Sesampainya dirumah ternyata kesialanku hari itu tak berhenti disitu saja, handphoneku yang tertinggal dirumah hilang entah kemana. Belum selesai dengan masalah yang ada, sudah ditambah dengan adanya masalah baru. Aku masih berusaha mencari handphoneku hingga tiba-tiba terdengar suara motor ibuku datang. Baru selesai memarkirkan motornya, beliau bertanya kepadaku yang saat itu berdiri diruang tamu,
"motormu dimana kok gaada?" tanyanya kepadaku,
Aku yang saat itu terpojok dan kebingungan, terpaksa menceritakan apa yang telah terjadi. Sesuai perkiraanku aku dimarahi habis-habisan kala itu, bukan hanya motor tapi handphoneku juga ikut hilang.
Aku hanya bisa terdiam dan benar-benar tidak bergerak saat itu karena takutnya. Ibuku memang tidak pernah sekalipun main tangan, tapi hal itu tetap saja membuatku takut. Itu juga yang menjadi seperti kebiasaanku hingga saat ini. Mungkin diluaran aku terkenal karena kenakalan dan hal-hal buruk lain yang aku lakukan, tapi dirumah aku hanya seorang anak.
Malam harinya aku berkumpul bersama teman-temanku di warung W, aku hanya diam tak seperti biasanya yang selalu ceria. Mereka menanyakan bagaimana kronologi dan kejadian yang menimpaku siang tadi. Lucky juga meminta maaf karena tidak berhenti saat itu, "udah lupain aja" ucapku kepadanya. Aku tidak terlalu memikirkan hal itu lagi, saat itu aku hanya kepikiran tentang handphoneku yang hilang dan bagaimana besok aku di kantor polisi bersama ibuku untuk mengambil motorku yang masih disita disana.
"eh iya, tadi pada liat hp gue gak? ilang soalnya dirumah" tanyaku kepada mereka berharap ada yang mengetahui atau membawanya.
Tapi mereka tidak mengetahuinya, hanya Rangga yang melihatnya diruang tamu sebelumnya. Saat itu memang mereka kerumahku untuk mengambil kartu keluarga, dan memang rumahku menjadi basecamp untuk mereka.
Rangga dan Putra menuduh Adit yang mengambilnya karena dia bukan circle kami dan ikut kerumahku juga siang tadi. Aku yang tidak enak karena telah dibantunya hingga bisa pulang kerumah tak enak juga mau menuduhnya.
"yaudalah gue iklhasin aja" jawabku kepada Rangga yang saat itu membujukku untuk menanyai Adit.
Saat itu aku merasa sial karena telah memacari Villa, dan berniat untuk mengakhiri hubunganku dengannya saat itu juga. Tapi hal itu dilarang oleh Catur dan yang lainya, mereka menyuruhku mengingat bagaimana dia saat dikantor polisi tadi. Selama di kantor polisi Villa hanya diam mengikuti semua perkataanku, dan tidak menyalahkanku karena apa yang telah aku perbuat.
Aku mengingat saat itu dan bagaimana dia mulai mencoba mencintaiku di hari pertama kami jadian. Hal itu membuatku luluh sekaligus merasa bersalah kepadanya karena sempat ingin mengakhiri hubungan kami.
Saat itu juga kuputuskan untuk menemuinya dirumahnya, Putra yang saat itu juga ada bersamaku menawarkan diri untuk menemaniku kesana. Sesampainya dirumah Villa aku bertemu Luna yang saat itu akan pergi bersama pacarnya,
"loh yan, nyari villa?" tanya Luna yang sekaligus membuatku kaget karena dia tahu aku memiliki hubungan dengan saudaranya.
Sejak mengenalnya dulu memang aku tidak terlalu dekat dengannya, hanya sekedar saling mengenal tanpa pernah ngobrol sekalipun.
"iya lun, villa nya ada kah?" jawabku,
"ada kok sebentar gue panggilin" sahut luna sembari kembali masuk kedalam rumah dan membiarkan pacarnya menunggu diluar bersamaku dan Putra.
Tak lama kemudian Luna keluar bersama Villa, sekaligus berpamitan kepada kami untuk pergi bersama pacarnya,
"eh yank ada apa kok ga ngabarin dulu kalo mau kesini?" tanya villa dengan sedikit kaget melihatku.
Saat itu juga aku menyampaikan tujuanku datang kesana, aku meminta maaf atas apa yang telah terjadi siang tadi dan memberitahunya kalau handphoneku telah hilang dicuri. Dia menawarkan aku untuk memakai handphonenya yang saat itu sempat kutolak dan diluar dugaanku dia tidak terlalu memikirkan masalah kami tadi dan dengan santainya memintaku untuk melupakanya.
Hal itu membuatku tenang sekaligus kaget, karena saat itu aku sendiri masih takut dan bingung tapi dia bisa setenang itu. Setelah meminta maaf dan memberitahukan keadaanku kepadanya aku berpamitan pulang.
Aku kembali berkumpul dengan teman-temanku di warung W, dan menghabiskan malam kami hari itu dengan kegiatan yang kurang baik seperti biasanya.
Keesokan harinya masih dengan keadaan marah, ibuku mengajakku kekantor polisi tempatku ditahan kemarin untuk mengambil motorku. Kami berangkat kesana dengan aku yang masih dimarahi sepanjang jalan, sesampainya disana kami masuk keruang tunggu tempat aku ditahan sebelumnya. Ada 2 orang petugas piket, aku mengenali salah satunya karena sebelumnya sempat membelikan aku dan Villa makan dan mengajak kami mengobrol santai.
Aku tidak bisa banyak bercerita tentang apa yang kami bicarakan saat itu, singkatnya motorku diperbolehkan untuk dibawa pulang. Aku mendorongnya ke bengkel seberang kantor polisi untuk memperbaiki kerusakanya, dan setelahnya kami bergegas untuk pulang.
Saat akan kembali kerumah aku sempat melihat teman-temanku sedang nongkrong dan berkumpul didepan makam. Aku yang saat itu sudah merasa baik dan tenang memutuskan untuk ikut berkumpul bersama mereka daripada kembali kerumah.
Mereka menanyaiku tentang kejadian aku mengambil motorku tadi dan tentang masalah handphoneku yang hilang. Saat itu disana ada Boni, seorang teman SD ku dulu. Dia memiliki badan yang tinggi dan gemuk, dengan rambut cepak dan nada suara yang tinggi.
Rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku, berada disebelah selatan kampungku. Saat itu dia sempat kaget melihatku telah menjadi seorang yang seperti itu, mengingat sewaktu masih sekelas dengannya di sekolah dasar aku seorang anak yang pendiam dan paling dibully dari yang lain.
Dia mendengarkan cerita tentang permasalahanku saat itu, dan menawarkan solusi untuknya. Saat itu memang tidak mungkin ibuku akan membelikan sebuah handphone baru untukku, selain sebel karena aku menghilangkannya, kondisi keuangan keluarga kami saat itu memang sangat memprihatinkan.
Boni mengajakku menemaninya mencuri agar aku bisa mendapatkan uang sendiri. Aku tidak langsung menerimanya, karena takut ditambah lagi sebelumnya aku tidak terlalu dekat dengannya. Aku meminta waktu untuk berpikir terlebih dahulu sebelum menjawabnya, karena kondisiku saat itu memang sangat membutuhkan uang. Sekolahku libur setelah pengambilan raport sebelumnya, hal itu membuatku tidak akan mendapat uang saku dan uang setoran dari anak-anak lain disekolah.
Boni berpamitan pulang, Rangga yang saat itu berada disana juga bersamaku seakan membujukku untuk menerima tawaran dari Boni demi kebutuhanku sendiri walaupun hal itu sempat ditentang Putra karena takut ada hal dan niat lain dari Boni.
Setelah berpikir dan bertanya dengan yang lain akhirnya aku menerima ajakan dari Boni, sore itu Boni mengajakku kerumahnya. Mengajariku tentang beberapa skill dasar untuk mencuri. Boni memang teman sekelasku sewaktu SD, tapi dia 2 tahun lebih tua dariku karena sering tinggal kelas sebelumnya.
Saat itu dia memang sudah putus sekolah, dan mencuri adalah hal yang dilakukanya setiap hari untuk mendapatkan uang. Wajar menurutku mengingat kampungnya memang terkenal sebagai kampung yang banyak berisi pencuri dan pencopet sejak lama.
Dia mengajariku tentang cara-cara mencuri dan mengambil barang dari saku/badan seseorang dengan halus dan banyak hal lainya. Dirasanya cukup hari itu kami mengakhiri pertemuan kami dan membuat janji bertemu keesokan harinya untuk memulai aksi pertamaku dengannya.
Keesokan harinya, saat itu masih cukup pagi Boni datang menjemputku kerumah. Kami bersiap dan mencari rute untuk berangkat, hingga akhirnya disepakati kami akan keluar kearah selatan. Cara mencuri kami memang agak sedikit berbeda, kami mencari sebuah toko yang sepi dengan sedikit penjaga dan mengambil barang dengan berpura-pura membeli.
Boni bertugas membuka pembicaraan atau pertanyaan kepada penjaga, setelahnya aku yang melanjutkan pembicaraan itu dan membuat penjaga sibuk dengan keinginanku. Saat penjaga lengah Boni yang akan mengambil barang berharga darinya, aku memang hanya menemaninya saat itu karena masih amatir. Kami selalu keluar kota saat melakukan aksi kami, dan selalu di pagi hari.
Susah-susah gampang memang, karena harus bergerak cepat dan sebisa mungkin menutupi ekspresi kami. Dari sanalah aku belajar untuk memainkan ekspresi wajah dan ketenangan yang sangat berguna untukku hingga saat ini.
Singkat cerita, hari itu kami mendapatkan hasil yang lumayan banyak. Sesuai kesepakatan kami sebelumnya dia mendapatkan 60% dan aku mendapatkan pembagian 40% dari total penghasilan kami setelah berhasil menjual barang hasil curian.
Pembagian memang sedikit berbeda mengingat semua modal dan skill dia yang memberikanya kepadaku. Tapi walaupun 40% itu nominal yang cukup besar untukku saat itu mengingat aku yang masih seorang pelajar SMP dan hasil kami yang selalu menyentuh angka diatas 1jt.
Kami melakukan aksi itu beberapa kali memang, dengan libur di setiap hari selasa dan minggu. Minggu karena banyak orang yang libur bekerja dan keadaan ramai, Selasa karena menurut kepercayaanya hari itu adalah hari sial untuk mencuri. Saat itu memang kami tidak asal mencuri tapi Boni memiliki "pegangan" untuk mencuri yang diberikan kenalanya di kampungnya.
Entah kenapa memang saat itu aku sangat sering bersinggungan dengan hal-hal semacam itu, ilmu, pegangan dan hal mistik lainya seakan menemaniku hingga dewasa ini. Aku mulai mempercayai keberadaan hal-hal semacam itu memang dari saat itu. Beberapa kali aku beraksi bersama Boni memang banyak hal diluar nalar yang aku alami sendiri, tunduk dan menurutnya para korban dengan semua permintaan kami saat pengalihan yang kadang sangat merepotkan mereka, hingga beberapa kali hampir ketahuan tapi mereka seakan tidak bisa berbuat apa-apa.
Saat itu kami berdua masih dibawah umur, banyak hal sewajarnya anak kecil yang sering membuat kami gagal dilapangan. Tapi hal itu seakan tidak berpengaruh besar dan membuat curiga korban-korban kami.
Aku melakukan hal itu karena selain kebutuhanku yang benar-benar mendesak, aku takut untuk meminta uang kepada ibuku. Aku selalu berusaha mendapatkan uang dengan caraku sendiri untuk kebutuhanku walaupun dengan cara yang tidak benar.
Uang hasil aksiku dengan Boni juga selalu kuhabiskan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, seperti mabuk-mabukan dan memodifikasi mesin motorku hingga berjuta-juta. Aku melakukanya karena hasutan dari Putra dan Lucky yang saat itu memang sudah terlebih dahulu memodif motor mereka untuk balap liar.
Kami beraksi hampir setiap hari selama liburku sekolah kala itu, hingga bisa membeli sebuah handphone baru untuk mengganti handphoneku yang lama walaupun akhirnya kujual juga karena kebutuhan.
Selama liburan sekolah di minggu pertama aku hampir tidak pernah berkomunikasi dengan Villa, hingga hari itu aku berinisiatif untuk menjemputnya.
Hari itu aku menjemput villa dan mengajaknya kerumahku untuk pertama kalinya. Kami masih agak canggung karena kali pertama ngobrol bebas berdua tanpa adanya orang lain.
Aku mengajaknya masuk kedalam kamarku, disitu aku mulai menciumnya. Melepas semua pakaian yang dikenakanya walaupun sempat ditolaknya sebelumnya.
Aku mengajaknya melakukanya saat itu, walaupun awalnya dia bersikeras menolak tapi dengan memaksa aku tetap melakukanya. Dengan badan yang lebih besar dan tenaga yang lebih kuat aku memegang kedua tanganya, merenggangkan dan memeganginya dengan kuat.
"jangan kayak gini yank, aku takut" ucapnya kepadaku, tanpa memperdulikanya aku tetap melanjutkan apa yang sedang aku lakukan saat itu.
******* dan rintihan kesakitan darinya menemani kami berkeringat bersama untuk yang pertama kalinya dihari itu. Selesai melakukan hal itu kami berdua duduk diruang tamu rumahku. Tanganya memegangi dan memeluk tanganku dengan kencang sembari berkata "jangan tinggalin aku" . Kata-kata yang masih kuingat hingga saat ini, karena itu memang kali pertama dia melakukan hal itu dengan pacarnya.
Kami melakukan hal itu beberapa kali dirumahku selama liburan itu, hari-hari berikutnya dia sering kerumahku dan melakukan hal yang sama setiap harinya. Dia yang awalnya malu-malu hingga menjadi terbiasa melakukan hal itu denganku.
Saat itu sekolah sudah mulai masuk, aku menghentikan aksiku bersama Boni. Hari itu setelah berpisah selama 2 minggu akhirnya aku bertemu dengan teman-teman 1 fraksiku. Kami melepas rindu dan saling bercanda bercerita mengenai liburan kami dan mulai memintai uang dari siswa lain dengan semangat baru di pagi itu.
Hari itu untuk pertama kalinya Villa ikut berkumpul dengan kami dan seperti dugaanku dengan Villa sebelumnya, Ana dan beberapa temannya yang lain mulai bersikap dingin kepada Villa. Dia seakan dikeluarkan dari circlenya hanya Avi yang masih dekat dengannya saat itu.
"gimana yank? gue jadi gaenak gara-gara kita jadian malah kamu dijauhin yang lain". ucapku kepadanya yang saat itu duduk disebelahku dikantin sekolah. Aku merasa tak enak dengannya sekaligus benci dengan teman-temanya terutama Ana, karena dia harus seperti diasingkan dari circlenya sendiri hanya karena Ana menyukaiku.
Sebenarnya aku sempat menawarkan diri untuk menemui dan mengklarifikasi kepada teman-temanya tentang perlakuan mereka kepada Villa, tapi ditolaknya dan memintaku untuk tidak menganggap semua perlakuan mereka kepada Villa.
"udah gapapa gue juga gatakut kok kalo mereka gimana-gimana, biarin aja yang penting kita ga ngerugiin mereka kan yank?" kata-kata darinya itu yang membuatku merasa tenang dan meyakinkanku kalau dia benar-benar menyayangiku saat itu.
Selama pacaran kami jarang sekali pergi main ataupun sekedar malam mingguan, aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan teman-temanku daripada dengannya. Pacaranku dengannya saat itu hanya sekedar dirumahku dan berkumpul dengan teman-temanku saja.
Saat dibasecamp kami berkumpul dan di hari itu Mark mengajak Zhaki yang sedang duduk didepannya untuk ke kelas 8D, kelas yang terletak diseberang kelas kami. Hanya terpisah taman dari kelas kami dan tepat berada disamping kelas 8C, kelas Nadia dulu.
"mau ngapain kesana? ada masalah?" tanyaku yang mendengar percakapan mereka kala itu...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments