Hari itu menjadi yang terakhir kalinya aku mengenalnya, karena setelahnya Susi aku campakkan begitu saja. Aku tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya walaupun masih berada di satu sekolah yang sama. Saat berpapasan atau saling bertemu pun kami hanya saling membuang muka seperti orang yang tidak saling mengenal.
Hal itu tidak terlalu aku perdulikan juga, yang terpenting hubungan fraksiku masih baik dan tidak mengganggu pendekatanku dengan Villa.
Hari itu memang tidak ada pelajaran apapun, kami yang datang ke sekolah hanya untuk bermain dan sekedar mendapatkan uang saku dari rumah saja.
Pagi itu hal yang tak biasa terjadi setelah Susi berlari meninggalkanku sebelumnya, aku kekantin untuk membeli sarapan.
Saat itu benar-benar sepi tidak seperti hari biasanya, karena selain masih pagi banyak juga siswa yang tidak masuk sekolah. Di kantin saat itu hanya ada Aku, Vian dan Mark saja, bahkan pengikut kami banyak yang tidak masuk dan lebih memilih nongkrong diluar sekolah.
"lainya pada kemana? ngga pada masuk?" tanyaku kepada mereka berdua,
"Iza ama Zhaki pada di rental PS bos, Andi ama Syahrul gue gatau" jawab Mark,
"iya nih, kita nyusul mereka aja yuk" ajak Vian kepadaku yang saat itu sedang duduk dikursi depan kantin dan makan.
"ntar an deh, gue mau nyari duit dulu seadanya yang masuk" jawabku kepada mereka,
Kami mengobrol dan bercanda sembari menunggu kalau-kalau ada teman kami yang datang. Saat itu kami duduk di depan kantin selatan,
Sedikit aku gambarkan, kantin itu berada di sebelah selatan kelas 8E menghadap keutara. Dengan tempat duduk yang terbuat dari semen berbentuk L dari selatan kebarat, menyisakan tempat untuk berjalan disebelah barat dan meja berjualan di sebelah selatan. Saat ada yang akan membeli dagangan dari warung itu otomatis harus berada diantara kursi yang berbentuk L tadi, berada di depan kami yang saat itu duduk disitu.
Hal tak biasa yang kusebutkan tadi, Villa datang ke kantin itu ditemani Dewi untuk membeli beberapa cemilan. Memang baru pertama kali ini aku melihatnya datang ke kantin ini, mengingat kantin ini banyak dihindari oleh anak-anak lain terutama cewek karena menjadi salah satu tempat tongkrongan fraksi kami.
"duduk sini dulu lah vil" ucapku menggodanya, yang langsung dibalas lirikan tajam oleh Dewi.
"mau ngapain?" jawabnya dengan tersenyum kepadaku,
"kan yang kemaren belum dijawab" , dengan iseng kukatakan kepadanya yang saat itu sebenarnya belum genap seminggu sesuai permintaanya dan masih di hari ke 6.
Dia hanya tertawa dan mengangguk seakan memberikan kode menerimaku, sembari membayar makanan yang dibelinya dan berjalan meninggalkan kantin. Aku yang kaget dan ingin memastikan mengejarnya yang saat itu berjalan bersama Dewi,
"vil... bentar..."
Dia berhenti dan berbalik memandangku, Dewi yang sedang bersamanya ikut berhenti juga.
"iya, ada apa?" jawabnya kepadaku,
"ini berarti kita resmi jadian?" tanyaku kepadanya.
"iya, kan aku udah jawab tadi" dengan tersenyum dia mengatakan itu kepadaku. Terlihat raut wajah kaget dari Dewi yang ada disampingnya kala itu. Saat itu menurutku wajar karena hubunganku dengannya memang tidak terlalu baik sejak sekelas dikelas 8 dulu.
"gue masuk dulu deh vil" ucap Dewi kepada Villa sambil menatap sinis kepadaku dan meninggalkan kami berdua.
Bahagianya aku waktu itu tidak dapat banyak kukatakan dalam kata-kata. Rasa penasaranku kepadanya dan setelah hampir satu minggu dibuatnya menunggu terbayarkan saat itu. Dalam hati aku mengagumi kecantikanya yang saat itu berdiri didepanku, karena sebelumnya aku tidak pernah benar-benar memperhatikanya sedetail itu.
Aku mendekati Villa sebenarnya hanya karena rasa penasaranku saja tanpa mengagumi dan menyukai dia sebelumnya. Saat melihatnya pertama kali memang aku sudah seperti memiliki firasat kalau dia akan menjadi pacarku.
Entah firasat itu datang darimana tapi saat itu aku hanya teringat tentang prosesi ritual yang pernah kulakukan dulu, mengingat sebelumnya aku selalu ditolak cewek yang aku suka dan berbanding terbalik dengan keadaanku kala itu.
"ntar pulang sekolah maen dulu yuk" ajakku kepadanya,
"mo maen kemana emang?"
Aku yang saat itu belum memikirkan tempat tujuan manapun sedikit kebingungan,
"ntar gampang deh, yang penting maen dulu ngerayain kita jadian" jawabku mencoba menjelaskan kalau saat itu aku hanya ingin sekedar bersamanya.
Dia menyetujuinya dan kembali ke kelasnya menyusul Dewi yang telah terlebih dahulu meninggalkanya. Akupun kembali ke kantin, yang langsung disambut pertanyaan oleh Mark dan Vian.
"tadi ngapain bos?" tanya Vian, yang langsung ditimpal pertanyaan "diterima bos?" oleh Mark.
Mark memang sudah mengetahui tentang perjanjian kami karena sejak awal aku mencari tahu tentang Villa, dia selalu ada dan aku sering bercerita kepadanya. Dengan sumringahnya aku bercerita kepada mereka berdua, dan membatalkan rencana kami sepulang sekolan nanti karena ingin menghabiskan waktu bersama Villa untuk pertama kalinya.
Hari itu memang tidak ada pelajaran apapun karena hari pengambilan raport, aku mulai menariki uang dari anak-anak lain selepas dari kantin. Selesai menariki uang setoran dari para siswa kami kembali kekantin, aku menyuruh Mark memanggilkan Villa yang saat itu berada dikelasnya untuk kuajak pulang karena saat itu HPku tertinggal dirumah.
Mark berjalan ke kelae 9E diikuti 2 orang dibelakangnya, hingga dia kembali lagi kekantin dengan mereka,
"katanya bentar bos, baru nemenin Avi nunggu dijemput cowoknya ntar dia kesini" kata mark kepadaku.
Aku menunggunya sambil menghitung hasil palakan kami di hari itu, hingga Villa datang setelahnya dan aku berpisah dengan teman-temanku untuk mengajak Villa pulang.
Kami berjalan berdua ke parkiran untuk mengambil motorku, agak canggung saat itu bahkan aku lebih banyak diam karena bingung harus membuka obrolan dengan apa. Maklum saja karena selama ini kami hanya sering berkomunikasi di chat, tanpa ngobrol secara langsung.
Siang itu aku mengajaknya sekedar berkeliling, hingga muncul ideku mengajaknya ke Lembah setelah kami berkeliling cukup jauh hingga ke waduk dekat kota. Sesampainya di Lembah aku menuju ke bagian tengah, siang itu lumayan ramai ada beberapa orang pacaran selain aku. Mereka masih berseragam, kebanyakan dari mereka berseragam SMA.
Kami mencari tempat yang sepi, rimbun dan tidak terlihat dari tempat lain, aku mematikan motorku dan turun.
"kita ngapain disini?" tanya Villa yang saat itu masih duduk dimotorku,
"gapapa ngobrol aja" jawabku menutupi niatku sebenarnya yang ingin 'melakukan' dengannya.
Belum genap 15 menit aku disana terlihat orang-orang yang pacaran disekitar situ berlarian membawa sepeda motor mereka. Aku yang saat itu belum sadar dengan apa yang terjadi sempat kaget saat melihat ada seorang polisi berdiri dipinggir jalan melihat kearah kami.
Kami yang panik berusaha menghidupkan motorku tapi entah apes atau memang takdirnya saat itu motorku tiba-tiba mati. Berkali-kali aku mencoba menghidupkanya tapi tidak menyala juga.
Polisi itu berdiri sendirian dipinggir jalan tanjakan Lembah Tengah, berseragam lengkap dengan motor Honda Astrea dinas yang terparkir disebelahnya.
Aku menyuruh Villa yang saat itu memegang hp untuk menghubungi Lucky karena sebelumnya aku sempat mengirimkan chat kepadanya lewat HP milik Lucky. Menerima pesan dariku Lucky yang saat itu di warung W bersama teman-temanku yang lain berkata akan bergegas menyusulku kesana. Mereka berada di warung W karena sebelumnya kami telah janjian untuk memodif motorku setelah aku pulang sekolah.
"yank kita dorong keluar dulu deh daripada kita disini diliatin terus" ucap Villa yang saat itu kutolak terlebih dahulu karena tidak ingin repot mendorong motor dan lebih ingin menunggu Lucky datang membantuku.
Akhirnya aku menyerah dan mendorong motorku keluar area itu menuju ke jalan, polisi yang sebelumnya masih berdiri disana melihat kami. Hingga saat kami sudah keluar mendorong mendekati jalan, polisi itu mendatangi kami.
"BERHENTI!" bentaknya kepada kami,
Aku yang panik dan ketakutan sempat agak berlari tanpa menghentikan langkahku, hingga dia berlari kearah kami dan menghadang jalanku. Kami hanya bisa pasrah, terdiam ketakutan.
"pada ngapain disini?!" dia bertanya lagi kepada kami.
"em, anu pak cuman ngobrol aja" jawabku dengan sedikit terbata-bata,
"pada bolos ya? masih pake seragam jam segini kok sampe sini!"
"engga pak, hari ini bebas kami cuman muter-muter aja tadi trus liat disini rame kami ikut brenti disini" jawabku,
Polisi itu masih tidak percaya dengan pengakuanku, dan menanyakan hal yang sama kepada Villa. Dia sempat menanyai kami kenapa kami hanya diam saat yang lain berlarian, dan tentang hubungan kami dengan anak-anak SMA yang berlarian sebelumnya.
Aku menjelaskan tentang motorku yang rusak, dan kami tidak mengenal siapa mereka satupun. Dia menanyai banyak hal kepada kami saat itu, tentang sekolah kami, alamat, dan banyak hal lain seperti introgasi pada umumnya. Kami diintrogasi dipinggir jalan itu yang otomatis menjadi tontonan orang yang melewati area itu.
Saat tengah diintrogasi aku melihat Lucky datang bersama Catur yang saat itu mereka hanya melewati kami saja tanpa berhenti walaupun aku sempat meneriaki mereka berharap bisa menolongku.
"anjing! pada gamau bantuin gue" ucapku kesal dalam hati kala itu melihat temanku tidak menolongku yang benar-benar ketakutan dan kebingungan.
Beberapa kali aku memohon untuk dilepaskan agar bisa pulang kerumah, tapi dia tidak mengijinkan kami dan menelpon kantornya. Terdengar suara sirine dan terlihat sebuah mobil kepolisian datang, mobil Kijang terbuka dengan kursi menghadap kanan kiri dibelakangnya.
Mobil itu berhenti didekat kami, dua orang polisi lain turun dan kami dipaksa naik ke mobil itu untuk dibawa ke kantor polisi terdekat.
Villa duduk didepan bersama 2 orang polisi itu, aku duduk dikursi terbuka yang ada dibelakang dan motorku diikat dibelakang mobil itu karena rusak dan tidak bisa menyala setelah beberapa kali polisi itu mencoba menyalakanya.
Perjalanan ke kantor polisi itu melewati Lembah bagian atas dan lurus kebarat, sepanjang perjalanan aku menjadi bahan tontonan. Maklum saja karena sirine mobil itu tidak dimatikan, aku duduk sendirian dibelakang dan ada motor yang diikat dibelakangnya juga. Sepanjang perjalanan aku hanya diam karena takut dan bingung harus berkata apa kepada ibuku nanti.
Mobil itu berjalan cukup pelan, yang membuatku semakin malu karena orang-orang lebih jelas melihatku. 15menit berlalu mobil itu menepi ke sebelah kanan jalan, ada sebuah kantor polisi disana. Berada dijalan utama provinsi dan didekat pasar serta terminal.
Kami disuruhnya turun dan masuk ke salah satu ruangan, disana kami kembali diintrogasi dan disuruh memberitahukan kepada orangtua kami untuk menyusul kami kesana.
Aku yang saat itu takut, beralasan ibuku belum pulang dan tidak bisa untuk kesana. Villa pun juga melakukan hal serupa karena takut akan menjadi bahan amarah orangtuanya, ayah Villa bekerja di luar pulau ini sedangkan ibu villa berada di rumah yang jauh dari sekolah kami.
Saat itu aku memiliki ide untuk meminta tolong kepada Catur untuk menyusul kami ke kantor polisi itu dan mengaku sebagai kakakku.
Awalnya dia menolaknya karena takut berurusan dengan polisi tapi setelah aku memohon-mohon dan karena kasihan akhirnya dia mengiyakan permintaanku. Aku menunggunya cukup lama karena jarak rumah kami dan kantor polisi itu memang lumayan jauh.
Hingga akhirnya Catur datang bersama Adit, aku sempat kaget karena Adit memang bukan teman dekat kami.
Adit memang sekampung dengan kami seperti yang pernah kuceritakan dulu, aku mulai mengenalnya agak dekat saat kami mengikuti latihan tenaga dalam ditempat yang sama dulu. Dia masih keturunan bangsawan, putra dari salah seorang putri raja dari seorang selir.
Didepan polisi yang saat itu berjaga, Catur mengaku sebagai kakakku dan Adit mengaku sebagai kakak Villa. Mungkin kebohongan kami waktu itu diketahui oleh para polisi yang berjaga, maklum saja saat itu kami masih dibawah umur semua. Walaupun sebelumnya mereka sudah kerumahku untuk mengambil kartu keluargaku yang saat itu dirumah hanya ada adekku yang masih berada dibangku sekolah dasar.
Aku dan Villa tidak diperbolehkan pulang dan tetap harus menunggu orangtua kami datang kesana. Sebenarnya disana kami juga tidak diperlakukan dengan buruk, bahkan kami dibelikan makan dan minum hanya sekedar duduk diruang tunggu saja.
Catur dan Adi menemani kami disana hingga sore hari, mungkin karena kasihan akhirnya kami diperbolehkan pulang. Hanya motorku yang disita disana dan harus diambil bersama dengan orangtua besoknya.
Kami keluar dari kantor polisi itu dan duduk disebuah emperan toko, Adit mengantar Villa pulang terlebih dahulu. Aku dan Catur menunggunya disana dan mengobrol,
"lu tadi gimana critanya kok bisa ketangkep?" tanya Catur kepadaku.
Sebelumnya saat aku meminta tolong kepada Lucky memang tidak menyebutkan alasanku, Lucky yang datang ingin menolongku saat diLembah membawa senjata tajam karena dikiranya aku dikeroyok atau berkelahi seperti biasanya. Itu sedikit menjelaskan kenapa Lucky tidak berhenti saat kupanggil selain mungkin karena dia takut berurusan dengan polisi juga.
Aku menceritakan kejadian tadi secara detail kepadanya, saat itu kami hanya tertawa walaupun didalam hati sebenarnya aku tidak tenang karena takut akan dimarahi ibuku jika tau aku tertangkap polisi. Aku sempat meminta tolong Catur untuk menemaniku berbicara kepada ibuku saat itu tapi dia menolaknya karena takut juga.
Catur menyuruhku tenang dan menceritakan sejujurnya kepada ibuku agar masalah ini cepat selesai. Tapi aku yang saat itu memang sangat takut kepada ibuku masih berpikir berulang kali untuk menceritakanya nanti.
Terlihat dari kejauhan Adit datang menjemput, dan kami bertiga bergegas berboncengan pulang dengan motornya.
Sesampainya dirumah ternyata kesialanku hari itu tak berhenti disitu saja...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
bayoe gendoet
pernah ngalamin juga
2022-10-28
3