepotkan Pak Anwar lebih dari ini.
"Kenapa? Nggak usah sungkan. Kalau menolak ajakanku, mau makan apa kamu nanti?" Pak Anwar mengajak Wildan dengan setengah memaksa.
"Di halaman belakang ada ketela Pak. Aku akan merebusnya. Lagipula, aku sudah cukup tua untuk Njenengan khawatirkan," tolak Wildan tegas.
"Bagiku kamu tetaplah seorang bocah murid ngaji," sahut Pak Anwar menatap Wildan dengan bola matanya yang bergetar.
Wildan merasa seperti sedang menatap Bapaknya yang sudah tiada.
Bersambung___
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Rose_Ni
Pak Anwar bukan salah satu anggota perampok kan
2024-03-06
0
Rose_Ni
bangun tidur keinget lagi punya masalah
2024-03-06
0
Rose_Ni
lah, pikirannya judi teros
2024-03-06
0