Pemilik kantin selatan sekolah kala itu memang cukup dekat denganku, karena sejak sebelum tinggal kelas kantin itu sudah seperti basecamp keduaku dan semua anggota fraksiku.
"jangan loncat tembok, itu temboknya udah retak beberapa bagian" kata ibu kantin kepada kami,
Beliau melarang kami karena tembok yang biasa kami gunakan untuk meloncat dari sekolah sudah rapuh dan retak di beberapa bagiannya. Kalau kami nekat menaiki tembok itu ditakutkan akan ambruk dan menjadi masalah untuk kami selain kami akan terluka.
"lah gimana bu? gue udah keburu janjian sama temen udah ditungguin diluar juga" jawabku kebingungan karena Lucky sudah menungguku diluar sesuai rencanaku sebelumnya,
"udah lewat pintu samping ini aja, cuman ntar ditutup lagi" jawab ibu kantin sembari memberikan kunci pintu disamping kantin itu.
Sejak SMP aku memang dekat dengan para pemilik kantin bahkan hingga aku kuliah nanti. Evi yang saat itu berjalan seusai dari kamar mandi sempat mengajak kami untuk masuk kekelas,
"eh vi, bisa minta tolong ga?" ucapku,
"minta tolong apaan yan?"
"gue ama Zhaki mau pulang, lo tolong kunciin pintunya dari dalem ya" kataku kepadanya.
Dia mengiyakan permintaanku dan menyanggupinya. Aku membuka pintu itu dan memberikan kuncinya kepada Evi, sebelum kami berdua keluar dari pintu itu aku sempat berterimakasih kepadanya dan dengan jailnya mencium pipinya sebelum berlari,
"hiihh lo gilak yan sumpah!" ucapnya kepadaku dengan nada kesalnya,
Zhaki yang melihat kejadian itu hanya tertawa terbahak-bahak sambil berlari disampingku. Di kebun samping sekolah aku berpisah dengan Zhaki, dia pulang kerumahnya dan aku berlari kearah Lucky yang sedang menungguku didekat tempat itu.
"ayo cepetan" ucapku kepada Lucky setelah aku berlari dan naik keatas motornya.
Aku takut kalau ada warga sekitar atau bahkan guru yang melihatku keluar dari sekolahan itu di jam pelajaran. Lucky memacu motornya dengan kencang hingga kami berhasil sampai dengan tanpa ada masalah apapun dirumahku.
Lucky meninggalkanku dirumah dan kembali ke rental PS menemui Putra yang sempat ditinggalnya disana sendirian saat menjemputku. Aku hanya berganti baju dan menyusul mereka berdua dengan berjalan kaki dari rumahku.
Rental PS itu tidak terlalu jauh dari rumahku, mungkin hanya 100 hingga 150 meter ditimur rumahku tepat didepan makam. Aku menyusul mereka dengan berjalan kaki saat itu.
Sesampainya disana kami bermain seperti biasanya, hingga Lucky pergi untuk menjemput Hellen sekaligus mengambilkan tasku yang dibawanya. Aku dan Putra juga memutuskan untuk kerumahku setelah Villa mengirimkan pesan akan kerumahku. Tidak seperti biasanya kali itu Villa datang bersama Avi,
'waduh bakal gangguin nih' ucapku dalam hati,
Awalnya aku agak sebel dengan kehadiranya dirumahku saat itu, karena berpikir dia akan dirumahku hingga Villa pulang nanti. Selain akan mengganggu waktu kami, kala itu memang aku tidak terlalu dekat dengannya dan dia sering menatapku dengan sinis. Avi hanya mengantar Villa kerumahku dan akan menemui pacarnya untuk membicarakan masalah mereka berdua.
Avi meninggalkan kami berdua dan pergi menemui pacarnya, kami yang masih agak dingin karena permasalahan sebelumnya masih sama-sama diam. Hingga akhirnya aku berinisiatif untuk mencairkan suasana dan mengajaknya masuk kekamarku.
Putra yang saat itu berada diruang keluargaku berpindah keruang tamu setelah aku berkata kepadanya akan masuk kekamar.
"lo masih marah ya yank?" tanyaku kepadanya,
"masih sebel aja sih, tapi yaudah lupain aja" jawabnya kala itu,
Kami duduk berdua di kasur kamarku, tangan kananku memegang samping kepalanya dan aku mulai mencium bibirnya. Lidah kami saling beradu sembari tanganku membuka kancing baju yang dikenakanya satu per satu hingga semuanya terlepas. Tanganku mulai berpetualang hingga akhirnya kami saling bertumpukan.
Saat sedang *******-klimaksnya bermain terdengar suara motor berhenti dan berlari masuk menanyakan keberadaan Villa kepada Putra yang saat itu kami dengar dari dalam kamar.
"Villa dimana mas?!"
"didalem mbak, dikamar sama Ryan" jawab Putra yang aku dengar dengan jelas.
Langkah kakinya mengarah kekamarku hingga pintu kamarku digedor beberapa kali,
"Vil buka vil!" ucapnya sembari memukul-mukul pintu kamarku,
"siapa?" tanyaku,
"aku Avi yan, buka dulu aku mau ngomong sama Villa" ucapnya yang masih berdiri didepan pintu kamarku,
"bentar..." jawabku,
Kami tidak memperdulikan Avi karena memang sedang berada dititik puncak permainan kami. Avi masih memukul-mukul pintu dan memanggil-manggil Villa sembari menunggu kami didepan pintu kamarku.
Selesai bermain kami mengenakan pakaian dengan agak terburu-buru karena Avi masih berteriak-teriak didepan pintu dengan menangis. Villa keluar terlebih dahulu mengajak Avi duduk diruang tamuku bersama Putra yang terlebih dahulu ada disana.
Aku yang saat itu sangat kesal dan sangat marah dengan kelakuan Avi yang sempat mengganggu permainan kami akhirnya ikut keluar juga menemuinya. Saat itu sangat marah dan sebel yang kurasakan, dia mengganggu permainanku yang belum selesai, yang membuatku merasa nanggung dan lemas karena sempat kaget dan terburu-buru.
Disana terlihat Avi yang sedang menangis dan Villa yang menenangkanya, Putra yang sejak awal tidak mengetahui apa-apa hanya duduk diam bermain HP.
"lo kok diem aja dia gangguin gue dikamar!" bisikku kepadanya yang saat itu sempat marah karena Putra membiarkan Avi masuk kedalam dan mengganggu kami.
"dia nangis-nangis bro, ntar gue dikira ngapa-ngapain malahan" jawabnya,
Akhirnya aku duduk disebelah Putra berhadapan dengan Avi dan Villa,
"lo kenapa vi sampe nangis-nangis gitu?" tanyaku,
Avi hanya diam dan masih tertunduk menangis menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Villa yang saat itu sedang berada disamping Avi memberikan kode kepadaku untuk tidak menanyakan hal tersebut.
Suasana siang itu menjadi hening hanya terdengar Avi yang sesenggukan menangis dan kami bertiga hanya diam bingung harus berbuat apa.
Beberapa saat setelahnya dia yang sudah agak tenang mengajak Villa untuk pulang, itu kembali membuatku kesal dengan kelakuanya itu karena belum puas dengan permainan kami.
Akhirnya Villa mengiyakan permintaanya itu, Villa masuk kembali kedalam kamarku untuk mengambil HP dan tasnya yang masih berada didalam kamar. Aku menyusulnya kedalam,
"itu si Avi kenapa yank?" tanyaku.
"gue juga gatau yank, dia belum cerita apa-apa cuman nangis daritadi"
"lo mau nganterin dia? kita kan belum beres tadi mainnya" ucapku karena memang biasanya kami bermain 2 hingga 3 ronde,
"ntar gampang yank, gue bisa kesini lagi abis nganter dia" jawab Villa menenangkanku agar tidak marah kepada Avi,
Villa pulang mengantar Avi yang saat itu sudah agak tenang, karena dia takut akan dimarahi orangtuanya bila ketahuan menangis. Aku dan Putra yang memang tidak mengetahui permasalahan yang terjadi hanya saling bertanya.
Tak lama kemudian Catur dan Anji datang masih dengan seragam sekolah mereka,
"minum yuk" ajak Catur kepada kami siang itu,
Kamipun setuju dan mulai mengumpulkan uang iuran untuk membeli minuman, Anji dan Putra berangkat membelinya dan Rangga datang menyusul kami setelahnya.
"tumben lo ga pacaran?" tanya Catur kepadaku,
Akupun menceritakan kejadian sebelumnya kepadanya dan Catur yang saat itu sedang duduk bersamaku. Tak lama kemudian Anji dan Putra kembali membawa 4 botol berwarna hijau tersegel. Kami mulai minum-minum dan mengobrol dengan topik pembicaraan random.
Saat sedang asik mengobrol tiba-tiba terdengar suara motor berhenti tepat didepan rumahku, motor itu tidak bisa langsung masuk karena halaman rumahku yang hanya berukuran lebar 4 meter penuh dengan motor teman-temanku.
"mamahmu yan?" ucap Rangga dengan panik,
Kami yang saat itu panik dan sedikit tidak sadar dengan cepatnya menyembunyikan botol-botol minuman yang sedang kami minum dan bertingkah seakan tidak sedang melakukan apapun. Hingga langkah kaki itu sampai di pintu dan ternyata Villa yang datang kembali, bukan ibuku.
Dia duduk disampingku, menyuruh pindah Rangga yang saat itu berada disampingku sebelumnya.
"Avi udah lo anter pulang yank?" tanyaku,
"udah yank, dia tadi nangis diputusin cowoknya" jawab Villa sembari menjelaskan tentang keadaan Avi sebelumnya.
Kala itu aku muncul ide untuk mencomblangkan kembali Avi dengan Catur yang sebelumnya sempat tertunda karena Avi masih berat kepada pacarnya saat mereka masih break. Aku mencoba meyakinkan Villa untuk membantu agar Avi bisa moveon dengan cepat. Padahal sebenarnya saat itu aku hanya tak ingin kejadian yang terjadi tadi terulang kembali, aku tak ingin Avi mengganggu waktuku dengan Villa.
Bukan baru terjadi kali itu saja karena sebelumnya beberapa kali Villa sempat gagal kerumahku juga karena Avi yang sering mengajaknya keluar untuk menemaninya menemui pacarnya. Kalau Avi jadian dengan Catur otomatis dia tidak akan menggangguku dan Villa lagi pikirku.
Sebenarnya Catur tidak terlalu tertarik dengan Avi tapi aku yang memaksanya untuk mendekati Avi.
Selesai dengan percakapan kami tentang rencana mencomblangkan Catur dengan Avi, aku mengajak Villa kembali kedalam kamar untuk melanjutkan permainan kami yang sempat terhenti sebelumnya.
Karena kejadian sebelumnya nafsuku saat itu sempat hilang, ditambah aku dalam pengaruh alkohol yang membuatku agak susah untuk ereksi kala itu. Hal itu tidak menghentikan permainan kami hinga 2 ronde setelahnya.
Selesai bermain aku keluar menemui teman-temanku terlebih dahulu meninggalkan Villa yang masih berada dikamarku masih mengenakan pakaianya.
Kami memang masih SMP kala itu, tapi hubungan suami istri sering kami lakukan berdua setiap kali bertemu. Entah sudah berapa puluh kali sejak kami pertama melakukanya, dari dia yang awalnya malu-malu dan menolak untuk melakukanya hingga menjadi ahli dan beberapa kesempatan malah dia yang mengajakku melakukan hal itu.
Selesai menggunakan pakaianya dan membersihkan diri dikamar mandi, Villa menyusulku keluar dan kembali mengusir Rangga yang duduk disampingku.
"anjir diusir lagi gue" kata Rangga membercandai Villa.
"wkw sorry mas, gue cape banget" jawab Villa kepadanya,
"main sampe berapa kali sampe mau sejam tadi?" tanya Rangga,
Aku menjawab pertanyaanya itu dan kami saling bercanda, hal itu bukan menjadi hal yang tabu lagi untuk dibicarakan untuk kami. Kami sama-sama tahu dan saling bergantian menjaga saat ada yang 'bermain' didalam. Rumahku saat itu sudah seperti lokalisasi, banyak dari teman-temanku yang menggunakanya untuk berpacaran dan minum-minum bahkan berjudi disiang hari karena tidak ada orang satupun hanya aku sendiri. Ditambah lagi tetanggaku yang cenderung cuek dengan urusan orang lain bila hal itu tidak mengganggu mereka secara langsung.
Kampungku memang bukan sebuah kampung yang baik-baik saja, kampung ini terkenal sebagai salah satu kampung yang berisi banyak preman sejak masa kakekku dulu. Itu juga menjadi salah satu alasan pembenaran sikap kami selama ini, walaupun hal itu sebenarnya salah.
Avi menelpon Villa saat itu, mengajaknya keluar sekedar menghibur diri dan mencari udara segar.
"jangan lupa yank, dicomblangin ama Catur" ucapku saat dia berpamitan pulang,
Sepulangnya Villa kami masih melanjutkan acara minum-minum kami hingga jam menunjukkan pukul 17.00 kami berpindah ke warung W jaga-jaga kalau ibuku pulang agar kami tidak ketahuan sedang mabuk-mabukan.
Dibawah pengaruh alkohol diwarung itu kami sempat bersitegang dengan beberapa anak lain kampung ini. Selain gerombolanku memang ada gerombolan lain yang memiliki jumlah anggota lebih banyak dari kami.
Tongkrongan mereka berada didekat SD ku dulu, disebuah warung juga mirip dengan kami. Bedanya gerombolan itu berisi anak-anak kampung ini dan kampung ditimur makam, beda dengan gerombolan kami. Hanya aku, Catur, Adam, Zuli dan Rangga selain itu berisi anak-anak dari luar kampung ini.
Aku akan menamai gerombolan itu dengan nama Grup B, selain grup B ada juga beberapa anak lain yang berkumpul disebelah timur rumah Catur, Adam dan Zuli. Mereka mendirikan grup juga tapi bukan organisasi jalanan seperti kami yang mengikuti Lion tapi fanbase sebuah grup musik luar negri.
Beberapa anggota grup B sebenarnya anggota organisasi Lion juga sama seperti kami, tapi memang kami tidak akur dengan mereka dan sering ada gesekan walaupun tidak berakhir dengan perkelahian.
Hanya sekedar perang dingin, karena beberapa anggota grup itu sering nongkrong bersama kami di warung W maupun rumahku.
Sore itu Putra yang sebelumnya ijin pulang ganti baju kembali ke warung W, diperjalanan kesini sebelumnya dia sempat berpapasan dengan salah seorang anggota grup B yang bernama Anto.
Sebenarnya Anto teman semasa SDku, cukup dekat denganku juga tapi semenjak lulus dari SD kami jadi bermusuhan karena berbeda tongkrongan.
Mereka berpapasan entah bagaimana kronologi sebenarnya tapi memang sempat panas waktu itu, Anto mendatangi warung W bersama salah seorang dari grup B. Melihat Catur dan Adam disana orang yang dibawanya itu terlihat segan, dia mengutarakan maksud kedatanganya untuk mendamaikan Anto dan Putra.
Catur dan Adam memang cukup disegani diantara anak-anak seumuran kami dikampung ini. Bukan karena mereka sering berbuat onar sepertiku, tapi karena mereka lebih bijaksana dan tega saat berkelahi.
Kami tidak berpikiran apapun tentang hal itu saat itu, dan menganggap masalah mereka berdua selesai saat itu juga. Mereka sempat ikut kami minum-minum sebentar setelah mereka berdua bersalaman sebagai bentuk perdamaian dan selesainya masalah Putra dan Anto. Hingga akhirnya mereka pergi dan aku menanyakan kronologi kejadian sebelumnya kepada Putra.
"masalahnya gimana tadi emang?" tanyaku kepada Putra,
"tadi papasan trus dia liatin pedes ke gue bro, gue blayerin dia gaterima trus ngejar gue. tapi pas gue brenti buat nungguin dia bukanya brenti malah cuman lewat sambil maki-maki" ucap Putra menjelaskan kronologi saat itu,
"yaudah yang penting sekarang kan udah clear" ucap Catur,
Sebenarnya saat itu masalah belum benar-benar selesai karena terlihat jelas Anto masih menyimpan amarah dan dendam kepada Putra. Dia tak mengucap satu katapun hingga meninggalkan warung itu. Kami yang telah merasa enak setelah mabuk-mabukan memutuskan untuk mengakhiri acara hari itu dan pulang kerumah masing-masing.
Keesokan harinya hal yang tidak terduga terjadi lagi...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments