INGKAR KESETIAAN

Saat dibasecamp kami berkumpul dan di hari itu Mark mengajak Zhaki yang sedang duduk didepannya untuk ke kelas 8D, kelas yang terletak diseberang kelas kami. Hanya terpisah taman dari kelas kami dan tepat berada disamping kelas 8C, kelas Nadia dulu.

"mau ngapain kesana? ada masalah?" tanyaku yang mendengar percakapan mereka kala itu.

"anu bos, gue mau nembak Mirna" jawab Mark.

Mirna adalah gebetan Mark sejak lama, sejak dari dia masih duduk dikelas 7 dulu. Aku yang iseng dan ingin show off saat itu mengikuti mereka berdua ke kelas 8D.

kami sampai dikelas itu dan masih banyak anak-anak lain yang masih berada dikelas itu juga walaupun itu jam istirahat,

"itu anak-anak lain gapada disuruh keluar dulu aja biar enak?" tanyaku kepada Mark melihat banyaknya siswa yang berada dikelas itu.

"sebenernya enak gitu bos, cuman ntar daripada di hukum" ucapnya kepadaku karena takut anak-anak yang kami paksa keluar akan melapor ke guru konseling.

"udah gue urusin aja ntar" jawabku kepadanya, karena sebelumnya saat aku menembak Nadia Mark dan yang lainya membantuku juga.

Sesampainya kami bertiga dikelas itu langsung menjadi pusat perhatian anak-anak disana.

"pada keluar dulu! kami mau ada urusan sama yang namanya Mirna!" aku berteriak didepan kelas itu sambil menujuk mereka yang berada didalam kelas, yang langsung diikuti suara langkah kaki para siswa keluar dari kelas itu. Aku dan Zhaki mengikuti mereka dari belakang, meninggalkan Mark sendiri dikelas itu dan menutup pintu kelas.

Saat itu pertama kalinya aku melihat April, teman sekelas Mirna. Memiliki bentuk muka tirus, bermata sayu dan berbadan proporsional dengan kulit kekuningan dan wajah manisnya. Dia duduk di depan kelas bersama beberapa teman lainya karena kusuruh keluar dari kelas. Aku dan Zhaki berada didepan pintu bersama mereka yang kami suruh keluar kelas, terdengar beberapa anak bertanya kepada Zhaki tentang tujuan kami mengeluarkan mereka dari kelas.

"ada masalah apa bos?" tanya Iza yang datang bersama beberapa anggota fraksi kami, mereka memang sedang berkeliling menariki iuran dari tiap kelas.

"gapapa itu si mark baru nembak cewe, udah kalian lanjutin aja" jawabku kepadanya menyuruh mereka melanjutkan pekerjaanya.

Mereka menuruti perintahku dan melanjutkan ke kelas lain, saat itu aku terpana melihat April. Aku mencoba mendekatinya, mengajaknya berbicara, walaupun saat itu dia sedikit canggung, malu dan takut saat menatap dan berbicara kepadaku.

Aku mengajaknya mengobrol sekedar untuk basabasi meminta nomor handphonenya, dan dengan mudahnya dia memberikanya kepadaku. Kami mengobrol hingga terdengar suara pintu didepan kami terbuka dan Mark keluar dari kelas itu.

"gimana bro? diterima?" tanyaku sembari aku mendekatinya,

"iya bos diterima" sahutnya dengan wajah ceria,

Saat itu kami langsung pergi meninggalkan kelas itu dan April yang sedang kuajak ngobrol sebelumnya. Kami memutuskan untuk masuk ke kelas tidak kembali ke basecamp karena bel masuk kelas akan segera berbunyi.

Satu hal yang tidak aku perhatikan saat itu, Ana dan gerombolanya berada didepan kelas mereka juga. Mereka memperhatikan kami daritadi, tapi kami tidak menyadarinya.

Hal itu aku ketahui sehari setelahnya, setelah mendapatkan nomor handphone April dimalam hari itu juga aku menembaknya.

Hal aneh memang tapi untuk seumuranku kala itu memang pacaran terlihat sangat mudah tanpa harus pendekatan dan kenal terlalu lama.

Walaupun aku sudah memiliki Villa sebelumnya tapi rasa penasaran dan ingin terlihat ' WAH' oleh teman-temanku yang lain yang membuatku melakukanya. Kejadian itu sekaligus menjadi momentum pertama kalinya aku memiliki pacar lebih dari 1 orang.

Aku mengetahui Ana dan yang lainya memperhatikan kejadian sewaktu di kelas 8D karena saat itu Villa tiba-tiba marah kepadaku. Dia menuduhku menggoda adek kelas waktu itu.

Sempat bingung dan menuduh beberapa temanku yang memberitahukan hal itu kepadanya, hingga Dita yang saat itu memang dekat denganku menceritakan tentang Ana.

Aku sempat membela diri dan melimpahkan kesalahan kepada April berharap agar kemarahan Villa kepadaku bisa sedikit meredam. Zhaki yang saat itu sudah aku 'speak' terlebih dahulu memberikan keterangan palsunya juga kepada Villa yang saat itu bersama beberapa temannya mendatangi kami dikantin.

"kamu temenya pasti belain dia lah!" ucap Villa kepada Zhaki dan teman-temanku yang lain yang saat itu berusaha membelaku juga.

Tanpa banyak berbicara dan beradu argumen setelahnya, Villa meninggalkan kami diikuti teman-temanya. Kukira masalah telah selesai dan dia percaya kepada argumen kami.

Hingga saat kami dikelas tiba-tiba ada guru konseling yang memanggilku keruanganya. Aku kebingungan karena merasa tidak membuat masalah besar hari itu, tapi aku juga tidak bisa menolaknya. Aku berjalan keluar kelas sendirian dan menuju ruang konseling.

Aku sempat merapikan pakaian dan rambutku terlebih dahulu sebelum masuk keruang konseling. Maklum saja saat itu poni rambutku memang panjang, dan seragamku tidak rapi seperti aturan yang berlaku disekolah.

"permisi bu..." aku mengetuk pintu dan meminta ijin untuk masuk ke ruang itu.

Villa dan April duduk didepan salah satu meja guru, Dewi dan Avi berada didepan ruang konseling itu ditemani salah seorang teman April yang berdiri dibelakang kursinya. Hal itu membuatku kaget dan kebingungan, apalagi April menangis saat itu.

"Yan duduk situ!" ucap bu Ami yang saat itu duduk didepan mereka berdua sembari menunjuk sebuah bangku dimeja sampingnya.

"iya bu, kenapa ya saya dipanggil?" tanyaku kepadanya yang masih kebingungan saat itu.

Bu Ami menjelaskan keadaan sebelumnya, Villa dan teman-temannya melabrak April dikelasnya. Mereka mendatangi dan memaki-makinya karena telah menggodaku. Padahal kejadian sebelumnya aku yang menggoda dan mendekati April, cerita tentang April yang menggodaku saat itu memang hanya sekedar cerita karanganku dan teman-temanku saja untuk meredam emosi Villa kepadaku.

Ternyata setelah mendatangiku di kantin sebelumnya, Villa dan teman-temannya mendatangi kelas April. Mereka mencari April dan membullynya dengan banyak cacian, hal itu otomatis menjadi tontonan banyak siswa lain danada yang melaporkan kejadian itu ke guru konseling sehingga mereka semua dibawa keruang konseling.

"pacarmu yang mana sebenernya?!" tanya bu Ami dengan nada tinggi kepadaku,

Aku hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaanya itu, kami bertiga diceramahi banyak hal kala itu. Fokus untuk pendidikan dan sekolah terlebih dahulu, itu inti dari semua ceramah kepada kami yang sebenarnya tidak terlalu aku dengarkan karena saat itu aku masih bingung mencari alasan untuk menutupi kebohonganku kepada Villa lagi.

April dan Villa beserta teman-teman mereka disuruh untuk kembali ke kelas setelah dipaksa berbaikan oleh Bu Ami. Aku tau saat itu Villa benar-benar marah dan kecewa kepadaku, yang terlihat dari caranya melihatku sebelum meninggalkan ruangan itu.

Aku yang sendirian diruang itu masih diomelin tentang banyak hal dan memarahiku karena memacari lebih dari 1 orang. Antara bingung dan sebel saat itu,

"sial! gara-gara April gue malah jadi kena omel banyak hal yang bukan jadi masalah awalnya" aku menggerutu dalam hati saat itu.

Dari awal masalah yang hanya karena cewek, semua tabiatku seperti memalak, membolos bahkan mengeroyok satpam yang sebelumnya aku lakukan dibahas saat itu. Sial memang maklum saja memang aku salah satu anak paling badung dan selalu menjadi incaran para guru.

Bahkan masalah perkelahianku dengan Lana yang sebelumnya kami lakukan diluar area dan jam sekolah juga mengetahuinya dan menjadi bahan bahasan saat itu.

Ada cepu diantara anggota fraksiku, aku tidak bisa menuduh siapapun juga. Anggotaku memang banyak, tapi banyak juga yang dari mereka mengikutiku hanya sekedar karena takut atau simbiosis mutualisme saja bukan benar-benar menghormati dan perduli terhadapku.

Saat itu aku memang memiliki posisi yang riskan, sedikit saja terlihat kelemahanku akan menjadi bumerang kepadaku sendiri. Dikeroyok? pasti, kudeta juga bukan hal yang tidak mungkin mengingat aku tidak benar-benar dekat secara emosi kepada mereka. Hanya Mark, Zhaki dan Vian saja anggota fraksi yang saat itu benar-benar dekat secara emosional denganku. Selain mereka bertiga seperti Syahrul, Iza dan yang lainya hanya sekedar dekat karena setiap hari selalu bersama tanpa memperdulikan hal pribadi diluar fraksi.

Dan bahkan selain mereka diluar fraksiku hanya Benny yang dekat denganku secara emosional. Aku tidak memiliki teman dekat selain mereka saat itu. Aku juga sadar mereka sebenarnya membenciku dan semua tingkah serta aturan yang aku buat karena terkadang semena-mena mementingkan kebutuhan dan kepuasanku pribadi.

Aku cukup lama diruang konseling itu, hingga bel istirahat kedua berbunyi baru aku disuruh keluar dari ruangan itu. Saat itu memang kami tidak diberikan poin karena telah membuat masalah karena memang tidak melanggar aturan sekolah apapun. Tapi kembali mendapatkan ceramah dan larangan untuk berpacaran.

Setiap pelanggaran akan mendapatkan poin uang bervariasi tergantung seberapa berat pelanggaran aturan yang kami lakukan. Terlambat, bolos, berkelahi dan banyak hal lain akan mendapatkan poin. Pelanggaran kecil seperti terlambat dan tidak mengerjakan tugas akan mendapat 5 poin, berkelahi 50 poin dan lain-lain hingga maksimal 100 poin untuk 1 siswa. Siswa yang telah genap 100 poin akan dikeluarkan dari sekolah itu.

Poinku saat itu hanya sekitar 40an, karena kenalakanku setiap harinya selalu aman hanya saat masalah nadia, Mark dkk mengeroyok siswa itu kemarin aku mendapat poin yang lumayan besar.

Aku keluar ruangan konseling, didepan ruangan itu Mark, Andi dan yang lainya sudah menungguiku. Mereka menanyaiku tentang masalah yang telah aku perbuat hingga dipanggil oleh konseling saat itu.

Aku bercerita apa adanya waktu itu, sebel? memang, tapi disisi lain ada rasa bangga didalam diriku karena menjadi bahan rebutan cewek. Maklum saja sebelumnya jangankan 2, memiliki 1 orang pacar saja sangat sulit untukku.

Saat itu yang kupikirkan hanya Villa, aku takut dia akan marah dan memutuskan hubungan kami. Kami mencari Villa ke kelasnya tapi tidak menemukanya disana, hanya ada beberapa teman sekelasnya yang juga tidak mengetahui keberadaanya dan teman-temanya.

Aku juga tidak bisa menghubunginya karena dia jarang membawa handphone ke sekolah setelah sebelumnya ada razia dan larangan untuk membawa handphone. Kecewa mengetahui dia tidak berada disana kami memutuskan untuk ke basecamp.

Belum benar-benar sampai dibasecamp aku melihat Zhaki sedang memukuli seorang siswa dari kelas 9B dibasecamp kami.

Kami yang tidak mengetahui permasalahan sebelumnya mendekat dan bertanya kepadanya,

"ada masalah apaan lagi?" tanyaku dengan sedikit emosi kepadanya, belum genap satu jam aku keluar dari ruang konseling sudah ada masalah baru disini.

"ini bos, kemaren jatahnya dia ngasih duit tapi malah lari gue cariin seharian gaketemu, dimintain Andi sama Syahrul dia malah alesan terus" jawab Zhaki dengan raut wajah yang masih penuh amarah.

Terlihat anak itu ketakutan dan berdiri dipojokan tembok, sembari memelas meminta maaf kepada kami. Aku yang memang sebelumnya sudah ditimpa banyak masalah dan emosi tanpa pikir panjang langsung menghantamkan bogem mentah kepadanya. Terkena tepat di mulutnya yang membuatnya seketika tertunduk memegangi mulutnya yang berdarah.

Aku menyuruhnya untuk berdiri lagi, saat aku akan memukulnya lagi dia menghidarinya dan membuat tanganku memukul tembok dengan keras. Aku sangat kesakitan saat itu, itu yang membuat teman-temanku yang sebelumnya hanya melihat dan sekedar mencacinya serentak ikut memukulinya.

"maaf...maaf.." hanya kata itu yang keluar dari mulutnya berulang kali.

Baju osis putih birunya sudah tidak berbentuk lagi, baju putih yang dikenakanya sudah banyak terdapat bekas sepatu dan debu. Kami menyuruhnya kembali kekelasnya setelah puas menghajarnya, dengan disertai ancaman akan menjadi lebih parah kalau-kalau dia sampai melapor ke guru.

Tanganku yang sebelumnya menghantam keras tembok masih terasa sakit dan bengkak hingga beberapa hari setelahnya. Kejadian itu membuat tulang pangkal jari telunjuk dan tengah tangan kananku sedikit mundur ke belakang, tidak menonjol seperti manusia pada umunya.

Villa yang sebelumnya kami cari untuk mengklarifikasi kejadian di ruang konseling tadi masih belum bisa kami temui, bahkan hingga sepulang sekolah pun aku tetap tidak bisa menemuinya karena jam pulang kelas kami yang berbeda.

Sebenarnya aku sempat meminta tolong kepada Ivan yang sekelas dengannya untuk memintanya tinggal karena aku ingin berbicara kepadanya, tetapi ditolaknya mentah-mentah saat itu.

Aku yang masih belum tenang dengan keadaan hubungan kami memutuskan untuk langsung kerumahnya sepulang sekolah itu.

Bel pulang sekolah berbunyi, aku bergegas keluar kelas untuk menuju parkiran motor.

Sebelumnya teman-temanku mengajak untuk nongkrong seperti biasanya tapi kutolak karena saat itu aku benar-benar kebingungan. Sempat berpapasan dengan April saat akan keluar sekolah tapi tidak kuperdulikan, aku berjalan cuek melewatinya seperti orang yang tidak saling mengenal.

Sebenarnya aku merasa kasihan juga kepadanya, dia mendapat masalah karenaku dan aku mempermainkan perasaanya saat itu. Hubungan kami belum genap 2 hari tapi sudah kutinggalkan dia begitu saja.

Sesampainya aku dirumah Villa, ternyata Avi juga sedang berada disana. Aku memarkirkan motor didepan rumahnya dan berjalan mendekat kearah mereka. Belum sempat aku mengutarakan niatku menemuinya, aku sudah dihujani banyak perkataan dari Avi yang menyalahkanku karena kejadian di ruang konseling tadi. Tanpa memperdulikan suara yang keluar dari mulutnya aku mendekat dan duduk disamping Villa yang saat itu masih menangis.

Dia menyuruhku untuk pulang dan tak ingin menemuiku,

"lo pulang aja! gue mau sendiri dulu!" ucapnya yang masih menangis tersedu-sedu.

Sendiri? apa mungkin dia mengajak untuk mengakhiri hubungan kami ini?

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!