Sepulang dari acara itu dengan masih berseragam SMP aku ikut nongkrong bersama teman-temanku yang saat itu mereka sudah di warung W, saat itu hanya aku yang berseragam putih biru, sedangkan temanku lainya sudah berseragam putih abu-abu. Aku memang sengaja nongkrong disore itu agar bertemu dengan Anin, walau hanya berpapasan saja sudah membuatku senang.
Teman-temanku catcalling seperti biasanya saat mereka lewat didepan kami, tapi saat itu Anin melihat dan tersenyum menyapaku yang membuat teman-temanku bertanya-tanya kepadaku karena memang sebelumnya aku tidak menceritakan kalau saat itu aku sedang mendekatinya.
Hanya catur yang tau karena sering membantuku dalam membalas chatnya. Mengetahui hal itu sontak teman-temanku heboh menyuruhku untuk menembaknya menjadi pacarku disore itu, Antara yakin dan tidak akhirnya aku mengiyakanya karena merasa sudah dekat dengannya setelah pagi tadi. Aku menunggunya hingga sampai hampir maghrib saat dia selesai les dan pulang.
Dari kejauhan terlihat mereka berjalan kearahku yang masih berada di warung W. Tempat ini memang berada di tanah yang lebih tinggi dari arah baratnya. Sesampainya mereka didepanku,
"nin.. ninn.. tunggu bentar" aku berjalan menghampirinya, terlihat teman-temanya bertanya kepadanya. Aku menyuruh mereka untuk berjalan duluan dan berkata dia akan kuantar nanti, yang dijawabnya dengan mengangguk kepada teman-temanya.
Aku sebenarnya bingung harus berkata apa dan jadi salah tingkah saat itu, hingga akhirnya didalam kebingungan itu aku hanya berucap 'nin kamu mau gak jadi pacarku?' .
Entah dia sudah felling atau bagaimana, perkataanku itu tidak membuatnya kaget sedikitpun. Dia hanya tertawa kecil melihat tingkahku saat itu sebelum menjawab pertanyaanku dengan mengiyakanya. Setelahnya aku langsung balik ke warung W untuk meminjam motor Anji. Aku meminjamnya untuk mengantar Anin pulang, Anji yang saat itu berada disana juga bersama yang lain.
Itu kali pertama aku memboncengkan seorang gadis, sempat grogi dan salah tingkah saat dia berpegangan dipinggangku. Baru berjalan beberapa puluh meter dia memintaku untuk menurunkannya, karena dia melihat teman-temanya yang disuruhnya pulang terlebih dahulu tadi dan ingin pulang berjalan bersama teman-temanya karena tidak enak meninggalkan mereka.
Setelah menurunkannya aku kembali ke warung W, dan disambut gembira teman-temanku saat itu yang mengetahui aku telah memiliki pacar baru lagi. Berbeda dengan sebelumnya, saat menjalin hubungan dengan Anin saat itu aku lebih sering menghabiskan waktuku bersamanya.
Dia sering kuajak main, ke tongkronganku juga dan kenal baik dengan teman-temanku. Walaupun bukan pacar pertamaku tapi rasanya memang saat itu pacaran yang pertama kalinya untukku.
Selang beberapa hari setelahnya ibuku membelikan sebuah motor kepadaku karena kasihan melihatku setiap hari harus berjalan kaki ke sekolah selama lebih dari 1 tahun. Sebelumnya aku ke sekolah dengan bersepeda tapi karena seringnya aku jatuh dan membuat ribet saat ingin bolos akhirnya aku tidak memakainya lagi dan lebih memilih untuk berjalan kaki.
Ibuku membelikan sebuah motor pabrikan China yang mempunyai bentuk fisik seperti SupraX berwarna hitam.
Aku tidak menuntut lebih dan sangat berterimakasih saat itu karena tau bagaimana perjuangan ibuku membelikan motor itu untukku. Saat itu ibuku belum diangkat menjadi PNS juga, hanya seorang guru honorer. Walaupun aku diluar nakal tapi dirumah aku tetap seorang anak yang tidak mempunyai hak untuk berani kepada beliau, itu prinsipku sejak dulu.
Anin sangat perhatian kepadaku, mirip sepertiku dia dibesarkan dan diurus oleh ibunya sendiri. Bedanya ayahku tiada karena meninggal sedangkan ayahnya pergi karena bercerai dengan ibunya.
Kami sering menghabiskan waktu bersama, selain aku telah memiliki motor sendiri rumah kami juga berdekatan saat itu. Berangkat dan pulang les nya pun aku antar jemput karena tak tega dia berjalan kaki hingga ketempat lesnya.
Di hari minggu kala itu aku mengajak Anin ke sebuah tempat, agar lebih mudah dalam menceritakan tempat itu aku menyebutnya lembah. Tempat itu akan menjadi tempat yang sering aku kunjungi hingga setelah lulus SMK nanti. Lembah itu masih asri hijau seperti hutan tapi dengan kontur tanah yang tinggi, lebih tinggi dari area kotaku hingga terlihat pemandangan alam yang indah saat berada disana. Tempat itu sangat luas dan seperti terbagi menjadi 3 sisi, bawah, tengah dan atas.
Di sisi bawah terdapat beberapa sumur yang dikeramatkan warga sekitar area itu, sumur yang paling terkenal dan ramai orang tirakat berada disebelah timur tepat dipinggir jalan agak kebawah karena kontur jalan lebih tinggi dari tanah disekitarnya.
Disampingnya terdapat sebuah pohon besar yang rantingnya mencapai bahu jalan, dan rimbun dengan pohon bambu disekitarnya. Serta ada sebuah sungai dan jembatan kecil di sebelah selatan sumur itu.
Disisi tengah seperti hutan pada umumnya hanya berisi pepohonan dan beberapa petak kebun milik warga sekitar dan tanah lapang. Memanjang ke sebelah barat, karena sebelah kiri jalan tanahnya lebih rendah dari jalan aspal jadi berbentuk seperti jurang.
Disisi atas terdapat kandang ternak yang lumayan luas yang harus dilewati sebelum sampai di area alamnya, karena sisi atas memang pusat sebuah peternakan yang sekarang menjadi milik sebuah universitas dikota ini.
Tempat itu biasanya ramai orang pacaran walaupun tidak berkumpul di satu titik tapi tersebar dibawah pohon-pohon, tapi di siang itu sangat sepi hanya ada kami berdua. Kami duduk dibawah sebuah pohon sebagai tempat berlindung dari matahari. Aku sebenarnya bingung juga pacaran itu harus bagaimana karena ini kali pertama aku pacaran nyata yang sebelumnya hanya berpacaran melalui handphonea.
Kami mengobrol rancu kesana kemari, hingga tangannya memegangku dan dia mendekatkan badannya bersender kepadaku yang saat itu duduk agak jauh darinya. Aku mengelus kepalanya dan mencoba menciumnya, walaupun agak grogi dan bingung juga karena aku sendiri belum pernah berciuman sebelumnya.
Akhirnya bibir kami saling bersentuhan, kurasakan lidahnya masuk kemulutku yang saat itu aku hanya pasif saja karena grogi dan bingung. Dia seakan mengajariku bagaimana caranya berciuman, hingga akhirnya lidah kami beradu hingga tak sengaja aku memegang dadanya yang tertutup jaket jeans biru yang dipakainya saat itu. Hingga kami melakukanya untuk kali pertama, dan itu benar-benar pertama kali juga untuk kami berdua.
Sesuatu yang baru pertama kali kulakukan, yang sebelumnya hanya kulihat di film-film saja. Siang itu dibawah pohon beralaskan tanah dan dialam terbuka kami sama-sama kehilangan suatu hal yang tidak akan kami dapatkan secara alami lagi dihidup ini.
Sepulangnya dari tempat itu aku mengantarkanya pulang kerumahnya sebelum menemui teman-temanku yang saat itu sedang berkumpul juga. Aku menceritakan pengalaman pertamaku melakukan hal itu, yang kukira mereka sudah pernah melakukan hal yang sama juga ternyata berbeda dengan perkiraanku.
Mereka memang lebih tua dan berpengalaman dariku dalam hal berpacaran tapi ternyata hanya Putra yang pernah melakukan hal itu. Tak aneh bila mengingat Putra memang pergaulanya sangat luas, selain dikampung ini dia sering ketempat-tempat lain berbeda dengan kami yang saat itu masih berkutat di kampung saja.
Anin masih membahas hal itu saat chat denganku, takut dan sakit itulah yang dia katakan. Tapi aku berusaha menenangkannya walaupun aku sendiri juga hanya sekdar sok gagah karena sebenarnya aku juga takut dan seakan merasa bersalah kepadanya. Tapi merasa bangga karena telah melakukan hal yang menurutku hebat saat itu hingga dengan bangganya sering kuceritakan kepada teman-temanku pengalamanku itu.
Keesokan harinya aku bersekolah seperti biasa, ada hal yang berbeda saat itu. Fraksiku yang biasanya hanya sekitar 30 orang sekarang bertambah banyak, membuatku merasa sangat hebat dan berbesar diri saat itu. Hal itu berpengaruh dengan pemasukanku juga karena sejak hari itu Dedi dan fraksinya melepaskan banyak siswa yang biasanya menjadi sumber pemasukan mereka dan setoran mereka masuk ke fraksiku karena kesepakatan yang kami buat sebelumnya.
Bel istirahat pertama dihari itu berbunyi, seperti biasa aku berjalan menyusuri kelas-kelas untuk meminta uang setoran dari tiap kelas. Aku merasa sangat keren dan hebat saat itu, kurang lebih 50 orang mengikuti dibelakangku. Hal itu terjadi karena kemenangan kami kemarin jadi banyak anggota fraksiku yang ikut bangga dan sekedar ingin show off ke siswa lain. Apalagi saat itu formasi kami masih lengkap, Ivan juga sudah mulai masuk ke sekolah lagi.
Saat kami berkumpul di basecamp tiba-tiba muncul celetukan dari Aji untuk menyerang fraksi Lana yang tersisa agar bisa menguasai seluruh sekolah. Sempat muncul penolakan dari Nugi dan Iza, hal itu wajar mengingat mereka mantan anggota fraksi Lana. Tapi entah ego apa yang ada dipikiranku saat itu aku menyetujuinya, walaupun hal itu membuat Nugi dan Iza kecewa. Mereka berdua memutuskan untuk vakum dan meninggalkan kami yang saat itu sedang berkumpul di basecamp fraksi kami diikuti beberapa orang pengikut mereka.
Sedikit aku jelaskan, di fraksi ini memang aku yang dianggap sebagai leader/ketua.
Tapi anggota kami tidak terikat, dan tidak semua anggota bergabung karenaku. Beberapa dari pentolan fraksiku memiliki anggota/massa nya tersendiri. Selama ini kami kuat karena teman dekatku sekaligus pentolan fraksi ini yaitu Nugi, Iza, Mark, Ivan, Zhaki, Aji, Andi, Syahrul dan Fian selalu mendukungku dan membackupku. Mereka seperti komandan di fraksi ini, dan mereka memiliki pengikut tersendiri juga kecuali Fian yang hanya memiliki 2 orang yang mengikutinya dan Syahrul yang tidak memiliki pengikut 1 pun.
Tidak setujunya Iza dan Nugi saat itu tidak terlalu aku pedulikan karena selain power bertarung mereka terbilang rendah, pengikut mereka juga terbilang hanya sedikit daripada teman-temanku yang lain dan aku tidak memikirkan hal lainya saat itu. Mengingat Zhaki dan Mark yang notabenya mantan anggota fraksi Lana ikut mendukung dan ada di pihakku. Akhirnya kami semua setuju untuk membuat keributan dengan fraksi Lana.
Biasanya memang kami tidak mencari masalah terlebih dahulu tapi kami menang dengan melawan. Entah saat itu mungkin karena merasa hebat telah mengalahkan fraksi Dedi sebelumnya, kami menjadi fraksi yang mencari masalah terlebih dahulu.
Sesuai kesepakatan saat itu semua anggota fraksi Lana dan daerah teritorinya kami datangi dan mintai uang setoran dengan paksa. Sempat ada sedikit perlawanan saat Aji meminta dari mereka. Tapi masalah itu langsung dibereskan saat itu juga dengan pengeroyokan oleh anggota fraksiku yang lain. Dia berani karena Lana saat itu sudah tidak bersekolah disekolah yang sama dan anggota fraksi kami jauh lebih banyak dari anggota mereka. Vakumnya Nugi dan Iza tidak berpengaruh besar untukku saat itu.
Setelah kejadian itu Lana mengajakku untuk bertemu dan berbicara hingga 2x tapi hal itu tidak aku perdulikan dan aku acuhkan begitu saja. Bahkan dia sering menitipkan pesan kepada Aya gebetanya untuk disampaikanya kepadaku tapi tak kugubris sedikutpun bahkan kutolak ajakan berbicara darinya. Aku menolaknya karena merasa kuat dan secara tidak resmi fraksi kami penguasa sekolah saat itu. Hingga akhirnya gesekan itu mulai membesar ke pertarungan.
Satu hal yang tidak aku perhitungkan sebelumnya, Lana yang telah keluar dari sekolah ini menjadi salah satu petinggi juga di sekolah barunya. Dan reputasi sekolah barunya yang lebih jelek dari sekolah kami karena banyak berisi anak-anak buangan yang bermasalah dari sekolah lain.
Gesekan itu benar-benar terjadi hanya berselang 2 hari setelah kami berbuat onar. Siang itu Mark dan Andi yang pulang sekolah bersama dikeroyok Lana bersama anak buahnya hingga lumayan parah. Andi dikeroyok hingga gigi depanya patah karena kalah jumlah, hingga mereka berdua bersama beberapa anggota lain babak belur siang itu.
Tak hanya mereka berdua, Aji yang rumahnya berlawanan arah dari mereka tak luput dari aksi pengeroyokan itu. Kondisi Aji lebih parah, atasan yang dipakainya sobek dan sudah tidak berbentuk pakaian lagi. Hampir seluruh badannya penuh luka saat itu, dia dikeroyok dibelakang sekolah saat berjalan pulang sendirian. Aji bisa selamat karena aksi pengeroyokanya itu dibubarkan warga sekitar sekolah kami yang melihatnya.
Anggota fraksi selain para petinggi juga banyak yang mendapatkan intimidasi dari fraksi Lana saat itu hingga ketakutan dan tidak masuk sekolah hingga beberapa hari setelahnya.
Sebenarnya kami juga tidak tinggal diam, kami membalas aksi itu dengan menghajar sisa-sisa fraksinya yang masih satu sekolah dengan kami.
Kondisi fraksiku saat itu memang sangat kacau, tak dapat dipungkiri memang terjadi salah paham dan perpecahan diantara kami. Mark dan Andi yang dikeroyok menuduh Zhaki bersekongkol dengan Lana.
Zhaki juga mantan anggota fraksi Lana tapi hanya dia yang tidak tersentuh sedikitpun selain Nugi dan Iza yang memang vakum dari fraksi ini. Awalnya aku tidak terlalu memperdulikan masalah itu karena kupikir hanya masalah biasa yang akan selesai dalam waktu sebentar seperti biasanya. Tapi ternyata masalah itu merembet ke masalah yang lebih besar.
Hingga akhirnya Zhaki memutuskan untuk ikut vakum, walaupun tidak bermusuhan dengan kami tapi mereka bertiga yang vakum menjadi menjaga jarak dan benar-benar jarang berkomunikasi dengan kami walaupun satu kelas.
Bahkan saat istirahat pun tongkrongan mereka juga ikut berpindah, seakan ingin membuat fraksi baru. Mereka masih baik terhadapku, dan masih menaruh rasa hormat juga. Tapi hal itu tidak berlaku untuk teman-temanku yang lain yang masih aktif di fraksi ini. Seakan terpecah menjadi dua pihak yang saling menaruh curiga dan timbul bibit benci sedikit demi sedikit.
Plot twistnya rasa benci dan curiga itu berubah dari yang sekedar sindiran berujung perkelahian. Zhaki dan Mark berkelahi dikelas kami...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments