Dimalam itu bukanya mantan pacar Rangga yang datang, tapi malah ada hal yang tak terduga sebelumnya. Villa pacarku lewat didepan kami berboncengan dengan seorang cowok.
Saat itu sebenarnya kami sedang asik mengobrol dan bercanda sambil minum-minum, hingga tak sengaja saat aku melihat kearah jalan kulihat Villa dibonceng seorang cowok. Aku yang saat itu memang sudah dibawah pengaruh alkohol langsung mengejarnya, teman-temanku sempat bingung karena aku tergesa-gesa menyalakan motor tanpa berbicara sepatah katapun, hingga Putra dan Rangga mengikutiku dari belakang.
Motor itu sudah cukup jauh kearah timur, kurang lebih 400meter dari tongkronganku,
"BERHENTI!!" teriakku setelah berhasil mengejarnya sembari menendang motornya dari belakang.
Kakiku mengenai body motor disamping belakang, motor itu sempat tidak seimbang hingga akhirnya menghentikan lajunya. Aksiku menghentikan motor itu sempat menjadi tontonan beberapa orang yang lewat dijalan itu karena aku menghentikanya ditengah jalan.
Aku memarkirkan motorku agak ditengah jalan dan dengan penuh emosi mendatangi pengemudi motor itu, dan ternyata dugaanku benar.
Cewek yang bersama cowok itu adalah Villa, aku sempat mengintrogasi mereka berdua dijalan itu. Putra dan Rangga yang datang menyusulku meminggirkan motorku dan berusaha menenangkanku.
Marah? kecewa? cemburu? pasti, itulah yang aku rasakan saat itu apalagi Villa hanya berdiam diri saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hingga saat aku menarik jaket dan akan memukul cowok itu Villa melerai dan menjelaskan kalau dia adalah kakak sepupunya.
Saat itu memang aku sangat marah dan kecewa karena merasa ditipu, Villa sebelumnya berkata bahwa dia hanya dirumah malam itu dan sempat menolak saat kuajak keluar. Tapi kenyataanya melihat dia keluar dengan cowok lain yang aku tidak mengenalnya sebelumnya ditambah aku yang sedang berada dibawah pengaruh alkohol membuat emosiku benar-benar tak terbendung kala itu.
"udah jangan, dia kakakku" kata itu yang sempat menghentikan gerakan tanganku yang akan memukulnya.
Aku sempat tidak percaya sebelumnya, hingga dia menunjukkan bukti chatnya dengan Luna yang sempat menanyakan keberadaanya. Masih dengan emosi dan gengsi yang besar untuk meminta maaf, aku meninggalkan mereka begitu saja. Hanya Putra yang mendatanginya dan berbicara entah apa kepadanya sebelum menyusulku pergi darisana.
Setelah kejadian itu aku kembali ke tongkrongan diikuti Rangga dan Putra, disana mereka dan teman-temanku yang lain sempat menenangkanku. Tapi kata-kata dari Lucky sempat membuat pikiranku kembali kacau saat itu,
"kalo itu emang kakaknya, trus ngapain dia pake acara kudu bohong sama lo kalo dirumah?" kata Lucky kepadaku.
"udah tenang dulu, mending ngalah minta maaf duluan jaga-jaga kalo itu emang bener kakaknya daripada malah jadi masalah sama keluarganya Villa lo ntar" sahut Catur,
Saat itu aku memutuskan untuk menuruti kata-kata Catur, aku sempat menghubungi Villa dan meminta maaf. Awalnya dia sangat marah kepadaku karena perlakuanku kepada kakaknya tapi akhirnya dia sedikit luluh dan memaafkanku. Walaupun hal itu tidak seketika membuat hubungan kami membaik karena Villa memang masih menyimpan sedikit kemarahanya kepadaku.
Hal itu terlihat dari balasan chat dan nada suaranya di telepon saat aku meminta maaf kepadanya. Tak terlalu kuperdulikan karena memang kala itu egoku sangat tinggi,
'ah yang penting gue udah minta maaf, kalo dipanjangin berarti dia yang salah' ucapku dalam hati waktu itu.
Malam itu aku melanjutkan kegiatanku dengan teman-temanku dan seketika melupakan kejadian yang telah kualami sebelumnya. Hal yang biasa untuk kami waktu itu, merekapun seakan sudah hafal dengan tingkah lakuku saat sedang berada dibawah pengaruh alkohol pasti akan membuat keonaran. Kami menutup malam itu dengan berkonvoi sebelum berpisah dan pulang kerumah masing-masing.
Keesokan harinya disekolah aku sempat menemui Villa yang kala itu duduk dibangku kelasnya bersama Hellen dan yang lainya. Melihat kedatanganku teman-teman Villa yang sedang berada disekelilingnya meninggalkanya keluar kelas. Aku mendekat dan duduk disebelahnya kembali untuk meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan kami yang agak renggang.
"maaf yank, gue beneran gatau kalo kemaren kakak lo. abisnya lo ngeboong juga bilang dirumah padahal keluar" ucapku kala itu masih dengan gengsi yang aku miliki.
"gue malu tau nggak? kalo dia sampe nyeritain sama ibu gue gimana?" jawabnya,
Aku berusaha menenangkanya dan meminta nomor HP kakanya yang semalam sempat akan kuhajar. Awalnya dia menolaknya karena berpikiran aku akan kembali membuat masalah dengannya. Tapi setelah aku meyakinkanya niatku yang akan meminta maaf akhirnya dia memberikan nomor HP kakaknya itu walaupun dengan terpaksa.
Kakaknya berusia tidak jauh dari kami, seumuran Rangga dan Zuli masih duduk dikelas 11 SMA kala itu dan bersekolah disekolahan yang sama dengan Lucky.
"mas gue minta maaf karena masalah semalem..." itulah inti dari chatku kepadanya, yang dibalasnya dengan sama-sama meminta maaf dan menganggap permasalahan yang terjadi sebelumnya telah selesai.
Hal itu membuat Villa sedikit luluh kepadaku, akupun mengajaknya untuk bertemu dirumahku sepulang sekolah nanti.
Setelah menyelesaikan masalahku dengan Villa, aku keluar kelasnya untuk menemui teman-temanku di basecamp karena waktu itu hanya Zhaki yang menemaniku ke kelasnya. Didepan kelas Hellen yang sedang duduk bersama teman-temanya berdiri mendekatiku yang sedang berjalan didepanya,
"gimana kak? udah clear?" tanyanya kepadaku,
"udah dek, gue udah minta maaf ama kakaknya dia juga, ntar dia mau kerumah gue juga" jawabku,
"yauda deh syukur, salah lo juga sih emosian" kata Hellen,
Permasalahanku dengan Villa dan kakaknya memang sudah diketahui Hellen dari Lucky dimalam itu juga.
Selesai mengobrol singkat dengan Hellen, aku dan Zhaki sempat melihat banyak siswa yang berkumpul ditimur 'kantin selatan' sekolah. Disamping kelas Villa dan taman, tapi memang dari taman dan kelas tidak terlihat karena tertutup tembok. Area itu sebenarnya dulu area parkir sepeda siswa sebelah selatan, tapi setelah banyaknya pencurian emblem dan aksesoris sepeda oleh siswa lain akhirnya parkiran sepeda dijadikan 1 disebelah barat dekat 'kantin utara' sekolah yang membuat area itu sekarang hanya menjadi area lapang terbengkalai.
Saat itu kurang lebih ada 20an siswa yang berkumpul mengitari 2 orang yang sedang berkelahi. Kami berdua mendekat untuk sekedar ingin melihat perkelahian mereka.
Kami tidak mengenalnya dan mereka juga bukan anggota fraksi kami, anak-anak itu berasal dari kelas 8,
"disini dulu aja bos, lumayan dapet tontonan wkw" ucap Zhaki sambil tertawa mengajakku untuk tetap stay disana karena sebelumnya aku mengajaknya pergi meninggalkan mereka setelah mengetahui apa yang terjadi dari salah seorang yang kami tanyai,
Akhirnya aku menuruti permintaanya itu, kami berdua berjalan lebih mendekat dan duduk dibawah pohon disamping tembok pembatas area itu dan taman. Beberapa siswa sempat mengucapkan salam dan menegur sapa kami, salah satu anak yang sedang berkelahi juga sempat terlihat segan saat melihat kami berdua datang.
"udah lanjutin aja gue cuman mau nonton" teriakku kepada mereka yang sempat menghentikan perkelahianya saat melihatku.
Mereka melanjutkan perkelahianya hingga bergulung-gulung di tanah, terlihat anak yang sebelumnya sempat segan kepadaku lebih menguasai perkelahian kala itu. Dia memukuli wajah musuhnya berulang kali, musuhnya hanya bisa menangkis dan sesekali memberikan balasan yang tidak terlalu fatal.
Kami semua fokus ke anak-anak yang berkelahi itu hingga dari belakangku tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing bagiku untuk menghentikan perkelahian waktu itu.
"HEH STOP!!" seketika itu kami menoleh kebelakang dan ternyata pak Hendy mantan wali kelasku dulu sudah berdiri tepat diujung tembok sembari melotot kepada kami semua.
Beberapa anak berlarian melihat kedatangan pak Hendy, aku dan Zhaki yang terpojok karena berada paling dekat dengannya terpaksa diam ditempat melihat pak Hendy berjalan kearah mereka yang sedang berkelahi.
Pak Hendy sempat menampar kedua anak itu, dan memegangi baju mereka dengan kedua tanganya sembari membawanya keruang BK. Aku dan Zhaki yang masih duduk ditempat kami sebelumnya pun ikut terkena masalah waktu itu,
"kalian ikut ke BK juga!" ucapnya kepada kami,
"loh pak kami gaikutan, gangapa-ngapain kok ikut ke BK?" ucapku membela diri,
"udah gausah banyak omong ikut dulu!" bentaknya,
Dengan berat hati dan sedikit mengumpat karena kami terseret dalam masalah yang bahkan kami tidak mengetahuinya akhirnya kami mengikuti perintah pak Hendy.
Beliau berjalan didepan kami dengan memegangi baju kedua anak itu, dan kami berdua mengikutinya dari belakang setelah merapikan seragam kami. Sontak kami menjadi tontonan anak-anak lain yang berada disekitar kami, karena saat itu kami berjalan melewati lobby kelas 8 dan diseberangnya ada lobby yang berisi kelas 9. Apalagi saat itu latihan ujian kami telah usai dan siswa kelas 7-8 sudah masuk sekolah seperti biasanya.
Hellen dan teman-temanya yang masih berada didepan kelas mereka sempat memberikan kode bertanya kepadaku, tapi aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala dan gerakan tanganku yang mengisyaratkan ketidaktahuanku.
Sesampainya kami diruang BK pak Hendy menyuruh kami untuk masuk,
"bu ini tadi pada berantem dideket kantin" ucap pak Hendy kepada bu Ami yang sedang duduk dimejanya,
"oh iya pak, suruh duduk dulu aja" jawab bu Ami dengan menggerakkan tanganya mempersilahkan kedua anak itu untuk duduk.
"kalian bikin masalah lagi?" ucap bu Ami kepadaku dan Zhaki yang saat itu masih berdiri didekat pintu.
"mereka ada disana tadi, saya bawa kesini sekalian" sahut pak Hendy yang setelahnya meninggalkan kami untuk merazia kedisiplinan anak-anak lain.
Bu Ami menyuruh kami untuk duduk di meja sampingnya, dan bukanya menanyai anak-anak yang berkelahi itu beliau malah menanyai kami terlebih dahulu tentang perkelahian tadi.
"saya gatau apa-apa bu, cuman dudukan aja" jawabku,
"iya bu kami cuman nonton aja gangapa-ngapain" sahut Zhaki menjelaskan keadaan kami sebelumnya,
"gamungkin kalo cuman nonton dibawa kesini sama pak Hendy! jujur aja" ucap bu Ami yang tidak mempercayai kesaksian kami.
Kami masih dengan argumen kami, karena memang sebelumnya kami tidak mengetahui apalagi terlibat perkelahian itu. Hingga setelah menanyai kedua anak itu tentang posisi kami berdua saat mereka berkelahi, bu Ami sedikit mempercayainya.
Ketidak percayaan bu Ami kepada kami menurutku hal yang wajar, mengingat memang kami berdua biang keonaran disekolah kala itu.
"kalian ini liat orang berantem bukanya dipisahin malah nonton!" ucap bu Ami,
"tadinya mau misahin cuman takut bu, mereka banyak banget tadi. salah-salah malah kami berdua yang dikeroyok ya ki" jawabku kepada bu Ami sembari mengkode Zhaki untuk mengiyakan kesaksianku itu,
"iya bu bener, malah kami yang dikeroyok ntar kalo ikutan misahin" ucap Zhaki,
"udah gausah drama, yang ada itu kalian yang ngeroyok!" jawab bu Ami yang kami balas dengan tertawa kecil.
Karena terbukti tidak bersalah kami berdua disuruh keluar dari ruangan BK dan kembali ke niat awal kami untuk ke basecamp. Belum jauh kami berjalan, bel masuk kelas berbunyi,
"sial banget baru juga mau keluar udah masuk aja" ucap Zhaki,
Saat itu kami sangat sebel, jangankan nongkrong bersama yang lain, sekedar membeli minumpun kami belum sempat karena anak-anak tadi.
Kami memutuskan untuk masuk terlambat kekelas dan kekantin terlebih dahulu. Beberapa anggota fraksi kami yang lewat menanyakan keberadaan kami berdua sebelumnya, Iza dan yang lain sempat mengajak kami masuk ke kelas tapi kami tolak karena belum makan apapun.
Kami berdua memutuskan untuk tidak mengikuti 2 jam mata pelajaran saat itu dan memilih untuk dikantin hingga jam istirahat kedua berikutnya. Hingga aku merasa bosan dan memutuskan untuk pulang dijam pelajaran itu.
Aku mengirimkan pesan kepada Benny yang saat itu sedang mengikuti pelajaran dikelas, aku menyuruh Benny menyembunyikan tasku dan memberikanya kepada Hellen agar dibawanya pulang nanti.
Zhaki yang saat itu bersamaku sempat melarangku karena akan meninggalkanya sendirian disana, walaupun akhirnya dia ikut pulang juga bersamaku.
Masa-masa akhir sekolah itu memang aku jarang membawa motor kesekolah, karena motorku sempat menginap beberapa minggu di bengkel. Bengkel milik seorang kenalanku didekat rumah Hellen, untuk mempermudahnya aku akan menyebutnya dengan bengkel N.
Kala itu sebenarnya motorku tidak mengalami kerusakan apapun, tapi karena terbawa circleku dan sedang trend-trendnya balap liar membuatku ingin memiliki motor dengan spek balap seperti teman-temanku yang lain. Aku memodifikasinya dengan uang hasil aksiku dengan Boni sebelumnya, karena hal itu jugalah aku kesekolah lebih sering diantar Lucky dan yang lainya. Putra dan Lucky memang sering sekali membolos sekolah kala itu, mereka menghabiskan waktunya dirumahku ataupun di rental PS dekat rumahku.
Aku mengirimkan pesan kepada Lucky untuk menjemputku disamping sekolah saat itu agar bisa kabur dari jam pelajaran yang disanggupinya saat itu juga. Kami masih berada di kantin itu sembari menunggu Lucky menjemputku, Evi teman sekelasku keluar dari kelas dan berjalan kearah kami.
"loh vi kok keluar? kami dicariin ya?" tanyaku kepadanya,
"engga kok, gue mau ke toilet" jawab Evi dengan melanjutkan jalannya kearah toilet disebelah kantin.
Lucky mengirimkan pesan kepadaku berkata kalau dia sudah berada ditempat yang sebelumnya kami sepakati. Sontak aku dan Zhaki bersiap untuk melompati tembok agar bisa keluar dari sekolah itu.
"kalian mau kemana?" tanya ibu pemilik kantin itu,
"mau pulang bu, mau ada acara" jawabku,
Pemilik kantin selatan sekolah kala itu memang cukup dekat denganku, karena sejak sebelum tinggal kelas kantin itu sudah seperti basecamp keduaku dan semua anggota fraksiku.
"jangan.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments