ORANG KETIGA

Dia tidak percaya dan melanjutkan berjalan, aku yang tak ingin kehilangan momen itupun berlari menyusulnya. Hingga akhirnya aku berjalan disebelahnya, saat itu dia sempat menolak karena tidak ingin ada salah paham apapun dengan teman-temannya dan para siswa lain bila melihat kami berjalan berdua.

Tapi hal itu tidak aku perdulikan sama sekali dan tetap berada disebelahnya. Aku mengajaknya mengobrol rancu sembari berjalan, dengan sedikit menyelipkan candaan yang membuatnya tersenyum manis.

Sesampainya disekolah dia dipanggil oleh Avi temannya, yang baru datang juga. Dia menghapiri kami yang saat itu sampai didekat ruang tata usaha,

"Vil temenin gue yuk ke ruang guru mau ngumpulin tugas kemaren" katanya kepada Villa tanpa memperdulikan aku yang sedang berada disana juga saat itu.

"yauda yuk, gue mau ngumpulin tugasnya juga" jawab Villa kepadanya,

"mas gue keruang guru dulu ya" ucapnya kepadaku yang terpaksa aku iyakan saat itu.

Vila menemaninya keruang guru untuk mengumpulkan tugas dan meninggalkanku yang membuatku terpaksa berjalan sendirian.

Agak asing keadaan saat itu untukku, karena selama beberapa tahun terakhir aku sangat jarang berjalan sendirian saat akan memasuki kelas tapi kali ini berjalan sendiri dan melewati pintu utama sekolah karena biasanya aku lewat pintu samping dan belakang sekolah.

Pintu utama sekolah ini menghadap ke arah timur dengan gerbang besi panjang dan gapuranya. Setelah melewati gerbang ada lapangan kecil disebelah kanan berjejer dengan parkiran mobil guru dan lapangan besar yang biasa digunakan untuk upacara dan kegiatan besar lain disebelah kirinya.

Tepat didepan mengarah ke gerbang adalah ruang guru, untuk masuk ke area dalam sekolah harus melewati pintu besi kecil di sebelah utara ruang guru tepat ditengah antara ruang guru dan ruang tata usaha. Setelah melewati ruang tata usaha disebelah kanan, ada aula dan perpustakaan dengan taman dan beberapa pohon rimbun sejajar dengan ruang tata usaha menghadap ke ruang guru yang memanjang disebelah selatannya.

Setelah ruang guru dan perpustakaan ada lab disebelah kiri dan mushola disebelah kanannya sebelum kantin dan parkiran motor guru. Masih banyak pohon dan taman disekolah itu hingga saat ini yang membuatnya asri sekaligus mencekam saat sore apalagi malam hari.

Beberapa siswa memang sering kesurupan mahkluk penunggu sekolah ini, para penghuni astral disekolah itu masih eksis bahkan hingga saat ini. Bahkan sempat ada kejadian kesurupan massal juga yang baru terjadi beberapa tahun ini disana.

Aku berjalan menyusuri sekolah itu sendirian, agak canggung dan salah tingkah karena banyak siswa yang melihatiku saat itu. Wajar, karena memang aku mempunyai pengaruh besar untuk para siswa disekolah ini. Banyak yang takut kepadaku saat itu, tapi sekedar takut bukan menghormatiku dan menganggapku teman. Bisa dibilang saat SMP aku tidak benar-benar memiliki teman, hanya beberapa saja yang benar-benar menganggapku teman selebihnya hanya takut, segan dan sekedar simbiosis mutualisme saja.

Hal itu terlihat setelah aku lulus SMP, aku sama sekali tidak memiliki teman. Hanya Benny saja yang tetap menganggapku teman hingga sekarang.

Agak risih saat itu kurasakan, banyak yang melihatiku berjalan sendirian walaupun saat kutatap balik mereka hanya tertunduk tapi tetap hal itu membuatku tak nyaman. Sesampainya di basecamp kala itu aku berkumpul dan membuat contekan dengan teman-temanku yang lain hingga bel masuk berbunyi menandakan kami harus segera masuk ke kelas.

Ujian hari itu berjalan dengan lancar hingga bel istirahat berbunyi dan kami seperti biasa menarik setoran dari tiap kelas. Sempat Nadia berpapasan dengan kami saat dia akan keluar kelasnya tapi dia hanya mengacuhkanku seperti orang tak kenal, hal itu yang membuat teman-temanku bertanya tentang hubungan kami dan akupun menceritakan hal yang sebenarnya kalau dia sudah kuputuskan sehari sebelumnya kepada mereka.

Ada seorang dari fraksi kami yang bercerita saat itu kalau beberapa hari yang lalu melihat Nadia juga berboncengan mesra dengan seorang siswa dari kelasnya.

"lo diselingkuhin Nadia bos?" tanya Iza yang saat itu berjalan disebelahku,

"engga, gue malah gatau kalo dia pernah keluar bareng sama orang itu" kataku kepadanya karena benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi.

"kalo emang diselingkuhin kita hajar aja orangnya! berani bener tu anak cari masalah" sahut Mark yang memang dia paling tempramen diantara kami

"lah kagak, gue kagak tau juga toh udah gue putusin juga dia kemaren kan" jawabku, karena aku memang sudah tidak perduli lagi dengan Nadia.

"tapi harga diri bos!" sahut Mark kembali,

"udah biarin aja, gausah diurusin gue juga udah gapeduli beneran" sahutku kepadanya sembari melanjutkan berjalan yang saat itu sempat terhenti karena obrolan kami.

Aku menyempatkan kekantin sebentar dan menyuruh fraksiku yang mengikutiku untuk ke basecamp terlebih dahulu karena aku belum sarapan sejak pagi tadi. Hanya Syahrul dan 2 orang lainya yang ikut denganku kekantin sebelah selatan saat itu.

Terdengar suara pesan dari ponselku, pesan itu dari Dita yang menanyakan dimana keberadaanku saat itu.

Aku berkata kepadanya untuk menyusulku kekantin, hingga dia datang kekantin itu sendiri dan memberikan secarik kertas kepadaku.

"itu nomernya Villa yan, tadi tiba-tiba dikasihin ke gue" kata Dita dengan ekspresi sedikit bingung karena sebelumnya dia pernah meminta untukku tapi ditolak oleh Villa.

"iya tadi gue masuk bareng dia, sempet ngobrol kenalan bentar juga tadi" kataku kepadanya.

"yaudah nih, buruan dichat jangan lupa PJ nya ntar kalo udah jadian ya" ucap Dita yang berjalan meninggalkanku setelahnya.

Selesai makan di kantin aku, Syahrul dan 2 orang yang mengikuti kami menuju ke basecamp. Sesampainya disana hanya ada Andi dan Vian dengan beberapa puluh orang lain tanpa adanya Iza dan Mark disana. Sebenarnya aku sudah menaruh curiga kala itu tapi aku hanya diam dan bercanda ngobrol dengan mereka semua.

Hingga tiba-tiba datang Mark dan Iza diikuti beberapa orang anggota fraksi kami dibelakang mereka.

"nih bos anaknya!" ucap Mark dengan nada tinggi sembari mendorong seorang anak yang dibawanya.

Anak itu sudah dihajar mereka, terlihat dari bibirnya yang sedikit berdarah dan kondisinya yang sudah acak-acakan.

"lah ngapain dibawa kesini?!" tanyaku bingung,

Mark dan Iza menjelaskan kalau mereka telah mengintrogasi anak itu dan anak itu mengakui kalau dia memang ada hubungan dengan Nadia saat masih bersamaku.

Mendengar hal itu aku merasa sakit hati, walaupun tidak perduli tapi benar kata Mark tadi. Ini tentang harga diriku dan harga diri fraksi kami, bukan sekedar tentang perasaanku sendiri saja.

Berulang kali anak itu memohon-mohon dan meminta maaf saat kami pukuli bergantian. Kami tidak memperdulikanya sedikitpun, hingga tiba-tiba ada teriakan dari salah seorang anggota fraksiku.

"ada pak hendy!...." teriaknya yang langsung diikuti berlarianya semua orang yang ada disitu saat itu. Meninggalkan anak yang kami bully tadi sendirian disana, aku berlari bersembunyi dikamar mandi timur basecamp dekat kantin selatan dengan beberapa orang lain.

Sembari mengintip apa yang terjadi diluar dari sebuah lubang disamping luar kamar mandi.

Anak yang kami bully itu dibawa pak Hendy, 'pasti keruang konseling nih' ucapku dalam hati. Setelah pak Hendy pergi membawa anak itu kami semua keluar dan menuju kekantin untuk bersembunyi dan membuat alibi bila nanti kami dicari oleh para guru.

Hingga bel berbunyi dan kami saling masuk kelas masing-masing untuk melanjutkan ujian yang masih berlangsung. Saat aku mengerjakan ujian dikelas, ada guru konseling yang masuk ke kelas untuk mencari kami,

"Ryan, Mark, Iza, Zhaki, Vian beres mengerjakan ujian kedua ini nanti keruang BK dulu jangan langsung pulang!" ucapnya,

Kami hanya melihat satu sama lain dan paham kalau anak yang kami bully tadi lah yang menyebutkan nama kami saat itu. Teman-teman sekelasku yang lain hanya terdiam dan melihat kami. Selesai mengerjakan ujian kala itu kami berjalan menuju ruang konseling dengan penuh emosi.

Aku ingat betul saat itu lobby kelas 9 sangat ramai karena semua siswa bersamaan keluar dari kelas untuk pulang.

"MINGGIRR!!!..." teriak Mark penuh emosi hingga dilihat oleh wali kelas kami yang saat itu masih berada dikelas kami.

Beliau hanya menatapnya dan melanjutkan mengecek kelengkapan jawaban ujian kami, beliau seakan sudah paham emosi anak seumuran itu memang masih sangat labil.

Mendengar teriakan dari Mark dan melihat kami berjalan dengan wajah yang penuh amarah, para siswa yang ada di lobby itu menyingkir dan sebagian berlarian ke taman. Kami berjalan melewati kelas-kelas dan menatap tajam setiap anak yang melihat kami. Syahrul dan Nugi yang kala itu berada didepan kelas mereka bertanya kepada kami saat kami berjalan didepan mereka,

"ada masalah apa bos?" tanya Nugi kepadaku,

"iya ada masalah gede ya?" tamhah Syahrul,

"kayaknya gara-gara ngehajar anak tadi, ini kami dipanggil ke BK, kalian engga ya?" jawabku,

"engga bos, yaudah ke ruang konseling dulu aja gue tungguin diluar ntar" jawab Syahrul,

Saat itu Nugi memang sudah vakum dari kegiatan fraksi kami, dia memang tidak ikut membully anak itu. Walaupun vakum dari fraksi tapi dia masih tetap teman kami, dan hubungan kami masih baik-baik saja. Dia juga masih peduli dengan kami, sering bertanya mengenai keadaan fraksi dan masalah lain yang kami hadapi.

Sesampainya di ruang konseling, terlihat anak itu yang duduk menunduk ketakutan melihat kedatangan kami.

Ruang konseling terbagi menjadi 3 ruangan, ruangan awal saat masuk berisi 2 meja dengan 2 kursi guru dan 4 kursi untuk siswa menghadap kebarat dan timur. Ruangan ini yang terbesar dari ruangan lain karena tidak disekat.

Ruangan kedua berisi 1 meja dan sepasang kursi serta satu set sofa seperempat lingkaran. Ruangan ini biasanya dipakai untuk menyidang permasalahan yang berat karena langsung oleh wakil kepala sekolah. Ruang ketiga berada di barat ruang kedua, ruangan ini milik wakil kepala sekolah.

Saat itu kami disuruh masuk ke ruang kedua, kami berempat berjejer duduk di sofa. Nadia dan anak itu berada di ruang pertama, berbeda dengan kami. Bu Ami memasuki ruangan dan menanyai kami 1 per 1 tentang kejadian istirahat tadi.

"kenapa anak itu kalian kroyok tadi?!" katanya dengan nada sedikit membentak kepada kami.

Mendengar pertanyaan itu kami hanya terdiam tanpa ada salah satupun dari kami yang menjawabnya.

"kenapa pada diem?! Ryan kamu yang nyuruh?!" bu Ami kembali bertanya dan menuduhku menjadi otak atas semua kejadian tadi.

Mendengar aku terpojokkan oleh pertanyaan bu Ami, Iza akhirnya menceritakan semua kejadiannya dengan rinci. Setelahnya kamipun akhirnya ikut bercerita juga,

"Mbak sama kamu mas masuk sini!" ucap bu Ami kepada Nadia dan anak itu, hingga mereka masuk kedalam ruangan yang sama dengan kami.

"bener masalahnya karena cinta kalian bertiga?!" tanya bu Ami kepada mereka berdua.

Mereka pun menjawabnya dengan hal yang sama seperti kami ucapkan. Walaupun anak itu terbata-bata saat berbicara karena takut kepada kami terutama kepadaku yang saat itu duduk disofa belakangnya.

Setelah mengklarifikasi semuanya dan memaksa kami untuk saling bersaliman satu sama lain, akhirnya permasalahan itu selesai dengan memberikan kami berempat poin dan hukuman tanpa harus memanggil orangtua masing-masing dari kami.

Iza dan Mark mendapat poin hukuman lebih tinggi dari aku dan yang lainya karena mereka berdua otak dari kejadian ini.

Walaupun sempat aku merasa tak enak hati dengan mereka karena perbuatan mereka didasarkan rasa solidaritas kepadaku, tapi aku hanya bisa menerima keadaan saat itu tanpa bisa berbuat apapun.

Kami sempat dimarahi oleh bu Ami dan guru konseling lain agar tidak pacaran terlebih dahulu mengingat kala itu kami masih SMP. Menyuruh kami untuk fokus dalam pendidikan daripada membuang waktu untuk hal seperti itu. Hal itu tidak kami perdulikan sama sekali, sekedar kami 'iyain' agar segera keluar dari ruang konseling saat itu.

Setelah selesai dengan permasalahan itu, kami beranjak pergi ke gubug tongkrongan kami dekat sekolah seperti biasanya sebelum benar-benar pulang kerumah. Saat ujian tengah semester seperti itu memang pulang kami lebih awal jadi waktu untuk nongkrong sebelum pulang lebih lama dari hari sekolah formal seperti biasanya.

Disana kami mabuk-mabukan seperti biasanya, sembari menjadikan permasalahan diruang konseling tadi sebagai bahan candaan semata.

Kala itu didalam keadaan antara sadar dan tidak, aku mencoba menghubungi Villa setelah mendapatkan nomor handphonenya dari Dita sebelumnya. Walaupun agak slow respon tapi dia membalas chatku dengan baik dan welcome. Saat itu juga aku baru mengetahui kalau dia adik dari Luna, teman sekelasku sebelum aku tinggal kelas dulu.

Dia baru putus dengan mantan pacarnya juga saat itu, mantan pacarnya anak SMA lebih tua dari kami yang saat itu masih di bangku SMP.

Sepulangnya dari acara di gubug itu, aku menemui Putra dan Rangga yang sudah menungguku di warung W untuk nongkrong seperti hari-hari biasanya. Aku menceritakan tentang hari ini kepada mereka seperti adik kecil kepada kakak-kakaknya, karena memang aku yang terkecil dari mereka semua yang membuat mereka seperti kakak untukku. Mereka memang sering bersikap memanjakanku, terutama Catur yang paling dekat denganku hingga saat ini.

Malam harinya dengan iseng kucoba menembak Villa, berharap rasa penasaranku selama ini terobati dengan diterima menjadi pacarnya walaupun kami baru saling mengenal.

Lewat pesan chat yang aku kirimkan kepadanya kuungkapkan keinginanku saat itu untuk menjalin hubungan dengannya, tapi saat itu...

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!