Tepat tengah malam handphone di atas meja bergetar hebat. Sepasang netra mengerjap-ngerjap. Masih dengan kelopak mata yang setengah tertutup, tangan kekar itu menyambar gawai yang terus-menerus berdering tanpa henti.
Saat handphone diarahkan pada lubang telinga, rasa kantuk pun hilang. Sebuah tugas menunggu untuk ditangani. Panggilan dari rekan kerja yang berada di pos jaga wilayah kota memintanya untuk segera meluncur ke sebuah lokasi terjadinya peristiwa kejahatan.
Tanpa cuci muka, laki-laki itu menyambar kaos seragam berwarna hitam. Tak lupa dompet dan kartu identitas dia bawa. Polisi Adi namanya, dari satuan reserse dan kriminal. Rekan kerjanya yang baru menelpon bernama Tarji, mengabarkan ada tragedi pembunuh*n di wilayah selatan pinggiran kota.
Dengan sedikit tergesa-gesa, Adi memakai helm full face yang tergantung di dinding garasi rumahnya. Dia menyalakan motor matic yang nyaris tak mengeluarkan suara, dan segera meluncur menerobos dinginnya udara malam. Beberapa kali dia berpapasan dengan para pemuda yang baru pulang dari tongkrongan.
Lima belas menit dalam perjalanan, Adi akhirnya sampai di sebuah gang sempit dekat pasar kecamatan. Aroma tanah basah setelah terguyur hujan menimbulkan sensasi menenangkan. Adi turun dari motor dan melepas helmnya. Saat itulah dia menyadari ada beberapa bekas roda mobil di tempatnya berdiri. Begitupun di seberang jalan. Dari yang terlihat, Adi menduga saat hujan mengguyur ada tiga mobil yang terparkir di area tersebut.
Mobil patroli kepolisian terparkir sedikit jauh di ujung jalan. Terlihat juga mobil berwarna biru dongker milik Tarji. Adi membuka handphone nya, memeriksa pesan WA untuk melihat share lokasi tempat kejadian perkara. Kemudian dia berjalan masuk ke dalam gang yang becek penuh jejak-jejak kaki yang tak beraturan.
Sampailah Adi di sebuah rumah kecil nan sederhana yang diapit oleh kebun dan tegalan tak terurus. Rumah yang cukup jauh dari tetangga sekitar. Terlihat beberapa warga sudah ramai berada di halaman depan. Mereka mencoba melihat ke dalam rumah, namun terhalang oleh garis polisi.
Adi menyibak kerumunan, dan segera masuk ke dalam ruang tamu. Dia langsung disambut oleh pemandangan yang mengerikan. Seorang laki-laki tua terduduk di sofa dalam kondisi sudah tak bernyawa. Terlihat beberapa luka di sekujur tubuhnya. Batok kepala bagian belakang nampak cairan kental yang sudah mengering. Paha kanan yang robek dan yang paling parah adalah say*tan melintang di bagian lehernya.
Tarji yang melihat kedatangan rekan kerja sekaligus sahabatnya itu, segera mendekat sambil menggenggam papan dada berisi catatan laporan penyelidikan sementara. Dia menyodorkan laporan itu pada Adi.
"Luka di kepala dan pahanya terlihat lebih lama. Mungkin dia disiksa terlebih dahulu. Ditemukan juga bekas tali dari karet ban bekas di bawah sofa," ucap Tarji menerangkan.
"Untuk penyebab kemat*an adalah luka paling baru, berupa say*tan melintang di leher. Korban diketahui bernama Anwar, seorang guru ngaji yang dulu juga terkenal sebagai jawara kampung," lanjut Tarji.
"Ini rumah korban? Dia tinggal sendirian disini?" Adi berdehem sebentar kemudian bertanya.
"Bukan. Rumah korban di dekat pertigaan depan gang. Dia memiliki seorang isteri dan dua orang anak. Isterinya masih di rumah tak sadarkan diri saat diberi kabar suaminya sudah tak bernyawa. Sedangkan dua anak laki-lakinya tengah merantau di negeri orang," jelas Tarji. Adi manggut-manggut sembari melihat catatan laporan.
"Rumah ini merupakan milik seorang bernama Umar yang meninggal gant*ng diri kemarin. Dia tinggal bersama seorang anak laki-laki bernama Wildan yang malam ini hilang entah kemana," lanjut Tarji.
"Umar? Maksudmu Umar yang beberapa waktu lalu datang ke kantor?" tanya Adi antusias.
"Iya, benar. Laki-laki yang dikira pikun itu. Yang setiap pagi ke kantor meracau soal perampokan tahun 91." Tarji mengangguk, meng iyakan.
Adi terdiam membisu. Dia merasa kasus kali ini rumit. Feelingnya seringkali menjadi sebuah kenyataan. Tarji mendekat, dia menepuk pundak sahabatnya itu.
"Baru juga naik jabatan menjadi kepala satuan, sudah datang satu kasus ruwet. Semangat ya Bapak," bisik Tarji meledek.
"Menurutmu siapa tersangka utamanya?" Adi mengacuhkan ledekan Tarji.
"Hampir semua petugas meyakini kalau Wildan anak Pak Umar lah pelakunya. Apalagi saat ini dia menghilang tak diketahui keberadaannya," jawab Tarji.
"Motifnya?" tanya Adi sekali lagi.
"Wildan pengangguran. Mungkin butuh uang, terus berusaha merampas sesuatu milik korban," ucap Tarji menyampaikan dugaannya.
"Tapi aku kurang sependapat Ji. Lihatlah, korban mengenakan pakaian serba hitam yang aneh. Korban disiksa dulu sebelum dihabisi. Tapi luka di hidung berdasar penyelidikan tertulis bukan akibat senjata yang sama untuk menghabisi korban. Oh iya, apakah senjata yang dipakai pelaku sudah ditemukan?" Adi berjongkok, menatap wajah membiru Pak Anwar.
"Sudah. Sebuah pisau lipat yang sudah dibawa tim forensik ke kantor, untuk diselidiki sidik jari siapa yang tertinggal di gagangnya," jawab Tarji. Adi manggut-manggut.
Adi mengedarkan pandangan ke lantai rumah yang terlihat kotor bekas jejak kaki.
"Kamu punya foto ruangan ini sebelum semua petugas masuk ke dalam rumah?" tanya Adi kemudian.
Tarji merogoh handphone di saku seragamnya dan menyodorkan pada Adi. Adi beberapa kali men scroll foto-foto yang tersimpan di galery handphone sahabatnya itu dan akhirnya menemukan gambar yang dicari.
"Di dalam foto, ada tiga jejak sepatu penuh lumpur masuk ke dalam rumah. Apa kamu tahu jejak kaki siapa yang ada dalam foto ini?" Adi mengembalikan handphone milik Tarji.
Tarji diam saja dan hanya menggeleng perlahan. Dalam hati dia memuji ketelitian sahabatnya yang kini sudah menjadi seorang atasan itu.
"Ada orang lain yang datang ke rumah ini. Terlalu dini untuk menyimpulkan kalau Wildan anak Pak Umar sebagai pelakunya," ucap Adi mengutarakan kesimpulannya.
"Emm, siapa yang pertama kali menemukan mayat korban?" lanjut Adi.
"Pos jaga mendapatkan telpon dari nomor tak dikenal memberitahukan ada mayat di tempat ini," jawab Tarji lugas.
Adi termenung, sementara hari telah berganti. Tengah malam telah terlewati. Udara dingin semakin menusuk kulit ari. Meski hujan telah usai, beberapa kali kilat menyambar membelah kegelapan langit menyambut pagi.
...****************...
Pukul 5 pagi, Wildan menguap lebar. Lehernya terasa kaku, sepanjang malam tidur sambil duduk di kursi sebelah kemudi. Dia membuka pintu mobil merasakan udara segar nan beku dari hijaunya persawahan.
Tadi malam, mobil yang dikemudikan Angel berhenti di tepian jalan kecamatan, tepat di area persawahan yang luas. Angel sengaja memilih tempat beristirahat yang jauh dari pemukiman penduduk. Namun kini, perempuan itu tidak ada di belakang kemudi.
Wildan sempat memeriksa kursi belakang, namun gadis sangar itu tetap tidak ada di tempatnya. Saat Wildan keluar dari mobil, dia melihat Angel tengah berjalan di pematang sawah. Rambutnya yang tak terlalu panjang itu dibiarkan tergerai. Mengenakan tank top berwarna putih, menunjukkan tubuhnya yang sintal. Dengan santai Angel berjalan melenggak-lenggok di antara tanaman padi yang tumbuh subur.
"Darimana?" tanya Wildan setelah Angel berdiri di hadapannya.
"Buang air di kali. Kenapa? Mau ngintip?" sahut Angel acuh.
Angel mengambil handphonenya yang tergeletak di dashboard mobil. Dia memeriksa beberapa pesan masuk. Tiba-tiba saja matanya membulat dan tangannya memukul pintu mobil dengan cukup keras.
"Kita dijebak!" bentak Angel geram.
Bersambung___
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Blue Love
jangan sampe ye lu dtg telat, mas Adi,!! mana kasus selalu gantung lg, kesel bgt sm mas Adi ini😂
2024-01-21
0
CinWin
yeayyy adi dan tarji🌈
2023-05-24
0
ms. Ella
pak polisi Adi dan tarji ada dimana-mana ya Thor, Di Rumah tusuk sate, rumah tepi sawah, rumah tepi sungai sekarang disini... 😁
2023-02-18
1