INTERAKSI DUNIA LAIN

Saat aku masih terdiam ketakutan, tiba-tiba terdengar suara dari salah seorang siswa dikelasku menjawab pertanyaan dari kedua guruku tersebut.

"i..iya pak" sahut temanku yang aku tidak tahu siapa karena aku berdiri disamping kelas tanpa jendela.

"kaos apa mas?" tanya pak Hendy kepadanya,

"kaos club pak, lagi bikin club futsal itu buat bikin kaosnya pak" sahut seorang temanku yang lain, tapi dari suaranya jelas itu seorang cewek.

"yaudah kalau gitu, makasih bu waktunya" ucap pak Hendy sembari berjalan keluar kearahku.

"ini bukunya, ndak usah macem-macem lagi atau saya keluarin kamu dari sekolah!" ancamnya kepadaku.

Aku memang selalu menjadi incaran para guru saat itu, apalagi di tahun sebelumnya aku tinggal kelas karena hal-hal nakal yang kulakukan saat itu. Walaupun nilai akademisku bagus tapi mata pelajaran Ppkn ku saat itu 2,30 dari 10,0 yang membuatku tidak naik kelas. Aku memang cukup pandai, tapi kenakalanku yang membuatku mendapat nilai itu.

Aku mengeroyok satpam baru di sekolahku dengan beberapa temanku yang lain, ditambah sebelumnya aku sering cabut juga saat pelajaran.

"untung gak ketahuan" ucapku dalam hati sambil berjalan masuk ke kelas kembali.

"itu tadi siapa yang bilang buku kaos?" tanyaku kepada Aji yang duduk disebelahku saat itu,

"Dewi bos" kata aji yang sempat membuatku kaget,

Hal itu membuatku kaget karena Dewi bisa dibilang cewek yang selalu berdebat dan memprotes semua tindakanku dikelas.

Dewi seorang cewek berparas manis tapi judes, memiliki tinggi badan se-telingaku, berbadan berisi tapi bukan gemuk dengan rambut hitam panjang.

Saat jam istirahat pertama di hari itu, aku berjalan keluar menyempatkan diri mendatangi Dewi dikursinya. Mencoba berterimakasih kepadanya karena telah membantu menyelamatkanku saat itu, tapi tanpa berkata apapun dia hanya memalingkan wajahnya padaku seakan tidak peduli.

Syahrul mengajakku cabut dari sekolah, tapi aku menolaknya karena belum beres menarik uang setoran dari siswa-siswa lain. Akhirnya kala itu Syahrul cabut ditemani Ivan dan Nugi terlebih dahulu, aku menyusul mereka di jam istirahat kedua dengan yang lain. Aku menarik uang masuk ke kelas satu per satu berjalan dari didepan kelas menuju ke deretan kelas 7.

Setiap aku berjalan saat istirahat selalu menjadi sorotan siswa lain karena seperti gangster menurut mereka, selalu aku berjalan didepan diikuti teman-teman sefraksiku dan siswa lain yang menjadi bawahan kami. 5 hingga 20 orang selalu mengikuti aku saat berjalan keluar kelas setiap harinya. Jumlah itu di hari biasa, saat aku mencari orang karena membuat masalah dengan fraksi kami, otomatis akan lebih banyak lagi yang mengikuti berjalan dibelakangku.

Disekolah saat itu bukan hanya ada fraksiku saja, ada fraksi lain yang punya kelas/daerah teritori dan siswa yang membayar upeti tersendiri. Hal itu terjadi bukan dibagi berdasarkan kesepakatan tapi berdasar banyaknya pengikut di kelas tersebut.

Contohnya kelas 7c yang memiliki 4 orang pentolan, 3 dari mereka ikut fraksiku dan yang 1 ikut fraksi lain. Otomatis kelas itu menjadi daerah teritori fraksiku walapun salah 1 pentolan yang tidak ikut gabung itu memang bebas dari iuran wajib fraksi kami karena bila dipaksa membayar iuran akan menjadi perang antar fraksi lagi seperti sebelumnya.

Pojok barat sekolah dekat kelas 7A dan kantin selatan jadi daerah teritori kami, disitu bisa dibilang basecamp kami. Tempat merokok bahkan mabuk, aku memang tidak merokok hingga kelas 10 SMK tapi kalau obat penenang dan alkohol bisa dibilang aku nomor 1 diantara fraksiku yang lain.

Berkali-kali aku ke sekolah membawa alkohol walaupun diminum sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan guru. Kantin utara menjadi basecamp fraksi pimpinan Dedi siswa kelas 9. Parkiran sepeda sebelah barat menjadi basecamp fraksi pimpinan Lana, mantan siswa sekolah itu yang sudah dikeluarkan karena bermasalah tapi masih punya banyak pengikut disekolah.

Sebenarnya Lana dan Dedi dulunya 1 fraksi saat masih seangkatan denganku di kelas 8 tapi entah apa masalahnya tiba-tiba mereka pisah lalu Lana dikeluarkan dari sekolah karena tidak naik kelas sama denganku. Sejak dulu memang aku berseberangan dengan mereka karena organisasi diluar sekolah ini yang kami ikuti juga berseberangan dan saling bermusuhan.

Saat berjalan menuju ke kelas 7A yang berada di pojok utara dekat dengan Masjid dan kantin utara tiba-tiba Louis berbisik kepadaku,

"boss.. itu yang jalan" sambil menunjuk arah depanku,

Reflek aku melihat kedepan dan ternyata ada Nina, gadis idamanku.

Teman-temanku memang sudah tahu aku menyukainya, hanya aku memang belum pernah pacaran sebelumnya dan tidak percaya diri dengan apa yang ada didiriku ini. Dia berjalan melewatiku tanpa menatapku, entah karena sibuk ngobrol dengan temannya atau aku yang tidak menarik untuknya.

"kok diem aja bos? wkwk kejar dong" kata Aji seraya meledekku, diikuti teman-temanku yang lain.

"udah gausah pada crewettt!" kata ku sambil masuk ke kelas 7A melanjutkan kegiatan menarik uang setoran dari siswa lain.

Singkat cerita bel istirahat jam kedua sudah berbunyi, aku berlari keluar bersama teman-temanku menuju tembok selatan sekolah didekat basecampku.

"Bruk..." suara keras terdengar saat Aji meloncat keluar tembok,

Tembok itu tidak terlalu tinggi dari dalam sekolah karena ada semacam kolam besar yang jadi tempat sampah untuk pijakan kami menaiki tembok, tapi dari sisi bagian luar lumayan tinggi kurang lebih 3 meter.

"ayo cepet lari!" teriak Mark kepadaku dan Zhaki yang masih didalam sedangkan dia sudah meloncat keluar menyusul Aji dan Andi yang sudah terlebih dahulu berlari kearah barat.

"kreeeekkkk..." terdengar suara saat Zhaki melompat dari tembok itu, ternyata celana Zhaki sobek lumayan besar tepat di tengah-tengah selakangan saking paniknya karena takut ada guru dan warga sekitar yang mengetahui aksi lompat tembok yang kami lakukan. Melihat celana sobek hingga lebih dari sejengkal sebagai teman yang baik aku dan yang lainya tertawa terbahak-bahak.

Hari itu kami bersembilan cabut dari sekolah seperti biasanya, Iza sudah tidak berani ikut cabut apalagi bolos karena orangtuanya selalu mengecek keberadaanya lewat salah satu guru yang masih berkerabat dengannya setelah dia sudah 2x tidak naik kelas. Sedangkan Vian memang tidak pernah cabut, dia memang yang paling disiplin diantara kami.

Sesampainya di rental playstation langganan kami, uang hasil malak hari itu kukeluarkan dan kuhitung dibantu Syahrul dan Nugi. Hari itu aku mendapatkan uang 83.000, nominal yang besar untukku mengingat uang saku setiap hariku hanya 2.000 rupiah. Teman-temanku tidak meminta hasil uang tersebut karena kami memiliki jatah hari masing-masing untuk kelas 8 walaupun teman-temanku hanya meminta uang dari 1 2 orang berbeda denganku yang meminta uang wajib dari setiap kelas. Kalau dipikir kasihan juga siswa yang selalu dimintai uang karena hampir setiap hari mereka harus menyetor uang ke orang yang berbeda, tapi sudah seperti adat hal itu memang seperti wajib terjadi. Waktu sudah menunjukkan 16.00 kami berpisah untuk pulang, seperti biasa aku berjalan pulang bersama Syahrul karena searah pulang. Tanpa disengaja saat itu aku melihat Nina boncengan dengan cowok lain berseragam SMA, aku hanya terdiam menunduk. Sakit hati memang tapi aku sadar aku bukan siapa-siapa untuknya dan tidak akan mampu menyaingi cowok itu. Untung saja Syahrul tidak melihatnya, aku agak sedikit lega karena tidak mau harga diriku turun didepan temanku sendiri.

Sesampainya dirumah, hanya ada adikku yang masih SD karena ibuku setelah mengajar masih harus bekerja tambahan sebagai guru les privat untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami karena beliau single parents. Masih terngiang dipikiranku saat itu tentang Nina, rasa sakit dan bingungku mengungkapkan perasaan karena aku memang belum pernah pacaran sebelumnya tapi baru kali itu menyukai lawan jenis sampai sebegitunya.

"Tiingg.." terdengar suara hpku berbunyi, nokia 1100 dengan nada khasnya.

Ternyata pesan dari Catur, teman sekampungku yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri karena dia berusia 3 tahun diatasku. Catur memiliki badan kurus, putih dengan wajah mirip ariel yang saat itu masih di band peterpan.

Dia mengajakku nongkrong disebuah warung diperempatan barat rumahku bersama teman-temanku yang lain. Aku keluar menemuinya, ternyata ada Rangga, Adam, Zuli, Lucky, Putra dan Anji.

Rangga memiliki badan yang paling pendek diantara kami, dengan badan yang lumayan kurus juga dan mempunyai tahi lalat di samping bibir sebelah kiri. Dia 2 tahun lebih tua dariku sama seperti Zuli, hanya saja Zuli lebih tinggi bahkan lebih tinggi dariku saat itu dan memiliki gigi yang sedikit maju.

Lucky temanku dari balita umur kami hanya berbeda 1 tahun, memiliki badan gemuk dan rambut yang keriting serta kulit sawo matang.

Putra bertubuh kurus, berkulit putih dengan hidung yang agak besar. Anji berperawakan mirip Zuli hanya lebih pendek dan cadel dengan rambut agak panjang ala-ala vokalis kangen band. Sedangkan Adam yang paling tua diantara kami, dia kelahiran tahun 1990, berbadan kurus sawo matang dan berambut sedikit curly.

Rumah kami berdekatan dan memang sudah berteman sejak kami masih kecil. Walaupun Putra dan Anji bukan berasal dari kampung ini tapi mereka teman dari Catur yang betah main disini dan dekat dengan kami juga, jadi hampir setiap hari mereka main dikampung ini.

"lo kenapa ngelamun diem aja?" tanya Catur kepadaku saat itu,

"eh ndakpapa mas" sahutku kaget menutupi perasaanku yang sebenarnya.

"udah jujur aja, kita kenal bukan baru sehari ini" ucapnya ditambah teman-temanku yang lain.

Dia memang sudah seperti kakak kandung untukku, apalagi di circle ini aku yang paling kecil karena masih SMP sedangkan yang lainya sudah di bangku SMA. Mungkin aneh untuk mereka, aku yang paling ceria dan aktif tiba-tiba diam.

Akhirnya aku ceritakan semua tentang Nina, berharap mendapat saran dari mereka karena mereka yang lebih dewasa daripada aku. Banyak saran yang aku terima, dari sekedar melupakan hingga memperjuangkan dengan cara yang menurutku tidak logis yang diucapkan Rangga, dia menyuruhku meminta tolong kepada Jagad, karena dia belajar spiritual dan bahkan bisa melihat dan berkomunikasi dengan mahkluk astral juga.

Aku terdiam sejenak memikirkan kata-katanya, dan akhirnya aku tertarik dengan hal itu. Singkat cerita aku langsung menemui Jagad sore itu juga, seorang teman sekampung tapi diluar circleku.

Dia memang dikenal bisa melihat mahkluk astral, bahkan sewaktu dia masih di bangku sekolah dasar dia pernah lari saat pelajaran dan pulang kerumahnya karena melihat sosok astral dikelasnya dan tidak mau bersekolah lagi hingga saat ini.

Berbadan kurus, 5 tahun lebih tua dariku, memiliki wajah yang ( maaf) kurang normal dan selalu menggunakan cincin akik besar berwarna hitam di jari tengah tangan kanannya dan gelang seperti akar yang melingkar di tangan kirinya.

"permisi.." ucapku sambil mengetuk pintu rumahnya,

"eh, ada apa bro? tumben banget lo kesini" sahut Jagad sambil berjalan keluar menemuiku,

"gue mau ngobrol, tapi diluaran aja jangan disini gaenak" sahutku,

"masalah apa bro?, disamping aja" katanya saat itu sembari menunjuk kursi kayu dibawah pohon belimbing disamping rumahnya.

Sambil duduk berdua aku ceritakan semua tentang Nina berharap dia bisa membantu seperti kata teman-temanku walaupun aku tidak yakin juga.

Walaupun sebenarnya di tahun sebelumnya aku pernah ikut latihan dasar tenaga dalam bersamanya tapi saat itu memang aku tidak terlalu percaya dan keluar sebelum ' graduate'. Dia memberiku opsi untuk tidak mengejar Nina seorang tapi akan ' dimudahkan' dalam hal lawan jenis. Jagad mengajakku ke sebuah makam didekat rumahku hari kamis besoknya, dan menyuruhku untuk berpuasa terlebih dahulu sebelumnya.

Aku bingung dan takut, berulang kali aku bertanya kepadanya saat itu tentang apa dan bagaimana yang harus aku lakukan.

"udah jangan banyak tanya dulu, ikut dulu aja kalau emang pengen dibantuin!" jawabnya dengan nada sedikit menekan.

Dikampung ini memang ada sebuah pemakaman khusus yang diperuntukkan untuk para bangsawan.

Aku terdiam memikirkan karena aku sebenarnya cukup skeptis tentang hal semacam itu, apalagi diagamaku tidak dipercaya adanya hal seperti itu.

Tapi setelah dipikir ulang kenapa nggak dicoba dulu? daripada tanpa usaha apapun juga? akhirnya aku menyetujuinya. Kami berjanji temu 3 hari lagi di hari kamis dirumahnya selepas isya.

Sepulangnya dari rumah Jagad aku masih ragu dengan semua yang dikatakanya, tapi 'yaudalah coba dulu' kataku didalam hati.

Waktu sudah menunjukkan 18.45 di hari kamis itu, aku bersiap untuk bergegas menuju rumah Jagad yang tidak terlalu jauh dari rumahku.

"malem-malem mau kemana?" tanya ibuku kepadaku, maklum karena hari ini bukan weekend jadi tidak boleh keluar malam hari.

"mau ada acara pemuda kampung mah", aku terpaksa berbohong agar mendapatkan ijin keluar hari itu,

Pendidikan untuk ibuku memang sangat di nomor satukan, pernah saat tidak naik kelas tahun sebelumnya aku berniat berhenti sekolah karena dimarahin habis-habisan, tapi langsung ditolak dan dimarahin lebih lagi karena punya pemikiran untuk berhenti sekolah. Sesampainya dirumah Jagad ternyata aku tidak sendirian, ada 3 orang teman dan tetanggaku yang sudah duduk santai dikursi yakni mas Wan, Dika dan Adit.

Sempat kaget dan bingung juga, karena sebelumnya aku pesan kepada Jagad untuk tidak memberitahu siapapun masalah ini. Aku bertanya kepada mereka tentang apa yang akan kami lakukan saat itu,

"si Jagad cuman ngajakin ke makam belum tau mau ngapain juga" jawab mas Wan, seorang tetanggaku yang berusia 6 atau 7 tahun diatasku.

Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah Jagad,

"udah pada kumpul, yuk berangkat" ucap Jagad sambil tersenyum dengan pandangan sedikit tajam kepadaku.

Kami berlima berjalan menuju ke area makam, tidak terlalu jauh hanya berjarak 2 gang dari timur arah rumah Jagad.

Area pemakaman itu cukup luas dengan tembok mengelilinginya, dan pintu gerbang besi besar di depan dan samping kanan area pemakaman tersebut. Melihat besarnya pohon-pohon dan ratusan makam yang berjejer membuatku merinding ketakutan..

Terpopuler

Comments

overheat

overheat

mirip crowszero

2022-10-15

3

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!